"Han Han, benarkah engkau menjadi begini kejam sekarang? Ceritakan mengapa engkau membunuh dua orang Suhengku yang mengawal kereta dan mengapa pula kau hendak membunuh Tan-suheng. Aku sudah mendengar penuturan para pengawal Pek-eng-piauwkiok, akan tetapi sepak terjangmu sungguh membuat aku tidak mengerti."
"Sin Kiat, bukan urusanmu. Minggirlah."
"Tidak! Kalau kau tidak mau memberi penjelasan, lebih baik kau membunuh aku pula, dan tentu akan kucoba melawanmu sekuatku."
Mereka berpandangan pula. Han Han menghela napas.
"Engkau keras kepala seperti dulu. Aku membunuh dua orang piauwsu itu karena mereka jahat, mereka menyembunyikan jenazah dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam dalam kereta, melarang orang-orang Siauw-lim-pai melihat jenazah, sehingga aku menjadi tertipu pula, membantu mereka dan kesalahan tangan membunuh tujuh murid Siauw-lim-pai yang tidak berdosa. Karena itu aku membunuh dua orang piauwsu itu dan kini aku akan membunuh pula Tan-piauwsu yang sebagai pemimpin menjadi biang keladi utama."
Sin Kiat mengangkat tangannya.
"Wah, semua adalah kesalah-pahaman yang amat besar. Semua adalah sahabat-sahabat, baik antara Siauw-lim-pai dengan Hoa-san-pai, maupun antara engkau pribadi dengan kami. Kita semua telah menjadi korban perbuatan terkutuk, korban tipu muslihat yang dipasang oleh puteri Mancu yang lihai itu, Tan-suneng, Han Han tidak dapat dipersalahkan telah membunuh Lie-suheng dan Ok-suheng setelah dia membantu mereka menghadapi orang-orang Siauw-lim-pai, Han Han, akulah yang menanggung bahwa kami semua, terutama Tan-suheng, sama sekali tidak bersalah dalam urusan dua jenazah dalam peti. Mari kita bicara dan dengarlah penuturanku."
Sin Kiat menggandeng tangan Han Han, menariknya duduk menghadapi meja besar di ruangan itu. Lulu mengikuti kakaknya, dan Soan Li juga mengikuti suhengnya, kedua orang gadis ini tidak ikut bicara karena maklum betapa tegangnya urusan antara mereka itu. Setelah mereka mengambil tempat duduk, Wan Sin Kiat menceritakan semua peristiwa yang terjadi dari semula ketika gadis Mancu, yang ternyata adalah Puteri, Nirahai seperti ia ketahui dari hasil penyelidikannya hari itu, mendatangi Pek-eng-piauwkiok mengirimkan dua buah peti dengan biaya mahal namun dengan janji takkan dibuka dan apabila tidak sampai di tempatnya, Pek-eng-piauwkiok akan dibasmi dan dianggap pemberontak.
"Kami tidak mungkin dapat menolak permintaannya yang luar biasa itu, Sie-enghiong,"
Tan-piauwsu memotong cerita sutenya.
"karena mengingat bahwa dia itu adalah seorang puteri Kaisar sehingga apabila kami menolak, tentu kami akan dicap menentang pemerintah. Dan sebagai ksatria yang memegang teguh janji, tentu saja para pembantuku tidak mau membuka peti-peti itu, biarpun dengan taruhan nyawa karena hal itu telah menjadi tugas mereka. Kalau saja kami tahu bahwa isi dua buah peti adalah jenazah manusia, apalagi jenazah kedua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam yang terkenal, biar dihukum mati sekalipun tentu saja kami tidak sudi menerima permintaan puteri iblis itu."
Wan Sin Kiat lalu melanjutkan ceritanya, selain tentang pengawal kereta yang dihadang oleh anak-anak murid Siauw-lim-pai, juga tentang suhengnya, Teng Lok yang membayangi Puteri Nirahai dan kemudian terbuntung lengannya. Ia menutup penuturannya dengan kata-kata,
"Nah, kau kini mengerti Han Han, bahwa peristiwa ini sama sekali bukanlah kesalahan fihak kami, juga terutama sekali bukan kesalahan Tan-piauwsu. Semua ini tentu telah diatur oleh puteri iblis itu yang sengaja hendak mengadu domba antara fihak Hoa-san-pai dan fihak Siauw-lim-pai. Siasat kejinya itu pasti akan berhasil baik dan kedua fihak tentu melakukan pertandingan saling membunuh dalam hutan itu kalau saja tidak muncul engkau yang mengacaukan semua rencana keji itu, akan tetapi biarpun mengacau, tetap saja merugikan kedua fihak karena engkau yang masuk pula dalam perangkap telah membunuh tujuh anak murid Siauw-lim-pai dan dua orang murid Hoa-san-pai. Keadaan ini gawat sekali, Han Han. Betapapun juga, fihak Siauw-lim-pai tentu tidak mau menerima kematian tujuh orang murid mereka sebagai tambahan kematian dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Bagi mereka hal itu merupakan malapetaka hebat dan tentu saja semua kesalahan ditimpakan kepada Hoa-san-pai karena engkau sendiri pun tentu dianggap seorang dari Hoa-san-pai, atau setidaknya menjadi pembantu Hoa-san-pai."
Han Han bukan seorang bodoh. Ia segera dapat melihat, mengerti setelah mendengar penuturan itu. Mudah saja diperkirakan bagaimana jalannya tipu muslihat yang licin itu. Hatinya merasa menyesal dan kecewa sekali. Nasibnya benar-benar amat buruk. Dia telah membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai yang tidak berdosa karena salah sangka. Kemudian, dalam marahnya oleh kesalahan tangan itu ia membunuh pula dua orang murid Hoa-san-pai yang ternyata kemudian tidak berdosa pula! Han Han mengerutkan keningnya, menggeleng kepala dan berkata.
"Aahhh.. kalau begitu semua kesalahan tertimpa di pundakku, Baik Siauw-lim-pai maupun Hoa-san-pai tentu menyalahkan aku karena aku telah membunuh anak murid mereka. Tan-piauwsu, harap kau maafkan kekasaranku tadi."
Ia bangkit menjura kepada Tan-piauwsu yang cepat membalas. Piauwsu ini memandang kagum dan menghela napas karena selama hidupnya baru sekali ini ia bertemu seorang pemuda yang demikian anehnya dan demikian kuat sinkangnya.
"Engkau juga tidak boleh terlalu disalahkan, Sie-enghiong. Andaikata engkau tidak turun tangan dan terlibat dalam urusan ini, kurasa antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai tetap saja akan terjadi pertentangan yang mungkin membawa akibat lebih parah dan lebih berlarut-larut lagi."
Sejenak keadaan menjadi sunyi, semua orang tenggelam dalam lamunan masing-masing menghadapi urusan yang amat tidak menyenangkan hati itu. Tiba-tiba terdengar suara Lulu.
"Wah, sialan benar, Koko. Kau membantu rombongan piauwsu ternyata salah tangan membunuh murid-murid Siauw-lim-pai yang tak berdosa,"
Kemudian kau membunuh dua orang piauwsu untuk membela kematian murid-murid Siauw-lim-pai dan ternyata yang kau bunuh itu juga tidak bersalah. Itulah kalau kau terlalu bernafsu untuk menolong orang, Koko! Sekarang semua kesalahan ditimpakan kepadamu."
Semua orang tertegun. Dara remaja yang cantik jelita ini bicaranya amat kasar, jujur dan tanpa sungkan-sungkan lagi. Akan tetapi Sin Kiat memandang dengan mata kagum. Semenjak tadi, tiap kali ia memandang Lulu, jantungnya berdebar tidak karuan dan setiapgerak-gerik Lulu selalu menarik hatinya, bahkan ketika Lulu mencela Han Han, ia tersenyum dan di dalam hati membenarkan dara ini seribu prosen. Memang demikianlah kalau cinta kasih telah menceng keram hati seorang pemuda. Apa pun yang dilakukan, diucapkan dan dipikir dara yang dicintanya, selalu benar dan menarik hati. Tanpa disadarinya sendiri, sekali bertemu dengan Lulu, Wan Sin Kiat pendekar muda Hoa-san-pai ini telah bertekuk lutut, hatinya jungkir-balik dalam cengkeraman asmara.
"Menurut pendapat saya, Saudara Sie tidaklah salah. Dia melakukan pembunuhan-pembunuhan itu dalam pertempuran dan dengan dasar hendak berbuat baik. Pembunuhan atas diri tujuh orang murid Siauw-lim-pai terjadi karena Saudara Sie mengira mereka itu perampok yang hendak mengganggu rombongan pengawal Pek-eng-piauwkiok. Kemudian, pembunuhan yang dia lakukan atas diri kedua orang Suheng kami pun didasari pendapat bahwa mereka berdua itu amat jahat terhadap orang-orang Siauw-lim-pai. Hanya sayang sekali bahwa Saudara Sie terlalu terburu nafsu, seandainya tidak terburu nafsu dan agak sabar sambil meneliti keadaan, belum tentu terjadi hal yang amat menyedihkan ini."
Ucapan yang keluar dari mulut Lu Soan Li terdengar sungguh-sungguh, dan pandang matanya yang ditujukan kepada Han Han penuh simpati dan pembelaan. Hal ini terasa pula oleh Han Han sehingga ia bangkit menjura kepada nona itu sambil berkata.
"Nona Lu benar-benar amat adil dan aku mengucapkan terima kasih, juga aku harus mengakui semua kelancanganku yang telah mengakibatkan bencana ini. Biarlah akan kuhadapi semua akibatnya, bahkan aku akan menghadap Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai untuk menerima hukuman kalau perlu."
Jawaban ini memancing keluar sinar mata yang penuh kekaguman dari pandang mata Lu Soan Li. Seperti halnya suhengnya yang sekaligus tergila-gila kepada Lulu, gadis pendekar Hoa-san-pai ini pun amat tertarik akan pribadi Han Han yang aneh dan penuh dengan sifat-sifat liar ganas namun gagah perkasa.
"Ah, engkau tidak boleh dipersalahkan, Han Han."
Tiba-tiba Wan Sin Kiat berkata.
"Yang bersalah adalah Puteri Nirahai yang seperti iblis betina itu, Aku bersama Sumoi sehari tadi pergi menyelidik dan mendapat kabar bahwa dia itu adalah puteri selir Kaisar Mancu bernama Nirahai dan bahwa kini dia sedang pergi ke kota raja. Agaknya untuk melaporkan hasil muslihatnya kepada Kaisar. Terkutuk benar puteri Mancu itu. Dan orang-orang Mancu memang amat jahat, penjajah laknat yang sepatutnya dibasmi dari muka Bumi ini."
Dalam kemarahan terhadap penjajah Mancu, Sin Kiat bangkit dari kursinya. Memang semua anak murid Hoa-san-pai adalah patriot-patriot yang merasa marah melihat tanah air dijajah bangsa Mancu, sehingga menimbulkan rasa benci kepada bangsa Mancu. Tiba-tiba semua orang, terutama sekali Sin Kiat sendiri, dikejutkan oleh bentakan Lulu yang sudah bangkit berdiri pula lalu bertolak pinggang, matanya yang lebar memancarkan kemarahan, sepasang pipinya menjadi merah sekali, mulutnya yang kecil cemberut, kepalanya bergerak-gerak sehingga rambut yang dikepang dua itu bergoyang, satu di depan dada, yang lain di belakang punggung. Manis bukan main dalam pandangan Sin Kiat, akan tetapi pada saat itu pemuda ini memandang terbelalak dengan kaget mendengar bentakan Lulu.
"Eihhh.. eihhhhh..., seenaknya saja membuka mulut, ya?."
Telunjuk tangan kirinya diangkat menuding ke arah hidung Sin Kiat, sedangkan tangan kanannya masih bertolak pinggang.
"Wan Sin Kiat, apakah engkau hendak menyamakan satu bangsa manusia dengan seladang gandum saja?"
Sin Kiat terbelalak heran.
"Apa... apa... maksudmu, Nona..?"
Baru sekali ini selama hidupnya, pendekar muda yang biasanya lincah, ramah, tabah dan pandai bicara itu kehilangan akal dan menjadi gugup. Lulu memandang tajam dengan sepasang matanya yang lebar dan indah sehingga Sin Kiat menjadi makin bingung dan gugup, seolah-olah menjadi seorang pesakitan yang menghadapi jaksa penuntut.
"Kalau ada beberapa batang gandum yang busuk, orang menganggap seladang gandum itu busuk. Akan tetapi kalau ada beberapa orang Mancu jahat, apakah patut kalau seluruh bangsa Mancu dianggap jahat semua? Kalau begitu, karena aku mendengar bahwa banyak bangsa Han yang menjadi pengkhianat bangsa, semua bangsa Han adalah pengkhianat, termasuk engkau. Dan aku tahu bahwa banyak sekali perampok bangsa Han, maka semua bangsa Han adalah perampok, termasuk engkau. Ada pula bangsa Han yang jahat sekali maka semua bangsa Han adalah jahat, terutama engkau. Begitukah pendapatmu??"
Muka Sin Kiat menjadi merah, kemudian pucat, dan dengan gugup ia berkata.
"Tentu saja tidak, dan.. eh, itu lain lagi.. akan tetapi.. ahhh, mengapa kau marah-marah karena aku mencela bangsa Mancu yang menjadi musuh kita, Nona?"
"Tentu saja marah. Kau mengatakan aku jahat dan patut dibasmi dari muka bumi, dan kau masih bertanya mengapa aku marah? Hayo, kau basmilah aku"
Kau kira aku takut kepadamu."
Han Han hanya memandang sambil tersenyum. Rasakan kau, Sin Kiat, pikirnya dengan hati geli. Rasakan kau menghadapi adikku yang liar ini. Ketemu tanding kau.
"Eh, kapan aku mengatakan demikian, Nona? Bagaimana ini, Han Han?"
"Tak usah mencari pelindung. Dan seorang laki-laki tidak patut plin-plan, bicara mencla-mencle. Bukankah kau tadi mengatakan bahwa semua bangsa Mancu jahat dan patut dibasmi dari muka bumi ini?"
"Benar demikian, akan tetapi tidak menyangkut dirimu, Nona.."
"Kau bilang semua bangsa Mancu dan kini mengatakan tidak menyangkut diriku? Aku seorang gadis Mancu, tahukah engkau??"
"Aihhh..."
Sin Kiat terkejut sekali dan semua orang yang berada di situ pun terkejut, cepat bangkit berdiri dalam keadaan siap siaga. Kalau gadis ini seorang Mancu, berarti bahwa rahasia Pek-eng-piauwkiok sebagai anggauta pejuang menjadi bocor.
"Hayo, siapa yang menganggap aku jahat dan patut dibasmi? Maju, Aku tidak takut."