Tanyanya, suaranya halus dan wajahnya berseri. Suma Han tersenyum, sekaligus tertarik rasa sukanya kepada bocah yang cantik jelita itu.
"Benar, anak manis. Engkau siapakah?"
"Namaku Milana, aku keponakan Pangeran Jenghan dari Kerajaan Mongol. Kami sedang berpesiar di kapal, diserbu bajak laut dan aku diselamatkan oleh Bun Beng."
Hati Suma makin kagum kepada Bun Beng. Hemm, biarpun putera seorang datuk kaum sesat seperti Kang thouw-kwi Gak Liat dan dilahirkan karena datuk itu memperkosa Bhok Kim, namun ternyata bocah ini mempunyai bakat lahir batin yang baik. Tentu menuruni watak ibunya, seorang di antara Kang-lam Sam eng tokoh Siauw lim pai yang perkasa itu (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI).
"Marilah kalian ikut bersamaku membantu Nayakavhira. Kwi Hong, kau ajaklah dua orang anak ini."
Suma Han memondong tubuh kakek bersorban dan mencari tempat yang ada pohonnya. Di situ dia lalu membangun sebuah pondok, mempersiapkan landasan dan keperluan pembuatan pedang. Bun Beng yang sudah berjanji membantu itu ditugaskan mengumpulkan kayu bakar karena menurut Nayakavhira pembuatan pedang itu membutuhkan banyak sekali kayu bakar untuk membuat api yang sepanas panasnya. Berhari-hari lamanya Suma Han sibuk di dalam pondok membuat pedang di bawah petunjuk kakek Nayakavhira yang lumpuh.
Tiga orang anak itu sama sekali tidak boleh memasuki pondok yang panasnya luar biasa karena api besar dinyalakan siang malam tak pernah berhenti. Bun Beng juga bekerja setiap hari mencari kayu bakar, sedangkan Kwi Hong bermain main dengan Milana yang berwatak halus dan sebentar saja sudah dapat menarik rasa sayang di hati Kwi Hong yang wataknya kasar. Kedua orang anak perempuan ini jauh berbeda wataknya. Kwi Hong yang lebih tua beberapa tahun, berwatak jenaka, riang gembira, galak dan pandai bicara. Sebaliknya Milana berwatak halus, lemah lembut dan pendiam, hati-hati dalam bicara agar jangan sampai menyingung perasaan orang lain. Namun, berkat kehalusan budi Milana yang pandai mengalah, mereka berdua dapat bersahabat dengan rukun. Di dalam pondok itu terjadi hal yang tentu akan amat mengherankan tiga orang anak itu kalau saja mereka dapat melihatnya.
Kakek Nakavhira duduk bersila di atas tanah, seperti arca tidak bergerak dan hawa panas di dalam pondok itu tak mungkin akan dapat tertahan oleh manusia biasa. Suma Han menanggalkan baju atasnya dan sibuk membakar senjata yang bentuknya seperti bulan sabit itu di dalam api. Sudah tiga hari tiga malam logam itu dibakar, tetap saja masih utuh, tidak dapat membara. Kakek itu berkali kali minta ditambah api karena kurang besar sehingga setiap tumpukan kayu bakar yang dikumpulkan Bun Beng, selalu habis sehingga tidak ada cadangan sama sekali, membuat anak itu tidak berani berhenti karena khawatir kehabisan kayu bakar! Kakek Nayakavhira mengeluarkan be-berapa macam obat yang dioleskan pada logam putih itu, namun setelah lewat lima hari tetap juga logam itu belum membara. Kakek itu menjadi bingung dan prihatin sekali.
"Ya Tuhan, akan gagalkah usaha hamba?"
Keluhnya berkali kali sehingga Suma Han menjadi kasihan. Juga pendekar ini merasa penasaran sekali. Sedangkan batu bintang saja dapat dibakar sampai mencair, yaitu ketika dia masih kecil dan menjadi pelayan Kang thouw kwi Gak Liat (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI), masa logam ini dibakar dalam api sampai lima hari lima malam belum juga membara? Teringat akan masa kecilnya, ia teringat kepada Bun Beng yang sibuk mengumpulkan kayu di luar pondok. Dahulu dia menjadi pelayan Gak Liat, dan sekarang, secara kebetulan, putera Gak Liat itu bekerja keras melayaninya! Demikianlah nasib mempermainkan manusia!
Ia teringat akan batu bintang, teringat akan latihan Hwi yang Sin ciang. Hwi yang Sin ciang! Bukankah sin kang yang mujijat dan yang sudah dikuasainya dengan sempurna itu mengandung hawa panas yang mujijat? Mengapa tidak ia pergunakan untuk coba coba? Dia memegang gagang senjata kakek yang aneh itu. Senjata itu terbuat daripada baja yang aneh sebagai gagang berduri, adapun ujungnya yang berbentuk bulan sabit berwarna putih itulah yang akan diolah menjadi pedang. Suma Han mengerahkan Hwi yang Sin ciang sehingga wajahnya yang selama lima hari lima malam berdekatan dengan api tidak berubah apa-apa, kini setelah mengerahkan Hwi yang Sin ciang sekuatnya, muka itu berubah merah. Dan perlahan lahan, logam putih berbentuk bulan sabit itu menjadi merah membara!
"Kakek Nayakavhira, aku berhasil!"
Teriaknya girang. Kakek yang sudah kehabisan semangat itu membuka matanya dan seketika wajahnya berseri!
"Hebat....! Biarkan sampai merah tua seluruhnya, baru digembleng!"
Teriaknya dan semangatnya kembali. Matanya bersinar-sinar. Suma Han tidak mau bicara tentang penggunaan Hwi yang Sin ciang dan kini setelah logam itu dapat membara, panasnya api sudah cukup untuk membikin bara menjadi tua. Tak lama kemudian logam itu sudah menjadi merah sekali.
"Cepat letakkan di landasan dan gembleng sampai bentuknya menjadi panjang membungkus gagang senjataku."
"Membungkus gagang?"
Suma Han bertanya.
"Benar. Logam putih itu hanya merupakan lapisan luar saja. Gembleng sampai lebar dan tipis sepanjang setengah kaki. Cepat!"
Suara kakek itu gemetar penuh gairah. Otomatis Suma Han mematuhi perintah ini karena dia sendiri sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang pembuatan pedang. Biarpun dia bukan seorang pandai besi, bahkan memegang martil dan menggembleng logam membara pun baru sekali itu selama hidupnya, namun pendekar ini memiliki tenaga yang melebihi tenaga seratus orang dengan sin kangnya yang hebat, maka tentu saja gemblengannya juga amat kuat sehingga tak lama kemudian logam yang membara itu sudah menjadi lebar tipis sepanjang tiga setengah kaki.
"Bagus! Hebat....! Untuk menggembleng itu biarpun dalam keadaan sehat, tentu baru dapat kuselesaikan dalam waktu tiga hari. Akan tetapi engkau hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja. Benar benar sukar dicari pendekar sakti seperti engkau, Suma Taihiap. Logam itu telah mendingin, bakar lagi sampai membara dan akulah yang akan menggemblengnya membungkus gagang."
Kembali Suma Han menurut dan sekali ini, karena logam itu sudah pernah membara, panasnya api cukup membuat logam itu menjadi merah lagi. Akan tetapi kakek itu mengatakan belum cukup.
"Dia harus dibakar selama satu malam sampai melunak agar mudah digembleng membungkus gagang, apalagi tenagaku sekarang banyak berkurang."
Pada keesokan harinya, ketika terdengar bunyi martil menghimpit logam di atas besi landasan sampai berdentang-dentang, dikerjakan sendiri oleh Kakek Nayakavhira yang dibuatkan tempat duduk tinggi oleh Suma Han dan ditonton oleh pendekar sakti itu. Selama menyaksikan kakek itu bekerja, diam diam Suma Han merasa kagum dan barulah dia tahu betapa sulitnya membuat sebatang pedang pusaka! Dalam menempa dan menggembleng ini, kakek itu bekerja seperti dalam samadhi sehingga setiap tempaan merupakan gerakan suci seperti seorang bersembahyang. Maka Suma Han menonton penuh perhatian dan penuh hormat.
"Bun Beng, mengasolah. Lihat, tumpukan kayu di belakang pondok sudah cukup banyak. Dan mendengar suara berdentang itu, agaknya mereka tidak mem-butuhkan terlalu banyak kayu lagi. Lihat sepagi ini tubuhmu sudah berkeringat!"
Kwi Hong menegur Bun Beng yang bertelanjang baju dan sejak pagi buta telah menebangi kayu.
"Benarkah? Ah, kalau begitu aku mau beristirahat sebentar!"
Bun Beng lalu duduk di atas batu dan menyusuti peluhnya.
"Aku akan masak air, tunggu saja. Aku akan membuatkan minuman untukmu!"
Kwi Hong lalu berlari lari kecil meninggalkan Bun Beng. Setelah bekerja keras sejak pagi, tubuhnya lelah dan kini duduk bersandar batu disiliri angin pagi, Bun Beng merasa nyaman sekali sehingga tak terasa lagi ia memejamkan matanya. Sudah hampir setengah bulan dia berada di situ sejak pertemuannya dengan Pendekar Siluman dan Kakek Nayakavhira, dan selama itu setiap hari dia bekerja keras dalam usahanya membantu kakek itu membuat pedang pusaka. Kini ia merasa lelah sekali dan mengantuk. Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba ia merasa pundaknya diguncang tangan halus dan terdengar suara Kwi Hong.
"Ihhh, pemalas. Berhenti sebentar saja sudah tertidur pulas! Bun Beng, minumlah ini. Bukan air teh akan tetapi daun ini lebih sedap dan kata Paman dapat memulihkan tenaga. Minumlah!"
Bun Beng merasa malas untuk bangun, akan tetapi pundaknya ditarik sehingga ia terduduk dan ketika ia membuka sedikit matanya, ia melihat Kwi Hong yang membangunkannya bahkan kini anak perempuan itu menempelkan secawan minuman ke bibirnya!
"Bun Beng, lihat betapa indahnya bunga ini.... indah harum kupetik untukmu...."
Tiba-tiba Milana menghentikan kata kata dan langkah kakinya ketika melihat Kwi Hong sedang memberi minum Bun Beng dengan sikap mesra. Milana memandang sejenak, kemudian memejamkan mata, membuang muka, melempar kembang di tangannya kemudian membalikkan tubuh dan pergi dari situ tanpa berkata-kata. Sambil melangkah pergi dia cepat-cepat menghapus dua butir air mata yang bergantung di bulu matanya.
Anak perempuan ini sama sekali tidak mengerti mengapa dia menjadi berduka, dan dia tidak tahu sama sekali bahwa setan cemburu yang selalu siap menggoda hati manusia, terutama sekali hati wanita, telah mulai menyentuh hatinya. Dia hanya merasa kecewa karena pagi itu dia sengaja mencari bunga yang paling indah di dalam hutan untuk dipetiknya dan diberikan kepada Bun Beng yang ia tahu tentu sedang bekerja keras. Dengan hati penuh kegembiraan dia membawa bunga itu dan berlari lari mencari Bun Beng, membayangkan betapa girangnya Bun Beng menerima pemberiannya, betapa anak laki laki itu akan tersenyum kepadanya, memandang dengan matanya yang tajam dan tentu akan terpancing kata kata pujian dari Bun Beng kepadanya. Dia tidak pernah merasa bosan mendengar pujian pujian dari mulut Bun Beng.
"Milana, engkau baik sekali! Milana engkau manis sekali!"
Dan sebagainya. Akan tetapi kegembiraannya membuyar seperti awan tipis ditiup angin ketika tiba di tempat itu, dia melihat Kwi Hong dengan sikap mesra memberi minum Bun Beng! Milana sendiri tidak mengerti mengapa dia harus kecewa.
Dia bersahabat baik dengan Kwi Hong yang dianggapnya seperti encinya sendiri, yang dianggapnya sebagai seorang saudara yang lebih tua darinya, lebih pandai dan dia pun tahu bahwa sebagai murid Pendekar Siluman, Kwi Hong memiliki kepandaian silat jauh lebih tinggi dari padanya, bahkan menurut pengakuan Bun Beng, jauh lebih tinggi daripada kepandaian Bun Beng! Mengapa kini hatinya menjadi kecewa dan demikian tidak enak menyaksikan sikap mesra Kwi Hong kepada Bun Beng? Bun Beng yang masih setengah mengantuk dan tadi menurut saja diberi minum, dengan mata setengah terpejam, dapat melihat bayangan Milana yang pergi lagi sambil membuang bunga setangkai di atas tanah. Matanya terbuka lebar memandang bunga itu dan dia lalu sadar akan keadaan dirinya yang seperti anak kecil diberi minum.
"Terima kasih, Kwi Hong, biar kuminum sendiri,"
Katanya sambil menerima cawan minuman itu. Kwi Hong memberikan cawannya dan memandang dengan wajah berseri ketika Bun Beng minum dan kelihatan nikmat. Tentu saja nikmat minum minuman sedap hangat itu di pagi hari.
"Eh, mana dia tadi?"
Kwi Hong bertanya sambil menengok.
"Siapa?"
Bun Beng pura pura bertanya.
"Milana! Aku mendengar dia datang tadi. Mana dia?"
"Ah, aku tidak melihat dia,"
Kata Bun Beng sambil menutupi muka dengan cawan, meneguk habis minumannya sedangkan matanya melirik ke arah setangkai bunga yang terletak sunyi di atas tanah.
"Terima kasih, Kwi Hong. Engkau baik sekali."
Bun Beng mengembalikan cawan kosong yang diterima Kwi Hong dengan wajah girang. Memang itulah yang dinanti nantinya. Untuk menerima pujian Bun Beng itu, dia mau melakukan pekerjaan yang lebih berat daripada membuatkan secawan minuman!
"Bun Beng, mulai sekarang, engkau tidak perlu mencari kayu bakar lagi."
"Ahh, mengapa?"
"Pedang pusaka itu sudah selesai! Paman tadi berpesan agar engkau tidak perlu mengumpulkan kayu bakar lagi, akan tetapi pedang itu akan ditapai oleh Kakek Nayakavhira beberapa hari lamanya. Paman telah pergi karena Kakek itu tidak mau diganggu, dan Paman pergi mencari sepasang garuda kami karena dipanggil-panggil tak kunjung datang."
"Dan kita....?" "Kita harus menunggu di sini sampai Paman kembali. Eh, Bun Beng, setelah pedang selesai, engkau tentu akan ikut Paman ke Pulau Es, bukan?"
Bun Beng berpikir sejenak. Alangkah akan senang hatinya kalau dapat pergi ke tempat Pendekar Siluman dan menjadi muridnya. Akan tetapi ia teringat kepada Milana. Mana mungkin dia meninggalkan Milana di tempat itu begitu saja? Dia ingin sekali pergi bersama Pendekar Siluman, akan tetapi dia tidak boleh meninggalkan anak perempuan itu. Lebih dulu dia harus mengantarkan Milana sampai dapat pulang ke tempat tinggalnya, yaitu di Kerajaan Mongol.