"Mungkin ibumu saat ini sudah mapan tidur."
Tatkala itu Giok-liong berdiri menjubleki seolah-olah dialam mimpi saja sehingga ia melenggong tak tahu apa yang harus dikatakan. Kata Kim-i-jin pula.
"
Kalau beliau tahu kau sudah datang betapa girang hatinya, mari masuk "
Lalu iapun maju lebih lanjut melalui pintu dimana para kacung menghilang.
Tanpa bersuara Giok-liong mengintil terus di belakang Kimi jin, hawa Ji-lo dikerahkan setindak demi setindak ia berjalan hati-hati sekali sedikitpun ia tidak berani ketinggalan, kedua matanya berkilat tajam mengawasi situasi sekelilingnya.
Tampak olehnya setiap kamar yang di lalui semua terang benderang terpasang lilin, malah keadaannya serba bersih dan mewah dipajang sedemikian indah dan megah, setiap kembang dan rumput didalam kebun seperti dirapikan dan dikerjakan oleh seorang ahli kebon, semua serba teratur.
Siapa akan nyana bahwa Hutan kematian yang di siarkan sebagai sarang momok sebagai bibit bencana dalam dunia persilatan kiranya punya gedung megah dan tempat pesanggrahan yang aman tentram dan damai ini.
Beruntun mereka melewati lima tujuh taman bunga dan serambi panjang, kini di-hadapan mereka terbentang pula sebuah taman bunga, pemandangan disini lain pula bentuknya kembang sedang mekar dan tumbuh subur dengan baunya yang harum semerbak hawanya terasa sejuk hangat, disebelah kiri sana malah sedang tumbuh ratusan pohon Bwe yang sedang mekar, bau wangi merangsang hidung.
Ke empat kacung kecil tadi sudah berdiri jajar menanti didepan hutanpohonBwe itu, katanya sambil menjura.
"sudah hamba sampaikan kepada para cici didalam, belum terima perintah selanjutnya?."
Belum lenyap kata-kata para kacung itu dari dalam. hutan pohon Bwe itu melesat ke luar laksana kupu-kupu terbang empat orang gadis rupawan berpakaian ketat, mereka berdiri jajar dibawah pohon yang rimbun, terdengar suara mereka nyaring merdu.
"
Harap siau hiap masuk kedalam, Hu-jin sudah menunggu diruang dalam."
Kim i-jin tertawa lebar sembari mengelus jenggotnya, katanya kepada Giok-liong .
"
Ibumu sudah menanti kau, Hutan Bwe ini merupakan daerah terlarang bagi Hutan kematian, meski sebagai Limcu akupun tak terhindar dari larangan ini, Maka harap maaf aku tak mengiringi kau lebih lanjut, siauhiap silakan "
Lalu ia ulapkan tangannya membawa keempat kacung tadi putar balik melaluijalan datangnya tadi.
Giok-liong tidak tahu latar belakang apa pula yang bakal dihadapinya nanti, mendelong ia awasi bayangan kuning mas yang menghilang dibalik pintu sana, ia menjublek tanpa bergerak.
Terdengar suara cekikikan keempat gadis berpakaian ketat itu sudah membuka jalan berdiri jajar dikedua samping menyilakan Giok-liong masuk.
sedikit merenung segera Giok-liong ber-soja, ujarnya .
"Para cici silakan tunjukkan jalan "
Keempat gadis itu segera berubah hidmat dan berdiri tegak meluruskan tangan, sahutnya bersama .
"Hamba beramai terima perintah "
Ikut dibelakang keempat gadis pelayan ini Giok-liong beranjak terus melewati jalan kecil dari balok batu persegi yang berliku-liku diantara lebatnya pohon bunga Bwe yang sedang berkembang harum.
Sebelah dalam dari hutan pohon Bwe ini adalah sederetan hutan bambu kuning, suara kereyat-kereyot terdengar bersahutan karena dahan-dahan bambu terhembus angin lalu.
Ini lebih menunjukkan suasana nyaman damai pada malam nan sunyi senyap ini.
Keluar dari hutan bambu Giok-liong di hadapi sebuah gapura baru pualam putih di-atas gapura melintang sebaris huruf besar, itulah tulisan yang berbunyi.
"Panti Wening"
Sesudah melintasi sebuah halaman berumput tebal mereka memasuki sederet rumah petak yang terbagi dua jajar keempat pelayang itu membawa Giok-liong memasuki sebuah kamar besar, dua diantaranya lantas menyiapkan kursi dan menyuguhkan teh sedang dua yang lain masuk ke dalam memberi laporan, gerak-gerik keempat dayang remaja ini gesit dan cekatan.
Meskipun sudah melakukan perjalanan jauh sehari semalam, seluruh badan dirasakan cape dan gerah namun Giok-Liong tiada selera minum air teh, atau memikirkan perut nya yang sudah lapar dan keroncongan.
Tengah ia mondar mandir dengan gelisah melihat-lihat gambar dan pajangan dalam ruangan itu, duri pintu belakang lapat-lapat terdengar derap langkah ringan serta suara berdencing yang lirih dari belakang pintu, angin beranjak keluar seorang wanita pertengahan, sembari mengulurkan kedua tangannya sua ia nya terdengar tersendat.
"Anak Liong"
"Bu oh, ibu, sungguh nak Liong tidak berbakti, apakah anak Liong tengah bermimpi ?"
"Tidak... nak, ini kenyataan yang betul-betul terjadi bukan mimpi"
"Bu Bukankah kau telah dicelakai oleh Hiat hong-pang..."
"Tidak.... cerita ini sangat panjang untuk dituturkan dalam waktu singkat, kau sudah capai lelah Makanlah dulu baru istirahat."
Memang saat mana keempat dayang itu sudah menyiapkan meja perjamuan dengan hidangan yang serba lezat, Giok-liong betul-betul sudah kelaparan, ditunggui oleh ibunya yang sudah sekian lama berpisah dan selalu dikenangnya ini, maka dengan lahap ia gegares sekenyangnya lalu katanya.
"Bu orang berpakaian jubah mas..."
"Anak Liong, Keluarkan kotak mas yang kau peroleh dari mata air rawa naga beracun "
Tersipu-sipu dengan ke dua tangannya Giok-liong persembahkan kotak yang diminta, kepada ibunya.
Tak nyana setelah menyambuti kotak mas itu, ibunya lantas mengalirkan air mata dengan sedih, sambil menggigit bibir seluruh badannya gemetar, sedunya semakin keras dan merawan hati.
Giok-liong menjadi bingung dan heran, tanyanya.
"Bu, kau..."
"Pergilah kau tidur, sekarang ibumu belum bisa menceritakan asal usul kotak mas ini kepadamu. Cuma yang terang bahwa kotak mas ini bukan berisi buku catatan ilmu silat yang maha sakti atau benda pusaka lainnya."
"o, bu bukankah dulu kau pernah berkata..."
"nak, dulu ibu ngapusi kau. Tapi kotak ini bagi ibumu boleh dikata lebih penting dan berharga dari segala buku silat, sekarang agaknya Tuhan memang maha pengasih, terhitung kotak ini tidak terjatuh ke tangan orang lain, kalau tidak,"
"Kalau tidak bagaimana bu ?"
"Kalau tidak, bukan saja ibumu malu dan tak bisa dilihat orang, nak kau... kaujuga sulit menjadi manusia di dunia ini"
Sampai kata kata terakhir suaranya sudah tertelan oleh sengguk tangisnya. Giok-liong ikut terharu dan meneteskan air mata, tapi ia berkata.
"Bu? sebetulnya..."
"Pendek kata akan datang suatu hari kau bakal tahu duduk perkaranya."
"Besok ?"
"Tidak " "Lalu kapan ?"
"Pertemuan besar di Gak-yang pada hari raya Goan-tiau nanti."
"Bu, kau..."
"Anak Liong, untuk sementara kau menetap disini dan melewatkan tahun baru, ibu sudah kangen betul, hampirhampir gila aku memikirkan kau. sekarang kau sudah bisa berdiri sendiri dan terpandang dikalangan Kangouw, penderitaan yang ibu kecap akhirnya berhasil juga. tidurlah, ibu juga sudah lelah."
Melihat rasa duka dan murung ibunya, Giok-liong tidak berani banyak bertanya lagi, terpaksa ia mengiakan terus masuk tidur kekamar samping yang sudah disiapkan sebelumnya.
semalam suntuk ia gundah gulana, dan gelimpangan diatas pembaringan tak bisa tidur, sungguh perasaannya bergairah dan bergejolak, Bergairah karena sekarang ia telah bertemu kembaIi dengan ibunya seperti dalam impiannya selalu, Bergejolak karena kwatir dan was-was melihat sikap ibunya serta rahasia yang terpendam pada kotak mas itu, sekejappun ia tidak pejamkan mata sampai hari terang tanah.
Diluar dugaannya sekejappun ibunya tidak menyinggung lagi persoalan kotak mas itu, setiap kali Giok-liong menanyakan kotak mas itu, atau perihal seluk beluk Hutan kematian ini ibunya selalu menggunakan alasan dan kata-kata lain untuk menguarkan pokok pembicaraan mereka.
Kalau terdesak terpaksa ia menghibur supaya Giok-liong bersabar dan tak perlu banyak tanya semua persoalan bakal dapat dibikin terang pada pertemuan besar di Gak yang-lau nanti.
sang waktu memang berlalu dengan cepat, hari ke hari selama ini Giok-liong keluar dalam suasana yang penuh gembira bersanding didampingi ibunya, namun selalu dilingkupi rasa tidak tentram dan was-was pula.
Sudah menjadi tradisi selama ribuan tahun setiap hari raya atau tahun baru dimana-mana menjadi ramai dan dalam suasana yang bergembira ria, suara petasan dan gembreng serta tambur bertalu bersahutan, Tahu-tahu tahun baru sudah berlalu tak terasa.
Tanggal lima pada bulan pertama, Giok-liong bersama ibunya sudah bersiap-siap lengkap.