Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 50

Memuat...

Kakek itu tertawa dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Han Li.

"Gadis cerdik, engkau ingin aku mengajarkan ilmu silat kepadamu? Bagaimana kalau kelak Pendekar Tangan Sakti dan Si Bangau Merah mengetahui? Tentu mereka akan menjadi marah kepadaku."

"Tidak, aku jamin. Kalau orang tuaku bertanya, aku akan mengaku bahwa akulah yang ingin menjadi muridmu, bukan engkau yang minta aku menjadi muridmu."

"Heh-heh-heh, engkau memang cerdik sekali."

Melihat kakek itu tidak membantah lagi, Yo Han Li lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek iti sambil menyebut "suhu". Lu Tong Ki segera membangunkan Han Li.

"Sudahlah, tidak perlu banyak memakai peradatan. Aku memang suka menerimamu menjadi murid. Engkau puteri sepasang pendekar besar dan engkau berbakat sekali. Akan tetapi, yang dapat menandingi ilmu-ilmumu hanya sebuah saja padaku, yaitu Ta-kwi-tung (Tongkat Pemukul Iblis). Itulah yang akan kuajarkan kepadamu sambil melakukan perjalanan ke kota raja."

"Terima kasih, Suhu."

"Nah, sekarang mari kita seberangi sungai ini, Han Li."

Kata kakek itu sambil meloncat ke dalam sebuah perahu kecil yang berada di pantai. Kiranya kakek itu tadi datang berperahu. Han Li juga menyusul Lu Tong Ki meloncat kedalam perahu. Kalau tadi ketika kakek itu meloncat, perahu sama sekali tidak bergoyang seolah yang hinggap di perahu itu hanya seekor burung. Akan tetapi ketika Han Li meloncat, perahu itu bergoyang sedikit. Ini saja menunjukkan bahwa dalam hal gin-kang, kakek itu telah memiliki ilmu yang tinggi sekali. Karena perahu itu hanya mempunyai sebuah dayung, Han Li lalu meminta dayung itu dari gurunya dan sebagai seorang murid yang baik, ialah yang mendayung perahu itu menyeberang ke pantai timur.

Lu Tong Ki tidak membantah dan membiarkan muridnya mendayung perahu itu. Perahu meluncur dengan cepatnya karena Han Li mengerahkan sin-kang untuk mendayung perahu itu. Ketika perahu itu tiba di seberang sungai, dari perahu mereka dapat melihat seorang wanita berpakaian putih sedang dikeroyok oleh belasan orang yang memegang pedang. Wanita itu bersenjatakan sabuk sutera putih dan gerakan-nya ringan seperti seekor burung bangau putih. Namun, belasan orang pengeroyoknya itu membentuk barisan pedang yang lihai sekali sehingga wanita itu agaknya berada dalam keadaah berbahaya dan ke manapun ia bergerak, selalu ia bertemu dengan pedang para pengeroyok yang sudah mengepungnya dengan barisan yang teratur rapi. Kai-ong Lu Tong Ki berkata kepada Han Li.

"Han Li, kalau melihat perkelahian itu, apa yang akan kau lakukan? Kau hendak membantu pihak yang mana?"

Han Li berdiri di perahu dan memandang sejenak.

"Aku akan melerai dan menegur belasan orang yang mengeroyok seorang wanita itu, Suhu. Kalau mereka tidak mau menurut, tentu aku akan membantu wanita itu. Ia amat lihai, akan tetapi para pengeroyoknya menggunakan barisan yang amat kuat."

"Engkau benar dan lakukanlah!"

Kata kakek pengemis itu sambil tersenyum. Mendengar ucapan gurunya, Han Li segera melompat ke darat dan lari menghampiri mereka yang sedang bertanding. Han Li telah mencabut pedangnya dan menerjang para pengeroyok sambil berseru,

"Tahan senjata!"

Dua orang pengeroyok yang pedangnya bertemu dengan Han Li terkejut karena pedang mereka terpental, hampir terlepas dari pegangan. Yang lain lalu berhenti mengeroyok gadis berpakaian putih yang bukan lain adalah Souw Cu In itu.

"Berhenti dulu!"

Kata Han Li sambil memandang kepada Cu In.

"Kalian ini belasan orang laki-laki mengapa mengeroyok seorang wanita? Itu curang namanya!"

"Siapa kau berani mencampuri urusan kami?"

"Tidak peduli aku siapa akan tetapi kalau melihat kecurangan aku tidak akan tinggal diam. Kalau kalian ini bertanding satu lawan satu aku tentu tidak akan campur tangan."

"Perempuan ini lancang. Hajar saja!"

Terdengar teriakan mereka dan kembali mereka bergerak dengan teratur dan menggerakkan pedang untuk menyerang, sekali ini bukan hanya Cu In yang dikeroyok, akan tetapi juga Han Li. Han Li menggerakkan pedangnya dan Cu In menggerakkan sabuk suteranya. Gerakan kedua orang gadis ini begitu hebatnya sehingga barisan pedang itu mulai menjadi kacau.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan semua pengeroyok mengundurkan diri mendengar bentakan ini dan di situ telah muncul seorang kakek berusia enam puluhan tahun yang memegang sebatang tongkat dan mendatangi tempat itu dengan terpincang-pincang. Ternyata kaki kiri kakek ini timpang sehingga jalannya terpin-cang-pincang. Melihat kakek itu, Cu In terkejut karena dia mengenal kakek itu sebagai Toat-beng Kiam-sian Lo Cit yang amat lihai itu. Baru-baru ini dia dan Keng Han dapat meloloskan diri dari pengeroyokan kakek ini bersama anak buahnya. Tadi ketika dia menyeberangi sungai dan di daratan timur bertemu dengan belasan orang itu yang mengeroyoknya dengan pedang, dia sudah menduga bahwa mereka tentulah anak buah Kwi-kiam-pang. Agaknya di antara mereka ada yang mengenal ia yang pernah bermusuhan dengan Toat-beng Kiam-sian Lo Cit.

"Ha-ha-ha, kiranya engkau!"

Kakek itu menuding ke arah Cu In.

"Sekarang jangan harap engkau akan dapat lolos dari tanganku!"

Berkata demikian kakek itu lalu menggerakkan tongkat pedangnya menyerang Cu In. Gadis ini mengelak dan Han Li membantu, akan tetapi para anak buah Kwi-kiam-pang sudah maju pula mengeroyoknya. Serangan Lo Cit terhadap Cu In amat hebatnya sehingga dalam waktu pendek saja Cu In sudah terdesak hebat. Juga Han Li yang dikeroyok anak buah Kwi-kiam-pang yang mernbentuk barisan telah terdesak. Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa.

"Ha-ha-ha, Pangcu dari Kwi-kiam-pang ternyata hanyalah seorang pengecut yang mengeroyok dua orang gadis muda!"

Mendengar ucapan itu, Toat-beng Kiam-sian Lo Cit meloncat mundur untuk melihat. Ketika melihat seorang kakek berpakaian tambal-tambalan, dia mengerutkan alisnya. Dia menudingkan tongkat pedangnya ke arah muka pengemis itu dan membentak,

"Bukankah engkau Lu Tong Ki yang di juluki Kai-ong? Mau apa engkau mencampuri urusan pribadiku!"

"Heh-heh-heh, tentu saja aku mencampuri karena yang dikeroyok itu adalah muridku. Bebaskan kedua orang gadis itu dan aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi."

Lo Cit sebetulnya merasa jerih terhadap kakek yang namanya terkenal sekali di antara para datuk itu, akan tetapi dia berbesar hati karena di situ terdapat belasan orang murid-murid utamanya yang sudah pandai membentuk barisan pedang yang amat lihai.

"Kalahkan dulu kami kalau engkau ingin bebas!"

Tantangnya dan dia sudah menggerakkan pedang yang tersembunyi dalam tongkatnya itu untuk menye-rang Kai-ong. Melihat pimpinan mereka sudah menyerang kakek pengemis yang baru tiba itu, anak buah Kwi-kiam-pang kembali menyerbu ke arah Cu In dan Han Li. Dua orang gadis itu menggerakkan senjata mereka dan bekerja sama melakukan perlawanan. Pertempuran antara Lo Cit melawan Kai-ong amat ramai dan hebatnya. Ternyata tingkat kepandaian mereka seimbang, hanya Kai-ong memiliki kecepatan yang lebih dari lawannya sehingga serangan tongkatnya membuat Li Cit agak kewalahan.

Biarpun ilmu pedang Lo Cit amat dahsyat, akan tetapi karena gerakannya kalah cepat, dialah yang terdesak. Sementa-ra itu, setelah kini dibantu Han Li, Cu In mengamuk dan dapat mendesak para pengeroyoknya. Anak buah Kwi-kiam-pang yang membentuk kiamtin (barisan pedang) mulai kacau dan kocar-kacir diamuk dua orang gadis perkasa itu. Namun Kai-ong agaknya maklum bahwa kalau datang lebih banyak anak buah Kwi-kiam-pang, tentu keadaan mereka menjadi berbahaya sekali. Juga dia maklum bahwa Dewa Pedang itu mempunyai anak perempuan dan murid yang lihai. Kalau mereka datang mengeroyok, kekuatan mereka bertambah dan tentu dia bersama dua orang gadis itu menjadi repot, dia memutar tongkatnya dengan cepat membuat Lo Cit terkejut dan mundur.

"Lo Cit, biarlah lain kali saja kita lanjutkan perkelahian ini, aku masih mempunyai banyak urusan. Han Li dan engkau Nona, mari kita pergi!"

Sebetulnya Han Li dan Cu In merasa heran mengapa orang tua itu mengajak mereka pergi, padahal keadaan mereka tidak kalah, bahkan sedang mendesak lawan. Akan tetapi Han Li tidak berani membantah perintah gurunya.

"Enci, mari kita pergi!"

Ajaknya kepada Cu In. Cu In sendiri maklum bahwa tanpa bantuan gadis dan gurunya itu, tentu ia akan celaka di tangan musuh, maka ia pun melompat keluar dari gelanggang perkelahian dan mengikuti Han Li yang sudah melarikan diri bersama gurunya. Melihat tiga orang itu melarikan diri, Lo Cit yang tahu diri tidak mengejar. Keadaannya tadi sudah terdesak, jelas kekuatan musuh lebih besar. Mengejar berarti mencari penyakit, maka dia pun tidak mau mengejar, dan mengajak anak buahnya untuk kembali ke bukit Kwi-san. Setelah yakin bahwa mereka tidak dikejar, Kai-ong berhenti berlari dan dua orang gadis itu pun berhenti. Kai-ong tertawa-tawa,

"Heh-heh-heh, baru sekali ini aku berlari-larian seperti orang dikejar anjing!"

"Akan tetapi, Suhu. Kita sama sekali tidak kalah, malah kita mendesak lawan, kenapa Suhu mengajak kami melarikan diri?"

"Benar, Locianpwe, orang-orang Kwi-kiam-pang adalah orang-orang jahat yang perlu dihajar. Kenapa Locianpwe mengajak kami melarikan diri?"

Tanya pula Cu In dengan hati penasaran.

"Heh-heh-heh, kalian tahu. Kalau aku mengajak kalian melarikan diri itu adalah untuk keselamatan kalian! Aku mengenal Kwi-kiam-pang. Selain mereka itu lihai, juga mereka licik dan curang sekali, suka mempergunakan alat-alat rahasia dan jumlah mereka banyak. Kalau yang lain-lain berdatangan, bagaimana aku akan mampu menyelamat-kan kalian. Lebih baik pergi selagi mereka terdesak sehingga mereka tidak berani mengejar, heh-heh-heh!"

"Sudah lama aku mendengar kecerdikan Kai-ong, dan ternyata memang Locianpwe cerdik sekali!"

Puji Cu In.

"Eh? Engkau mengenal nama julukanku?"

"Sudah lama aku mengenalnya, Locianpwe dan hari ini aku beruntung mendapat pertolongan Locianpwe dan Adik ini."

"Enci, tidak ada kata tolong-menolong. Sudah menjadi kewajiban kami untuk turun tangan menentang yang jahat. Enci, namaku Yo Han Li, dan bolehkah kami tahu siapa nama Enci?"

"Hemmm, melihat ilmu pedangmu tadi engkau tentu puteri dari Pendekar Tangan Sakti Yo Han dan Si Bangau Merah, bukan?"

"Ah, Enci ternyata berpanda-ngan luas dan memiliki banyak pengalaman sehingga mengenal pula ilmu pedangku. Siapakah engkau, Enci yang baik?"

Post a Comment