Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 55

Memuat...

Keng Han mengambil tempat duduk. Bantalan kursinya lunak sekali, enak diduduki,

"Nama saya Si Keng Han, Paman, dan nama Paman diperkenalkan kepada saya oleh seorang sahabat yang bernama Gulam Sang."

"Aha, begitukah? Gulam Sang itu adalah putera angkatku sendiri."

Baru sekarang Keng Han mengetahui dan dia pun terkejut. Kiranya putera gurunya itu telah diambil anak oleh hartawan ini.

"Kalau begitu semua keterangannya tentang Paman tentu benar semua."

"Keterangan apakah tentang diriku?"

"Bahwa Paman pernah mengenal ayah kandung saya dan mengetahui tentang semua peristiwa yang menimpa diri ayah kandung saya."

"Siapakah ayah kandungmu?"

"Dahulu ayah kandung saya adalah seorang pangeran, namanya Pangeran Tao Seng."

"Akan tetapi bukankah namamu Si Keng Han nama margamu Si?"

"Itu hanya untuk penyamaran saja, Paman. Tidak baik kiranya kalau saya menggunakan nama keluarga istana, hanya akan menarik perhatian orang saja."

Tao Seng mengangguk-angguk, menyatakan bahwa dia mengerti.

"Lalu apa yang hendak kau tanyakan tentang Pangeran Tao Seng? Siapa pula ibumu dan di mana ia sekarang berada?"

"Saya hendak mencari ayah kandung saya akan tetapi saya mendengar bahwa ayah saya difitnah orang sehingga dihukum buang. Ibu saya adalah seorang wanita Khitan, puteri kepala suku. Ibu yang mengutus saya pergi mencari ayah kandung saya karena setelah meninggalkan ibu selama dua puluh tahun, dia tidak pernah memberi kabar sedikit pun."

Ji Wan-gwe kini merasa yakin bahwa yang berhadapan dengan dia adalah putera kandungnya, putera Silani. Bahkan dia yang dahulu memesan kepada Silani. bahwa kalau isterinya itu melahirkan seorang anak laki-laki agar diberi nama Tao Keng Han! Akan tetapi kalau ada sedikit getaran pada jantungnya karena terharu bertemu putera kandungnya, ingatannya akan cita-citanya lebih besar dan lebih kuat sehingga dia dapat menekan perasaannya. Dia menghela napas besar seperti orang bersedih, padahal napas panjang itu untuk menekan rasa harunya.

"Menyedihkan sekali nasib ayahmu itu, Kongcu. Ketahuilah bahwa saya dahulu menjadi pengawal dari ayah kandungmu. Bahkan ketika Pangeran Tao Seng dibuang ke barat, saya tetap mengikutinya untuk menemani dan melayaninya. Dia memang terkena fitnah, Kongcu."

"Demikian kata Gulam Sang. Bukankah ayah seorang pangeran mahkota? Bagaimana dia bisa terkena fitnah dan siapa. pula yang memfitnahnya?"

"Semua itu terjadi karena iri hati. Salah seorang pangeran lain yang bernama Tao Kuang merasa iri hati karena ayahmu yang terpilih sebagai pangeran mahkota. Maka dia lalu melakukan fitnah menuduh ayahmu hendak memberontak dan membunuh kaisar. Memang ada bukti-bukti karena bukti itu memang sudah disediakan lebih dulu oleh Pangeran Tao Kuang. Ayahmu dituduh hendak membunuh kaisar dan membunuh Pangeran Tao Kuang, maka dia dihukum buang selama dua puluh tahun. Saya mengikutinya sampai di tempat pembuangannya."

"Ah, kasihan sekali ayah kandungku! Dan sekarang dia berada di mana, Paman Ji?"

Hartawan Ji menghela napas lagi.

"Agaknya Pangeran Tao Kuang tidak puas karena ayahmu hanya dihukum buang. Dia menghendaki kematian ayahmu maka dia menyuruh orang untuk menyusul ke barat, dan di sana orang-orangnya berhasil meracuni ayahmu sehingga meninggal dunia!"

"Ahhh....!!"

Keng Han menundukkan mukanya karena tidak ingin kelihatan menangis atau berduka. Sampai lama keduanya diam, kemudian terdengar Hartawan Ji berkata dengan suara yang mengandung kemarahan.

"Akan tetapi kita tidak tinggal diam Kongcu! Dendam sedalam lautan ini harus ditebus dengan kematian Pangeran Tao Kuang dan kaisar!"

"Akan tetapi bagaimana mungkin, Paman? Kita hanyalah orang-orang biasa, bagaimana mungkin dapat menentang kekuasaan yang memiliki ratusan ribu pasukan?"

"Kita tidak bergerak sendiri, Kongcu. Dengarlah. Dengan bantuan anakku Gulam Sang kita telah menghimpun persekutuan yang cukup kuat. Banyak partai persilatan besar, para tokoh kang-ouw yang sakti, sudah siap membantu. Kalau engkau suka membantu, kiranya tidak akan sukar untuk membunuh Pangeran Tao Kuang atau bahkan kaisar sekalipun."

"Tentu saja saya suka membantu. Di mana jenazah ayahku dimakamkan, Pamain Ji?"

"Atas permintaannya sendiri sebelum dia meninggal, jenazahnya diperabukan, akan tetapi sampai sekarang abunya belum dapat kukubur atau kubuang ke laut. Aku masih takut kalau-kalau ada yang tahu dan mengenalku sebagai pengawal ayahmu, bisa celaka aku. Abu jenazah itu masih kusimpan di rumah ini, kubuatkani sebuah meja abu. Kalau Kongcu hendak bersembahyang di depan meja abu, silakan, Kongcu."

Keng Han berterima kasih sekali dan dia lalu mengikuti tuan rumah memasuki ruangan dalam yang hiasannya lebih indah dan mereka tiba di sebuah kamar di mana terdapat sebuah meja dan abu itu tersimpan di dalam sebuah bejana dari perak. Tidak ada tulisan apa pun di situ dan hal ini dapat dimengerti Keng Han karena hartawan itu tidak ingin ketahuan bahwa dia bekas pengawal Pangeran Tao Seng. Keng Han lalu bersembahyang dan berlutut di depan meja abu itu. Dia terkenang kepada ibunya dan, hatinya seperti diremas. Lima tahun lebih dia meninggalkan ibunya dengan harapan akan dapat bertemu ayahnya. Siapa kira sekarang dia hanya dapat bersembahyang di depan abunya.

"Ayah, saya bersumpah untuk membalas dendam kematian ayah!"

Katanya kuat-kuat dan Hartawan Ji yang berdiri di belakangnya tersenyum penuh arti. Setelah bersembahyang mereka bercakap-cakap lagi berdua saja, di ruangan lain.

"Untuk membunuh kaisar memang merupakan hal yang sulit karena kaisar selalu terkurung rapat oleh para pengawalnya. Akan tetapi membunuh Pangeran Tao Kuang yang kini menjadi Putera Mahkota itu tentu lebih mudah. Dia tidak terjaga begitu ketat. Hanya saja, Pangeran Tao Kuang mempunyai seorang selir yang pandai ilmu silat. Tadinya ayah mertuanya juga berada di sana, akan tetapi setelah ayah mertuanya meninggal, yang perlu diperhitungkan adalah selirnya itu. Apakah engkau berani menyerbu ke sana dan melawan selirnya yang lihai itu?"

"Untuk membalas dendam, saya berani melakukan apa saya, Paman Ji!"

"Bagus! Kalau begitu engkau tinggallah di sini beberapa waktu lamanya untuk mempelajari keadaan dalam Istana Pangeran Mahkota. Setelah hafal akan keadaan di sana barulah engkau bergerak. Apakah engkau membutuhkan bantuan, Tao-kongcu?"

"Tidak dalam hal ini jangan sampai Paman tersangkut. Untuk membalaskan dendam ayah, biar aku sendiri yang bertanggung jawab."

"Baiklah, kalau begitu akan kuusahakan menemukan denah istana pangeran mahkota itu sehingga engkau akan lebih mudah bergerak kalau sudah berhasil masuk ke sana."

Keng Han mengucapkan terima kasih dan merasa gembira sekali. Biarpun dia tidak dapat bertemu dengan ayahnya, kalau dia dapat membalaskan sakit hatinya, dia sudah merasa puas. Tentu hal ini juga merupakan hiburan bagi ibunya mendengar tentang kematian ayah kandungnya. Yo Han Li dan Kai-ong Lu Tong Ki memasuki kota raja. Sejak kecil Han Li tinggal di Bukit Naga dan biarpun dia pernah melihat kota besar, akan tetapi baru sekali ini dara ini melihat kota raja, maka banyak hal yang membuatnya menjadi bengong! Banyaknya toko, rumah penginapan dan rumah makan yang serba besar, taman-taman yang besar dan indah, banyaknya orang berlalu lalang, pagoda-pagoda yang nampak dari jauh di lereng bukit, semua itu membuatnya berulang kali memuji.

"Uh, apa sih bagusnya semua itu? Hanya dapat dipandang akan tetapi tidak dapat dirasakan! Lihat nanti kalau kita bisa mendapatkan hidangan kaisar atau pangeran, baru engkau akan benar-benar kagum! Hidangan-hidangan itu bukan hanya dapat dipandang dan dicium sedapnya, akan tetapi juga dapat dirasakan dengan lidah! Wahhh, mulutku menjadi basah mengingat semua itu."

Post a Comment