Di mana kesetiaanmu terhadap Hoa-san-pai? Apakah kalau dia ini menjadi sahabat baikmu di waktu kecil, lalu tak mungkin lagi menjadi kaki tangan Mancu? Pandangan picik sekali."
Bentak Bh'ok Seng-cu sambil menatap wajah pemuda itu dengan mata melotot. Sin Kiat menunduk, akan tetapi ia menjawab dengan suara tenang,
"Maaf, Supek. Bukan karena itu, melainkan karena dia adalah murid Ma-bin Lo-mo Siang-koan Lee..."
"Ahhhhh."
Seruan ini keluar dari mulut ketiga orang tosu tua itu karena mereka benar-benar merasa kaget sekali mendengar bahwa pemuda ini adalah murid seorang di antara tokoh-tokoh datuk hitam yang amat terkenal itu. Dan mereka pun maklum bahwa biarpun seorang tokoh datuk hitam, namun Siangkoan Lee bukanlah seorang yang tunduk kepada pemerintah penjajah Mancu. Kini mereka kembali memandang kepada Han Han penuh perhatian dan dengan pandang mata agak meragu. Akan tetapi hanya sebentar saja mereka meragu karena segera terdengar suara Bhok Seng-cu yang kaku dan tegas.
"Kalau dia murid Ma-bin Lo-mo, memang bukan kaki tangan Mancu. Akan tetapi biarpun demikian, dia telah membunuh dua orang murid Hoa-san..pai, dan dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Biarpun murid Ma-bin Lo-mo tidak boleh menghina kami orang orang Hoa-san-pai."
"Suheng, nanti dulu, Suheng."
Tiba-tiba Kong Seng-cu berkata dan tiba-tiba tubuh tosu ini sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya dan dengan langkah lebar menghampiri Lulu. Ia menghampiri dan memandang gadis itu penuh perhatian, mulutnya menggerutu,
"Adiknya....? ini Adikmu...?"
Han Han yang merasa sebal menyaksikan sikap congkak dari tiga orang Hoa-san-pai ini berkata,
"Benar, Totiang. Dia Adik angkatku."
Lulu yang dipandang penuh perhatian,bahkan kini tosu yang dahinya terhias bekas luka itu berjalan mengelilinginya sambil memandang seperti orang mem eriksa kuda yang hendak dibelinya, tersenyum-senyum dan melirak-lirik dengan sikap lucu dan mentertawakan. Akhirnya tosu itu kembali ke bangkunya, duduk dan berkata,
"Gadis ini adalah seorang wanita Mancu."
Semua orang yang mendengar ini menjadi terheran, bagaimana tosu codet ini dapat menduga sedemikian tepatnya.
"Wanita Mancu?"
Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu berseru kaget. Lok Seng-cu memandang kepada Tan-piauwsu dengan pandang mata bengis lalu membentak,
"Tan Bu Kong! Betulkah bahwa gadis ini seorang wanita Mancu dan sudah kau biarkan dia menjadi tamumu?"
Sebelum Tan-piauwsu sempat menjawab, Lulu sudah melangkah maju dan menjawab dengan suara Ian tang sambil memandang kepada Kong Seng-cu,
"Benar sekali"
Aku adalah seorang gadis Mancu dan namaku Lulu, she Sie karena Kakakku ini pun she Sie. Tosu codet, matamu benar-benar tajam sekali."
"Siancai...! Apa kata pinto? Dalam jarak sepuluh Ii, pinto sudah dapat mengenal wanita Mancu"
Suheng dan Sute biarpun orang she Sie ini murid Ma-bin Lo-mo, akan tetapi dia mempunyai Adik angkat wanita Mancu. Terang bahwa dia telah berkhianat, dan mungkin sekali dia sekarang menjadi kaki tangan Puteri Mancu itu. Wah, berbahaya kalau begini, sama sekali tidak boleh membebaskan dia."
"Tosu codet, selain matamu awas sekali, juga hatimu busuk sekali. Tentu karena kebusukan hatimu maka dahimu menjadi codet, sayang di dahi, semestinya di lidah agar mulutmu tidak dapat menghamburkan ucapan-ucapan busuk lagi."
Lulu yang diam-diam marah kini mulai mem-permainkan tosu itu. Semua orang terkejut sekali, bahkan Sin Kiat menjadi pucat wajahnya.. Gadis yang dicintanya itu benar-benar berani mati, mengeluarkan omongan yang seperti itu terhadap Kong seng-cu, seorang di antara ketiga murid ketua Hoa-san-pai yang berilmu tinggi. Pemuda perkasa ini maklum bah-wa ucapan itu akan rnempunyai akibat yang berbahaya sekali bagi Han Han dan Lulu, maka ia memandang dengan jantung berdebar dan muka pucat. Juga para anak buah Pek-eng-piauw-kiok terutama sekali Tan Bu Kong, menjadi khawatir sekali, apalagi karena Tan-piauwsu maklum bahwa perbuatannya menerima seorang gadis Mancu sebagai tamu benar-benar akan menimbulkan salah paham dari para supeknya.
"Suhu, harap maafkan teecu. Biarpun dia seorang gadis Mancu, akan tetapi dia lain lagi, sama sekali tidak menganggap kita sebagai musuh dan dan dia adalah Adik angkat Sie-taihiap..."
Ucapan ini malah merupakan angin yang membesarkan api kemarahan di dada tiga orang tosu itu, terutama sekali Kong Seng-cu yang dihina dan dimaki oleh seorang gadis Mancu.
"Bocah Mancu, mampuslah."
Bentak Kong Seng-cu dan tanpa bangkit dari tempat duduknya, kakek berdahi codet ini mengirim pukulan jarak jauh dengan. dorongan tangan kanannya ke arah dada Lulu. Jarak antara mereka ada empat meter dan kakek ini yang mermandang rendah gadis Mancu itu yang disangkanya gadis biasa saja, menaksir bahwa pukulannya ini cukup kuat untuk merusak isi dada gadis yang dianggapnya jahat dan musuh rakyat itu. Angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Lulu dan jelas tampak betapa baju gadis itu di bagian dadanya berkibar disambar angin pukulan, akan tetapi gadis itu sendiri berdiri sambil tersenyum-senyum manis, sama sekali tidak bergerak,
Seolah-olah ia tidak merasakan datangnya angin pukulan jarak jauh ini seperti sebongkah batu gunung ditiup angin semilir. Dan memang sesungguhnyalah bahwa Lulu sama sekali tidak tahu bahwa dia dipukul orang. Akan tetapi mengapa pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sakti amat kuat dari tokoh Hoa-san-pai itu sarna sekali tidak terasa olehnya? Apakah Lulu sudah memiliki kesaktian yang luar biasa seperti Han Han? Sebetulnya tidaklah demikian. Seperti kita ketahui, ketika berdiam di Pulau Es, Lulu juga tekun belajar di bawah bimbingan Han Han. Akan tetapi berbeda dengan Han Han yang memiliki dasar tidak karuan, bahkan secara paksa menggembleng diri dengan ilmu dari aliran hitam. Lulu sebaliknya mempelajari kitab-kitab peninggalan manusia sakti pemilik Istana Pulau Es.
Gadis ini berlatih samadhi dan pengumpulan hawa murni untuk membentuk tenaga sakti menurut petunjuk kitab yang dibacanya di pulau itu, dan ternyata ia dapat memiliki sinkang yang murni dan bersih yang amat kuat dan yang kini telah menjadi satu dengan darah daging dan pernapasannya sehingga tenaga sakti ini akan bergerak dengan sendirinya setiap kali ada bahaya mengancam tubuhnya. Juga gadis ini melatih ilmu silat tangan kosong dan ilmu pedang dari dua buah kitab lain yang sudah amat tua dan tidak berjudul lagi, ilmu silat tangan kosong yang lebih mirip ilmu tari karena gerakan-gerakannya indah sekali sehingga sering kali jika sedang berlatih, lulu ditertawai dan digoda Han Han, dikatakan bahwa tarian adiknya amat indah dan 'bahwa' adiknya bukan mempelajari ilmu silat melainkan ilmu tari.
Namun, dengan "ilmu tari"
Ini,.Lulu sudah dapat membuat beruang es mengaku kalah. Adapun ilmu pedangnya juga amat indah, akan tetapi karena dipulau itu mereka tidak mempunyai pedang, Lulu selalu berlatih mempergunakan sebatang ranting. Dengan adanya sinkang yang sudah mendarah daging itulah maka tadi ketika Kong Seng-cu melancarkan pukulan jarak jauh yang mengandalkan tenaga sinkang, begitu angin pukulan menyentuh kulit, otomatis sinkang di tubuh Lulu bergerak dan menolak serangan dari luar itu maka gadis ini tidak merasakan apa-apa sungguhpun bajunya sampai berkibar dilanda angin pukulan jarak jauh tokoh Hoa-san-pai itu. Wan Sin Kiat menjadi pucat mukanya,dan pandang matanya menjadi kagum dan heran bukan main.
Sebagat murid tersayang dari im-yang Seng-cu seorang tokoh yang biarpun tingkatnya hanya saudara seperguruan tiga orang tosu ini namun memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi, dan sebagai seorang yang ahli dalam ilmu silat Hoa-san-pai, Sin Kiat tadi dapat rnelihat jelas gerakan Kong Seng-cu dan maklum bahwa supeknya itu dengan secara keji sekali telah melakukan pukulan jarak jauh yang di-sebut jurus Sian-jin-hian-ko (Dewa Memberi Buah) dan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan kagumnya ketika melihat bahwa gadis yang telah membuat jantungnya jungkir balik dan bertekuk lutut itu sama sekali tidak rnerasakan pukulan itu, bahkan berkedip pun tidak, malah senyumnya makin lebar dan makin manis, mata yang lebar itu makin bersinar-sinar"
"Eh, Tosu Codet. Engkau mengeluarkan ilmu hitam?"