Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 62

Memuat...

"Tentu saja dia lihai karena dia adalah seorang tokoh Pulau Neraka."

"Ihhh....! Pulau Neraka? Aku sudah mendengar itu, penghuninya adalah manusia-manusia aneh seperti iblis. Bagaimana kau bisa tahu dia dari Pulau Neraka?"

"Kulit tubuhnya yang berwarna itu! Aku sudah bertemu dengan orang-orang Pulau Neraka."

"Eh, betulkah? Engkau benar luar biasa, Bun Beng."

"Tidak, biasa saja. Mari kita pergi."

"Engkau hendak ke mana?"

"Eh, bagaimana lagi? Mengantar engkau sampai engkau dapat pulang, kemudian.... kemudian.... hem.... aku tidak tahu ke mana nanti."

"Eh, bagaimana ini? Apakah engkau tidak hendak pulang?"

"Pulang ke mana?"

"Ke mana lagi? Ke rumahmu tentu!"

"Aku tidak punya rumah."

Milana menghentikan langkahnya dan memandang wajah Bun Beng.

"Tidak punya rumah? Dan Ayah Bundamu....?"

"Aku tidak punya, Ayah Bundaku sudah mati semua."

"Aihhh....!"

Milana memegang kedua tangan Bun Beng, wajahnya membayangkan perasaan iba yang mendalam.

"Kasihan engkau, Bun Beng. Dan tidak mempunyai saudara?"

Bun Beng merasa panas dadanya. Dia tidak ingin dikasihani orang, bahkan dia tidak merasa kasihan kepada dirinya sendiri!

"Aku tidak punya siapa siapa, apa salahnya dengan itu?"

Dia menunjuk ke arah seekor burung camar yang terbang.

"Dia itu pun tidak punya siapa siapa, toh dapat hidup. Dan pohon itu tidak punya siapa siapa, tetap tumbuh segar."

"Ahhhh, burung itu tentu punya sarang dan pohon itu banyak saudara-saudaranya di sekelilingnya. Engkau menjadi pahit karena tidak mempunyai siapa-siapa. Bun Beng, aku mau menjadi saudaramu, dan biarlah Ibuku juga menjadi Ibumu, Pamanku menjadi Pamanmu...."

"Sudahlah, Milana. Aku tidak ingin apa-apa. Engkau anak yang amat baik hati. Mari kita lanjutkan perjalanan. Di sebelah kanan itu ada pegunungan, tentu di sana ada penghuninya yang dapat memberi keterangan kepada kita dan menunjukkan jalan."

Mereka berjalan lagi dan Milana menggandeng tangannya. Bun Beng tidak menolak dan diam diam dia merasa suka sekali kepada anak yang amat baik hati ini. Akan tetapi setelah mereka mendaki pegunungan itu, ternyata gunung itu penuh dengan batu batu besar dan tidak nampak dusun di situ.

"Begini sunyi.... tidak ada tampak rumah orang...."

Kata Milana, kecewa.

"Nanti dulu! Lihat di sana itu. Ada orang.... eh, malah ada orang menunggang binatang yang besar luar biasa!"

Milana menengok dan ia pun berseru girang,

"Benar! Ada orang dan dia menunggang seekor gajah! Sungguh luar biasa!"

"Gajah? Aku sudah pernah mendengar namanya. Gajahkah binatang itu?"

"Benar. Raja Mongol memelihara dua ekor, akan tetapi tidak sebesar yang ditunggangi orang itu."

"Hebat! Binatang raksasa itu memiliki tenaga melebihi seratus ekor kuda. Mari kita lihat!"

Mereka berlari menuruni puncak pegunungan batu kapur itu. Ketika merea sudah tiba dekat, tiba-tiba Bun Beng berhenti dan Milana juga berhenti. Keduanya terkejut bukan main menyaksikan pemandangan di depan itu sehingga sampai lama mereka tidak mampu mengeluarkan suara. Akhirnya Milana berbisik dengan napas tertahan,

"Lihat...., dia.... kakek Pulau Neraka itu...."

"Sssttt....!"

Bun Beng berbisik pula menyentuh pinggang Milana dari belakang.

"Jangan ribut..... orang berkaki tunggal itu.... dia Pendekar Siluman To-cu Pulau Es.... dan itu muridnya....."

Memang amat mengherankan kedua orang anak itu apa yang tampak oleh mereka. Kakek bermuka kuning yang mereka temui di tengah lautan itu kini berhadapan dengan seorang kakek tua renta yang bersorban dan berjenggot panjang, tangan kiri memegang sebuah senjata yang aneh,

Gagangnya berduri dan ujungnya merupakan bulan sabit, menunggang seekor gajah yang amat besar. Akan tetapi kakek muka kuning tidak kalah anehnya. Agaknya untuk mengimbangi kedudukan kakek bersorban yang tinggi di atas punggung gajah, dia kini menggunakan jangkungan atau egrang. Yaitu dua batang bambu panjang yang di tengahnya diberi cabang untuk injakan kaki. Dengan berdiri di cabang itu dan menggunakan dua batang bambu sebagai pengganti kedua kaki, dia kini sama tingginya dengan Si Kakek Bersorban! Mereka agaknya sedang bertengkar sedangkan di atas sebuah batu berdiri Pendekar Siluman dengan sikap tenang sebagai penonton, menggandeng tangan seorang anak perempuan yang dikenal Bun Beng sebagai anak perempuan penunggang garuda yang berkelahi dengan anak Pulau Neraka dahulu!

Kwi Hong, murid Suma Han menoleh dan melihat kedatangan Bun Beng dan Milana, akan tetapi karena kini kedua orang kakek aneh yang berhadapan itu sudah saling serang, dia tertarik dan menengok lagi menonton pertandingan. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Suma Han menyusul ke Pulau Neraka dan berhasil membawa muridnya itu. Mereka meninggalkan Pulau Neraka menunggang dua ekor burung garuda dan ketika dari atas Suma Han melihat orang menunggang gajah, hatinya tertarik maka dia lalu turun di pegunungan itu, dan bersama Kwi Hong diam diam menghampiri dan menonton pertandingan yang amat menarik hatinya antara kakek penunggang gajah dan kakek muka kuning yang gerak geriknya lucu dan lihai!

"Heh heh heh!"

Kakek muka kuning tertawa sambil menggerak gerakkan kedua bambu yang telah menyambung kakinya.

"Kita sudah sama tinggi sekarang. Hayo, kau mau apa? Lekas turun dan berikan gajah itu kepadaku, baru kau benar benar seorang sahabat dan aku akan mengampunimu!"

"Sadhu sadhu sadhu!"

Kakek bersorban itu berkata lirih.

"Berbulan bulan dari negara barat sejauh itu, belum pernah bertemu orang yang begini nekad. Sahabat, gajah tunggangan ini adalah sahabatku yang telah berjasa besar, mati hidup dia bersamaku, tidak mungkin kuberikan kepadamu. Pergilah, sahabat, dan jangan pergunakan kepandaian yang kau pelajari puluhan tahun itu untuk melakukan hal yang tidak baik."

"Heh heh heh! Apa tidak baik? Apa baik? Yang menguntungkan dan menyenangkan, itu baik! Yang merugikan dan menyusahkan itu tidak baik! Kalau engkau berikan gajah itu kepadaku, engkau baik. Kalau tidak kau berikan, engkau tidak baik dan terpaksa kurampas, heh-heh heh heh!"

"Aahh, betapa dangkal dan sesat pandangan itu, sahabat. Pandanganmu terbalik sama sekali. Justeru yang menguntungkan dan menyenangkan diri pribadi itulah sumber segala ketidakbaikan."

"Waaaah, cerewet! Aku tidak butuh engkau kuliahi dengan wejangan wejanganmu. Hayo turun!"

Kakek muka kuning menggerakkan tangan kanan dan tiba-tiba bambu panjang yang kanan menyambar ke arah kepala kakek bersorban itu. Akan tetapi, kakek itu menekuk tubuh ke depan sehingga sambaran bambu itu luput dan lewat di atas kepalanya.

"Sadhu sadhu sadhu, terpaksa aku membela diri!"

Kakek bersorban menggerakkan tangan kanan, dengan jari tangan terbuka mendorong ke depan. Angin pukulan yang dahsyat menyambar dan biarpun kakek muka kuning sudah menggerakkan bambu memutar tubuh ke kanan, tetap saja terdorong dan terhuyung-huyung, kedua bambunya bergoyang-goyang. Karena ia memutar tubuh ke kanan inilah maka tiba-tiba dia melihat Suma Han yang berdiri menonton dengan tenang. Setelah mendapat kanyataan bahwa orang Pulau Neraka itu hendak merampas binatang tunggangan orang, Suma Han merasa tidak senang. Apalagi kalau mengingat bahwa orang itu adalah pembantu Lulu, dia makin penasaran. Masa Lulu dibantu oleh orang yang berwatak perampok hina, mau merampas binatang tunggangan seorang kakek yang datang dari jauh? Tongkatnya bergerak mencongkel batu dua kali.

Post a Comment