Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 76

Memuat...

"Majulah semua! Tosu-tosu picik, hayo majulah kalian. Kalau kekerasan yang kalian kehendaki, kekerasan yang kalian dapat."

Lulu juga meloncat ke dekat kakaknya sambil membusungkan dadanya yang sudah membusung,

"Jangan mengeroyok Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li, keroyoklah kami kalau kalian sudah bosan hidup."

Akan tetapi tiba-tiba Han Han sudah menggerakkan kedua tangannya, mendorong ke kanan kiri dan terdengarlah suara hiruk-pikuk jatuhnya beberapa buah senjata pedang dan golok karena pemiliknya rebah terguling disambar hawa pukulan hebat luar biasa, yaitu yang menyambar keluar dari kedua telapak tangan Han Han.

Amat mengerikan akibatnya karena empat orang itu roboh dengan lengan kanan sebatas siku gosong seperti dibakar. Masih untung bahwa Han Han menyerang mereka mengarah lengan, kalau tubuh mereka yang terkena sambaran hawa pukulan yang merupakan inti dari Hwi-yang Sin-ciang ini, pasti nyawa mereka telah melayang. Lulu menjadi gembira, tubuhnya berkelebat ke kiri dan sebuah tendangan membuat orang anak buah piauwkiok menjerit kesakitan, lengan tangannya patah tulangnya dan pedangnya mencelat ke atas. Tubuh Lulu meloncat dengan gerakan indah dan cepat, seperti seekor burung walet terbang dan tahu-tahu pedang itu telah berada di tangannya, dan la melayang turun, berdiri tersenyum-senyum menimang-nimang dan memandang pedang, sikapnya seperti seorang anak kecil mendapatkan sebuah boneka.

"Pedang yang bagus sekali"'"

Ia memainkan ronce-ronce pedang yang berwarna kuning itu dan mengelus-elus mata pedang yang tajam. Melihat ini, Tan-piauwsu dan para sute serta anak buah mereka mau tak mau lalu maju menyerbu, bukan menyerbu Sin Kiat dan Soan Li, melainkan menyerbu Han Han dan Lulu yang telah bergerak terlebih dulu. Biarpun sampai mati dalam pertandingan, mereka ini memilih mati di tangan Han Han dan Lulu yang merupakan orang-orang lain, bahkan boleh juga dianggap musuh karena Han-Han telah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai sedangkan Lulu adalah seorang gadis Mancu. Kalau mereka menyerbu Sin Kiat dan Soan Li, berarti mereka bermusuhan dengan murid-murid Hoa-san-pai sendiri dan kalau tewas berarti mati konyol.

"Han Han... Lulu-moi.., kasihanilah mereka yang tak berdosa, jangan bunuh mereka..."

Sin Kiat berteriak dengan hati sedih dan amat terkejut menyaksikan sepak terjang Han Han. Lulu mendengar getaran suara Sin Kiat ini dan ketika ia mengerling kepada kakaknya, ia melihat bahwa kakaknya telah diserang nafsunya yang aneh, yang kadang-kadang datang seperti ketika kakaknya ini menyiksa ular merah di Pulau Es. Ia cepat berbisik.

"Koko, jangan bunuh orang..."

Pada saat itu, Han Han memang telah kemasukan nafsu iblis yang selalu menyerangnya apabila ia mengerahkan sinkang di tubuhnya. latihan-latihan yang ia tempuh selama bertahun-tahun adalah latihan-latihan ilmu golongan hitam yang selalu menimbulkan nafsu ingin menyiksa dan membunuh. Begitu menyaksikan sikap tiga orang tosu Hoa-san-pai, kemarahannya bangkit dan sekali ia mengerahkan sinkang, nafsu membunuh ini telah bangkit di dadanya, sepasang matanya yang amat tajam itu menjadi agak kemerahan, napasnya agak terengah dan ia merasa seolah-olah ia bukan bernapas hawa melainkan api. Akan tetapi aneh sekali, bisikan suara Lulu itu merupakan embun dingin sejuk yang seketika dapat menekan gairahnya untuk membunuh musuh sebanyaknya, dan ia mengangguk sambil berkata lirih.

"Lulu, kau tahan mereka itu, biar aku menghadapi tiga orang tosu sombong."

Lulu tersenyum, menggerakkan tubuh ke kanan menghindarkan bacokan seorang anak buah piauwkiok,

Tangan kirinya menyambar tengkuk dan orang itu mengeluh dan roboh dengan mata mendelik, pingsan. Jurus-jurus pukulan Lulu amat aneh, selain karena memang ilmu silat tangan kosong yang dilatihnya dari kitab kuno di Pulau Es memang aneh, juga di-tambah dengan gerakan-gerakan yang ia ciptakan di luar kesengajaannya ketika ia berlatih dengan beruang es yang lihai sekali. Biasanya, kalau ia memukul tengkuk beruang es dengan tangan miring, beruang itu kadang-kadang dapat mengelak atau menangkis, dan kalau terkena juga, beruang es itu hanya akan terhuyung. Siapakira orang ini sekali kena disambar tengkuknya terus roboh pingsan. Hebat bukan main sepak terjang Lulu. Dia kini telah meloncat dekat kakak nya menyerahkan pedang dengan sikap seperti anak kecil dan berkata,

"Aku titip dulu,Koko, jangan sampai hilang pedangkul"

Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat, berputaran seperti orang menari, namun cepat bukan main sehingga para anak buah Peng-eng-piauwkiok hanya melihat bayangan berkelebatan di sekeliling mereka dan mencium keharuman yang keluar dari rambut dan pakaian Lulu dan pada detik-detik berikutnya, senjata-senjata di tangan mereka beterbangan dan orangnya pun mengaduh-aduh, ada yang patah tulang lenganya, ada yang terkilir kakinya kena tendangan, ada yang pening kepalanya dengan mata berkunang, karena ditempiling, dan ada pula yang mulas perutnya kena dicium ujung sepatu gadis itu. Mereka seolah-olah melawan bayangan setan, membacok ,dan menusuk secara ngawur karena tidak dapat melihat jelas lawannya, dan tahu-tahu dua puluh orang lebih telah kehilangan senjata dan tubuh mereka malang-melintang di ruangan itu"

"Bukan main."

Sin Kiat berseru sambil menahan napas saking kagumnya. Dia sendiri adalah seorang ahli silat kelas tinggi, memiliki ginkang yang hebat, akan tetapi menyaksikan gerakan Lulu, ia menjadi bengong karena gerakan gadis itu seolah-olah terbang saja. Betapa mungkin dara remaja itu memiliki ginkang setinggi itu? Siapakah gerangan gurunya?

Melihat gerakannya yang jelas membayangkan ilmu dari golongan bersih, kaum putih, ia tidak percaya kalau Lulu juga murid Ma-bin Lo-mo. Kalau Han Han memang amat boleh jadi, karena gerakan dan pukulan pemuda mengerikan sekali, Jelas termasuk Ilmu dari kaum sesat. Kini hanya tinggal Tan Bu Kong, Kwee Twan Giap dan dua orang sutenya yang lain saja diantara para piauwsu yang belum roboh. Mereka berempat ketika menyaksikan betapa semua anak buah piauwkiok roboh oleh gadis Mancu itu menjadi kaget akan tetapi juga marah. Tanpa dikomando lagi mereka sudah mencabut senjata dan menerjang maju.Tentu saja sebagai murid-murid Hoa-san-pai yang sudah bertingkat empat atau lima ilmu silat mereka sudah hebat dan gerakan mereka ketika menyerang Lulu tak boleh disamakan dengan gerakan para anak buah Pek-eng-piauwkiok tadi.

"Pergilah..."

Terdengar bentakan Han Han yang tidak membiarkan adiknya. dikeroyok murid-murid Hoa-san-pai ini. Dia membentak dan kedua tangannya mendorong ke kanan kiri..dan empat orang murid Hoa-san-pai itu terpental sampai empat meter ke belakang, roboh tak dapat bangkit kembali karena tulang pundak mereka remuk disambar hawa yang keluar dari kedua telapak tangan Han Han. Untung bagi mereka bahwa Han Han masih ingat akan cegahan adiknya sehingga ia membatasi dorongannya dan hanya membuat mereka roboh pingsan dengan tulang remuk saja.

"Siancai.. pemuda iblis...."

Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu dengan gerakan tenang namun sesunggunnya cepat dan mengandung tenaga sinkang yang amat kuat, meloncat turun dari kursi mereka diikuti oleh Kong Seng-cu. Melihat tiga orang kakek tokoh Hoa-san-pai itu hendak turun tangan, diam-diam Sin Kiat dan Soan Li menjadi khawatir sekali. Mereka maklum akan kelihaian tiga orang supek mereka ini dan karena sekali ini yang turun tangan adalah tokoh tinggi yang berkepandaian hebat, maka akibatnya pun tentu mengerikan. Mereka masih bingung dan serba salah, tidak tahu harus berbuat apa. Membantu sana salah membantu sini tak benar. Maka mereka hanya memandang bengong dan jantung mereka serasa berhenti berdetik.

Post a Comment