Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 49

Memuat...

Pikiran, ingatan paling suka menguyah-nguyah pengalaman yang nikmat, lalu membayangkan dengan latar belakang kenangan.

Dari sini tim-bulnya pengejaran, dan kalau yang di-kejar sudah dapat, akan terasa hambar karena tidak seindah yang dikenang dan dibayangkan! Kebahagiaan adalah saat demi saat, tanpa kenangan masa lalu dan bayangan masa depan.

Bahkan hidup ada-lah sekarang, saat ini, saat demi saat.

Yang lalu sudah mati dan hanya kenang-an, yang akan datang hanya bayangan khayal.

Ouw Seng Bu telah mendapatkan ilmu yang luar biasa, ilmu yang menjadi aneh karena dia mempelajarinya dari catatan yang tidak lengkap, dipelajari tanpa bimbingan guru sehingga pelajaran yang ti-dak lengkap dan terbalik-balik itu me-nyeretnya ke alam yang mendekati ke-gilaan.

Memang dia menjadi lihai bukan main, akan tetapi, ilmu itu pun mem-pengerahi hati akal pikirannya, membuat dia kadang-kadang kumat seperti orang gila, bahkan lebih mengerikan lagi, se-perti iblis sendiri yang menjelma dalam tubuh manusia.

*** "Apa kau bilang" Heh, Sun-ji (anak Sun), lupakah engkau siapa dirimu ini" Engkau adalah cucu Kaisar, tahu" Eng-kau adalah seorang pangeran, cucu kaisar sendiri! Dan kau katakan bahwa engkau jatuh cinta kepada puteri ketua Pao--beng-pai, kaum pemberontak itu" Gila!" "Ayah, apakah cucu kaisar itu bukan manusia" Dan puteri Pao-beng-pai juga bukan manusia" Kami berdua sama-sama manusia, pria dan wanita, maka apa yang perlu diherankan kalau kami saling jatuh cinta?" bantah Pangeran Cia Sun di de-pan ayahnya dan ibunya.

Dia baru saja pulang dan langsung melapor kepada ayah ibunya bahwa dia jatuh cinta kepada Siangkoan Eng, puteri ketua Pao-beng--pai dan minta kepada orang tuanya agar meminang gadis itu untuk menjadi isteri-nya.

"Anakku, bagaimana engkau dapat berkata seperti itu?" Ibunya membujuk dengan lembut dan meletakkan tangannya di pundak puteranya.

"Tentu saja engkau tidak mungkin dapat disamakan dengan pemuda biasa yang lain, dapat menikah dengan sembarang gadis saja." "Akan tetapi, Ibu.

Kami sudah saling mencinta, dan cinta tidak mengenal pang-kat atau derajat!" bantah Cia Sun.

"Cia Sun!" Ayahnya, Pangeran Cia Yan, membentak marah.

"Ingat, sejak engkau masih kecil, kami telah mengikat tali perjodohanmu dengan puteri Pende-kar Bangau Putih Tan Sin Hong.

Puteri-nya itu seorang gadis yang cantik jelita, berbudi, gagah perkasa dan bahkan men-dapat julukan Si Bangau Merah.

Kami bangga sekali mempunyai mantu seperti gadis itu.

Dan baru-baru ini, ayah ibu gadis itu datang ke sini.

Mereka me-nantimu, akan tetapi sia-sia saja mereka menanti walaupun kami telah mengirim orang untuk mencarimu dan memanggil-mu pulang.

Dalam pertemuan itu ayah ibumu sudah mematangkan urusan itu, dengan resmi kami mengambil keputusan untuk menjodohkan engkau dengan Tan Sian Li.

Ialah calon jodohmu, bukan wa-nita lain!" "Tapi, Ayah.

Aku dan ia tidak saling mencinta, bahkan bertemu muka pun be-lum pernah!" Cia Sun membantah.

"Sudah cukup!" Pangeran Cia Yan membentak marah.

"Engkau yang belum pernah membalas budi ayah ibumu, sekarang bahkan hendak menjadi anak yang murtad dan tidak berbakti" Pendeknya, Tan Sian Li adalah calon isterimu, bukan perempuan lain!" Ibunya cepat melerai.

"Anakku, ke-napa engkau menjadi bingung" Tentu saja engkau dapat mengambil wanita lain sebagai selir kalau engkau menyukai gadis-gadis lain...." Ayahnya memotong.

"Tentu saja eng-kau boleh mempunyai selir, akan tetapi selir-selirmu pun harus gadis baik-baik agar jangan menodai nama keluarga kita.

Kita ini keluarga Cia, keluarga Kaisar, tahu" Kalau engkau mencinta gadis lain, tentu boleh kaujadikan selir, dan gadis itu...

siapa tadi kau bilang" Ah, puteri ketua Pao-beng-pai" Kaumaksudkan per-kumpulan pemberontak yang baru-baru ini mengadakan pertemuan rahasia dengan para pemberontak lain untuk menggulingkan pemerintah" Gila!" "Tapi Siangkoan Eng tidak seperti ayahnya, Ayah.

Ia sama sekali tidak jahat, bahkan ia berjanji kalau menjadi isteriku, tidak akan mencampuri urusan dunia kang-ouw, tidak akan mencampuri urusan pemberontakan lagi...." "Ihhh, engkau agaknya sudah terkena guna-guna.

Dan Pao-beng-pai...." Hemmm, kiranya engkaulah pemuda yang ditawan mereka itu?" "Ayah tahu tentang itu?" Cia Sun memandang ayahnya dengan heran.

"Me-mang aku telah ditawan mereka, dan kalau tidak ada Eng-moi, tentu aku telah mereka bunuh, atau dijadikan sandera untuk mengacau pemerintah, Ayah." "Sudah, jangan bicara lagi tentang gadis Pao-beng-pai itu.

Sekarang pun pasukan telah bergerak ke sana untuk membasminya sampai ke akar-akarnya dan membunuh seluruh pimpinannya." Cia Sun terbelalak.

"Ahhh" Apa yang Ayah katakan?" Pangeran Cia Yan menganggukangguk dan tersenyum, merasa menang.

Lalu dia berkata bangga, "Apa kaukira pemerintah bodoh" Di antara, para tamu, terdapat mata-mata kita yang diselundupkan.

Ka-lau engkau saja dapat menyelundup men-jadi tamu, apalagi mata-mata yang cerdik.

Sekarang Ciong-ciangkun (perwira Ciong) telah membawa pasukan untuk membasmi gerombolan pemberontak itu dan...." Pangeran Cia Yan terkejut me-lihat puteranya bangkit berdlri dan me-langkah pergi."....Hei, kau mau ke mana?" Cia Sun menoleh dan berkata, "Ayah, Ibu, aku harus pergi, aku harus menyela-matkan Engmoi dan ibunya.

Mereka tidak bersalah, mereka tidak boleh ikut terbasmi!" Dan pemuda itu pun berlari cepat meninggalkan rumah orang tuanya, tidak mempedulkan teriakan ayah ibunya yang memanggilnya.

Kedua orang tua itu hanya menghela napas panjang dan menggeleng kepala saja.

"Itulah sebabnya aku ingin sekali dia menjadi suami seorang wanita per-kasa seperti Si Bangau Merah," kata Pangeran Cia Yan kepada isterinya.

"Se-menjak dia suka belajar silat, wataknya pun berubah menjadi keras kepala dan berjiwa petualang.

Kalau dia tidak men-dapatkan seorang isteri yang pandai dan berwibawa, berilmu tinggi, tentu tidak ada yang akan mampu mengendalikannya." Cia Sun cepat berlari ke markas pa-sukan untuk mencari Perwira Ciong yang sudah dikenalnya.

Akan tetapi dia ter-lambat.

Perwira itu telah berangkat bersama pasukannya yang berjumlah seribu orang.

Cia Sun cepat melakukan pe-ngejaran, menunggang seekor kuda.

Pada waktu itu memang banyak ter-dapat perkumpulan atau kelompok orang--orang yang melakukan usaha untuk me-nentang pemerintah kerajaan Mancu.

Na-mun, satu demi satu, perkumpulan pe-juang yang disebut pemberontak oleh kerajaan Mancu, dapat dihancurkan.

Ke-kuatan pasukan Mancu masih amat kuat, sedangkan para pejuang itu tidak mem-punyai persatuan yang kokoh.

Mereka bahkan membentuk kelompok sendiri--sendiri, bukan hanya itu bahkan di antara mereka kadang terdapat bentrokan sen-diri yang tentu saja melemahkan kekuatan mereka.

Banyak pula bermunculan perkumpulan pejuang yang lebih condong menjadi perkumpulan golongan sesat atau golongan hitam, karena mereka melaku-kan segela macam bentuk kejahatan.

Pao-beng-pai merupakan satu dian-tara perkumpulan pejuang yang pada hakekatnya memang membenci, bahkan mendendam kepada kerajaan Mancu.

Hal ini adalah karena pemimpinnya atau pen-dirinya, Siangkoan Kok, adalah seorang keturunan keluarga kerajaan Beng yang telah dijatuhkan oleh bangsa Mancu.

Oleh karena itu, gerakan perjuangan Pao-beng--pai ini lebih condong kepada gerakan untuk membalas dendam atau merampas kembali tahta kerajaan Beng yang sudah dirampas oleh bangsa Mancu yang mendirikan kerajaan Ceng.

Namun, karena Siangkoan Kok, keturunan keluarga ke-rajaan Beng itu juga seorang datuk se-sat, bahkan isterinya, Lauw Cu Si, juga keturunan pimpinan Beng-kauw yang ter-kenal sebagai perkumpulan sesat, maka Pao-beng-pai juga merupakan perkumpul-an yang tidak pantang melakukan ke-kejaman atau kejahatan.

Pihak pemerintah selalu mengamati perkembangan perkumpulan-perkumpulan pemberontak seperti itu.

Pemerintah memang maklum bahwa tidak mudah membasmi seluruh pemberontak sampai ke akar-akarnya.

Sudah seringkali pasu-kan pemerintah menghancurkan gerombol-an pemberontak, akan tetapi para anak buahnya yang berhasil meloloskan diri, segera bergabung lagi dengan kelompok pemberontak lain.

Oleh karena itu, pe-merintah hanya memperhatikan kelompok yang besar-besar dan berbahaya saja.

Ketika Pao-beng-pai mengadakan per-temuan dengan para tokoh kang-ouw, tentu saja peristiwa ini tidak terlepas dari perhatian para mata-mata yang di-sebar oleh pemerintah.

Setelah menyaksi-kan pertemuan itu, mendengar betapa Pao-beng-pai menyusun kekuatan, mengajak semua pihak yang menentang peme-rintah untuk bergabung dan bekerja sama untuk melakukan pemberontakan, mata--mata cepat memberi kabar ke kota raja.

dan para panglima yang bertugas me-numpas setiap pemberontakan segera mengambil tindakan tegas dan cepat.

Panglima Ciong, yang terkenal sebagai seorang panglima yang gagah perkasa dan pandai, yang sudah seringkali melakukan pembasmian terhadap para pemberontak, segera ditugaskan untuk memimpin pasu-kan seribu orang menyerbu dan mem-basmi Pao-beng-pai di Han-kwikok, lem-bah Bukit Iblis.

*** Siangkoan Kok marah sekali ketika mendengar bahwa puterinya, Siangkoan Eng, pergi dari Ban-kwi-kok tanpa pamit.

Selama belasan hari ini dia memang tidak pernah menengok lagi kepada isteri dan puterinya itu, sejak dia marah-marah hampir membunuh Eng Eng.

Dia tidak mempedulikan mereka, dan berpengantinan dengan isterinya yang baru, yaitu bekas muridnya yang dipaksanya untuk me-layaninya dan menjadi pengganti isterinya.

Dengan kemarahan meluap-luap, pria tinggi besar berusia lima puluh lima tahun ini, pergi mencari Lauw Cu Si, isterinya yang sedang menangis di ruang-an belakang.

Mukanya merah sekali dan begitu melihat isterinya, yang menangis, dia pun membentak.

"Ke mana perginya anak durhaka itu" Engkau tentu yang sengaja menyuruhnya minggat, bukan?" bentakan ini disertai tangannya menggebrak meja dan bagaikan tergetar seluruh ruangan itu.

Lauw Cu Si yang sedang menangisi kepergian puterinya, dan tadi duduk, se-gera menghentikan tangisnya dan bangkit berdiri.

Nyonya berusia empat puluh tahun ini masih cantik.

Kalau biasanya ia selalu tunduk dan penurut, kini ia bang-kit berdiri dan tegak menghadapi suami-nya, mukanya diangkat dan sepasang matanya bersinar-sinar, menatap wajah suaminya dengan penuh keberanian dan kemarahan, kemudian, telunjuk kirinya ditudingkan ke arah muka suaminya dan terdengar suaranya, suara yang meng-getar dan mengandung kemarahan yang hebat.

Post a Comment