Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 64

Memuat...

Akibat pengeroyokan itu sungguh hebat. Han Han kaku sekali gerakannya dan ia tidak mempunyai ilmu silat tertentu untuk dimainkan menghadapi pengeroyokan itu.

Biarpun ia sudah mempelajari gerak kaki, namun gerak tangannya hanya ia pelajari sepintas lalu saja karena selama enam tahun ini ia hanya memusatkan ketekunannya untuk memupuk tenaga sinkang. Ia memasang bhesi dengan kuda-kuda Chi-ma-se, kedua kakinya terpentang dan lutut ditekuk, akan tetapi kedua lengannya dikembangkan dan diputar-putar menghadapi setiap serangan para pengeroyok. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya kedua pihak yang bermusuhan melihat akibat pertandingan ini. Setiap kali ada senjata datang menyerang, Han Han memapakinya dengan dorongan atau kibasan tangannya dan.. si penyerang terguling, senjatanya patah-patah dan orangnya roboh tewas, ada kalanya tewas dengan muka kebiruan seperti membeku, ada kalanya pula tewas dengan tubuh hitam seperti hangus terbakar.

Dalam keadaan tidak sadar akan kekuatan sendiri, Han Han telah "mengisi"

Lengan kiri dengan tenaga inti Im-kang, sedangkan tangan kanannya mengandung tenaga inti Yang-kang. Kekuatan dan kedahsyatan setiap gerak tangannya tidak kalah oleh ilmu pukulan Swat-im Sin-kang maupun Hwi-yang Sin-kang. Karena dia tidak menyerang hanya memapaki mereka yang menyerang saja, maka dalam gebrakan-gebrakan itu robohlah tujuh orang murid Siauw-lim-pai dalam keadaan tak bernyawa lagi, sedangkan Liong Tik dan seorang sutenya yang lebih tinggi ilmunya dapat meloncat ke belakang sehingga terhindar dari bahaya maut, akan tetapi juga senjata mereka itu remuk oleh hantaman hawa pukulan yang keluar dari tangan Han Han.

Pada saat itu keadaan Han Han benar-benar mengerikan sekali. Ia masih berdiri seperti tadi karena ia telah merobohkan tujuh orang murid Siauw-lim-pai dalam keadaan tak mengubah kedudukan kaki sama sekali. Ia berdiri menghadapi Liong Tik dan sutenya, siap menerima serangan, matanya mengeluarkan cahaya yang tajam sekali, mulutnya tersenyum mengerikan seperti senyum setan mengejek sehingga wajahnya yang tampan itu kelihatan menyeramkan, kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri. Karena pihak lawan yang tinggal dua orang itu terbelalak dan tidak menyerangnya, maka ia pun diam tak bergerak dan sesaat keadaan di situ menjadi sunyi karena Lie Cit San, Ok Sun dan semua anggauta piauw-su juga terbelalak dengan hati ngeri. Derap kaki kuda terdengar jelas di saat yang sunyi itu dan Lulu menengok ke kanan. Seekor kuda hitam datangseperti terbang cepatnya dan di atas kuda itu duduk seorang gadis cantik.

Bukan duduk, lebih tepat berdiri karena gadis itu memang berdiri dengan kaki di kanan kiri perut kuda, di atas tempat kaki. Dapat berdiri seperti itu selagi kuda membalap dengan miring membuktikan betapa pandainya gadis cantik ini menunggang kuda. Akan tetapi wajah gadis itu diliputi kedukaan dan kegelisahan. Melihat betapa anak murid Siauw-lim-pai banyak yang tewas dan kereta yang membawa dua buah peti berada di situ dalam keadaan ditinggalkan karena para piauwsu tadi menyambut penyerbuan para murid Siauw-lim-pai, gadis itu mengeluarkan teriakan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya meluncur cepat sekali mendahului kuda dan tahu-tahu ia telah berada di belakang kereta. Para piauwsu terkejut, akan tetapi sebelum ada yang sempat bergerak, gadis itu sudah menggerakkan tangan dua kali.

"Brakkkkk, Brakkkkk."

Dua buah peti itu terpukul bagian atasnya oleh dua tangan yang kecil halus, akan tetapi seketika bagian tutupnya remuk dan terbukalah kedua peti itu. Si gadis cantik menjenguk ke dalam peti-peti itu dan terdengar teriakannya menyayat hati.

"Liok-suhu..., Chit-suhu..."

Dan gadis itu menangis tersedu-sedu. Para piauwsu tercengang keheranan, apalagi setelah Liong Tik dan seorang sutenya berlari menghampiri kereta, menjenguk isi peti dan menjatuhkan diri berlutut pula sambil menangis. Lie Cit San dan Ok Sun, diikuti para piauwsu lari pula mendekat dan ketika mereka melihat isi peti, mereka terbelalak.

"Aihhhhh..."

Lie Cit San dan Ok Sun terhuyung ke belakang dengan muka pucat sekali. Kiranya di dalam dua buah peti itu terisi dua sosok mayat orang yang bukan lain adaiah Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, orang ke enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam. Gadis cantik itu sudah menghentikan tangisnya lalu bangkit berdiri. Sikapnya dingin sekali, penuh hawa amarah meluap-luap, penuh dendam sakit hati yang harus dilampiaskan. Ia bertanya kepada Liong Tik dan sutenya.

"Siapa yang membunuh saudara-saudaramu itu?"

"Sukouw (Bibi Guru)... mohon bantuan.. para Sute dibunuh oleh bocah iblis itu..."

Liong Tik menuding ke arah Han Han yang masih berdiri seperti arca. Tadi ia seperti kemasukan pengaruh yang aneh, terdapat rasa gembira sekali ketika kedua tangannya merobohkan para pengeroyoknya. Akan tetapi kini Han Han memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu dengan bengong. Ia baru sadar ketika ada suara wanita membentak di depannya.

"Siapa engkau yang begini kejam telah membunuh tujuh orang murid keponakanku?"

Tiba-tiba Lulu yang berdiri di belakang Han Han tertawa geli sehingga suasana tegang itu menjadi terpecah.

"Hi-hi-hi, aneh sekali. Melihat muka dan tubuhmu, usiamu tidak akan banyak selisihnya dengan usiaku, akan tetapi engkau mempunyai keponakan-keponakan yang sudah tua-tua. Aneh dan lucu, hi-hi-hik."

Akan tetapi gadis itu tidak mempedulikannya, bahkan seperti tidak mendengarnya karena gadis itu kini sedang memandang Han Han penuh perhatian, bahkan wajahnya yang cantik kini menjadi agak pucat, sinar matanya penuh keheranan dan tidak percaya. Han Han yang sadar akan teguran suara wanita, mengangkat muka dan begitu ia memandang wajah gadis cantik di depannya itu, ia terbelalak dan sampai lama tidak dapat menge1uarkan suara. Kedua orang ini saling pandang, kadang-kadang meragu, kemudian merasa yakin dan Han Han berkata lirih.

".. Suci..."

"Engkau..? Engkau... Han Han..? Dan engkau membantu Hoa-san-pai, menjadi anjing penjajah Mancu..?"

"Suci.., sama sekali tidak.."

"Kau bukan Suteku lagi, Kau musuh yang harus mati di tanganku"

Gadis itu menyerang dengan dahsyat sekali. Biarpun dia menyerang dengan pukulan tangan ke arah dada Han Han, namun tangan kosong gadis cantik ini jauh lebih berbahaya daripada serangan senjata para murid Siauw-lim-pai tadi. Datangnya antep, cepat dan mengandung tenaga sinkang yang kuat.

"Dukkkkk.."

Han Han yang tidak menangkis itu terpukul dadanya, terhuyung mundur dua langkah. Akan tetapi gadis itu sendiri terbanting roboh. Gadis itu yang sesungguhnya adalah Lauw Sin Lian, terkejut dan meloncat bangun. Tangan kanannya yang memukul itu menjadi kebiruan dan tubuhnya menggigil kedinginan. Cepat-cepat ia menahan napas dan mengerahkan hawa dari pusarnya sehingga rasa dingin itu dapat diusir. Ia memandang kepada Han Han dengan mata terbelalak, kemudian ia menoleh kepada dua orang murid keponakannya sambil berkata, suaranya mengandung isak tertahan.

"Naikkan jenazah para Sute itu ke atas kereta."

Dua orang murid Siauw-lim-pai itu segera melaksanakan perintah ini dengan air mata bercucuran. Lauw Sin Lian meloncat ke atas kereta, diikuti dua orang murid keponakannya, kemudian setelah sekali lagi menoleh ke arah Han Han dengan pandang mata penuh kebencian, ia lalu memekik nyaring dan menarik kendali kuda. Empat ekor kuda itu meringkik dan meloncat ke depan, lalu membalap. Para piauwsu tidak ada yang berani berkutik. Mereka masih terkejut dan bingung menyaksikan kenyataan yang amat mengerikan tadi.

"Suci...."

Han Han mengeluh perlahan, kemudian ia membalikkan tubuhnya perlahan-lahan, menghadapi anak murid Hoa-san-pai yang masih berdiri pucat. Pandang mata Han Han mengandung sesuatu yang membuat dua orang ini bergidik.

"Kalian.. Kalian.. manusia-manusia iblis. Kiranya kalianlah yang jahat, dan kalian membuat aku membunuh mereka yang tak berdosa..."

Suara Han Han perlahan seperti mendesis, namun hal ini bahkan menambah keseramannya. Dua orang murid Hoa-san-pai itu menggeleng kepala.

"Tidak.. tidak...."

Akan tetapi kedua tangan Han Han sudah menyambar, melakukan gerakan menampar ke depan. Jarak antara mereka masih jauh, ada dua meter, namun tamparan ini mengandung hawa sinkang yang hebat, mengandung hawa pukulan yang biasa ia latih di Pulau Es, pukulan-pukulan yang dapat membuat air membeku menjadi bongkah-bongkah es sebesar anak lembu. Dua orang murid Hoa-san-pai itu roboh tanpa dapat bersambat lagi, roboh dengan tubuh kaku membeku dan tewas seketika. Para anak buah piauwsu menjadi putat sekali, akan tetapi Han Han sudah menghadapi mereka dan berkata.

"Kalian hanya anak buah, tidak tahu apa-apa..."

Tanpa berkata apa-apa lagi Han Han lalu menyambar tangan adiknya dan ditariknya lalu diajak pergi cepat-cepat dari tempat itu. Sebentar saja kedua orang muda ini lenyap dari tempat itu dan barulah para anggauta piauwkiok itu sibuk mengurus jenazah kedua orang pimpinan mereka dan empat orang jenazah itu, dengan penuh duka dan masih menggigil kalau teringat kepada pemuda yang mereka anggap iblis itu, mereka kembali ke Kwan-teng untuk melaporkan peristiwa itu kepada ketua mereka.

"Eh-eh, berhenti dulu, Han-ko..."

Lulu merenggut tangannya dan terpaksa Han Han berhenti. Wajah pemuda ini keruh tanda bahwa pikirannya kalut dan hatinya terganggu oleh peristiwa dalam hutan tadi.

"Han-ko, semua peristiwa tadi amatlah mengherankan hatiku. Siapakah gadis cantik yang kau sebut Suci tadi? Benarkah dia itu Kakak Seperguruanmu?"

Han Han yang masih kalut pikirannya itu mengangguk.

"Dia Suciku, dia Puteri guruku yang pertama. Dia puteri Lauw-pangcu."

Baru Han Han teringat dan kalau bisa ia hendak menelan kembali semua kata-kata yang sudah dikeluarkan. Namun terlambat karena Lulu sudah mendengar semua dan gadis itu tiba-tiba menjerit, lalu membalikkan tubuh dan lari secepatnya.

"Eh, Moi-moi.., tunggu dulu..."

Han Han meloncat dan cepat mengejar. Sebentar saja ia dapat menyusul dan memegang tangan Lulu. Akan tetapi Lulu merenggutkan tangannya dan dengan cemberut memandang Han Han dengan muka merah dan air mata membasahi pipinya.

"Jangan dekat-dekat! Jangan pegang-pegang, Kau kiranya murid musuh besarku. Apakah kau hendak membelanya? Mulai sekarang aku tidak sudi berdekatan denganmu."

"Eh, Lulu jangan begitu. Aku tetap Kakakmu, dan aku tidak akan membela siapapun juga kecuali engkau Adikku.."

"Bohong! Mana mungkin membelaku kalau musuh besarku adalah Gurumu sendiri? Kakek jahat she Lauw itu adalah Gurumu, baru puterinya saja sudah kau bela tadi. Sudahlah, karena kau murid musuh besarku, berarti engkau musuhku juga. Nah, kau lekas serang dan bunuh aku.., lekas bunuh aku... tak mungkin aku dapat membalas kematian keluargaku karena engkau murid musuhku. Bunuh aku, engkau murid musuh besarku."

Saking berduka dan marah, omongan Lulu menjadi kacau-balau tidak karuan dan bercampur dengan isak yang ditahan-tahannya. Sepasang matanya yang lebar dan yang biasanya bersinar seperti sepasang matahari kembar itu kini menyuram, dan dua butir air mata jernih seperti mutiara menggantung di bulu matanya yang lentik. Han Han melangkah maju dan memegang kedua pundak Lulu, tersenyum duka dan berkata,

"Baiklah, lulu. Engkau menganggap aku musuhmu, nah, ini dadaku sudah terbuka di depanmu. Kau hantamlah aku sampai mati, kalau kau menganggap aku musuhmu."

Sepasang mata yang lebar indah itu memandang ke arah dada Han Han, dada kakaknya yang selama ini menjadi tempat ia bersandar, dan ia bergidik, akan tetapi mulutnya masih mencela.

"Kau mengejek. Kau tahu bahwa betapapun keras aku memukul, takkan melukai dadamu..."

Post a Comment