Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 65

Memuat...

"Aku harus mengantar Milana lebih dulu pulang ke Mongol,"

Katanya. Kwi Hong tertawa.

"Apa sukarnya? Dengan adanya Paman dan dengan menunggang garuda, sebentar saja kita akan dapat mengantar Milana. Eh, di mana anak, itu? Milana....! Milana....!"

"Aku di sini....! Aku datang....!"

Terdengar jawaban Milana dan tampaklah anak itu datang berlari menghampiri mereka. Wajahnya sudah cerah kembali karena panggilan suara Kwi Hong sudah mengusir rasa kecewa hatinya.

"Milana, pedang telah selesai dibuat dan sekarang Bun Beng tidak perlu mencari kayu bakar lagi. Kita dapat bermain main sambil menanti sampai Kakek itu selesai menapai pedang pusaka. Biar kusimpan dulu cawan ini!"

Kwi Hong berlari pergi membawa cawan kosong. Bun Beng memakai bajunya, lalu mengambil setangkai bunga dari atas tanah, mencium bunga yang indah itu sambil berkata,

"Milana, terima kasih atas pemberian bunga ini. Engkau sungguh seorang anak yang baik hati...."

Wajah Milana berseri kemudian berubah merah ketika Bun Beng mendekatinya.

"Kalau sudah selesai, tentu engkau akan diajak pergi oleh Suma Taihiap."

Kata Milana perlahan.

"Engkau akan sekaligus mendapatkan seorang sahabat yang manis seperti Kwi Hong."

"Ah, mana mungkin! Aku harus mengantarmu lebih dulu pulang ke Mongol,"

Jawab Bun Beng tiba-tiba merasa kasihan kepada anak itu dan mendekati.

"Biarkanlah, aku dapat mencari jalan pulang sendiri."

"Tidak Milana. Sebelum mengantar engkau pulang, aku tidak mau pergi meninggalkanmu di sini. Pula, kurasa Suma-Taihiap akan suka mengantarmu pulang dengan naik burung garudanya. Setelah kau tiba dengan selamat di sana, barulah aku akan suka ikut dan belajar ilmu kepadanya."

"Bun Beng, mengapa engkau begini baik kepadaku?"

Milana bertanya, mengangkat muka memandang dengan hati terharu. Bun Beng tersenyum.

"Apa kaukira engkau kalah baik? Engkaulah yang bersikap amat baik terhadap aku. Engkau keluarga istana raja, dan aku hanya seorang anak sebatangkara yang miskin, namun sikapmu baik sekali. Bagaimana aku tidak akan bersikap baik kepadamu? Lupakah kau akan pelajaran tentang cinta kasih? Kalau engkau menganjurkan cinta kasih antara manusia, agaknya manusia seperti inilah yang paling pantas dicinta."

Percakapan mereka adalah percakapan kanak-kanak yang meniru niru pelajaran filsafat, maka tentu saja "cinta"

Yang mereka sebut sebut tidak ada hu-bungannya dengan cinta antara laki laki dan perempuan dewasa. Betapapun juga, ada sesuatu yang aneh terasa di hati mereka.

"Mengapa begitu, Bun Beng? Apa bedanya aku dengan orang lain?"

"Hemm, entahlah. Mungkin karena engkau.... manis sekali."

Milana makin girang dan ia tersenyum tidak tahu betapa Kwi Hong telah datang dan melihat mereka berdiri berhadapan demikian akrab dan melihat Bun Beng memegangi setangkai bunga indah dan mereka tidak tahu betapa Kwi Hong yang keras hati itu memandang dengan mata bersinar sinar penuh iri dan cemburu! Kwi Hong sendiri belum tahu tentang arti cinta antara pria dan wanita, namun tanpa disengaja dia merasa amat tidak senang menyaksikan keakraban antara Bun Beng dan Milana! Akan tetapi Kwi Hong menyembunyikan rasa tidak senangnya ketika ia berlari menghampiri mereka dan berkata.

"Nah, sekarang tiba waktunya kita bermain main dan marilah kita memperlihatkan ilmu yang kita pelajari. Aku ingin sekali melihat ilmu silatmu, Milana. Agaknya engkau tentu telah mempela-jari ilmu silat yang tinggi. Gerakan kakimu amat ringan dan tanganmu cekatan. Marilah kita main main dan mengukur kepandaian masing-masing untuk menambah pengalaman dan pengetahuan."

"Ah, mana mungkin aku dapat menandingimu, Kwi Hong? Engkau adalah murid To cu dari Pulau Es yang terkenal, Pendekar Super sakti, sedangkan aku hanya seorang yang sebulan sekali saja menerima latihan dari Ibu. Dalam satu dua jurus saja aku tentu akan roboh!"

"Aihhh, mengapa kau merendahkan diri, Milana? Aku yakin kepandaianmu tentu sudah cukup tinggi. Pula, kita hanya main main dan hitung hitung berlatih, tidak bertanding sungguh-sungguh, mana perlu saling merobohkan?"

"Kwi Hong, ilmu silat adalah ilmu untuk menjaga diri, ada unsur bertahan akan tetapi juga selalu mengandung unsur menyerang. Kalau dipergunakan dalam pertandingan, mana bisa main main lagi? Kepalan tangan dan tendangan kaki tidak mempunyai mata. Pula, selama hidupku, belum pernah aku menggunakan ilmu yang kupelajari untuk bertanding. Tidak, aku mengaku kalah!"

Kwi Hong menjadi kecewa sekali. Tidak ada seujung rambut dalam hatinya ingin merobohkan atau melukai Milana, hanya memang dia ingin mengalahkan anak itu di depan Bun Beng untuk mendapat pujian!

"Milana, untuk apa engkau mempelajari ilmu kalau kau takut memperguna-kan?"

Ia mendesak. Bun Beng yang sudah mengenal watak halus Milana, merasa kasihan. Dia tidak menyalahkan Kwi Hong, karena ia maklum bahwa orang yang mempelajari ilmu silat tentu senang bertanding silat dan ia pun tahu bahwa bukan niat Kwi Hong untuk melukai Milana. Tentu saja Kwi Hong belum mengenal watak Milana yang sama sekali berlawanan dengan ilmu silat itu maka ia melangkah maju dan berkata,

"Kwi Hong, Milana tidak mau bertanding mengadu ilmu. Wataknya terlalu halus untuk bertanding. Kalau engkau ingin berlatih, marilah kulayani, biar terbuka mataku dan bertambah pengetahuanku menerima pelajaran dari murid Suma-Taihiap yang sakti."

Dalam ucapan ini, Bun Beng sama sekali tidak menyalahkan Kwi Hong, hanya ingin menolong Milana yang kelihatan terpojok. Akan tetapi, hati Kwi Hong tersinggung dengan kata kata bahwa watak Milana terlalu halus, sama dengan mengatakan bahwa wataknya adalah kasar! Dengan kedua pipi merah ia lalu menjawab singkat.

"Baiklah. Mari!"

Setelah berkata demikian ia lalu menerjang maju dengan serangan ke arah dada Bun Beng! Bun Beng cepat mengelak dan melompat ke belakang, akan tetapi gerakan Kwi Hong amat cepatnya dan anak ini sudah melanjutkan serangannya dengan pukulan lain yang amat cepat. Bun Beng terkejut, tak sempat mengelak lagi maka ia lalu menggerakkan tangan menangkis.

"Dukk!"

Kwi Hong merasa lengannya agak nyeri, akan tetapi Bun Beng terhuyung ke belakang. Dalam hal tenaga sin-kang dia kalah kuat oleh Kwi Hong yang menerima latihan sin kang istimewa dari Suma Han di Pulau Es! Dan Kwi Hong yang merasa lengannya nyeri itu menjadi penasaran mengira bahwa Bun Beng agaknya memiliki kepandaian tinggi maka dia lalu menyerang terus dengan gencar. Bun Beng menggerakkan kaki tangan, mempertahankan diri dengan ilmu silat dari Siauw lim pai yang ia pelajari dari mendiang suhunya, Siauw Lam Hwesio. Akan tetapi lewat belasan jurus, dia terdesak hebat dan setiap kali terpaksa menangkis, dia terpental atau terhuyung.

"Wah, Kwi Hong.... aku menyerah kalah!"

Bun Beng berseru sambil menangkis lagi.

"Dukk!"

Kembali Kwi Hong merasa lengannya nyeri. Biarpun sin kangnya lebih kuat, namun kulit lengannya tidak sekeras dan sekuat Bun Beng yang selama setengah tahun hidup seperti kera liar dalam keadaan telanjang bulat. Ia makin penasaran.

"Mengadu ilmu tidak perlu mengalah. Bun Beng, keluarkan kepandaianmu, balaslah menyerang, jangan mempertahankan saja!"

Kwi Hong melanjutkan serangannya lebih cepat lagi sehingga Bun Beng menjadi repot sekali. Karena serangan bertubi tubi itu amat cepat dan dahsyat, terpaksa ia dalam keadaan setengah sadar, telah menggerakkan kaki tangannya menurutkan ilmu dalam tiga kitab Sam-po cin keng. Dia menangkis dengan gerakan membentuk lingkaran dengan kaki tangannya dan dari samping ia mengirim pukulan balasan, hanya mendorong ke arah pundak Kwi Hong dan dia berhasil! Pundak Kwi Hong terkena dorongannya sehingga anak perempuan itu terhuyung.

"Kau hebat juga!"

Biarpun mulutnya memuji, namun hati Kwi Hong menjadi panas. Dia menerjang lagi lebih hebat. Memang watak Kwi Hong keras dan tidak mau kalah. Dia merasa bahwa sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti dia tidak akan terkalahkan oleh anak anak lain! Bun Beng menjadi sibuk sekali. Biarpun dia mainkan ilmu silat yang dipelajari dari kitab orang sakti yang ia temukan di dalam sumber air panas di guha rahasia, namun isi kitab itu lebih ia kuasai teorinya saja, sedangkan isinya belum ia mengerti benar. Apalagi kini Kwi Hong benar benar mengeluarkan kepan-daiannya. Ilmu silat yang dia pelajari dari Suma Han adalah ilmu silat tingkat tinggi dan anak ini setiap hari berlatih dengan para penghuni Pulau Es maka tentu saja serangan serangannya amat hebat!

"Plakkk!"

Punggung Bun Beng kena ditampar. Dia terhuyung akan tetapi berkat semua penderitaan tubuhnya yang membuat tubuhnya kuat, dia tidak roboh dan dapat menangkis pukulan susulan. Kembali dia didesak hebat sampai mundur-mundur dan hanya mampu mengelak menangkis, sedangkan Kwi Hong seperti seekor harimau betina mempunyai keinginan untuk merobohkan Bun Beng. Kalau sudah kalah, tentu Bun Beng tidak berani merendahkannya dan akan menghargainya seperti yang ia inginkan!

"Kwi Hong, sudahlah....!"

Berkali kali Milana menjerit ketika melihat betapa Bun Beng mulai terkena pukulan beberapa kali. Biarpun bukan pukulan yang membahayakan, namun cukup membuat Bun Beng beberapa kali terhuyung dan mengaduh. Tiba-tiba Bun Beng menerjang dengan nekat! Sudah menjadi watak Bun Beng sebagai seorang anak yang tidak mengenal takut dan pantang menyerah!

Apa lagi baru menerima pukulan-pukulan seperti itu, biarpun diancam maut sekalipun dia pantang menyerah dan akan melakukan perlawanan. Dia sudah mengalah, akan tetapi karena Kwi Hong agaknya bersikeras untuk merobohkannya, dia menjadi naik darah dan kini Bun Beng menerjang hebat dengan ilmu barunya secara sedapat dapatnya. Biarpun gerakannya seperti ngawur, namun kakinya berhasil mengenai lutut Kwi Hong sehingga gadis cilik yang merasa kaki kirinya tiba-tiba lemas itu hampir jatuh! Dia meloncat tinggi kemudian menukik turun dan menyerang Bun Beng dari atas dengan kedua tangan. Bun Beng terkejut, berusaha menangkis, namun hanya berhasil menangkis serangan tangan kanan sedangkan tangan kirinya dapat menotok pundak Bun Beng, membuat pemuda cilik itu terguling.

"Kwi Hong, jangan lukai Bun Beng!"

Tiba-tiba Milana yang sejak tadi berteriak teriak mencegah pertandingan, sudah menerjang maju.

"Wuuuut....! Plakkk!"

Terjangan Milana cepat sekali, akan tetapi Kwi Hong masih sempat menangkis sehingga keduanya terhuyung mundur.

"Hemm, kiranya engkau boleh juga!"

Kwi Hong yang sudah menjadi marah karena menyesal bahwa dia telah merobohkan Bun Beng dan tentu Bun Beng akan marah kepadanya, sebaliknya suka kepada Milana yang membelanya, kini menyerang Milana yang cepat mengelak dan balas menyerang! Kiranya anak yang berwatak halus ini memiliki gerakan yang indah dan ringan sekali sehingga pukulan pukulan Kwi Hong dapat ia elakkan semua. Betapapun juga, dia segera terdesak hebat karena agaknya dalam keringanan tubuh saja dia dapat menandingi, sedangkan dalam ilmu silat dan tenaga, dia kalah banyak. Biarpun Milana bergerak dengan gesit, tidak urung dia terkena dorongan tangan Kwi Hong yang mengenai pinggangnya sehingga ia terpelanting jatuh.

"Kwi Hong, kau terlalu!"

Bun Beng menubruk Kwi Hong, akan tetapi cepat Kwi Hong mengelak menjatuhkan diri sambil menendang.

"Bukk!"

Paha Bun Beng terkena tendangan dan untuk kedua kalinya dia jatuh tersungkur.

Post a Comment