"Apa yang lucu, Moi-moi? Mengapa engkau tertawa?"
Sin Kiat bertanya, mukanya menjadi agak pucat.
"Habis, lucu sekali sih"
Engkau dan Sumoimu keduanya telah jatuh cinta kepada aku dan Kakakku, bukankah ini lucu sekali namanya?"
Sin Kiat memandang wajah jelita itu dengan kaget.
"Apa? Sumoi mencinta Kakakmu? Ah, bagaimana engkau bisa tahu?"
"Apa sih sukarnya mengetahui itu? Aku tahu bahwa Sumoimu mencinta Han-koko dan bahwa engkau mencintaku. Mau bukti? Mari, kau ikut denganku."
Lulu menancapkan bunga-bunga yang dipetiknya di atas tanah, kemudian ia memegang tangan Sin Kiat dan menarik pemuda itu, diajak pergi ke sebelah selatan taman bunga, di mana terdapat pondok yang bercat kuning dan disebut pondok Cahaya Matahari karena pondok ini menghadap ke timur dan setiap pagi menerima sinar matahari sepenuhnya. Memang pondok ini dipergunakan untuk mandi cahaya matahari oleh keluarga Tan-piauwsu. Sin Kiat menjadi tegang dan juga girang. Ia merasa betapa kulit telapak tangan yang halus dan hangat menggandengnya.
Akan tetapi ia pun gelisah kalau mengingat bahwa perbuatan dara ini menggandengnya terdorong oleh sifatnya yang polos dan kekanak-kanakan, bukan sekali-kali terdorong oleh cinta kasih seperti yang ia harapkan. Setelah mereka tiba di pondok, Lulu menaruh telunjuknya di depan mulut sebagai isyarat agar pemuda itu tidak mengeluarkan suara berisik, kemudian berendap-indap ia mengajak Sin Kiat measuki pondok dari pintu belakang, terus menembus sampai ke ruangan depan pondok. Lulu berhenti dan memandang Sin Kiat dengan sinar mata penuh kebanggaan dan kemenangan. Tangan kanannya bertolak pinggang, sedangkan tangan kiri menuding ke sebelah luar di mana tampak Han Han duduk di atas anak tangga pondok itu sambil bercakap-cakap dengan Soan Li dalam suasana mesra.
"Nah, betul tidak keteranganku? Itu mereka mengobrol dengan asyiknya"
Sumoimu mencinta Kakakku dan setiap pagi mereka berdua tentu duduk dan mengobrbl mesra di situ. Semenjak semula sudah kuduga, dalam pertemuan pertama mereka sudah saling lirak-lirik, hi-hik."
"Wah, ini sama sekali tidak boleh..."
Kata Sin Kiat dengan alis dikerutkan.
"Apa kau bilang? Apanya dan mengapa tidak boleh? Jangan main-main kau, ya? Apa kau hendak menghina Kakakku? Menganggap Kakakku kurang berharga untuk Sumoimu?"
Kini Lulu menghadapi Sin Kiat dengan mata terbelalak marah, kedua tangan di pinggang, sikapnya menantang.
"Bukan.., bukan begitu, akan tetapi Sumoi... dia.. dia telah ditunangkan oleh Suhu.. dia sudah mempunyai calon suami..."
Kini Lulu yang terbelalak kaget.
"Apa kau bilang? Dan engkau calon suaminya?"
"Bukan, bukan"
Calon suaminya adalah seorang sastrawan.."
"Taihiap.."
Para pimpinan Hoa-san-pai telah tiba, Taihiap diminta untuk menyambut..."
Seruan ini keluar dari mulut seorang anak buah Pek-eng-piauwkiok yang datang berlari-lari.
Ia berteriak-teriak sehingga tidak saja Sin Kiat dan Lulu yang menengok kaget dan percakapan mereka terputus, juga Han Han dan Soan Li menjadi kaget dan menengok, lalu menghampiri mereka. Sepintas lalu Sin Kiat melihat betapa wajah sumoinya berseri-seri, agak kemerahan sehingga hatinya makin tidak enak. Dia akan merasa bahagia sekali kalau sumoinya dapat menjadi calon isteri Han Han, andaikata dia belum bertunangan. Akan tetapi sumoinya telah ditunangkan kepada orang lain. Berbeda dengan wajah Soan Li, Lulu maupun Sin Kiat melihat betapa wajah Han Han biasa saja. Semua urusan mengenai sumoinya itu segera terhapus dari ingatan Sin Kiat karena pada saat itu ada urusan yang lebih gawat, yaitu dengan datangnya para pimpinan Hoa-san-pai yang tentu akan timbul persoalan yang amat gawat dengan Han Han.
"Han Han, tokoh-tokoh Hoa-san-pai telah tiba, sebaiknya engkau bersamaku pergi menyambut mereka agar persoalan ini lekas beres."
Han Han mengangguk, sikapnya tenang sekali, berbeda dengan Sin Kiat dan sumoinya yang mengerutkan kening dan kelihatan gelisah. Han Han sudah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai, apa pun alasannya, tentu akan membikin hati para pimpinan Hoa-san-pai menjadi tidak puas.
Sungguhpun Sin Kiat dan Soan Li merupakan dua orang tokoh Hoa-san-pai, namun mereka tidak banyak mengenal para pimpinan Hoa-san-pai karena mereka itu digembleng oleh guru mereka, Im-yang Seng-cu, dalam perantauan dan hanya satu kali mereka disuruh guru mereka pergi menghadap ketua Hoa-san-pai di Puncak Hoa-san. Maka, hanya ketua Hoa-san-pai saja yang mereka kenal, sedangkan para susiok (paman guru) lainnya, mereka tidak kenal. Ketika empat orang muda itu tiba di ruangan dalam yang lebar, di situ Tan-piauwsu dan para sutenya telah menghadap tiga orang tosu tua dengan sikap hormat. Sin Kiat dan Soan Li sebagai murid-murid Hoa-san-pai, cepat melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan tiga orang tosu itu yang duduk berjajar di atas bangku-bangku kehormatan.
"Suhu dan Ji-wi Supek (Dua Uwa Guru), ini adalah Sute Wan Sin Kiat dan Sumoi Lu Soan Li."
Tan-piauwsu memperkenalkan dua orang muda itu.
"Hemmm..."
Tosu yang berjenggot pendek, guru Tan Bu Kong, mengangguk-angguk dan berkata.
"Agaknya kalian inikah murid-murid Sute Im-yang Seng-cu?"
"Tidak salah dugaan Sam-wi Supek. Teecu berdua adalah murid-murid Suhu Im-yang Seng-cu. Teecu berdua menghaturkan hormat kepada Sam-wi Supek,"