"Sudah kukatakan tadi, aku adalah seorang perantau bernama Suma Eng. Pekerjaanku hanya membasmi orang jahat dan menolong orang yang tertindas, bagaimana aku dapat terikat oleh hubungan dengan sepihak? Ceritakanlah kesusahanmu, saudara Piloko, mungkin aku dapat membantumu."
Bukan main girangnya hati Piloko mendengar ucapan ini. Lagi pula diam-diam ia telah menyaksikan kepandaian Eng Eng yang dengan demikian mudahnya mempermainkan dua orang pembantunya. Ia maklum bahwa kepandaiannya sendiri masih jauh untuk dapat melawan kepandaian nona ini, maka kalau saja ia dapat menarik tenaga nona ini untuk membantunya hal itu tentu amat baiknya.
Pada saat itu terdengar seruan perlahan dari seorang wanita. Para perajurit yang duduk memberi jalan dan nampaklah seorang wanita setengah tua datang membawa sebatang pedang telanjang di tangannya. Wajahnya nampak berduka dan juga gelisah, akan tetapi ketika ia melihat Piloko berdiri berhadapan dengan Eng Eng dan bercakap-cakap dalam suasana damai, ia menjadi lega kembali dan pedangnya cepat ia sarungkan di pinggang.
"Nona Suma Eng, ini adalah Yamani isteriku yang setia. Lihat biarpun ia tidak memiliki kepandaian, namun mendengar aku datang ke sini menghadapi orang yang disangka lawan berbahaya, ia lupa kebodohannya dan datang membawa-bawa pedang!" kata Piloko memperkenalkan istrinya kepada Eng Eng, lalu disambungnya ketika ia memperkenalkan Eng Eng kepada istrinya.
"Yamani, jangan kau gelisah. Lihiap ini adalah seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, yang mungkin belum pernah kau jumpai di alam mimpi sekalipun! Lihiap ini bernama Suma Eng dan kepandaiannya mungkin sepuluh kali lebih lihai dari pada kepandaianku."
Dengan singkat, Piloko lalu menceritakan kepada istrinya tentang kegagahan Eng Eng yang dikeroyok dua oleh pembantunya yang disebutnya kasar dan lancang tidak bisa mengenal orang. Mendengar cerita suaminya ini, Yamani lalu menghampiri Eng Eng dan memegang lengannya.
"Ah, lihiap, sungguh berbahagia sekali rasanya dapat bertemu dengan seorang pendekar wanita yang sudah lama menjadi buah mimpi padaku. Aku seringkali mendengar cerita tentang pendekar-pendekar wanita, akan tetapi belum pernah bertemu dengan seorangpun, harap kau mau memaafkan semua kesalahan kawan-kawan kami dan marilah kita bercakap-cakap di dalam kendaraanku yang biarpun kecil akan tetapi lebih enak dari pada di sini." Sambil berkata demikian, dengan amat ramah tamah, Yamani lalu menarik lengan Eng Eng. Gadis ini tak dapat menolak karena semenjak bertemu, ia telah merasa suka kepada nyonya bangsa Cou ini yang selain ramah tamah, juga amat manis mukanya.
Setelah duduk berhadapan di dalam kendaraan sambil makan hidangan yang disuguhkan oleh Yamanl yang ramah tamah, Eng Eng lalu mendengar penuturan sepasang suami istri kepala suku bangsa Cou ini. Ia mendengar betapa suku bangsa Cou selalu mendapat perlakuan kejam dan hinaan daripada suku bangsa Ouigour dan Mongol, dan betapa akhir-akhir ini tentara kerajaan nampaknya bahkan memusuhi mereka dan membantu orang-orang Ouigour yang menahan suku bangsa Cou yang kecil jumlahnya.
"Perkampungan kami yang terakhir kemarin telah diserang pula oleh Huayen khan dibantu oleh pasukan dari Oei ciangkun. Terpaksa kami sekarang mengungsi dan mau tidak mau harus menetap di daerah yang tandus dan tidak subur ini." kata Piloko sambil menghela napas.
"Bagi kami sih tidak begitu berat karena kami berdua tidak mempunyai anak." sambung Yamani dengan suara mengharukan.
"Akan tetapi kalau kuingat keadaan bangsaku"lihatlah mereka yang mempunyai anak-anak kecil, ah... bagaimana akan jadinya dengan kami...?" Menangislah Yamani dengan sedihnya.
"Diam kau!" Piloko tiba-tiba membentak dengan muka merah.
"Apa artinya tangis saja dalam keadaan seperti ini!"
Istrinya terdiam dan dengan wajah pucat dan sepasang mata terbelalak ia memandang kepada suaminya. Semenjak mereka kawin puluhan tahun yang lalu, baru kali ini Piloko membentaknya sedemikian kasarnya.
Melihat pandang mata isterinya, luluhlah kemarahan Piloko dan ia ingat bahwa ia tadi telah bersikap terlalu kasar, apa lagi di depan seorang tamu ia cepat memegang kedua tangan isterinya dan berkata,
"Yamani maafkan suamimu....... aku terlampau tertindih oleh kedukaan sehingga lupa diri. Maafkanlah......"
Yamani hanya mengangguk-angguk karena tidak kuasa mengeluarkan kata-kata dari kerongkongan yang telah penuh oleh sedu sedan yang ditahan-tahannya. Melihat keadaan mereka ini, bukan main terharunya hati Eng Eng. Ia merasa penasaran dan marah sekali kepada orang-orang Ouigour yang sewenang-wenang. Terutama sekali ia merasa penasaran dan kecewa mendengar betapa pasukan kerajaan dari Oei-ciangkun membantu pekerjaan terkutuk dari pasukan Ouigour itu.
Mendengar betapa orang-orang lelaki dan anak-anak bangsa Cou dibunuh dan orang-orang wanita yang muda-muda diculik secara kurang ajar, darah dalam tubuh Eng Eng sudah bergolak saking marahnya. Ia berdiri dari bangkunya, dan berkata.
"Saudara Piloko, jangan khawatir. Aku akan membantumu dan biarlah aku memberi latihan ilmu golok kepada pasukanmu, kemudian mari kita menyerbu dan membalas kejahatan orang-orang Ouigour itu!"
Mendengar ucapan ini, Piloko dan Yamani segera menjatuhkan diri berlutut di depan gadis gagah itu saking girang dan bersyukurnya. Eng Eng cepat membangunkan mereka dan berkata.
"Aku adalah seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalku. Biarlah untuk sementara aku ikut dengan kalian sampai kalian dapat merampas kembali kampung yang diserobot oleh bangsa Ouigour!"
Demikianlah, untuk beberapa pekan lamanya, di daerah tandus itu, Eng Eng melatih ilmu golok kepada anak buah Piloko. Bahkan Piloko sendiri, juga Yamani dan banyak lagi wanita-wanita bangsa Cou yang kebanyakan manis-manis dan cekatan, ikut pula belajar golok yang diajarkan oleh pendekar wanita itu.
Sementara itu, Piloko menyuruh penyelidik-penyelidiknya untuk menyelidiki keadaan bekas kampung mereka yang telah dirampas oleh orang-orang Ouigour.
Pada suatu hari ia mendengar kabar bahwa kampung itu telah ditinggalkan oleh tentara kerajaan dan juga oleh pasukan-pasukan yang dipimpin sendiri oleh Huayen-khan, dan hanya terjaga oleh sepasukan orang Ouigour yang tak berapa kuat.
"Lihiap, kampung kita tidak terjaga kuat. Sekarang besar sekali kesempatan kita untuk menyerbu dan merampasnya kembali."
Eng Eng setuju, maka berangkatlah pasukan Cou dipimpin oleh Eng Eng dan Piloko. Adapun rombongan keluarganya tidak berangkat bersama pasukan ini, melainkan menanti di tempat itu sampai kampung mereka dapat terampas kembali. Kini keluarga ini tidak begitu takut lagi ditinggal seorang diri oleh suaminya dan ayah mereka itu sedikit-sedikit telah mempelajari ilmu silat.
Karena perjalanan dilakukan cepat dan tidak membawa keluarga seperti ketika mereka pergi mengungsi, dalam waktu sehari semalam saja sampailah pasukan ini di kampung tempat tinggal mereka.
Terjadilah perang tanding yang hebat dan ramai. Akan tetapi, jangankan baru pasukan Ouigour yang hanya terdiri dari seratus orang lebih, biarpun di situ ada pasukan induk yang dipimpin oleh Huayen-khan sendiri, belum tentu akan dapat mengalahkan dengan mudah pasukan yang dipimpin oleh Eng Eng ini!
Terutama sekali sepak terjang Eng Eng mengerikan hati orang-orang Ouigour, maka dalam pertempuran yang tak berapa lama, kocar-kacirlah orang-orang Ouigour ini, meninggalkan kawan-kawan yang tewas maupun yang terluka. Dengan mendapat kemenangan besar, orang-orang Cou lalu masuk ke dalam kampung mereka dan menduduki kampung sendiri. Mereka segera turun tangan memperbaiki rumah-rumah yang dulu dirusak, kemudian mereka beristirahat.
Pada keesokan harinya, Eng Eng dan Piloko naik kuda untuk menjemput keluarga Cou. Pasukan kuda mereka ditinggalkan dan diharuskan menjaga kampung itu dengan kuat sedangkan sebagian pula melanjutkan usaha memperbaiki rumah-rumah yang rusak. Eng Eng merasa gembira sekali. Baru sekarang ia merasa bahwa hidupnya tidak percuma. Ia mempunyai tugas dan usaha untuk menuntun dan menolong kehidupan ratusan orang Cou yang ternyata benar-benar jujur dan baik itu.
Melakukan perjalanan bersama Piloko sambil bercakap-cakap, mendengar ucapan yang ramah dan hormat, melihat pandangan mata yang penuh rasa terima kasih itu, ah, Eng Eng merasa seakan-akan berjalan dengan seorang paman atau ayah sendiri!
Bodoh sekali dia, pikirnya, mengapa tidak dari dulu menghubungi masyarakat ramai dan melakukan sesuatu demi kebaikan orang-orang itu? Sesungguhnya banyak sekali yang harus dilakukan, karena di dunia ini penuh dengan hal-hal yang amat ganjil, penuh dengan penindasan dan kekejaman, penuh dengan orang-orang yang patut dikasihani dan ditolong serta juga orang-orang yang patut dibasmi karena jahatnya!
"Suma lihiap, jasamu amat besar dan budimu terhadap bangsaku takkan dapat kami lupakan selamanya." kata Piloko.
"Ah, saudara Piloko apa perlunya segala ucapan sungkan ini. Aku suka membantumu dan membantu bangsamu yang tertindas."
"Ah, alangkah akan bahagia hatiku kalau saja aku dapat mempunyai seorang anak perempuan seperti kau!"