Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 58

Memuat...

"Kami percaya, Pangeran. Akan tetapi yang ditentang oleh para pejuang adalah pemerintahan penjajah, bukan perorangan, seperti dikatakan murid saya Han Li tadi."

"Akan tetapi sekarang terbukti bahwa di antara kita tidak ada kebencian atau permusuhan. Anak kami telah diselamatkan ketua Thian-li-pang dan anak ketua Thian-li-pang kami undang makan menjadi tamu terhormat kami!"

Kata Pangeran Tao Kuang sambil tersenyum.

"Ayah, kuharap enci Han Li menjadi tamu kita untuk beberapa waktu lamanya. Aku ingin mengenalnya lebih dekat dan berbincang-bincang tentang ilmu silat dengannya!"

Kata Kwi Hong kepada ayahnya. Pangeran Mahkota Tao Kuang mengangguk dan tersenyum ramah kepada Kai-ong,

"Aku tidak keberatan dan mereka ini boleh tinggal di istana sebagai tamu berapa lama pun mereka kehendaki!"

Kai-ong tertawa.

"Bagus! Aku suka sekali tinggal di sini beberapa lamanya sampai puas makan enak setiap hari, Han Li, kita tinggal di sini sampai bosan!"

Kwi Hong merasa gembira sekali. Dengan senyum manis ia bangkit menghampiri Han Li dan menggandeng tangan gadis itu.

"Mari kita melihat-lihat taman, enci Han Li. Dan kutunjukkan kamarmu di mana engkau boleh tinggal!"

Kedua orang gadis itu pergi dan meninggalkan Kai-ong yang diajak bercakap-cakap oleh Pangeran Tao Kuang.

Raja pengemis itu bersama muridnya menjadi tamu dari Pangeran Mahkota! Cu In tidak peduli bahwa dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang dijumpainya di jalan dalam kota raja. Mukanya yang tertutup sutera putih dari batas hidung ke bawah itulah yang menarik perhatian orang. Akan tetapi tidak ada seorang pun mengganggunya. Tentu mereka itu mengira bahwa ia seorang wanita dari Turki atau negara Islam lainnya. Wanita-wanita Islam biasanya menutup mukanya dengan cadar seperti itu. Tidak sukar bagi Cu In untuk mendapat keterangan di mana adanya rumah Panglima The Sun Tek. The-ciangkun adalah seorang panglima yang terkenal di kota raja. Dialah yang memimpin pasukan memadamkan pemberontakan di selatan.

The-ciangkun seorang panglima yang bukan hanya pandai ilmu perang, akan tetapi juga seorang yang memiliki ilmu silat tinggi. Cu In tidak tahu orang macam apa adanya The Sun Tek. Yang penting baginya adalah bahwa ia harus membunuh orang itu. Menurut gurunya, panglima The itu adalah musuh besar gurunya, dan lebih daripada itu, panglima The itulah yang membunuh ayah bundanya sehingga ia menjadi seorang yatim piatu sejak masih bayi! Dan sejak bayi ia dipelihara oleh subonya, maka kini tugas untuk membunuh musuh besar subonya itu akan dilaksanakan sebaik mungkin. Bukan hanya untuk membalas budi gurunya, melainkan juga untuk membalas dendam ayah bundanya. Cui In merasa agak heran namun girang melihat kenyataan bahwa rumah itu tidak dijaga regu keamanan seperti rumah para panglima tinggi lainnya. Rumah itu dari luar nampak sunyi saja.

Cui In lalu mengelilingi pagar tembok rumah itu dan ternyata rumah itu memiliki pekarangan dan taman yang luas sekali. Hari itu panas sekali. Matahari telah naik tinggi. Bagaikan seekor burung saja ringannya, Cui In sudah melompati pagar tembok di bagian belakang rumah itu dan mendekam di atas untuk mengintai ke sebelah dalam pagar. Ternyata di sebelah dalam-nya terdapat sebuah taman yang luas, penuh dengan bunga warna warni yang sedang berkembang sehingga suasana di taman itu nyaman dan indah sekali. Ia melompat turun ke sebelah, dalam dan menyelinap di antara pohon-pohon. Agak jauh di tengah taman itu terdapat sebuah pondok dengan dinding rendah dan bagian atasnya terbuka. Semacam tempat untuk duduk bersantai menikmati keindahan taman. Di depan pondok itu terdapat sebuah kolam ikan dengan bunga teratai dan ikan-ikan emas berenang di dalam kolam.

Gemercik suara air di kolam yang jatuh dari sebuah pancuran mendatangkan suara yang menyejukkan hati. Cui In cepat menyusup ke balik rumpun bunga. Ia melihat seorang laki-laki melangkah seenaknya dengan santai menuju ke panggung atau pondok itu, memasukinya dan duduk di atas bangku menghadapi kolam ikan. Cui In mengintai dan melihat bahwa pria itu berusia lima puluh tahun lebih, akan tetapi rambut kepalanya sudah banyak beruban. Rambut itu dikuncir ke belakang dan diikat dengan sutera biru. Wajah yang mulai berkerut merut itu masih nampak tampan dan gagah. Akan tetapi sinar matanya mengandung duka. Sampai lama pria itu termenung memandangi kolam ikan dan berulang kali dia menghela napas panjang. Tiba-tiba pria itu menengadahkan mukanya, memandangi awan yang berarak di angkasa, dan dia membaca sajak.

"

Seperti awan bergerak di angkasa

kita bercanda penuh suka dan tawa

sumpah saling mencinta saling setia

berbahagia memadu asmara

semua itu hilang musnah

ketika angin datang menerpa

kita berpisah dan merana

yang tertinggal hanyalah air mata!

"

Cu In tertegun. Ia mengenal betul sajak itu karena gurunya, Ang Hwa Nio-nio, sering menyanyikan sajak itu dalam sebuah lagu yang sedih. Dan sekarang pria itu bersajak yang sama! Karena perasaan terguncang, tubuh Cu In membuat gerakan. Biarpun gerakan itu tidak menimbulkan suara keras, akan tetapi pria itu memutar tubuhnya dan terdengar suaranya lantang,

"Sobat, tidak ada gunanya lagi engkau bersembunyi. Aku telah mengetahui keberadaanmu di situ!"

Pria itu memandang ke arah Cu In. Cu In terpaksa muncul dari balik rumpun bunga lalu menghampiri pondok itu. Pria itu nampak terkejut dan terheran-heran melihat bahwa yang muncul adalah seorang gadis yang mukanya ditutup cadar putih, pakaiannya juga serba putih.

"Siapa engkau? Apa keperluanmu datang ke tempat ini tanpa diundang?"

Tanya pria itu dan suaranya mengandung wibawa yang kuat. Akan tetapi Cu In tidak menjawab, melainkan balas bertanya,

"Apakah engkau yang bernama The Sun Tek?" "Tidak salah, akulah The Sun Tek. Siapakah engkau, Nona?"

"Namaku Souw Cu In dan aku datang ke sini untuk membunuhmu, The Sun Tek!"

The Sun Tek tidak menjadi terkejut mendengar pengakuan itu. Sebagai seorang panglima besar, dia tahu bahwa banyak orang menginginkan kematiannya untuk membalas dendam karena dia sudah sering menghancurkan usaha pemberontakan di mana-mana sehingga tidaklah aneh kalau ada yang mendendam kepadanya. Sering pula terdapat usaha orang-orang yang memusuhinya untuk membunuhnya. Akan tetapi baru sekarang usaha itu akan dilakukan seorang gadis muda. Hal ini mendatangkan rasa penasaran dalam hatinya.

"Membunuh orang tentu ada alasannya yang kuat, Nona. Kenapa engkau hendak membunuhku. Kita belum pernah bertemu dan di antara kita tidak terdapat urusan apa pun!"

"Kita memang tidak pernah bertemu akan tetapi engkau keliru kalau mengira di antara kita tidak pernah terdapat urusan apa pun. Alasanku datang untuk membunuhmu ini cukup kuat. Pertama, aku hendak membalaskan dendam kematian ayah bundaku yang telah kau bunuh! Dan kedua, aku datang mewakili guruku yang menjadi musuh besarmu!"

The Sun Tek mengerutkan alisnya. Kedudukannya sebagai panglima besar yang memimpin pasukan memang banyak resikonya. Entah berapa banyak orang yang dapat menaruh dendam kepadanya karena orang tuanya terbunuh dalam perang.

"Hemmm, siapakah nama ayah bundamu itu, Nona? Aku tidak merasa pernah membunuh orang, kecuali tentu saja dalam perang. Apakah ayah bundamu tewas dalam peperangan melawan pasukanku?"

"Aku tidak tahu siapa ayah bundaku, tidak pernah mengenalnya karena sejak aku masih bayi engkau telah membunuh mereka."

"Lalu bagaimana engkau dapat tahu bahwa aku pembunuh mereka?"

"Guruku yang memberi tahu."

"Aha, gurumu yang kau wakili untuk menghadapi aku sebagai musuh besarnya itu? Dan siapa gerangan nama gurumu itu, Nona?"

"Guruku adalah Ang Hwa Nio-nio!"

The Sun Tek mem-belalakkan kedua matanya, lalu wajahnya nampak muram dan mengandung duka.

"Ahhh, Hong Bwe.... Hong Bwe, sampai begitu mendalamkah bencimu kepadaku? Bertahun tahun aku mencarimu dan kini tiba-tiba muncul muridmu untuk membunuhku?"

Cu In tidak mengerti apa yang dimaksudkan pria itu. Ia sudah melolos sabuk suteranya dan berkata,

"The Sun Tek, bersiaplah engkau untuk menghadapi seranganku!"

"Nanti dulu, nona Souw. Bersabarlah karena aku tidak akan pernah melarikan diri darimu. Engkau tidak dapat membunuh orang begitu saja tanpa alasan yang kuat. Engkau harus yakin benar bahwa aku adalah pembunuh orang tuamu. Dan tentang permusuhanku dengan gurumu Ang Hwa Nio-nio itu, tidakkah engkau ingin untuk mengetahui sebab sebabnya?"

"Aku hanya mendengar tentang kematian ayah bundaku dari guruku, dan kalau guruku sampai menganggap bahwa engkau musuh besarnya, tentulah engkau telah melakukan hal yang amat jahat terhadap subo."

"Tahan dulu dan dengarlah sebentar penjelasanku. Aku melihatmu sekarang ini, tiada ubahnya seperti ia ketika itu! Bentuk tubuhmu, matamu itu, dan suaramu! Engkau seperti pinang dibelah dua dengan Hong Bwe! Karena itulah aku ingin engkau mendengar penjelasanku."

Cu In meragu. Ia tidak mengenal siapa itu Hong Bwe, akan tetapi ia pun tidak dapat menolak keinginan orang tua ini untuk menceritakan persoalannya dengan gurunya. Ia pun meragukan, jangan-jangan bukan orang ini pembunuh ayah bundanya dan subonya bercerita demikian agar ia membenci orang ini.

"Sesukamu, bicaralah, akan tetapi jangan harap aku akan percaya begitu saja keteranganmu."

"Percaya atau tidak terserah. Terima kasih kalau engkau suka untuk mendengar ceritaku. Silakan duduk, nona Souw."

The Sun Tek mempersilakan Cu In duduk dan gadis ini pun mengambil tempat duduk berhadapan dengan panglima itu, terhalang meja kecil. Setelah menghela napas panjang beberapa kali, The Sun Tek berkata,

"Aku tidak tahu sampai tingkat apa ilmu silatmu, akan tetapi kalau gurumu sudah mengutusmu untuk membunuhku, aku percaya bahwa engkau tentu cukup lihai. Barangkali aku akan terbunuh olehmu, maka aku senang bahwa engkau suka mendengar ceritaku. Terjadinya cerita ini kurang lebih dua puluh tahun yang lalu. Ketika itu, aku belum menjadi seorang panglima, akan tetapi aku suka bertualang di dunia kang-ouw dan mengenal banyak tokoh kang-ouw. Aku lalu bertemu seorang gadis kang-ouw bernama Sim Hong Bwe. Kami berkenalan dan saling jatuh cinta. Ketika itulah aku melamar pekerjaan sebagai seorang perwira muda. Karena orang tuaku mengenal panglima yang bertugas menerima para perwira muda, maka aku pun dapat diterima sebagai seorang perwira. Orang tuaku lalu mendesakku untuk menikah. Ketika aku memberitahu bahwa aku telah mempunyai seorang pilihan hati, yaitu Sim Hong Bwe, ayahku marah. Menikah dengan seorang gadis kang-ouw? Tidak, katanya. Karena aku telah mempunyai tugas dan kedudukan, aku harus menikah dengan seorang gadis baik-baik, dari keluarga yang terhormat. Aku tidak mampu membantah ayahku dan terpaksa aku menerima saja dijodohkan seorang gadis puteri seorang bangsawan."

Sampai di sini The Sun Tek menghentikan ceritanya, agaknya dia mengingat kembali peristiwa yang membuatnya selalu berduka itu. Dia memandang kepada Cu In, akan tetapi Cu In tidak mengacuhkannya karena ia tidak tahu apa hubungannya semua itu dengan tugasnya membunuh musuh besarnya ini.

"Aku harus menghadapi kemarahan Sim Hong Bwe. Ia tidak mau mendengar alasanku, bahkan ia menolak keras ketika aku mengusulkan agar ia suka menjadi selirku. Kalau hanya sebagai selir, tentu ayahku tidak akan keberatan. Akan tetapi Hong Bwe menolak dan menuntut agar aku menikahi-nya sebagai isteri yang sah. Aku tidak mungkin memenuhi permintaannya dan ia menjadi demikian marah sehingga meninggalkan aku begitu saja. Padahal, pada waktu itu ia telah mengandung! Ia meng-andung anakku dan sejak itu aku tidak pernah dapat menemukannya. Aku selalu mencarinya, bahkan sampai sekarang aku masih mencarinya. Akan tetapi ia menghilang begitu aku dapat menemukan tempat persembunyian. Aku mendengar bahwa ia telah melahirkan seorang anak perempuan, akan tetapi tidak pernah aku melihat anakku itu pula."

Post a Comment