Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 77

Memuat...

"Koko, mana pedangku. serahkan si Codet galak itu kepadaku."

Kata Lulu yang agaknya tidak mengenal bahaya. Pedang itu tadi oleh Han Han ditancapkan di atas tanah ketika ia membantu Lulu dan merobohkan empat orang murid Hoa-san-pai. Kini Lulu menyambar pedang itu dan terus dimainkan sambil mengejek ke arah Kong Seng-cu.

"Hayo, Tosu Codet, berani kau melawan pedang wasiatku?"

Kong Seng-cu yang sudah sejak tadi diejek dan dipermainkan Lulu, memuncak kemarahannya. Ia lupa diri, lupa bahwa adalah pantangan pertama dan terutama bagi seorang ahli tapa seperti dia untuk mudah dirangsang nafsu amarah. Dengan seruan keras ia telah mencabut pedangnya dan menerjang Lulu. Sinar pedangnya yang bersinar kehijauan itu bagaikan kilat menyambar ke arah leher Lulu.

"Cring.. iiihhhhh..., Pedangmu bagus sekali, Tosu Codet. Wah, kau berikan saja pedangmu itu padaku dan aku serta kakakku akan mengampunimu. Hayo, serahkan pedangmu sebagai pengganti nyawamu. Lulu berteriak kaget dan mandang pedangnya yang tinggal sepotong. Ketika menangkis tadi, pedang rampasannya bertemu dengan pedang Kong Seng-cu yang bersinar kehijauan, dan sekali beradu pedang rampasannya buntung. Maka ia menjadi tertarik sekali dan wajah serta matanya berseri memandang pedang kehijauan yang dipegang Kong Seng-cu. Dapat dibayangkan betapa marah dan mendongkol hati Kong Seng-cu mendengar ucapan gadis itu. Sudah terang bahwa sekali serang saja, biarpun gadis itu berhasil menangkisnya, namun pedang gadis itu menjadi buntung sehingga hal ini dapat dipakai ukuran bahwa dia sudah menang dalam satu gebrakan.

Namun gadis itu masih mengeluarkan ucapan untuk menukar pedangnya dengan nyawa. Seolah-olah gadis itu baru mau mengampuninya kalau dia sudah memberi "thiap" (sogokan) kepada gadis Mancu itu berupa pedangnya. Padahal pedangnya itu bukanlah sembarang pedang. ltulah pedang Cheng-kong-kiam (Pedang Sinar Hijau), sebuah pusaka Hoa-san-pai"

Cheng-kong-kiam ini dahulu amat terkenal didunia kang-ouw sebagai senjata ampuh dari para pimpinan Hoa-san-pai dan kini berada di tangan Kong Seng-cu karena dia merupakan seorang diantara pemimpin Hoa-san-pai dan di antara ketiga orang tosu itu, dialah yang paling pandai dalam kiam-sut (ilmu pedang) Hoa-san-pai. Dan sekarang, pedang itu diminta oleh Lulu sebagai barang "sogokan". Sung-guh keterlaluan sekali"

"Perempuan Mancu keparat, engkau tak patut dibiarkan hidup."

Kong Seng-cu yang sudah memuncak kemarahannya itu kini menerjang maju dengan ganas, mengeluarkan jurus-jurus maut dari Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-sut.

"Ayaaaaa.., Tosu Codet selain galak juga ganas sekali."

Mulut Lulu berkata demikian, akan tetapi sesungguhnya dia tidak berpura-pura dan menjadi kaget sekali. Kasihan dara remaja ini. Biarpun dia telah mewarisi ilmu silat yang amat tinggi dan aneh dari Pulau Es, akan tetapi dia kurang pengalaman dan selamanya dia hanya berlatih dalam pertandingan pura-pura melawan beruang es. Kini dia diserang oleh seorang tosu Hoa-san-pai tingkat empat yang memegang sebatang pedang pusaka Hoa-san-pai pula, yang sudah menjadi ahli pedang sebelum dia terlahir. Tentu saja dia terkejut dan kewalahan. Baiknya, selama di Pulau Es, gadis ini telah berlatih secara aneh dan hebat sehingga dia memiliki sinkang dan ginkang yang tidak lumrah manusia biasa sehingga biarpun terdesak ia, selalu dapat bergerak cepat, menghindar diri dengan meloncat ke sana kemari, mengelak terus karena tidak berani menangkis dengan pedangnya yang tinggi sepotong.

"Sing-sing-sing.. siuuuuutttt.. aihhh...."

Untuk ke sekian kalinya,. hampir saja ujung pedang bersinar hijau itu mencium kulit leher Lulu yang putih halus sehingga gadis itu membelalakkan matanya dan untung ia masih dapat cepat sekali menarik tubuh ke belakang lalu meloncat keatas dan berjungkir-balik empat meter disebelah belakangnya. Namun Kong Seng-cu yang sudah marah dan penasaran itu menerjang terus tanpa mengenal kasihan. Kong Seng-cu tidak malu menyerang dengan pedangnya karena tadi Lulu juga memegang pedang, bahkan biarpun sekarang pedang gadis itu tinggal sepotong, namun masih terus dipegangnya sehingga gadis itu dapat dikatakan "bersenjata"

Dan dia tidak akan disebut menyerang seorang yang bertangan kosong dengan senjatanya. Berbeda dengan Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu.

Mereka berdua setelah menyaksikan betapa Kong Seng-cu sudah turun tangan terhadap gadis Mancu yang telah merobohkan para anak buah Pek-eng-piauwkiok, lalu melangkah maju menghampiri Han Han pula. Mereka berdua maklum bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang hebat juga, maka mereka pun tidak malu-malu untuk turun tangan berdua, sungguhpun mereka masih merasa sungkan menggunakan senjata. Mereka percaya bahwa andaikata seorang diri masih diragukan untuk dapat menundukkan pemuda liar itu, berdua tentu akan dapat menawannya untuk diseret kedepan ketua Hoa-san-pai. Dengan demi-kian, barulah nama besar dan wibawa Hoa-san-pai tidak akan tercemar karena tewas dan robohnya beberapa orang anak murid Hoa-san-pai di tangan bocah ini.

"Pemuda iblis, menyerahlah."

Lok Seng-cu menggerakkan tangan mencengkeram ke arah pundak Han Han. Pemuda ini sudah menjadi marah, apalagi melihat betapa Lulu diserang dengan pedang oleh Kong Seng-cu. Kini menghadapi cengkeraman tangan Lok Seng-cu, ia sama sekali tidak mengelak, bahkan menggerakkan tangan pula menangkis sambil mengerahkan tenaga dengan lengan kiri.

"Plakkkkk ....."

"Ayaaaaa......"

Tubuh Lok Seng-cu terpelanting dan hampir saja tosu ini roboh kalau saja dia tidak cepat meloncat ke atas dan berjungkir-balik, wajahnya pucat dan lengan kirinya agak membiru. Hawa dingin seperti es menusuk nusuk lengannya itu. Dia sudah mendengar akan kelihaian Ma-bin Lo-mo yang kabarnya memiliki ilmu pukulan Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Es) yang mengandung Im-kang yang amat kuat.

Akan tetapi sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa murid datuk hitam itu rnemiliki sinkang sekuat ini. Cepat Lok Seng-cu menghimpun tenaga dalamnya dan segera rasa dingin rne-nusuk-nusuk itu lenyap kernbali. Melihat sutenya hampir roboh dalam segebrakan, Bhok Seng-cu terkejut bukan main dan cepat ia pun menubruk maju dari sebelah kanan pemuda itu dan mengirim dorongan dengan telapak tangan-nya ke arah dada Han Han. Dorongan ini .bukan sembarang dorongan, melainkan pukulan sakti yang dilakukan dengan pengerahan sinkang yang kuat sekali. Han-Han dapat merasai sambaran angin dahsyat yang panas, maka ia pun segera membuka tangan kanan dan memapaki telapak tangan kakek itu yang mendorong-nya.

"Plak..."

Dua telapak tangan yang mengandung hawa Yang-kang bertemudan melekat"

Bhok Seng-cu kembali tertegun dan cepat-cepat mengerahkan sinkangnya untuk memperkuat Yang-kang yang mendorong keluar dari telapak tangannya. Pemuda ini menggunakan Yang-.kang yang amat panas. Hal ini benar-benar mengagetkan Bhok Seng-cu karena hawa panas yang menyambut telapak tangannya itu hampir tak tertahankan olehnya. Melihat betapa suhengnya telah turun tangan akan tetapi belum mampu merobohkan pemuda itu, Lok Seng-cu menjadi penasaran dan ia pun menerjang maju dan kini ia memukul dengan mengerahkan hawa Im-kang.

Sebagai seorang tokoh tingkat tinggi Hoa-san-pai, tiga orang tosu ini tentu saja telah kuat sekali sinkangnya sehingga mereka pun menguasai tenaga Yang-kang maupun Im-kang. Lok Seng-cu yang sudah merasai betapa pemuda itu tadi menerima cengkeramannya dengan tangkisan yang mengandung hawa sakti dingin, kini me-nyerang pula dengan Im-kang karena ia maklum pula melihat jurus yang dipergunakan suhengnya bahwa Bhok Seng-cu menyerang pemuda itu dengan Yang-kang dan bahwa pemuda itu menyambut dorongan suhengnya dengan hawa sakti panas pula. Kesempatan bagus pikirnya. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangan kiri pemuda itu menerima telapak tangannya dengan sinkang yang berhawa dingin pula. Betapa mungkin ini? Dengan tangan kanannya pemuda itu melawan hawa panas Bhok Seng-cu dengan hawa panas pula,

Post a Comment