"Ma Hun, sia-sia kau sebagai pendekar besar yang katanya budiman dan diagungkan, Karena kau bersikap romantis dan bekerja secara membawa adatmu sendiri hampir saja kau mengorbankan jiwa Sumoayku ini, dan yang terpenting adalah kau telah menunda dan mengganggu kesempurnaan tamatnya pelajaran rahasia silat perguruan kita", Maka atas nama Hutan kematian kudirikan pula Hiat hongpang dan Kim i pang, besar sekali ambisiku untuk menelan dan menumpas habis seluruh dunia persilatan untuk melampiaskan dendam dan penasaran-ku ini."
Hwi thian- khek Ma Hun menyeringai ejek, katanya.
"Belum tentu kau mampu."
Kim-i pang Hoan Bu seng tertawa dingin, ujarnya.
"
Untung aku menugaskan Hiat- hong-pang untuk menjemput pulang Sumoay dan karena bujukannya lah yang menyadarkan aku dari kesesatan demi terjadinya suatu gelombang pembunuhan betar-beaaran diBulim, kalau tidak jangan harap pihak Pak-hay kalian yang biasanya sangat mengagulkan sebagai benteng baja dan dinding besi juga...Hm, huh ."
Dengan langkah ringan ia melangkah maju membungkuk diri menjemput sampul-sampul surat yang berserakan itu, tanpa perdulikan hadirin lainnya ia berkata kepada Toh-hunsiancu Ko Eng.
"sumoay sejak hari ini Hutan kematian mengundurkan diri dari Bulim, markas besar itu biar kutinggalkan untuk kau buat istirahat."
"suheng, kau..."
"Aku akan mencari suatu tempat tersembunyi seorang diri aku akan meyakinkan pelajaran rahasia itu sampai sukses, selamat bertemu."
Dengan langkah lebar ia menuju ke jendela, entah dengan gerakan apa tahu-tahu bayangan kuning berkelebat melesat keluar dan menghilang.
Toh-hun-siancu Ko Eng semakin keras tangisnya, ia memburu maju dan menarik tangan Giok-Liong, katanya dengan sesenggukan.
"Anak Liong ibu malu tetap hidup di dunia."
Lalu iapun berkelebat meluncur ka arah jendela.
"Jimoay "
"Bu."
Dua bayangan putih gesit sekali berkelebat menghadang di ambang jendela.
"Jici (kakak kedua), Maaf aku datang terlambat."
Lenyap suaranya dari jendela lainnya meluncur masuk dua sosok bayangan langsing warna hijau.
Kiranya Bu-lim-su-bi nomer tiga yaitu Bik-lian-hoa sudah datang menggandeng Coh sia.
Melihat ayah bundanya juga hadir di situ, selincah burung gereja Coh Ki-sia lantas memburu ke arah sana dan menubruk ke pelukan ibunya.
Selintas pandang ke seluruh hadirin mendadak Bik-lian-hoa tertawa terloroh-loroh, entah apa gerangan yang membuatnya geli sampai tertawa terpingkel-pingkel.
"sammoay"
Bentak Kim-ling-cu.
"apa kau sudah gila ya ?"
Dengan jarinya Bik-Lian-hoa menuding seluruh hadirin serta katanya melucu.
"Masa aku gila, justru kalian yang goblok ini yang sudah menjadi gila."
Pat-ci-kay ong yang suka guyon-guyon itu lantai menimbrung bicara.
"Ya, memang pemain ronggeng seperti kau ini paling pintar bermain sandiwara, coba katakan alasanmu,"
Sebentar Bik-lian-hoa bersungut, lalu katanya .
"Coba kalian lihat hari ini adalah Cap-go-meh hari besar dan bahagia,Jici dan Ma Thay-hiap rujuk kembali, ditambah kesalah pahaman Giok-liong dengan coh Ki-sia juga sudah dibikin terang, malapetaka ancaman Bulim sudah dapat ditumpas, dengan suasana yang menggirangkan ini sebaliknya kalian mengerutkan kening mewek-mewek kesusahan, apakah tidak menyebalkan kenapa justru mengatakan aku yang gila."
Semua orang menjadi geli dan tertawa lebar, dengan riang mereka bertepuk tangan.
Di luar jendela terdengar lambaian keras yang ramai, terus kelihatan bayangan orang bergantian menerobos masuk kiranya itulah Tan soat-kiau, Ling soat-yan, siangkwan Hong-cu dan Lan i-long kun Hoa sip i telah datang, para muda mudi ini berseri girang terus memburu maju memberi selamat.
"Kiong-hi Kiong-hi.. Selamat akan pertemuan kembali Ma siauhiap dengan ayan bunda, suami istri rujuk kembali "
Ling soat-yan mengeluarkan batu Giok bentuk jantung hati warna merah itu menghampiri Coh Ki-sia, lantas dikalungkan di lehernya, katanya menggoda.
"
Coh- moay- moay, setelah mengenakan kalung ini selanjutnya aku harus merobah panggilanku bukan..."
Tangga loteng berderap keras, tampak Hiat-ing-cu muncul, suaranya keras berkata.
"Anak Yan, masa cukup dengan basa-basi saji tanpa memberi kado?"
Di belakang Hiat ing-cu tampak Li Pek-yang juga telah sampai, katanya lantang.
"Untuk menyampaikan rasa terima kasihku kepada Ma siauhiap yang telah merawat dan melindungi putriku sengaja kusiapkan beberapa meja perjamuan, marilah kita lekas rayakan malam Cap go-meh ini, harap tuan-tuan suka hadir dan silakan."
Benar juga beberapa puluh laki-laki kekar tampak memikul beberapa macam gantang yang berisi berbagai macam masakan serba lezat dan enak.
Maka suasana tegang penuh kesedihan tadi, kini sudah tersapu bersih, Gak-yang-lau sekarang tenggelam dalam suasana riang gembira dengan gelak tawa yang riuh rendahi disana terdengar nyanyian merdu terlihat demontrasi permainan pedang dan acara lain-lain yang serba menggembirakan.
Sang putri malam memancarkan cahaya cemerlang menembus jendela menerangi ruang loteng yang penuh sesak dengan berbagai tokoh kenamaan dalam suasana genap.
T A M A T