Akan tetapi Eng Eng tetap melayani kedua orang kepala pasukan yang galak ini sambil tersenyum-senyum.
"Eh, eh. kalian benar-benar galak. Dengan cara bagaimanakah kalian hendak menghalangi aku? Coba, aku ingin sekali menyaksikannya."
Kedua orang ini saling pandang, karena betapapun juga, kalau gadis Han yang cantik dan tabah ini melawan, mereka merasa tidak enak untuk melayani seorang gadis muda. Akan tetapi, seorang perajurit yang bertubuh tinggi kurus dan bermata seperti burung segera melompat maju dan berkata.
"Biarlah aku yang menangkap gadis liar ini!" katanya dan dengan cepat ia menubruk maju sambil mengeluarkan kedua tangannya hendak mencengkeram pundak Eng Eng.
Eng Eng melihat bahwa cengkeraman ini adalah semacam ilmu silat utara yang mengutamakan sergapan dan cengkeraman atau cekikan, maka sambil mengeluarkan suara ejekan, tubuhnya tiba-tiba melejit dan bagaikan angin lalu ia telah dapat membuat si mata burung itu menangkap angin!
Dan sebelum si mata burung dapat mengetahui bagaimana cara gadis itu bergerak, tiba-tiba terdengar suara keras dan dagunya telah kena digaplok oleh Eng Eng! Orang itu merasa seakan akan dunia hendak kiamat! Bumi yang dipijaknya serasa terputar-putar, pohon-pohon di sekelilingnya seakan-akan hendak roboh menimpanya dan matahari di angkasa menjadi dua berkejar-kejaran.
Akan tetapi dia adalah seorang perwira bangsa Cou yang telah melatih diri bertahun tahun maka ia dapat mengerahkan tenaga dan mengatur rasa pening pada kepalanya dan rasa berdenyut perih pada dagunya yang membengkak terkena tamparan Eng Eng tadi.
"Perempuan liar, rasakan pembalasanku!" katanya dan tangannya meraba pinggang mencari goloknya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika goloknya telah lenyap dari pinggangnya dan ketika ia memandang ke depan, bukan main herannya. Ternyata bahwa goloknya telah berada di tangan gadis yang lihai itu yang telah merampas goloknya dan kini sambil menodongkan ujung golok pada dada si mata burung, Eng Eng tersenyum menantang.
"Hayo balaslah! Hendak kulihat bagaimana hebatnya pembalasanmu!"
Tentu saja si mata burung tak dapat berkata sesuatu dan tak dapat berbuat sesuatu, hanya memandang dengan mulut celangap!
Dua orang pemimpin pasukan yang tadi menegur Eng Eng adalah tangan kanan dari Piloko sendiri. Mereka ini adalah kakak beradik yang ahli sekali dalam permainan golok selain tenaga mereka yang besar juga ilmu golok mereka amat disegani kawan-kawannya maupun lawannya. Kini melihat betapa dengan segebrakan saja seorang gadis cantik dan muda ini dapai mengalahkan si mata burung, bahkan dapat merampas goloknya dengan mudah dan cepat, mereka menjadi heran dan marah.
"Hem, tentu kau adalah seorang wanita di kalangan kang ouw yang membantu Oei ciangkun. Nona, menyerahlah sebelum golokku bicara!" mengancam orang pertama.
"Jangan ngimpi!" Eng Eng mengejek.
"Kita melakukan perjalanan masing-masing tak saling kenal tidak saling perduli. Mengapa tahu-tahu kalian memusuhi dan hendak menggangguku? Ketahuilah, jangankan baru kalian berdua biar puluhan orang pasukanmu ini maju, jangan harap akan dapat mengalahkan aku!"
"Sombong!" teriak orang termuda diantara dua pemimpin ini.
Tubuhnya bergerak cepat dan tahu-tahu ia telah mencabut golok dan menyerang Eng Eng. Gadis ini tadi memegang golok rampasannya di tangan kiri dengan sikap acuh tak acuh dan sembarangan sekali. Akan tetapi ketika golok lawannya menyambar, tangan kirinya bergerak dan goIok rampasannya berubah menjadi sinar putih yang membentur golok lawannya itu sehingga hampir saja golok lawannya terpental dan terlepas dari pegangan! Tentu saja orang ini terkejut sekali dan mukanya menjadi merah ketika Eng Eng tersenyum mengejek.
"Apa kataku? Kau terlalu lemah, kawan! Sebaliknya kalian berdua maju berbareng atau kerahkan pasukanmu untuk mengeroyokku!"
Bukan main marahnya dua orang pemimpin pasukan Cou ini. Sambil berseru garang, keduanya lalu mengayun golok dan menyerang Eng Eng dari kanan kiri. Akan tetapi, mana bisa dua orang kasar ini menghadapi Eng Eng yang memiliki kepandaian tinggi? Biarpun gerakan mereka cukup cepat dan kuat namun sambil tersenyum-senyum dan mengeluarkan suara ketawa mengejek, Eng Eng dengan amat mudahnya dapat menghindarkan diri dari serbuan mereka. Kadang-kadang ia menggunakan golok di tangan kirinya untuk menangkis akan tetapi lebih sering ia mempergunakan ginkangnya yang luar biasa itu untuk mengelak dari serangan-serangan kedua lawannya. Tubuhnya lenyap merupakan bayangan yang membingungkan kedua orang lawannya. Pada waktu itu Eng Eng menggunakan baju putih dengan pinggiran merah, juga saputangan yang mengikat rambutnya berwarna merah, demikian pula celananya, berwarna merah hingga ia nampak manis dan cantik sekali.
Orang-orang bangsa Cou memiliki watak yang jujur dan tidak curang. Para perajurit yang tadinya masih merupakan barisan, kini setelah melihat betapa dua orang pemimpin mereka bertempur melawan seorang gadis Han yang cantik jelita dan lihai sekali, mereka lalu mengurung dan duduk berjongkok sambil tertawa-tawa dengan senangnya seakan-akan mereka sedang menonton pertunjukan yang amat menarik tanpa bayar! Ketika mereka melihat betapa Eng Eng berkelebatan bagaikan seekor kupu-kupu yang cepat dan ringan sekali beterbangan diantara sambaran dua batang golok dari kedua orang pemimpin mereka, terdengarlah pujian pujian dan sorakan-sorakan riuh rendah.
"Lihai sekali!"
"Bukan main hebatnya!"
Dan masih banyak lagi kata-kata pujian dalam bahasa Cou yang tidak dimengerti oleh Eng Eng, Akan tetapi sikap mereka ini benar-benar menggembirakan hati Eng Eng, sehingga timbullah kesan baik di dalam hati gadis ini terhadap orang-orang Cou yang jujur itu. Ia menjadi tidak tega untuk melukai dua orang pengeroyoknya ini, dan hanya mempermainkan mereka saja sambil tersenyum-senyum manis. Entah mengapa semenjak pertemuannya dengan Tiong Han dan mendapat kenyataan bahwa Tiong Han bukanlah pemuda yang dibencinya, ia menjadi amat tertarik kepada pemuda itu dan kalau tadinya ia memandang penghidupan ini nampak gelap dan menyedihkan, kini seakan-akan di dalam kegelapan itu timbul cahaya terang dan di dalam kesedihan itu nampak sesuatu yang membesarkan harapan dan menimbulkan kegembiraannya.
Dulu cita-cita hidupnya hanya satu, yakni membunuh Tiong Kiat dan mencari Thian te Sam kui untuk membalas dendam. Kalau cita-cita ini sudah tercapai, agaknya ia takkan suka hidup lagi! Akan tetapi sekarang, entah mengapa, bayangan Tiong Han, pemuda yang lemah-lembut sopan santun, berbudi mulia, dan berkepandaian tinggi itu selalu nampak di depan matanya dan menimbulkan harapan serta pegangan hidup. Kini sering kali Eng Eng merasa demikian gembira sehingga bunga-bunga seakan-akan tersenyum kepadanya, daun-daun hijau seakan akan melambai-lambai dengan ramahnya.
Kini menghadapi kedua orang lawannya iapun sedang bergembira, maka tidak henti-hentinya ia tersenyum hingga menambahkan kekaguman bagi semua orang Cou yang menonton pertempuran itu. Gadis lihai itu tidak saja dapat mempermainkan dan melayani dua orang pemimpin mereka dengan golok di tangan kiri bahkan masih mempunyai kesempatan untuk tersenyum-senyum! Lima puluh jurus telah lewat dan selama itu, jangankan melukai gadis aneh itu, menyentuh ujung bajunya saja kedua orang pemimpin rombongan bangsa Cou itu tidak sanggup.
Sebaliknya Eng Eng juga tidak pernah membalas serangan mereka. Kini Eng Eng telah merasa cukup dan mulai menjadi bosan. Pada saat itu, dari kanan kirinya, kedua orang lawannya mengangkat golok dengan cepat dan kuatnya lalu diayun ke arah kepala gadis itu! Akan tetapi Eng Eng masih dapat tertawa dan berkata,
"Perlahan dulu, sahabat!" Gadis ini dengan gerakan yang amat lemas dan gaya yang amat manis lalu mainkan gerak tipu yang disebut Burung Hong Membuka Sayap. Kaki kirinya diangkat ke atas kaki kanan berdiri di atas ujung sepatunya. Tangan kiri yang memegang golok diayun ke kiri dengan gerakan cepat untuk menangkis serangan golok dari kiri, adapun tangan kanannya berbareng dengan tangan kiri, bergerak pula ke kanan dengan jari-jari terbuka, dan sebelum lawannya yang berada di kanannya tahu apa yang terjadi, ia telah mengeluh dan goloknya terlepas dari pegangan!
Juga goloknya, tidak dapat menahan tenaga tangkisan Eng Eng dan goloknya terlempar jauh! Orang di sebelah kanan tadi kini meringis-ringis sambil memegangi siku kanannya yang telah terkena bacokan tangan Eng Eng sehingga ia merasa lengannya sakit sekali dan lumpuh! Adapun orang di sebelah kirinya kini berdiri dengan mata terbelalak, penuh keheranan dan juga kekagetan melihat betapa goloknya tadi terdorong sedemikian hebatnya oleh golok lawannya!
"Hayo maju ........ tangkap dan keroyok!"
Orang yang sikunya lumpuh itu mengeluarkan aba-aba, akan tetapi para perajurit Cou ragu-ragu untuk maju melawan gadis yang sedemikian lihainya itu.
"Mundur semua, jangan berlaku kurang ajar!" tiba-tiba terdengar suara orang yang amat berpengaruh dan dari belakang para perajurit itu melompatlah seorang yang tinggi, melompati kepala para perajurit itu dan dengan ringan sekali ia turun di depan Eng Eng. Gadit ini memandang dan diam-diam ia mengakui bahwa ginkang dari orang yang baru datang ini cukup lumayan. Ia bersiap sedia, karena maklum bahwa kepandaian orang yang baru datang ini, apabila dibandingkan dengan kepandaian dua orang pengeroyoknya tadi, amat jauh lebih pandai!
Akan tetapi, ia menjadi terheran ketika melihat betapa orang tinggi yang sudah setengah tua ini menjura dengan penuh hormat kepadanya, lalu berkata dalam bahasa Han yang ramah tamah dan lancar sekali,
"Lihiap, mohon kau sudi memaafkan kelancangan dan kekasaran orang orangku yang tidak tahu aturan. Maklumlah bahwa orang-orang yang telah disakiti hatinya oleh orang orang lain yang tadinya dipandang sebagai sahabat-sahabat baik, tentu saja mudah marah. Terus terang saja kami, suku bangsa Cou amat kecewa dan penasaran melihat sikap bangsamu, orang-orang Han. Kami telah dikhianati, orang-orang Han tanpa melihat keadaan dan tanpa alasan yang kuat, telah memilih dan memihak kepada orang-orang Ouigour yang selalu mengganggu kami. Banyak saudara-saudara kami yang tewas oleh pasukan Oei-ciangkun yang kuat, semua ini hanya karena hasutan dari Huayen-khan, pemimpin suku Ouigour yang membenci kami itu!"
Mendengar uraian panjang lebar yang tidak dimengerti betul itu, Eng Eng menjadi bingung. Akan tetapi melihat wajah orang tua ini yang amat berduka dan tampak bersungguh-sungguh, ia tidak berani main-main. Ia melempar golok rampasannya tadi dan membalas penghormatan Piloko.
"Aku adalah seorang perantau yang sama sekali tidak mengerti semua itu. Sebenarnya siapakah saudara dan mengapa pula rombongan saudara tiba di tempat yang miskin ini?"
"Aku bernama Piloko, dan semua ini adalah orang-orangku, yakni suku bangsa Cou yang amat menderita. Sebelum aku melanjutkan penuturanku, sudilah kiranya lihiap memperkenalkan diri. Siapakah lihiap, datang dari mana dan benarkah lihiap tidak mempunyai hubungan dengan benteng tentara kerajaan yang dipimpin oleh Oei-ciangkun?"