"Adikku yang manis. Sekali ini aku tidak akan melawan, dan aku akan senang mati di tanganmu, kalau hal itu memang kau kehendaki dan akan menyenangkan hatimu. Apakah kau akan senang hatimu kalau kau dapat memukul mati Kakakmu ini, Moi-moi?"
Lulu menengadahkan mukanya, mereka berpandangan dan Lulu terisak menangis sambil menubruk kakaknya, menyembunyikan mukanya di dada yang ditawarkan untuk ia pukul itu. Air matanya membasahi baju dan dada Han Han yang mengelus-elus kepala adiknya penuh kasih sayang.
"Lulu, sudahlah jangan menangis. Aku bukan musuhmu melainkan Kakakmu."
"Akan tetapi kau murid Lauw-pangcu musuh besarku."
"Sekarang tidak lagi, Lulu. Itu dahulu ketika aku masih kecil. Engkau mendengar sendiri betapa puterinya tadi mengatakan demikian pula, bahwa dia bukan Suciku dan aku bukan Sutenya. Puterinya itu pun kini telah menjadi seorang tokoh Siauw-lim-pai yang hebat..."
Lulu mengangkat mukanya memandang. Mukanya masih agak basah, kulit muka yang halus itu kemerahan dan kemarahan sudah menghilang dari pandang matanya yang kini menatap wajah kakaknya penuh selidik dan juga penuh kekhawatiran.
"Koko, engkau... mencinta dia.?"
"Siapa?"
"Dia, puteri musuh besarku itu.."
"Aha! Kau maksudkan Lauw Sin Lian tadi? Dia bekas Suciku, ahhh... tidak, aku tidak tahu tentang cinta, jangan bertanya yang bukan-bukan."
"Syukurlah, aku akan bingung sekali kalau sampai engkau mencinta puteri musuh besarku. Akan bagaimanakah sikapku? Dia puteri musuh besarku akan tetapi juga... eh calon So-so (Kakak Ipar), kan merepotkan hati namanya."
"Hussh, kau memang nakaI, Moi-moi. Apakah lupa baru saja kau mengamuk dan menangis? Sekarang sudah menggoda orang."
Lulu tersenyum, giginya yang rapi dan putih berkilat di balik kemerahan bibirnya.
"Tapi aku girang, tak mungkin kau menikah dengan Lauw Sin Lian. Dia sudah marah dan benci kepadamu karena kau telah membunuh murid-murid keponakannya."
Han Han menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Lulu, jangan menganggap hal itu seperti main-main"
Aku tadi telah salah membunuh orang. Kusangka tadinya orang-orang Siauw-lim-pai itu yang jahat dan menjadi perampok, kiranya piauwsu-piauwsu anak murid Hoa-san-pai itu yang jahat, menyembunyikan dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang mereka bunuh di dalam peti-peti itu."
Seketika wajah Lulu menjadi serius dan membayangkan kekhawatiran.
"Wah, kalau begitu engkau akan dimusuhi oleh Siauw-lim-pai, Koko?"
Han Han tersenyum dan pandang matanya membayangkan ejekan.
"Aku tidak takut, Mengapa mesti takut karena memang aku membunuh mereka karena salah sangka? Juga sikap mereka itu sendiri yang mendorongku membunuh mereka. Bahkan aku akan pergi ke Siauw-lim-pai, mencari Sin Lian untuk menjelaskan peristiwa itu."
"Bagus sekali. Mari kita ke sana, Koko. Engkau ingin memberi penjelasan kepada Sin Lian dan aku akan bertanya di mana adanya Ayahnya agaraku dapat membalas dendam. Engkau tentu akan membantuku membunuh Lauw-pangcu, bukan?"
Han Han merasa serba salah, akan tetapi dengan sungguh-sungguh ia berkata,
"Kurasa sekarang engkau telah cukup lihai untuk mengalahkan Lauw-pangcu, Lulu. Bagaimana mungkin aku dapat turun tangan terhadap dia yang dahulu amat baik kepadaku? Aku hanya berjanji akan melindungimu jika kau sekiranya kalah, akan tetapi untuk membantumu membunuhnya..., wah, berat juga."
"Tidak apalah tidak kau bantu juga. Kalau aku kalah, aku dapat belajar lagi darimu dan lain kali kucari lagi dia. Mari kita ke Siauw-lim-pai mencari Sin Lian, Koko."
Akan tetapi Han Han menggeleng kepala.
"Tidak sekarang, Moi-moi. Aku akan pergi dulu mencari pusat Pek-eng-piauwkiok itu. Aku telah kesalahan tangan membunuh murid Siauw-lim-pai dan semua itu hanya karena kejahatan dan kepalsuan orang-orang Pek-eng-piauwkiok. Mungkin dua orang piauwsu yang mengawal dua peti terisi mayat dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam itu pun hanya petugas saja. Tentu ketua piauwkiok itu yang menjadi biang keladi dan yang bertanggung jawab. Dia yang harus menebus semua kesalahan ini. Setelah aku menghukum orang yang menjadi biang keladi peristiwa di hutan itu, yang menjadi pembunuh dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, barulah aku akan mengajakmu pergi ke Slauw-lim-pai."
'Tapi, ke mana kau akan mencari Pek-eng-piauwkiok, Koko? Kita tidak mengenal mereka..."
"Wah, kau bodoh sekali. Lulu, Kita pergi saja ke jurusan dari mana mereka datang, kemudian kita bertanya-tanya orang, apa sukarnya?"
Tanpa memberi kesempatan kepada adiknya yang cerewet itu membantah lagi, Han Han menyambar tangan Lulu dan digandengnya, kemudian mengajak dara itu pergi meninggalkan tempat itu. Biarpun lama berada di Putau Es, namun Han Han masih belum kehilangan kecerdikannya kalau tak dapat dikatakan dia makin cerdik karena ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, yang membuat otaknya dapat bekerja, lebih cepat. Tepat seperti yang diduganya, dengan mudah mereka dapat mencari keterangan tentang Pek-eng-piauwkiok. Piauwkiok yang besar dan terkenal ini berada di kota Kwan-teng, dan dua orang muda itu segera pergi ke kota Kwan-teng, tidak peduli akan tatapan pandang mata keheranan dan kagum dari orang-orang yang berjumpa dengan mereka.
Heran melihat Han Han yang aneh dan rambutnya riap-riapan, kagum menyaksikan Lulu yang cantik jelita. Pandang mata heran dan kagum ini lama-lama terbiasa bagi mereka. Di dalam hatinya, Han Han mengambil keputusan untuk menebus semua pembunuhan. yang ia lakukan di hutan tadi, pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan seakan-akan di luar kesadarannya. Entah bagaimana, sekali bertemu tanding, ia mendapat perasaan gembira dan senang sekali merobohkan para lawannya tanpa dasar apa-apa. Dan begitu keluar pulau, dia telah melakukan pembunuhan terhadap orang-rang Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, dua partai persilatan yang besar"
Karena itu, dia harus membereskan urusan ini, mencari siapa yang bersalah dan siapa yang menjadi biang keladinya.
Memang tidak salah pendapat Han Han bahwa Hoa-san-pai adalah sebuah partai persilatan yang besar dan terkenal, sungguhpun tidaklah sebesar partai Siauw-lim-pai yang seolah-olah menjadi sumber partai persilatan di Tiongkok. Hoa-san-pai yang berpusat di puncak Gunung Hoa-san itu mempunyai banyak sekali anak murid yang pandai-pandai dan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh anak murid Hoa-san-pai adalah tokoh-tokoh persilatan yang gagah perkasa dan terkenal sebagai pendekar-pendekar pembela keadilan. Pek-eng-piauwkiok dipimpin oleh Hoa-san Pek-eng Tan Bu Kong, seorang tokoh Hoa-san-pai yang tinggi ilmu silatnya. Di dalam anak tangga tingkat Hoa-san-pai, Tan Bu Kong menduduki tingkat lima.
Di samping para sutenya yang tentu saja lebih rendah tingkatnya, dia telah berhasil membuat nama besar, tidak hanya mengakibatkan kemajuan dan keuntungan piauwkiok yang ia pegang, akan tetapi juga sekaligus mengangkat nama besar Hoa-san-pai. Apalagi karena di samping perusahaannya ini diam-diam Pek-eng-piauwkiok menjadi tempat pertemuan tersembunyi di antara para patriot yang melakukan gerakan menentang pemerintah penjajah Mancu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pek-eng-piauwkiok didatangi seorang gadis Mancu yang cantik jelita dan juga aneh, yang mengirimkan dua buah peti panjang dengan biaya amat mahal itu. Setelah dua buah peti itu diberangkatkan, hati Tan Bu Kong yang menjaga di rumah menjadi amat tidak enak dan selalu gelisah.
Dia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penjagaan ketat dan hatinya makin tidak enak ketika sampai sore sutenya yang ia suruh mengikuti dan menyelidiki gadis Mancu itu belum juga kembali. Sutenya itu, Teng Lok, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan dan terutama sekali ginkangnya amat tinggi, tidak kalah oleh dia sendiri. Mengapa sampai sore belum juga sutenya itu kembali? Menjelang malam, Tan-piauwsu mendengar suara ribut-ribut di luar. Cepat ia, meloncat dan berlari keluar dengan jantung berdebar, siap menghadapi segala kemungkinan karena agaknya para anak buahnya ribut-ribut oleh sesuatu yang tentunya tidak beres. Ketika ia tiba di luar dan memandang, wajahnya menjadi pucat dan cepat ia menyongsong ke depan dan berseru.