Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 62

Memuat...

Sungguh cantik manis dan menarik sekali. Belum pernah selama hidupnya dia tertarik oleh wanita dan ini merupakan yang pertama kalinya dia terpasona oleh kecantikan wanita. Akan tetapi dia tidak boleh mengikatkan diri dalam pernikahan. Dia bercita-cita besar, seperti Pangeran Tao Sang yang mengakui-nya sebagai putera. Dia ingin ayah angkatnya itu menjadi kaisar dan dia menjadi putera mahkota. Sebelum cita-cita itu tercapai, bagaimana dia boleh mengikatkan diri dalam perjodohan? Tidak mungkin. Akan tetapi gadis ini sungguh menarik hatinya! Lam Sang lalu berpamit kepada Liong Biauw dan Siok Hwa dan dia meninggalkan rumah penginapan itu, diantar sampai ke pintu luar oleh ayah dan anak itu. Setelah Lam Sang pergi. Liong Biauw dengan girang berkata kepada anaknya.

"Pilihan kita tepat sekali Siok Hwa! Dia bukan hanya lihai dalam ilmu silat, akan tetapi juga tahu aturan dan berbakti kepada orang tua. Engkau menemukan suami yang pilihan dan aku memperoleh mantu yang baik!"

"Mudah-mudahan begitu, Ayah."

Jawab Siok Hwa lirih, seperti berdoa dan keduanya kembali ke dalam rumah penginapan.

Malam itu Siok Hwa tidak dapat tidur. Ia terus membayangkan wajah Lam Sang dan kadang ia tersenyum sendiri. Hatinya begitu girang dan penuh harapan manis sehingga ia tidak dapat tidur. Kamarnya remang-remang hanya menerima cahaya dari lampu gantung yang berada di luar kamarnya. Tiba-tiba, kamarnya menjadi lebih terang dan terkejutlah ia ketika melihat bahwa yang membuat kamarnya terang itu adalah karena jendela kamarnya telah dibuka orang dari luar sehingga cahaya lampu di luar dapat menerobos masuk. Akan tetapi hanya sebentar. Sesosok tubuh orang meloncat masuk kamarnya melalui jendela dan daun jendela sudah ditutupkan lagi dari dalam. Bayangan itu sudah berdiri di tengah kamar-nya. Siok Hwa bangkit duduk dan siap menerjang bayangan itu. Tentu pencuri memasuki kamarnya. Cepat tangannya meraih sepasan pedangnya, yang diletakkan di atas meja dekat pembaringannya.

"Ssttt... ini aku, Nona...."

Bisik bayangan itu. Siok Hwa terkejut. Suara Lam Sang! Saking kaget dan heran-nya ia tidak mampu bicara, hanya memandang saja bayangan itu dengan tangan kiri di atas sepasang pedang yang masih berada di atas meja. Bayangan itu mendekatinya.

"Aku, Nona. Lam Sang, bukan orang lain. Simpanlah pedangmu. Engkau tidak ingin membunuh aku, bukan?"

Barulah Siok Hwa dapat membuka mulutnya.

"Engkau.... Kongcu? Akan tetapi kenapa.... kenapa engkau memasuki kamarku seperti ini?"

"Aku rindu sekali kepadamu, Nona. Tak dapat aku menahan kerinduan hatiku kepadamu, karana itu aku memasuki kamarmu seperti seorang pencuri. Mungkin pencuri.... hati...."

Pemuda itu menghampiri sampai dekat dan duduk di tepi pembaringan, dekat sekali dengan Siok Hwa.

"Tidak.... ah, bukankah engkau tadi sudah berangkat ke kota raja, untuk memberi tahu orang tuamu, Ji-kongcu?"

"Sudah kukatakan, aku rindu sekali kepadamu. Maka aku kembali. Besok masih ada waktu bagiku untuk pergi ke kota raja. Malam ini aku ingin bersamamu."

"Tidak.... tidak.... aku pun memikirkanmu, Ji-kongcu. Akan tetapi tidak seperti ini. Jangan...."

Siok Hwa tidak mampu mengeluarkan suara lagi dan tubuhnya telah lemas oleh totokan. Dan selanjutnya ia hanya mampu menangis sejadi-jadinya dan menyerah kepada pemuda yang kini berubah ganas melebihi binatang liar itu.

Setelah mengalami penderitaan yang membuat dunianya hancur luluh, Siok Hwa hanya dapat tanpa dapat mengeluarkan kata-kata. Dan pemuda itu, pemuda yang diharapkannya menjadi suami yang baik, pemuda yang menarik hatinya dan yang telah merusak kehormatan dirinya itu, kini tidur mendengkur di sisinya! Demikian pulas tidurnya seolah-olah dia tidak pernah melakukan suatu kesalahan apa pun! Kurang lebih tiga jam bemudian barulah totokan pada tubuhnya membuyar dan mulailah Siok Hwa mampu mengerakkan tubuhnya. Ia bingung, bingung dan sedih. Akan dibunuhnya orang ini? Akan tetapi dia calon suaminya! Karena tidak tahu harus berbuat apa, perlahan-lahan ia melangkahi tubuh Lam Sang, lalu berindap keluar dari kamarnya. manghampiri kamar ayahnya dan mengetuk daun pintu kamar ayahnya.

"Siapa di luar...?"

Tanya Liong Biauw.

"Aku, Ayah. Bukalah pintunya, cepat..!"

Daun pintu terbuka dan Liong Biauw melihat puterinya dengan pakaian dan rambut awut-awutan, menangis terisak- isak.

"Ada apa? Apa yang terjadi?"

Tanya Liong Biauw bingung. Siok Hwa menubruk ayahnya dan menangis dalam rangkulan ayahnya.

"Ayah... dia... dia kembali..."

"Apa...? Siapa...?"

"Ji-kongcu! Dia memasuki kamarku dan... dan... dia memperkosaku..."

Gadis itu menangis. Tentu saja Liong Biauw terkejut bukan main mendengar Ini.

"Keparat! Di mana dia sekarang?"

"Tertidur di kamarku...."

Liong Biauw lari memasuki kamarnya mengambil pedang lalu lari menuju ke kamar Liong Siok Hwa. Karena pintunya sudah dibuka oleh gadis itu ketika keluar tadi, dia langsung menerjang masuk.

Dalam cuaca yang remang-remang itu dia melihat sesosok tubuh tidur membujur di atas pembaringan. Saking marahnya, orang tua ini tidak mengeluarkan sepatah kata lagi dan langsung menerjang, membacokkan pedangnya ke arah tubuh itu. Akan tetapi tiba-tiba tubuh itu bergerak menendang, tepat mengenai pergelangan tangan Liong Biauw yang memegang pedang sehingga pedangnya terlepas dari pegangan. Lam Sang yang tadi terbangun segera meloncat turun dan dengan jari-jari tangan terbuka dia menyerang Liong Biauw. Hebat sekali serangan itu, tidak dapat ditangkis atau dielakkan lagi oleh Liong Biauw. Dia berteriak dan roboh berkelojotan. Dadanya terkena hantaman tangan terbuka itu dengan pukulan beracun, pukulan maut. Liong Siok Hwa melompat masuk.

"Ayah....!"

Teriaknya, akan tetapi tubuhnya segera lemas tertotok dan dipanggul Lam Sang yang melompat keluar dari tempat itu. Tidak ada orang menyaksikan peristiwa itu dan baru pada keesokan harinya, para pelayan rumah penginapan menjadi gempar melahat kamar terbuka dan tubuh Liong Biauw sudah menjadi mayat, sedangkan puterinya lenyap entah ke mana! Pagi itu, Siok Hwa diturunkan dari pundak Lam Sang. Gadis itu menangis, lalu meronta dan sesudah dapat bergerak, ia langsung menyerang pemuda itu dengan pukulan tangannya. Akan tetapi dengan mudah Lam Sang menangkap pergelangan tangan itu dan sekali puntir dia sudah dapat menangkap gadis itu yang menjadi tiak berdaya.

"Engkau hendak melawanku? Bodoh. Aku justeru tidak ingin membunuhmu karena aku suka kepadamu, Siok Hwa."

Kata Gulam Sang sambil melepaskan pergelangan tangan itu.

"Kau.... jahanam busuk....!"

Setelah dilepaskan, kembali Siok Hwa menyerang. Akan tetapi sekali ini Gulam Sang mengelak dan sekali mendorong dengan tangannya, gadis itu pun terpelanting keras.

"Engkau bukan lawanku, Siok Hwa. Dengar baik-baik, kalau aku hendak membunuhmu, mudahnya seperti membalikkan telapak tangan saja. Akan tetapi aku tidak ingin membunuhmu, aku ingin engkau ikut aku dan membantu usahaku. Kelak, kalau aku menjadi pangeran, engkau akan menjadi seorang selirku yang tercinta."

Siok Hwa memandang penuh kebencian, dengan air mata bercucuran di atas kedua pipinya.

"Engkau....engkau telah membunuh ayahku!"

"Salah! Dialah yang hendak membunuh aku maka terpaksa aku lenyapkan dia. Salahmu juga karena engkau melapor kepada ayahmu. Kalau dia tidak menyerangku, untuk apa aku membunuhnya?"

"Kau.... kau jahat....!"

"Kembali engkau keliru. Aku baik sekali padamu, aku sayang padamu."

Kini suara Gulam Sang berubah, penuh getaran dan penuh wibawa. Dan mendadak saja Siok Hwa merasa dirinya lemas, pikirannya seperti melayang-layang. Kiranya Gulam Sang mulai mempergunakan sihirnya.

Post a Comment