Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 71

Memuat...

Dua orang gadis itu bersendau-gurau, keduanya sama muda remaja, sama cantik jelita. Han Han merasa kasihan kepada adiknya dan tidak tega untuk memaksanya pergi sekarang juga. Sudah terlalu lama Lulu tinggal menyendiri di pulau, terlalu lama jauh dari pergaulan mesra. Kini bertemu dengan gadis Hoa-san-pai itu, timbul kegembiraan hati Lulu dan sebaiknya kalau mereka tinggal di situ beberapa lamanya.

Juga, ia tidak dapat membantah bahwa ia merasa am at suka kepada sahabat lamanya yang kini telah menjadi seorang pemuda tampan yang gagah perkasa itu, di samping merasa suka kepada Lu Soan Li yang cantik manis, pendiam dan memiliki sifat-sifat gagah dalam gerak-geriknya. Demikianlah, Han Han dan Lulu tinggal di Pek-eng-piauwkiok, dijamu dan diperlakukan dengan manis dan hormat oleh Tan-piauwsu dan para anah buahnya. Mereka telah melupakan rasa dendam bahwa pemuda ini telah membunuh Lie Cit San dan Ok Sun. Kini mereka maklum bahwa pemuda ini melakukan hal itu tanpa dasar membenci Hoa-san-pai. Bahkan tadinya pemuda itu membantu Lie Cit San dan Ok Sun menghadapi orang-orang Siauw-lim-pai sehingga membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai. Kemudian pemuda itu membunuh dua orang tokoh Hoa-san-pai itu hanya karena menganggap mereka ini jahat.

Semua terjadi karena kesalahpahaman, terjadi sebagai akibat daripada tipu muslihat keji yang diatur oleh Puteri Nirahai yang selain lihai juga amat cerdik itu. Lulu benar-benar mendapatkan kegembiraan di tempat ini. Dia merupakan sahabat yang amat cocok dengan Lu Soan Li, bahkan ia bersikap manis terhadap Wan Sin Kiat. Juga Han Han merasa suka kepada Lu Soan Li yang manis budi dan pendiam. Empat orang muda ini setiap hari berkumpul, bercakap-cakap dan Han Han mendengarkan penuturan Wan Sin Kiat dengan hati tertarik. Ternyata dari penuturan tokoh muda Hoa-san-pai itu bahwa tidak lama setelah berpisah dari Han Han, Wan Sin Kiat bertemu dengan seorang tosu aneh. Tosu ini sesungguhnya adalah seorang tokoh Hoa-san-pai, akan tetapi berbeda dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai yang lain,

Tokoh ini adalah seorang tosu perantau yang selain wataknya aneh, juga memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi karena ilmu-ilmunya dari Hoa-san-pai mendapat kemajuan pesat setelah ia banyak merantau dan menyempurnakan ilmu-ilmunya dengan membandirigkannya dengan ilmu dari lain golongan. Tosu ini berjuluk Im-yang Seng-cu dan selain Sin Kiat, dia juga mengambil seorang murid wanita, yaitu Lu Soan Li yang hidupnya juga sudah sebatangkara, ditinggal mati keluarganya dalam sebuah bencana banjir Sungai Huang-ho. Berkat gemblengan suhu mereka yang memiliki kesaktian melebihi tokoh-tokoh Hoa-san-pai lainnya, Sin Kiat dan Soan Li menjadi jago muda yang lihai sekali, sehingga biarpun menurut tingkat mereka itu terhiturtg masih sute dan sumoi dari Tan-piauwsu, akan tetapi dalam ilmu silat, mereka jauh melampaui tingkat kepandaian sang suheng ini.

Sudah banyak mereka melakukan perbuatan-perbuatan menggemparkan dunia kang-ouw dengan separk terjang mereka sebagai pendekar-pendekar muda yang perkasa, bahkan semenjak ada gerakan perjuangan melawan pemerintah penjajah Mancu, kedua orang muda ini sudah banyak berjasa. Tentu saja ketika menceritakan pengalamannya Sin Kiat tidak menceritakan tentang perjuangan ini, khawatir kalau-kalau akan membikin hati Lulu menjadi tidak enak. Apalagi karena ia mengenal pendirian Han Han yang agaknya tidak ingin melibatkan dirinya dalam urusan perang. Ia hanya menceritakan tentang pertemuannya dengan Im-yang Seng-cu, kemudian betapa bersama sumoinya dia digembleng oleh gurunya sambil merantau sampai jauh ke selatan dan ke barat.

Diceritakannya pula pertandingan-pertandingan melawan kaum penjahat dalam usaha mereka membasmi kejahatan sehingga Sin Kiat mendapat julukan Hoa-san Gi-hiap dan sumoinya dijuluki Hoa-san Kiam-li. Nama mereka terkenal di dunia kang-ouw sebagai tokoh-tokoh muda Hoa-san-pai yang mengagumkan. Han Han dan Lulu mendengarkan dengan amat tertarik. Apalagi Lulu. Dia mendengarkan penuturan pemuda tampan tinggi besar itu seperti mendengar dongeng yang amat menarik hati. Ia seolah-olah berubah menjadi arca, pandang matanya melekat dan bergantung kepada bibir Sin Kiat yang bergerak-gerak ketika bercerita. Baru setelah selesai cerita itu, Lulu menghela napas panjang, memejamkan matanya sejenak lalu berkata.

"Wahhh kalian hebat sekali. Kalian ini pendekar-pendekar muda yang amat mengagumkan..."

Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sin Kiat, Lulu melihat betapa pandang mata pemuda itu bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri seolah-olah ucapan Lulu tadi mendatangkan rasa bahagia yang luar biasa. Tentu saja Lulu tidak mengerti atau dapat menduga akan isi hati Sin Kiat, hanya dia pada saat itu merasa betapa wajah pemuda ini sungguh tampan dan gagah. Entah mengapa, jantungnya berdebar dan pipinya tiba-tiba terasa panas. Untuk menghindarkan perasaan yang tidak dikenalnya ini, Lulu berpaling kepada Soan Li dan berkata,

"Enci Soan Li, engkau hebat sekali, lain waktu kau harus memberi pelajaran ilmu pedang kepadaku."

Soan Li merangkulnya dan mengerling kepada Han Han.

"Adik Lulu, engkau seperti mutiara terpendam, tidak dikenal akan tetapi dalam hal kepandaian, agaknya aku boleh berguru kepadamu."

"Wah, Adikku dan aku ini sama sekali tidak memiliki kepandaian, mana dapat dibandingkan dengan Sin Kiat dan kau, Nona Lu?"

Han Han berkata sambil tersenyum. Gadis itu memandangnya dan sejenak pandang mata mereka bertemu, bertaut dan seolah-olah ada sesuatu yang membuat mereka sukar sekali untuk melepaskan pandang mata mereka dari pertemuan yang melekat itu. Lulu bertepuk tangan.

"Hi-hik, dari tadi tiada hentinya kalian saling memandang saja. Ada apakah dengan Enci Soan Li, Koko? Dan mengapa kau mengerling saja kepada Kakakku, Enci Soan Li?"

"Ihhh, genit kau, Adik Lulu."

Soan Li menjadi merah sekali mukanya dan ia mencubit paha Lulu sehingga gadis ini menjerit. Han Han juga merasa betapa mukanya menjadi panas, maka ia tertawa dan memandang,

"Lulu, kita mempunyai mata untuk memandang. Apa salahnya dipakai memandang sesuatu yang indah dan menarik?"

Ucapan Han Han yang terus terang ini membuat Soan Li menjadi makin malu dan jengah lagi. Dia sendiri diam-diam menjadi amat heran akan diri sendiri. Sudah banyak kali terjadi, ia menjadi marah-marah kalau mendengar ada laki-laki mengeluarkan ucapan-ucapan tentang dirinya, memuji-muji kecantikannya dan sebagainya. Bahkan ada laki-laki kurang ajar yang dibunuhnya hanya karena mengeluarkan ucapan-ucapan yang bermaksud kotor dan kurang ajar.

Kini, mendengar ucapan-ucapan Han Han yang memuji kecantikannya dengan blak-blakan di depan banyak orang ketika mereka diperkenalkan, kini secara terang-terangan pula dalam menjawab godaan Lulu, mengapa dia tidak marah malah menjadi... berdebar jantungnya, berdebar karena girang? Akan tetapi pemuda ini lain daripada laki-laki lain, dia membela perasaannya sendiri yang tidak wajar. Pemuda ini secara terang-terangan menyatakan isi hatinya, tanpa tedeng aling-aling, akan tetapi juga bersih daripada niat-niat kurang ajar, hal ini dapat dilihat dari pancaran pandang matanya yang wajar dan biasa, sinar mata kagum yang tidak ditutup-tutupi, seperti kewajaran sinar mata orang mengagumi bintang di langit atau mawar di taman. Sin Kiat hanya tersenyum saja melihat sumoinya digoda Lulu, kemudian ia berkata kepada Han Han,

"Han Han, sekarang tiba giliranmu untuk bercerita kepada kami. Tentu pengalamanmu amat menarik hati, terutama tentang pertemuan dengan Adikmu, dan tentang Gurumu yang tentu amat sakti, melihat akan kelihaianmu."

"Nanti dulu, Sin Kiat. Aku teringat akan tekad hatimu dahulu. Bukankah kau dahulu pernah menyatakan kepadaku bahwa engkau ingin menjadi seorang perwira Mancu? Kenapa sekarang engkau sebaliknya malah menjadi orang yang memusuhi perwira-perwira Mancu?"

Sin Kiat menarik napas panjang.

"Ada sebabnya memang. Ingatkah engkau dahulu betapa kau telah membelaku ketika aku dipukuli oleh bangsawan muda Ouw-yang Seng murid datuk hitam Kang-thouw-kwi itu? Nah, semenjak itu, aku berbalik haluan, apalagi setelah bertemu dengan Suhu, menerima pelajaran dan juga mendengarkan wejangan-wejangannya. Han Han, sekarang ceritakanlah kepadaku, bagaimana engkau bertemu dengan Nona Lulu?"

"Wah, aku menjadi kikuk sekali kau sebut Nona. Usiamu tentu tidak banyak selisihnya dengan Han-koko, maka aku akan menyebutmu Wan-koko dan kau pun menyebut aku Adik seperti biasa Koko menyebutku. Kalau tidak mau, aku selamanya tidak akan mau bicara dengan.mu."

Tiba-tiba Lulu berkata kepada Sin Kiat. Pemuda ini menjadi merah mukanya dan hatinya menjadi girang bukan main.

"Baiklah, Lulu-moi, dan terima kasih atas kebaikanmu,"

Sin Kiat berdiri dan menjura.

"Wan, kebetulan sekali usul Lulu ini. Aku pun hendak mencontohnya dan kuminta Nona Lu Soan Li juga jangan bersungkan-sungkan lagi, mulai sekarang mau tak mau kusebut Moi-moi dan harap suka menyebut Kakak kepadaku."

Jantung di dalam dada Soan Li berdebar. Dia merasa makin suka kepada kakak beradik yang baru dikenalnya ini. Mereka berdua itu begitu jujur, begitu polos, dan juga ia dapat menduga bahwa mereka itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Han-twako."

"Sebetulnya tidak ada yang banyak dapat diceritakan tentang kami berdua,"

Kata Han Han.

"Engkau sudah tahu bahwa aku dahulu di waktu kecilku adalah seorang bocah gembel seperti engkau, Sin Kiat. Dan aku bertemu dengan adikku Lulu ini yang juga seorang bocah gembel setelah hidup terlunta-lunta karena keuarganya terbasmi semua. Nah, kami saling bertemu dan mengangkat saudara sampai sekarang kami menjadi kakak beradik yang tak pernah berpisahan."

"Han-twako, belehkah aku mengetahui, siapakah Suhumu yang mulia?"

Tiba-tiba Soan Li bertanya, mendahului suhengnya, karena ia ingin sekali mendengar siapa adanya guru dari pemuda yang amat mengagumkan hatinya ini. Han Han dan Lulu saling berpandangan sejenak. Mereka berdua selama ini berlatih di Pulau Es, berlatih tanpa guru, hanya mempelajari ilmu dari kitab-kitab dan berlatih secara ngawur. Ataukah beruang itu dapat dianggap menjadi guru mereka? Ah, tidak beruang itu hanya teman berlatih. Guru mereka adalah penghuni-penghuni Pulau Es, pemilik-pemilik istana yang meninggalkan kitab-kitab pelajaran, akan tetapi siapakah dia itu?

Han Han memiliki pikiran yang tidak lumrah, dapat berpikir cepat melebihi manusia biasa, dapat mengambil keputusan yang amat tepat dalam sedetik dua detik pemikiran saja. Ia tahu bahwa Sin Kiat dan Soan Li adalah murid-murid Hoa-san-pai yang menentang Mancu, dan dia tidak boleh sekali-kali memperlihatkan sikap bermusuh atau mengaku sebagai pihak yang bermusuhan. Dia telah belajar ilmu dari Lauw-pangcu, kemudian mencuri ilmu dari Kang-thouw-kwi Gak Liat. Akan tetapi dua orang ini tidak boleh dia sebut-sebut, karena menyebut nama Lauw-pangcu berarti menyinggung hati Lulu, menyebut Kang-thouw-wi Gak Liat sebagai guru lebih tidak mungkin lagi karena Setan Botak itu adalah kaki tangan Mancu. Dan dia tidak suka berbohong maka ia mendapat jalan tengah yang baik.

"Guruku adalah Suhu Siangkoan Lee..."

"Ahhh..."

Sin Kiat dan Soan Li benar-benar terkejut mendengar ini.

"Ma-bin Lo-mo.?"

Han Han memandang wajah Sin Kiat.

"Benar, mengapa? Apakah kau mengenal Suhu? Dia juga seorang yang amat setia kepada Kerajaan Beng-tiauw, bahkan kalau tidak salah dia bekas menteri..."

"Tentu saja kami telah mendengar namanya. Ah, Ma-bm Lo-mo, seorang di antara datuk-datuk hitam yang amat sakti. Pantas saja kau begini lihai, Han Han. Kiranya engkau murid tokoh besar itu."

Lulu yang mendengarkan ucapan Han Han itu pun diam saja, hanya memandang dengan sinar mata nakal. Ia menganggap bahwa kakaknya ini tidak terlalu berbohong, karena memang kakaknya menjadi murid banyak orang sakti, di antaranya Ma-bn Lo-mo Siangkoan Lee yang hampir membunuhnya, bahkan yang telah berusaha membakar mereka berdua di perahu. Ia tidak mengerti mengapa kakaknya seolah-olah tidak mau bercerita terus terang bahwa mereka berdua telah belajar ilmu di Pulau Es.

Biarpun Lulu dan Han Han baru tinggal di Pek-eng-piauwkiok selama beberapa hari, namun hubungan empat orang muda ini menjadi amat akrab. Apalagi karena di situ ada Lulu yang wataknya lincah jenaka, yang nakal dan tak pernah malu-malu, jujur dan tidak mengenal palsu, sebentar saja rasa jengah yang membatasi pergaulan mereka menjadi lenyap. Berkat kelincahan Lulu, Lu Soan Li menjadi tidak malu-malu lagi terhadap Han Han, juga Sin Kiat makin tertarik kepada gadis Mancu yang benar-benar telah menjatuhkan hatinya itu. Sepekan kemudian, ketika Lulu sedang mengumpulkan bunga-bunga yang dipetiknya dalam taman bunga tak jauh dari gedung Pek-eng-piauwkiok, ia dikejutkan oleh suara Sin Kiat,

"Wah, Lulu-moi, setiap pagi kau tentu berada di sini memetik bunga."

Dara jelita itu menoleh dan tersenyum. Bagi Sin Kiat, senyumnya amat manis dan hangat, sehangat matahari di pagi hari itu. Taman bunga itu menjadi makin cerah dan makin jernih bagi Sin Kiat.

"Tentu saja, Twako. Bertahun-tahun aku tidak berkesempatan melihat bunga, sekarang ada begini banyak bunga indiah di sini. Dahulu aku hanya melihat bunga-bunga es melulu.."

Tiba-tiba gadis itu teringat akan larangan kakaknya untuk bercerita kepada siapa juga tentang Putau Es, maka ia terikejut dan menghentikan kata-katanya. Akan tetapi Sin Kiat telah mendengar kalimat terakhir itu dan dia mendekat.

"Bunga es? Apa maksudmu, Moi-moi?"

"Eh... oh... tidak apa-apa..."

Lulu yang biasanya. amat jujur polos dan tidak biasa membohong itu menjadi gagap. Ia tidak senang sekali untuk menyembun yikan atau merahasiakan sesuatu, karena untuk ini, terpaksa ia harus pula membohong, padahal ketidakwajaran ini terasa amat asing dan amat sukar baginya. Sin Kiat memandang tajam, hatinya merasa tidak enak, bahkan sakit karena ia mengerti bahwa dara yang dikaguminya ini menyembunyikan sesuatu dari padanya dan hal ini menimbulkan kesan bahwa Lulu tidak menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Dengan nada sedih ia lalu berkata, tanpa disadarinya ia memegang kedua tangan Lulu yang penuh bunga.

"Moi-moi, mengapa engkau tidak percaya kepadaku? Ahhh, sungguh mati, aku tidak ingin memaksamu untuk membuka sesuatu yang kau rahasiakan, akan tetapi... ah, ketidakpercayaanmu ini menyakitkan hatiku, Moi-moi. Tidak tahukah engkau, tidak merasakah engkau betapa aku.. aku cinta kepadamu, Lulu?"

Lulu tersenyum dan dengan gerakan halus menarik tangannya sehingga terlepas dari genggaman jari tangan pemuda itu, yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

"Aku merasakan itu dan aku tahu, Twako. Akan tetapi, tidak kelirukah cintamu itu kau jatuhkan atas diriku? Ingat, aku seorang gadis Mancu, musuhmu."

Sin Kiat memandang penuh keharuan.

"Moi-moi, tak dapatkah kau memaafkan kesalahan ucapanku ketika pertama kali kita bertemu? Tidak, aku tidak memusuhi seluruh bangsa Mancu, dan aku hanya akan menentang yang jahat, siapapun dia dan bangsa apa pun dia. Engkau bagiku bukan bangsa apa-apa, engkau adalah Lulu, satu-satunya gadis yang pernah dan akan menjadi pujaan hatiku, menjadi satu-satunya wanita yang kucinta."

Tiba-tiba Lulu tertawa. Hati Sin Kiat makin sakit, mengira bahwa dara yang dicintanya ini mentertawakan pernyataan cinta kasihnya"

Tidak ada hal yang lebih menyakitkan hati bagi seorang pria dari pada cinta kasihnya ditertawai oleh wanita yang dicintanya.

"Hi-hi-hik, alangkah lucunya."

Post a Comment