Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 70

Memuat...

Nirahai menangis mengguguk.

"Dia.... dia Ayahmu...."

Suaranya gemetar dan ia menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu. Milana cepat menoleh, kemudian lari meninggalkan ibunya, mengejar Suma Han sambil menjerit.

"Ayaaahhh....! Ayah....!"

Mendengar jeritan anak itu, cepat Suma Han membalik, mengira bahwa dia tentu akan melihat munculnya laki-laki yang menjadi ayah dari anak Nirahai itu. Akan tetapi, ia menjadi bingung dan terheran-heran ketika melihat anak itu mengejarnya, kemudian menjatuhkan diri berlutut dan memeluk kakinya sambil menangis dan memanggil-manggil.

"Ayaahh.... ayaahku....!"

Suma Han terbelalak memandang bocah yang menangis memeluki kaki tunggalnya, kemudian mengangkat muka memandang Nirahai yang masih menangis tersedu-sedu menutupi muka dengan kedua tangan sambil berlutut di atas tanah.

"Heh....! Apa....! Bagaimana....? Engkau.... anak siapa....?"

"Ayah.... engkau Ayahku.... aku anak Ayah dan Ibu....."

Milana mengangkat muka. Tubuh Suma Han menggigil dan ia menyambar tubuh Milana, diangkat dan dipondongnya.

"Anakku? Engkau.... anakku....?"

Ia menciumi muka bocah itu. Milana tertawa dengan air mata bercucuran, merangkul leher pendekar yang dikagumi dan yang dirindukan itu. Suma Han berpincang melangkah ke depan Nirahai.

"Nirahai.... benarkah ini? Dia.... dia ini.... anakku....?"

Nirahai mengangguk, mengusap air matanya.

"Ketika kita saling berpisah.... aku mengandung dan.... terlahirlah Milana.... anak kita...."

"Nirahai, engkau kejam, engkau tidak adil. Diam-diam saja engkau memelihara anak kita sampai begini besar. Tidak memberitahukan kepadaku, tidak menyusulku. Betapa kejam engkau."

Nirahai meloncat bangun, pandang matanya penuh penasaran.

"Siapa yang kejam? Engkaulah yang kejam, lemah dan canggung! Engkau tidak pernah mencariku, tidak pernah menyusulku ke Mongol!"

Melihat ayah bundanya cekcok, Milana yang berada di pondongan ayahnya itu berkata.

"Ayah, marilah engkau ikut bersama kami...."

"Dan menjadi seorang Pangeran Mongol? Ha-ha, nanti dulu! Aku tidak sudi! Semestinya ibumu yang ikut bersamaku ke Pulau Es. Nirahai, maukah engkau?"

Akan tetapi Nirahai memandang dengan muka merah dan berapi.

"Tidak sudi! Kini aku tidak mau menyembah-nyembah minta kau bawa. Dan hanya dengan paksaan saja engkau akan dapat membawaku ke sana. Dengan paksaan, kau dengar? Aku sudah cukup menderita dan sakit hati karena kau biarkan, seolah-olah aku bukan isterimu. Engkau laki-laki lemah! Milana, mari kita pergi!"

"Tidak boleh, Nirahai. Milana ini anakku. Sudah terlalu lama dia kau pelihara sendiri, terlalu lama kau pisahkan dari Ayahnya. Aku akan membawa dia, tak peduli engkau suka ikut atau tidak!"

"Ayah....! Aku tidak mau meninggalkan Ibu!"

Milana merosot turun dari pondongan dan hendak lari kepada ibunya. Akan tetapi Suma Han mendengus marah, lengan kanannya menyambar tubuh Milana, dikempitnya dan dia lalu pergi dengan cepat meninggalkan Nirahai.

"Han Han....!"

Nirahai menjerit dan mengejar. Namun Suma Han tidak peduli, wajahnya keruh, matanya hampir terpejam, kaki tunggalnya melangkah terus ke depan.

"Lepaskan aku! Ayahhhh.... aku tidak mau meninggalkan Ibu....!"

Milana menjerit-jerit. Akan tetapi Suma Han terus saja melangkah tanpa mempedulikan jerit anaknya. Tiba-tiba Bun Beng meloncat dan menghadang di depan Suma Han, berdiri tegak dan suaranya nyaring penuh rasa penasaran,

"Suma-Taihiap! Seorang pendekar seperti Taihiap tidak boleh berlaku begini! Memisahkan anak dari ibunya adalah perbuatan jahat! Kalau Taihiap berkepandaian, mengapa tidak membawa Ibunya sekalian?"

Suma Han terbelalak, mukanya berubah merah saking marahnya.

Post a Comment