Halo!

Seruling Samber Nyawa Chapter 153

Memuat...

Akhirnya berang juga hati Le siang-san diberondong terusterusan, teriaknya .

"Siau-hiap. Mari kita juga persen beberapa buah kepada mereka supaya mereka tahu kelihaian kita."

Meskipun Giok-liong menggembel tiga batang potlot mas kecil dari perguruannya yang dapat digunakan sebagai senjata rahasia, namun selama keluar dari lembah kematian sampai sekarang belum pernah digunakan.

Menurut wataknya ia sangat benci dan dianggapnya perbuatan rendah kalau melukai orang dengan senjata rahasia, Maka sembari tertawa getir ia menyahut.

"selamanya aku yang rendah belum pernah menggunakan senjata rahasia, sudahlah, mari cepat "

Mungkin karena sudah tak kuasa menahan gelora amarahnya atau mungkinjuga tangannya sudah gatal tanpa banyak cingcong lagi Lan-ing mo ko Le siang san meroboh kantongnya merogoh segenggam Ci-hun hong-hou ciam (jarum penembus teng gorokan) mulutnya lantas berseru.

"Biar kuberikan segenggam Ci-hu-hong-hou-ciamku ini kepada mereka, biar merekapun merasakan kelihayanku, kalau tidak mereka takkan mundur teratur."

Daam beribu kesibukannya cepat-cepat Giok-liong menoleh kebelakang, sekilas saja tampak olehnya tak jauh di belakang sana kiranya adalah Ci-hu-sin-kun yang mengejar paling depan, disamping yang berlari berendeng bukan lain adalah putrinya ci-hu-giok-li Kiong Lingling.

Memang mereka mengejar dengan ketat tapi mereka berdua tak pernah lepaskan senjata rahasia.

Tatkala itu Le siang-sau sudah mengayunkan tangannya membalik hendak menyambitkan senjata rahasiamu.

Keruan Giok-liong menjadi terkejut, sekuat kakinya menjejak tanah tubuhnya meluncur cepat menubruk tujuh kaki dibelakang orang tangan terus diulur mencengkeram pergelangan tangan Lan-ing-mo ko Le siang-san yang menggenggam jarum-jarum berbisa itu, teriaknya .

"cian-pwe, jangan"

Tak nyana belum lagi suaranya sirap mendadak tampak tubuh Le siang-sin meliuk kesebelah kanan mulumyapun menjerit ",.Aduh"

Lalu tubuhnya terhuyung kesebelah kiri dan hampir terjerembab kedepan, larinya juga menjadi lambat. Keruan bukan kepalang kaget Giok-liong, lekas tanyanya .

"cian-pwe kenapa kau?"

Lan-ing mo ko Le siang-san mengertak gigi menahan sakit, dengusnya .

"Aku .. aku .... pada.,.ku...."

"Kau kena senjata rahasia?"

"Aduh"

Lagi- lagi Le siang-san mengeluh, tubuhnya tampak berkelejetan dan gemetar, agaknya menahan sakit yang luar biasa, maka daya larinya menjadi semakin kendor.

Para gembong iblis yang mengejar jauh dibelakang sudah melihat, terdengar mereka bersorak riuh rendah, suara caci maki terdengar lagi semakin gempar dan mencekam.

Tanpa ajal Giok-liong menarik pergelangan tangan orang yang digenggamnya itu serta berseru.

"cian-pwe"

Lekas mendekam dipunggungnya tanpa menanti penyebutan Le siang-san ia terus bopong tubuh orang secepat terbang seperti segulung asap mengembangkan ilmu ringan tubuhnya terus berlari sekuat tenaga.

Begitu besar nafsunya berlari untuk meninggalkan para pangejarnya sehingga ia melupakan serangan senjata rahasia para gembong-gembong iblis yang jahat itu.

semula meskipun senjata rahasia memberondong seperti hujan derasnya, tapi sedikit pun tak mampu melukai mereka berdua karena Giok- liong mengerahkan hawa Ji-lo untuk berlindung, justeru kabut putih dan hawa Ji-lo itulah yang sudah menyelamatkan mereka, meski sasaran senjata rahasia sangat tepat, semua kena terpental balik oleh daya tahan hawa Ji-lo yang ampuh.

Maka pada waktu ia memburu maju ke-depan merintangi tindakan ce siang-san yang hendak menyambitkan ci-hu hong bou-cian badannya tersuruk kedepan sehingga hawa Ji-lo ikut terdorong maju, maka tanpa terlindung Le siang-san lantas kena sebuah senjata rahasia.

sekarang ia menggendong tubuh besar Le siang-san dicunggungnya dan dibawa lari secepat terbang, tapi kekuatan hawa Ji-lo tak mungkin bisa menembus badan orang melindungi punggungnya maka terasa oleh Giok-liong, kadang-kadang badan Le siang-san menggeliat, meronta dan juga saban saban kekejangan, tapi semua ini dalam prasangkanya karena kesakitan sebab lukanya itu terkoyak oleh daya luncuran larinya.

Entah sudah berada lama dan berapa jauh ia berlari, tahu tahu cuaca sudah terang benderang, karena Lwekangnya yang kuat maka para gembong-gembong iblis itu sudah jauh ketinggalan dibelakang kira-kira ratusan tombaki bukan saja desiran senjata rahasia tidak terdengar malah caci maki mereka juga tidak terdengar pula.

Menggendong seseorang walaupun sudah mengerahkan Ginkangnya sampai puncak tertinggi akhirnya Giok Liong merasa kecapaian juga.

Menurut dugaannya jalan keluar dari pegunungan ini sudah tidak jauh lagi, setelah membelok kedalam sebuah mulut lembah tak jauh disebelah depan terdapat sebuah batu gunung yang bidang rata.

Maksud Giok-liong hendak meletakan Le siang-san yang luka-luka itu diatas batu itu, sekedar untuk istirahat dan untuk memeriksa luka lukanya pula.

siapa tahu waktu ia pelan-pelan meletakkak tubuh orang diatas batu bidang itu serta memanggil.

"cian-pwe . ."

"Bluk"

Lan ing-mo ko Le siang san terjatuh rebah tertelungkup tanpa bergerak, badannya sudah kaku dan mulai dingin.

Giok-liong sampai berjingkrak kaget dan melonjak bangun kakinya membanting tanah saking gegetun tangannya terkepal memukuli kepalanya sungutnya.

"sungguh goblok dan harus mampus benar aku sungguh aku harus mampus"

Ternyata diatas tubuh Le siang-san sudah terkena puluhan macam senjata rahasia yang jumlahnya tidak kurang dua tiga puluh jumlahnya, seluruh punggungnya dedel duwel dan berlumuran darah sehingga punggungnya itu seperti duri landaki sungguh keadaan ini sangat mengenaskan.

Tadi ia menghadapi kematian Ah-liong-ong yang mengenaskan sekarang ia harus menghadapi pula pengorbanan Le siang-san yang gugur secara mengerikan ini.

Betapa sedih dan pilu hati Giok-liong ini sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Kematian Ah- liong ong memang bukan menjadi tanggung jawab dirinya secara langsung tapi orang menyelam kedasar rawa menjemput kotak mas itu justru secara langsung menguntungkan dirinya, maka betapapun ia harus ikut berduka cita akan kematian orang.

Tapi bagaimana juga lubuk hatinya yang paling dalam tidak begitu terkesan akan peristiwa ini.

Adalah kematian Lan ing-mo-ko Le siang san, walaupun tidak sengaja tapi kematian orang adalah karena dirinya, Apalagi orang tengah berusaha hendak menolong dirinya keluar dari mara bahaya kehancuran total oleh pihak Bu ih-pay yang telah menanam dinamit di berbagai jalan keluar yang penting di seluruh pelosok pegunungan.

Beliau merupakan seorang yang telah menanam budi besar, terhadap dirinya, maka betapa gemes dan gegetun Giok-liong akan kejadian ini dapatlah dibayangkan.

Tak kuasa lagi ia tergerak sedih dan menyesal sekali, kepalanya terus dipukuli dengan kepelannya, entah berapa lama ia tenggelam dalam kedudukan ini.

Tersadar olehnya orang yang telah meninggal takkan hidup kembali, apa boleh buat tak jauh dari batu bidang itu digalinya sebuah lobang besar terus mengubur jenazah Le siang san ditempat itu juga.

Lalu dicarinya sebuah batu persegi yang rata ditegakkan di depan pusara, lalu dikerahkan lwekang dengan jari tangannya ia menulis sebaris huruf-huruf yang berbunyi "Disini tempat istirahat budiman Le siang sun"

Baru saja ia selesai mengores.

"Hahahaha Hehehehe" "

Keparat akan kulihat sampai dimana kau bisa lari"

Sekonyong-konyong sekelilingnya sudah dirubung oleh orang banyak, malah ada pula yang mendesak.

"Lekas serahkan kotak mas berisi buku catatan rahasia itu"

Ternyata para gembong gembong iblis yang mengejar itu sudah meluruk tiba semua, mereka mengepung dirinya menjadi sebarisan pagar manusia, semua mengawasi dan menatap dengan pandangan gusar dan mendelik semua menatap dengan muka buas dan ganas dengan mata membunuh membayang dalam pandangan mereka.

Betapa murka hati Giok Liong boleh dikata sudah mencapai puncak tertinggi yang tak terkendali lagi, sungguh sangat kebetulan kedatangan mereka karena rasa duka dan dendam hatinya belum sempat terlampias.

Bukan gentar dan takut menghadapi situasi menegangkan urat syaraf ini sebaliknya Giok-liong malah bergelak tertawa- - "Hahaaha Haha-hahahaha siapa yang tidak takut mati silakan tampil ke depan"

Lalu dengan ringan ia meloncat keatas batu nisan yang baru saja ditegakkan itu, sikapnya garang dan gagah. segera tampak Ci-hu sin-kun tampil ke-depan, katanya lantang.

"Buka kotak mas itu, biar Lohu melihat sekali lantas kutinggal pergi"

"Untuk apa kau hendak melihat?"

Tanya Giok-liong dengan nada berat.

"Lohu sudah pernah berkata, aku takkan turun tangan merebutnya."

"Merebut? Kukira kau belum mampu"

"Buyung"

Ci hu sin-kun berjingkrak gusar, "kau tidak tahu kebaikan."

"Bukan aku"

"siapa?"

"Kau sendiri"

Keruan semakin murka Ci-hu sin-kun kedua lengannya digentakan, serunya.

"Agaknya sebelum melihat la yon kau takkan menangis. Baik, biar Lohu memberi ajaran kepadamu."

Ci-hu-sin kun mengerahkan tenaga kabut ungu segera menyelubungi seluruh badannya setinggi tiga kaki di atas kepalanya.

Melihat ayahnya marah-marah dan hendak bergebrak dengan Giok Liong, ci-hu-giok li menjadi gelisah, tersipu-sipu ia memburu ke samping ayahnya terus menarik lengannya, katanya berbisik dipinggir telinga sang ayah.

"Yah saat ini musuhnya begini banyak, apa perlu kita sendiri yang turun tangan"

Demikian bujuknya supaya meredakan amarah ayahnya.

"Dia berani main tengkar dengan ayahmu."

Dengus ci-husin- kun.

"rasa dongkoi ini masa bisa kutahan"

"Kalau kau tidak mencari perkara kepada dia, belum tentu dia mau bertengkar dengan kau, kenapa kau tidak menonton saja dari samping dulu."

Demikian bujuk Ci-hu-giok-li Kiongling dengan suara lembut.

sebenarnya mana Ci-hu-sin kun sudi menjadi pelopor dalam pertempuran babak per-tama, apalagi Giok- liong merupakan lawan yang paling tangguh lagi.

Maka segera ia pinjam angin memutar haluan, dengusnya dengan kebencian.

"Baik, biar kuberi kelonggaran beberapa saat lagi."

Lalu ia membalik tubuh berseru kepada seluruh hadirin.

"Lohu tiada niat- untuk merebut kotak mas itu. Maka silakan kalian berlaku menurut keinginan kalian sendiri."

Apa yang dikatakan sebagai bergerak bebas menurut keinginannya sendiri tidak lain adalah kata-kata membakar dan memberi dorongan kepada gembong-gembong iblis itu supaya mereka yang ada minat lekas-lekas turun tangan.

sudah tentu para hadirin menjadi gempar.

"Tutup bacot kalian."

Tiba-tiba Pak-hay su lo meluncur datang, semua melayang kesamping Giok-liong kira-kira setombak jauhnya, berjajar dan bertolak pinggang dengan angkernya.

Melihat Pak-hay-su lo juga telah ikut mengejar tiba, berkerut alis Giok-liong, hatinya mulai was-was dan gelisah tidak tentram.

sebab bagaimana hubungan pribadinya dengan aliran Pakhay- bun diPinng-goan itu sampai saat ini masih belum diketahui secara jelas.

Li Hian pernah menanam budi besar akan keselamatan jiwanya dulu, demikian gagah perwira dan setia kawan lagi ke-empat orang tua dari laut utara ini, pribadi dan sepak terjang mereka merupakan teladan yang harus ditiru dan menjadi cermin bagi dirinya, sekarang aku harus bertempur mati-matian melindungi kotak mas ini atau kuserahkan secara damai saja kepada mereka ? Disaat Giok-liong gundah dan serba sulit inilah King-thian sin Lu say bersoja katanya.

"selamat siau-hiap. secara tak sengaja siau-hiap telah dapat memperoleh kotak mas yang tersimpan di mata air dasar Rawa naga beracun itu."

"

Celaka."

Demikian pikir Giok-liong, "

Kalau mereka menghadapi aku dengan kata-kata manis lebih membuat runyam diriku."

Karena pikirannya ini maka dengan tegas dan gambla langsung ia buka suara lebih dulu .

"Apakah kalian berempat mengingini kotak mas ini."

Tersipu-sipu King thian sin Lu Say goyang tangan, ujarnya.

"Siau-hiap jangan salah paham, kita berempat bersaudara jauh menyusul ke Bu ih san sini dari laut utara memang bertujuan mengambil kotak mas itu dari dasar rawa itu."

Giok- liong tertawa getir, katanya.

"Hal ini kalian sudah pernah katakan kepadaku"

"Malah sebelum berangkat,"

Demikian lambung Lu say.

Post a Comment