Halo!

Seruling Samber Nyawa Chapter 156

Memuat...

"siuuauuut"

Mendadak irama serulingnya kuncup dan tak terdengar lagi.

seiring deruan berhentinya irama seruling di mulut Giok-long, Lima tujuh orang yang masih ketinggalan beterbangan itu lantas melayang berjatuhan kebanting di tanah.

Para anak buah Istara beracun yang masih ketinggalan hidup termasuk Cukongnya Ibun Hoat terjungkir balik seperti layangan putus benangnya melayang ringan terus rebah tak berkutik lagi.

Dengan melintangkan seruling didepan dada Giok Liong menggebah jubahnya menghilangkan debu diatas pakaiannya lalu pelan pelan bangkit berdiri menyongsong datangnya surya pagi terasa seluruh badan sangat penat dan kehabisan tenaga.

Dengan langkah lambat ia menghampiri kehadapan cukong istana beracun Ibun Hoat.

Badan kurus kering seperti seonggok kayu dari Cukong istana beracun itu kini sudah tidak menyerupai bentuk manusia lagi, meringkuk di tanah sebesar orok yang baru lahir, tubuhnya menjadi kempot tinggal kulit pembungkus tulang, seluruh kulitnya berwarna kekuning-kuningan, napasnya empas empis banyak keluarnya daripada menghirup hawa, mulut megap-megap tinggal menunggu ajal saja.

Demikianjuga matanya sudah celong mendalam kehitamhitaman.

Para tokoh-tokoh lihay dari istana beracun lainnya, terang sudah melayang jiwanya sejak tadi.

Giok-liong menerawang keempat penjuru menghadapi mayat-mayat yang bergelimpangan malang melintang ini, tak terasa ia menghela napas panjang.

"Ai."

Sekonyong-konyong ia mengguman seorang diri "Celaka. peringatan suhu masih mendengus di pinggir telinga, kalau beliau orang tua tahu kejadian disini bagaimana baiknya"

Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur, apa pula yang dapat diperbuatnya, pandangannya dialihkan ke arah barat dan selatan dan utara, dimana pada tiga tempat ini bara api kebakaran masih membumbung tinggi, asap hitam mengepul semakin tinggi.

Mungkin peledak atau dinamit dan bahan bakar lainnya yang dipendam oleh Bu- ih ciang bun Im- yang kiam GoBenghui telah meledak beruntun, Menurut perhitungan dari sang waktu tepat sekali sesaat sesudah para gembong gembong iblis itu berlari sipat kuping menyelamatkan diri dari irama gelombang seruling samber nyawa.

Pikirannya melayang sampai disini, tiba-tiba ia membanting kaki serta dengusnya.

"Kiong Ling-ling"

Pada saat ini baru terasa olehnya betapa besar rasa cinta kasih Kiong Ling-ling terhadap dirinya, tetapi...

Dia tak berani memikirkan lagi, sambil menunduk ia simpan seruling samber nyawa terus merogoh keluar kotak mas itu, baru saja ia niat membuka, waktu dipandang secara tegas, tak terasa ia mengeluh.

"Bagaimana duduk persoalan ini? ini..."

Kotak mas panjang satu kaki itu mengkilap kekuningkuningan, bentuknya panjang tapi tipis dan tingginya cuma lima senti, diatas tutupnya diukir burung Hong dan Naga, ada awan ada pohon Kwi-hwa serta gambar bunga lainnya yang dilukis begitu indah seperti hidup, Jelas sekali diantara sekian banyak ukiran kembang dan bintang itu ditengah yang sangat menyolok mata tampak ukiran delapan huruf besar yang berbunyi.

"siapa berani membuka kota ini pasti mengalami bencana kematian."

Sinar surya bertingkah diseluruh jagat, alam memancarkan cahaya kuning yang cemerlang tertimpa diatas permukaan kotak mas yang mengkilap itu, sehingga kelihatan lebih hidup dan menyolok mata.

Dengan kedua tangannya Giok-liong menjulang kotak mas itu, sesaat ia menjadi kehilangan pikiran cara bagaimana ia harus mengurus kotak di tangannya itu.

Di buka atau tidak ? Kalau tidak dibuka, pesan terakhir ibundanya sebelum berpisah dulu masih terkiang jelas sekali dipinggir telinganya, terang di katakan bahwa kotak mas ini adalah peninggalan ayahnya, didalamnya tercatat rahasia yang penting sekali mengenai riwayat hidupnya, kenapa pula aku harus gentar menghadapi kedelapan huruf ini dan mengaburkan urusan besar.

Kalau dibuka, huruf yang menyatakan bencana kematian yang menyolok dan menyedot sukma itu benar benar sangat menyulitkan dirinya.

Mungkinkah ini merupakan suatu jebakan muslihat yang sering terjadi dalam dunia persilatan.

Dilihat dari tata kehidupan di Kangouw yang serba berbahaya dan penuh liku-liku hidup yang membahayakan betapa juga peringatan ini harus diperhatikan.

Adakah ayahnya dulu pernah meninggalkan dendam kesumat kepada sementara tokoh-tokoh Kangouw, dengan menyebar luaskan akan rahasia catan dalam kotak mas ini untuk memancing sang musuh keluar dan masuk dalam jebakannya.

Terlebih dulu mengadu domba serta membiarkan mereka dua jiwa dalam memperebutkan kotak mas ini atau mati tenggelam dalam pusaran air rawa naga beracun yang dingin membeku ini.

Dan bila tokoh yang terakhir mendapatkan kotak mas inipun takkan ketinggalan hidup karena kotak mas ini berisi racun jahat atau binatang berbisa dan mungkin juga senjata rahasia yang ganas.

Bukankah tujuan terakhir inijuga akan membuat tokoh terlihay yang akhirnya mendapatkan kotak mas ini menjadi korban jebakannya pula.

semakin dipikirkan ia menjadi semakin curiga, semakin dipikir ia menjadi gentar dan ciut nyalinya untuk memberanikan diri membuka kotak mas di tangannya itu.

Menghadapi pancaran sang surya yang cemerlang itu ia menjadi bimbang dan tak berani ambil keputusan yang positip.

Mendadak ia membanting kaki, desisnya.

"Tak peduli apapun yang bakal terjadi, aku tak bisa berpeluk tangan saja, Mati atau berkorban Apa pula yang harus kutakuti manusia memang harus mati kalau memang ditakdirkan oleh Tuhan yang berkuasa, daripada hidup seperti aku yang terombang ambing tak menentu arah dan cita-cita ini."

Begitu tetap pikirannya segera jari kelingkingnya menekan sebuah tombol di muka atas kotak mas itu.

"Plak "

Dengan mengeluarkan suara nyaring kotak mas itu terbuka mental dengan keras.

Didalam kotak kelihatan terdapat setumpukan kertas minyak serta seonggok sampul surat, entah apa pula yang tersimpan di dalamnya.

Pikir Giok-liong bagaimana pula harus dijelaskan kata kata "malapetaka kematian didepan kotak ini ?"

Giok-liong tidak begitu gegabah uniuk segera mengulur tangan menjemput bunta Lan sampul-sampul kertas minyak itu, dengan kedua tangannya terulur maju kedepan dada, dipandangnya lekatlekat kotak mas tanpa berkesip menantikan perubahan apa yang bakal terjadi.

Nanti punya nanti tiada kelihatan reaksi apa-apa, Giok-liong menjadi tertawa geli sendiri, segera ia mengulur tangan mengambil buntalan kertas minyak itu terus dibalik hendak dibuka.

"Permainan apa lagi..."

Kiranya sampul sebelah yang terbalik itu tersegel dengan selarik kertas kuning, diatas tarik segel kuning ini tertulis lagi delapan huruf-huruf kecil warna, merah darah menyolok mata, berbunyi.

"Mengintip rahasia pribadi orang, setan malaikatpun tak berampun."

Giok-liong menggelengkan kepala berulang-ulang.

"malapetaka kematian tidak sampai menggertaknya takut, adalah kata-kata rahasia pribadi ini membuatnya serba runyam. Kalau yang terbuntal didalam bungkusan kertas minyak ini betul betul adalah rahasia piibadi orang lain bagaimana ? Mendadak ia menjadi nekad, gumannya membanting kaki .

"Masa peduli banyak, terang adalah peninggalan ayahku sendiri meskipun rahasia pribadi betapapun adalah rahasia pribadi keluarga kita orang she Ma kenapa aku harus ragu dan bimbang."

Tanpa ayal segera disobeknya segel kertas kuning itu pelan-pelan ia membuka sampulnya....

"Tunggu sebentar "

Tiba-tiba pandangannya terasa kabur akan berkelebatnya sesosok bayangan kuning mas. Bukan kepalang kejut Giok-liong, secara reflek kakinya mengeser gesit sekali mundur setombak lebihi "Plak "

Kontan ia menutup kota mas kembali serta serunya tak tertahan.

"siapa tuan ini ?"

Entah kapan tahu-tahu disampingnya dimana ia berdiri tadi telah berdiri seorang laki-laki pertengahan umur yang berdandan sebagai seorang persilatan.

Laki-laki pertengahan umur berdandan kaum persilatan ini beralis tebal lentik, bermuka cakap dengan kumis yang teratur rapi menaungi bibirnya yang tebal lebar, hidung mancung jenggotnya pendek teratur lurus seluruh pakaian yang dikenakan berwarna kuning mas berkilau entah terbuat dari bahan apa, dipinggangnya menyoreng sebilah pedang panjang tiga kaki sikapnya gagah dan perwira sangat angker, membuat orang merasa kagum dan segan tak berani beradu pandang kedatangannya ini seumpama malaikat dewata saja.

sekian lama ia mengawasi Giok-liong, sebelah tangan kiri memegang gagang pedang sedang tangan kanan menunjuk kotak mas ditangan Giok-liong , katanya .

"sekali-kali kau tak boleh melihat surat-surat dalam kotak mas itu "

Giok Liong menyengir dingin, tanyanya .

"

Kenapa ?"

"Tidaki... tidak kenapa ?"

"

Omong kosong Kotak mas sudah menjadi milikku, aku punya hak penuh akan kotak mas ini, ada sangkut paut apa dengan tuan?"

"sudah tentu ada sangkut paut dengan aku "

"Ada sangkut paut dengan kau ada sangkut paut dengan kau juga harus kuperiksa,"

Lalu Giok-liong melangkah kesamping menjauh beberapa tindak.

"plak "

Sekali tekan ia membuka tutup kotak mas itu lagi

Kim-i-jin atau orang berpakaian serba kuning mas itu menjadi gugup, tak kelihatan ia bergerak tahu-tahu bayangan kuning berkelebut sebat sekali ia menubruk tiba kehadapan Giok-Liong tangannya meraih seraya berteriak gelisah.

"Betapapun kau tak boleh lihat"

Giok-Liong melengak, batinnya.

"Gerak tubuh yang teramat cepat sekali sungguh belum pernah kulihat selama ini."

Di hati ia berpikir, mulutnya menggertak sedang kakinya menggeser kedudukan.

"Betapapun aku harus melihat "

Tangan kiri yang memegang gagang pedang dari Kim-ijin kelihatan gemetar, tangan kanan digoyangkan, naga-naganya ia berniat hendak melabrak dengan kekerasan.

Karena kepandaiannya yang hebat dan lihay tadi serta sikapnya yang berwibawa itu Giok-Liong menjadi tak berani gegabah, kotak mas disembunyikan dibelakang punggungnya katanya dengan nada berat.

"Apa kau nantang berkelahi ?"

Ternyata Kim-i-jin itujuga sangat prihatin katanya sungguhsungguh.

"Kalau kau tidak mau dengar nasehat, terpaksa aku harus melabrak kau "

"Hahahahaha..."

Giok-Liong terbahak-bahak.

"Terang kau sengaja hendak ikut merebut kotak ini, sayang kau terlambat setindak lantas kau mencari gara-gara, Bagus Mengingat kedatanganmu yang tak gampang dan cukup mencapaiku n ini, bolehlah kau segera pulang tanpa cidera, maka tidak tersia-sialah kedatanganmu ini,"

Setelah berkata ia simpan kotak mas kedalam bajunya terus menepuk kedua tangganya, dengan muka mengeras ia membentak.

"silahkan lolos pedangmu "

Tak nyana dengan mengunjuk muka murung dengan alis dikerutkan dalam-dalam, Kim-ijin malah menggelengkan kepala, ujarnya "Kau salah paham. Maksud kedatanganku hanya minta harap kau tidak mencuri lihat barang yang berada di dalam kotak itu..."

"Tutup mulut, justru karena ingin melihat apa isi kotak ini sehingga menimbulkan banyak korban konyol ini, sudah tentu setelah kudapat aku harus melihatnya."

"Dengan cara apa baru kau rela untuk tidak membuka dan melihatnya"

"Apapun takkan kupedulikan "

Sahut Giok-Liong dengan tegas dan kukuh dalam pendapatnya. Tiba tiba alis yang terkerut dari Kim iJin melebar, dia menjadi terang cahaya mukanya, katanya lantang.

"

Kalau ibumu yang tidak mengijinkan kau untuk melihatnya bagaimana ?"

Giok-Liong menjadi murka, hardiknya.

"

Kentut Kenapa kau timpahkan urusan ini kepada ibuku."

Sambil melangkah maju beberapa tindak tangannya terkepal hendak melancarkan pukulan. Kim i-jin mundur beberapa langkah sambil menggoyangkan tangan, ujarnya.

Post a Comment