Halo!

Seruling Samber Nyawa Chapter 152

Memuat...

"Betul ada kejadian begitu ?"

Giok Liong menegas.

"Buat apa LOsiu membual kepadamu, ketahuilah telah dapat kutemukan sebuah jalan rahasia, tanggung kita bakal selamat ke luar dari sini "

Pada saat itulah sekonyong-konyong benang halus yang terpegang ditangan Giok- liong itu bergerak-gerak tertarik kedalam air, terang Ah- liong ong telah memberi syarat kepada dirinya, begitu bergerak benang halus itu terus tertarik semakin keras kedalam air keruan kejut Giok Liong bukan main, pikirnya mungkinkah Ah-liong-ong sudah berhasil....

cepat-cepat kedua tangannya bergantian meraih dan menarik semakin cepat.

Dibela kang sana Lan ing-mo-ko Le siang-san sudah mendesak lagi.

"Siau-hiap. lekas-lekas, begitu terang tanah mungkin kita sudah terlambat."

Giok Liong sendiri tengah gundah dan mengkhawatirkan keselamatan Ah- liong ong yang berada di dalam air, sembari bekerja menarik sekuat tenaga, mulutnya menyahut.

"Terima kasih akan kebaikan Cian-pwe, tapi... ai "

Dari permukaan air muncul sebuah paha besar yang telanjang, terang itulah salah sebuah kaki Ah- liong ong, kiranya ujung benang yang lain itu terikat dipergelangan kaki Ah- liong ong, kini yang tertarik dulu justru kakinya itu yang muncul kepermukaan air, terang jiwanya mungkin susah diselamatkan lagi.

Teriakan kejut Giok- liong disusul mencuatnya suara air seketika mengalihkan perhatian seluruh gembong iblis yang tengah bertempur kacau balau itu, serempak sinar pandangan mereka beralih kepermukaan air.

Malah ada yang terus berteriak .

"Celaka, ada orang terjun ke air mengambil pusaka itu"

Giok Liong tak berani berayal lagi, sekali sendai langsung ia tarik tali ditahannya itu kuat-kuat, kontan seluruh jubah dan pakaiannya basah kuyup kecipratan air dingin.

Nyata tubuh Ah-liong-ong sudah kaku jiwanya sudah melayang sejak tadi, seluruh tubuhnya berubah hitam kebirubiruan, tujuh lobang panca inderanya mengalirkan darah, dipelukan kedua tangannya erat erat menyikap sebuah kotak kuning mas yang berkilauan sesuai seperti apa yang diceritakan oleh Ham-kang-it-ho tadi, yaitu kotak mas sepanjang satu kaki itulah.

Pertempuran kacau balau itu seketika berhenti sendiri, semua tersipu-sipu lari memburu ke arah tempat sembunyi Giok- liong.

Tapi jarak mereka meskipun tidak jauh tapi antara mereka terpaut oleh rawa air yang berpusar sangat deras itu.

Apalagi tempat kedudukan Giok-liong sekarang berada dihimpitan sebuah celahan gunung yang meneliti tinggi keatas, untuk mencapai kelana harus berputar dulu dari pinggiran dan mesti memanjat tebing dan meloncati selokan baru bisa sampai disana, kecuali untuk cepatnya mereka harus melompati permukaan air rawa yang berbahaya itu.

Memang para gembong-gembong iblis yang hadir pada saat itu tak sedikit yang mampu melompati permukaan rawa ini, tapi siapa yang berani menempuh bahaya ini, salah-salah jiwa sendiri bakal menjadi korban secara konyol.

Bukan takut karena jahatnya pusaran air yang menenggelamkan sesuatu yang terendam.

Adalah takut kalau di saat mereka terbang melintas lantas dibokong dengan pukulan maut yang mematikan, apalagi kalau meluncur jatuh tiada satu tempat yang bisa untuk berpijak, terang kalau batal amblas tenggelam kedasar rawa, masakah bisa tetap hidup? Justru karena sedikit keraguan inilah telah banyak memberi kesempatan bagi Giok-liong untuk menjemput kotak mas terus di-kempit diketiaknya katanya kepada Lan-ing-mo-ko Le Siang-san yang masih mendekam di tanah .

"Le-cianpwe Mari kita cepat pergi."

Lekas Le Siang-sanjuga mengiakan, Seiring dengan suaranya ini badannya lantas melenting tinggi terus beriari cepat kearah timur laksana segulung asap biru yang mengendarai angin mengejar kilat.

Nyata bahwa ia sudah kerahkan seluruh tenaganya untuk lari secepat meteor jatuh.

Ginkang Giok- liong sudah sempurna sudah tentu larinya tidak kalah cepat, Dua gulung asap memutih biru dan putih kejar mengejar berlari pesat laksana dua jalur kilat.

Sebentar saja bayangan mereka sudah selulup timbul diantara semak belukar dan terus menerobos kecelah gunung melompati jurang jauh di belakang mereka, tampak bayangan orang banyak tengah mengejar kencang mendatangi seperti kunang-kunang yang mengejar sinar lentera terdengar pula umpat caci mereka yang kotor dan ribut.

"Bocah keparat, berani mati kau."

"letakkan kotak mas itu nanti kuampuni jiwamu "

"Kurcaci banyak akal muslihatnya "

Demikianlah berbagai makian saling beriomba dilontarkan suara bentakan membuat pegunungan yang sepi sunyi ini menjadi ramai dan bergema sekian lama. Mendadak seseorang berteriak keras dengan ancamannya.

"Kalau tidak mau berhenti awas kita serang dengan senjata rahasia "

Mendengar ancaman serius ini Lan ing mo-ko Le Siang-san berkata ditengah luncuran udara.

"Siauhiap Hati-hatilah mereka akan menyerang dengan senjata rahasia"

"Tak perlu khawatir."

Sahut Giok- liong.

"Lekas,"

Sembari berkata ia empos semangatnya terus mengerahkan tenaga dari pusarnya dimana Ji-lo sudah menyelubung seluruh badannya kakijuga melangkah semakin kencang.

Harus diketahui bahwasanya Giok- liong bukan gentar atau takut menghadapi kejaran para gembong-gembong iblis itu, yang di kukhawatirkan justeru adalah seperti apa yang dikatakan Lan-in-mo-ko Le Siang-san tadi bahwa pihak Bu ih pay sudah menanam bahan peledak di seluruh pelosok pegunungan ini untuk menumpas mereka seluruhnya.

Menurut perhitungannya setelah lolos dari lingkungan pegunungan yang penuh mara bahaya ini baru ia akan menghadapi gembong-gembong iblis ini, masa mengandal bekal kepandaian sendiri harus gentar menghadapi musuhmusuh jahat ini.

Bagaimana juga dirinya tak perlu khawatir kena rugi.

"seeeeerrrrrr.

","suiiiiiittttt,"

Desiran senjata- rahasia yang memecah udara melesat lewat dipinggir kuping, suaranya keras membising-kan, sungguh mengejutkan perbawa berbagai senjata rahasia yang meluruk sekaligus sebanyak itu. Berubah air muka Le Siang-san, teriaknya kejut.

"Celaka Mereka benar-benar menyerang deagan senjata rahasia"

"Cian-pwe."

Sahut Goki liong.

"cepat, jangan hiraukan mereka biar aku menjaga dibelakang."

Lan ing mo ko Le Siang-san sudah kerahkan seluruh Lwekangnya, terus berlari kencang seperti dikejar setan, mulutnya berkata.

"Siau hiap. mereka rata-rata adalah gembong-gembong iblis yang kejam dan telengas, tidak sedikit yang membekal senjata rahasia beracun jahat kau harus hati-hati"

Cepat Giok Liong menyahut .

"jangan hiraukan mereka setelah lolos dari mata bahaya nanti kira bicara lagi."

Akan tetapi serangan berbagai senjata rahasia yang memberondong datang laksana hujan deras, rata-rata menggunakan senjata berat dan bisa dilancarkan dari jarak jauh lagi, suaranya semakin membisingkan dan serabutan, bukan sedikit malah semakin banyak suara bentakan dan makian mereka yang mengejar juga semakin dekat jaraknya, terang bahwa para pengejar itu juga telah mengerahkan seluruh tenaganya mengejar mati matian.

Entah berapa jauh kejar mengejar ini sudah berlangsung, di ufuk timur sana tampak sinar pancaran terang sang surya sudah mulai menongol keluar, cuaca mulai terang benderang, Tak berapa lama lagi seluruh jagat itu suda bakal menjadi pagi.

Lan ing mo ko Le siang-san mencari jalan yang menuju ke tempat arah timur terus lari sipat kuping, sambil menuding sebuah gugusan gunung di depan sebelah utara ia berkata.

"Lembah gunung sebelah utara itulah terdapat sebuah jalan keluar yang paling umum dilewati, tapi disitu telah terpendam tidak kurang lima ratus kati bahan peledaki kalau seberang lewat disana, tanggung badannya bakal hancur lebur tanpa bekas lagi."

Sungguh haru dan terima kasih sekali Giok- liong, katanya.

"Kalau tiada petunjuk Cianpwe ini, sungguh tak dapat kubayangkan bagaimana akibatnya nanti."

Dari belakang sana tiba-tiba terdengar gerungan gusar yang keras sekali.

"Le siang san, keparat tua bangka yang tidak tahu dimampus, apa kau sudah bosan hidup ya?"

Terdengar pula seorang lain berteriak.

"Tuan Le, lekas rintangi bocah keparat itu, sekaligus kau akan menjunjung nama dan tenar diseluruh jagat, kalau tidak jangan harap untuk hari hari selanjutnya kau bisa bercokol di dunia persilatan."

Lan ing mo ko Le siang san tetap berlari sekencang angin, mulutnya juga berteriak.

"Omong kosong belaka. sudah setengah abad ini aku orang she Le berkecimpung dalam penghidupan Kangouw, selama ini belum pernah aku kena gertak sambel macam kentut busukmu ini."

Habis berkata mulutnya lantas bersuit melengking tinggi dan keras menusuk telinga, kakinya terus berlari secepat terbang.

Diam-diam Giok Liong menjadi kagum dan memuji akan watak Le siang san yang gagah perwira dan setia kawan ini, maka iapun tak mau kalah cepat berlari dengan pesat Kalau mau dengan kemampuan Giok Liong sendiri apalagi mengembangkan Leng hun-toh mungkin sejak tadi ia sudah tinggalkan para gembong gembong iblis itu jauh dibelakangnya dan mungkin tak kelihatan lagi,.

Akan tetapi dalam keadaan yang demikian ini betapapun juga ia tidak tega meninggalkan Le siang san yang mencoba menolong dirinya dari mara bahaya ancaman peledakan dinamit yang dipasang oleh pihak Bu ih pay itu.

Maka terpaksa ia mengintil dibelakang orang sambil melindungi orang sengaja ia perlambat larinya sehingga dengan kekebalan hawa Ji-lo menyelubungi badannya untuk mengaburkan pandangan para musuh yang mengejar dan menyerang dengan senjata rahasia itu, siapa tahu kalau senjata rahasia yang jahat itu nanti mengenai Le siang-san.

Lambat laun bentakan dan tindakan kaki pengejaran di belakang mereka sudah semakin susut dan semakin sedikit, sebaliknya suara samberan senjata rahasia semakin banyak memberondong tiba.

Tadi yang menyambitkan senjata rahasianya saking gemes sekarang ikut-ikutan menyerang tanpa banyak bersuara lagi.

Pisau terbang berpaku, mata uang atau paku baja dan entah macam senjata rahasia apa lagi yang telah berseliweran memberondong tiba, begitu deras sambaran senjata rahasia seperti hujan layaknya, sampai suara berkerontangan berjatuhan menyentuh batu-batu gunung.

Post a Comment