"Bagus sekali, kalau Oei ciangkun sudi memimpin aku yang bodoh, aku Sim Tiong Kiat akan mengerahkan seluruh tenagaku untuk membantu."
"Baik, Sim ciangkun! Sekarang juga kau menjadi perwira pembantuku!" Berdebar hati Tiong Kiat mendengar ini, apa lagi ketika panglima itu menyuruh seorang perajurit mengambilkan seperangkat pakaian perwira yang indah untuknya. Ah, dia telah menjadi perwira, telah disebut Sim ciangkun oleh panglima itu sendiri! Bukan main senangnya hati pemuda yang masih hijau ini.
Setelah mengenakan pakaian perwira, Sim Tiong Kiat benar-benar nampak gagah dan tampan sekali. Oei Sun lalu memperkenalkan perwira baru ini kepada semua perajurit yang disuruhnya berbaris. Kemudian ia menjamu perwira baru ini dengan segala kemewahan, di mana Tiong kiat sempat berkenalan dengan banyak perwira yang gagah perkasa. Tadinya ia merasa amat heran bertemu dengan orang-orang kang-ouw yang telah menjadi perwira akan tetapi setelah mendengar bahwa orang orang gagah ini sengaja datang membantu Oei Sun untuk mengusir pengacau, hatinya menjadi makin girang.
Demikianlah, semenjak hari itu, Tiong Kiat berdiam di dalam benteng, menjadi seorang perwira yang paling disayang oleh Oei ciangkun, menjadi seorang di antara pemberontak-pemberontak itu, atau lebih tepat lagi, calon-calon pemberontak. Melihat betapa sikap Tiong Kiat amat patriotis dan kata-katanya menunjukkan betapa bersemangat adanya pemuda ini Oei Sun dan kawan-kawannya belum berani berterus terang kepada Tiong Kiat.
"Oei-ciangkun," kata tiong Kiat dengan suara bersungguh-sungguh kepada Oei Sun,
"aku mempunyai suatu rahasia yang amat penting. Tadinya aku berniat untuk membuka rahasia ini dihadapan kaisar, akan tetapi oleh karena sekarang aku menjadi perwira di benteng ini dan kau adalah komandanku, hal ini lebih baik kuberitahukan kepadamu saja."
"Rahasia apakah itu, Sim ciangkun?" tanya Oei Sun memandang tajam.
"Ketahuilah Oei ciangkun, bahwa sebetulnya Huayen-khan, kepala bangsa Ouigour yang berpura-pura baik dengan Hong-siang (kaisar) sebenarnya mempunyai rencana jahat dan bersiap-siap hendak menyerbu ke selatan!"
Oei ciangkun nampak terkejut. Tentu saja Tiong Kiat tidak pernah menyangka bahwa kekagetan panglima ini bukan karena mendengar berita itu, melainkan karena tak dikiranya Tiong Kiat sudah mengetahui akan hal ini! Akan tetapi Oei ciangkun juga bukan seorang yang bodoh. Ia dapat menetapkan hatinya dan bersikap seakan-akan berita ini bukan hal yang amat berat.
"Bagaimana kau bisa tahu, Sim ciangkun? Hal seperti ini memerlukan ketelitian, tidak boleh menuduh secara sembrono saja. Apakah kau mempunyai bukti-buktinya?"
"Tentu saja, Oei ciangkun." Dan Sim Tiong Kiat lalu menceritakan pengalamannya ketika ia menolong Huayen khan dari keroyokan Piloko, kepala suku bangsa Cou dan anak buahnya hingga ia dibawa ke perkemahan Huayen khan dan dapat mengetahui rahasia itu karena pengakuan Ang Hwa dan Huayen khan sendiri. Oei ciangkun mengangguk-angguk. Tentu saja ia telah mengerti akan hal ini semua, bahkan ia sendiripun terhitung seorang diantara mereka yang pernah menerima "kebaikan hati" Huayen khan untuk dilayani oleh Ang Hwa, istri kepala suku bangsa Ouigour itu! Akan tetapi Oei ciangkun memang cerdik, apa lagi setelah ia berkumpul dengan lima orang suhengnya, ia mendapat tambahan pengalaman dan akal.
"Sim ciangkun, sesungguhnya kami semua di sini telah mengetahui akan hal ini. Tadi aku berpura-pura tidak tahu untuk mencobamu saja. Ternyata kau seorang laki laki sejati. Akan tetapi, sayang sekali kau belum tahu tentang siasat-siasat peperangan, maka kau berlaku keras. Sungguhpun aku telah mengetahui rahasia Huayen khan itu, akan tetapi aku bahkan mendekatinya dan memperlakukannya dengan baik dan manis, sesuai dengan sikap kaisar kita pula."
Tiong Kiat mengerutkan keningnya.
"Mengapa begitu Oei-ciangkun?"
Panglima she Oei itu tertawa bergolak.
"Sim ciangkun, karena kau baru kuberi pelajaran ilmu perang bagian mengatur barisan, dan tata tertib barisan, belum sampai kepada siasat-siasat peperangan, maka tentu saja kau belum dapat mengerti tentang siasat perang yang kami jalankan.
Ketahuilah bahwa dalam ilmu perang, siasat yang dilakukan oleh Huayen-khan adalah siasat Bertopeng Kulit Domba, yakni pada luarnya ia kelihatan lunak, akan tetapi disebelah dalamnya sebetulnya ia amat berbahaya.
Akan tetapi untuk menghadapi siasat ini, kitapun mempergunakan siasat yang hampir sama sifatnya, yakni siasat yang kunamakan membawa pedang di dalam selimut, yang artinya, pada luarnya kita pura-pura tidak melihat rencananya dan tidak berjaga-jaga padahal sebetulnya diam-diam kita sudah siap sedia untuk menumpasnya pada saat srigala itu muncul dari balik topeng kulit domba, mengertikah kau, Sim ciangkun?"
Tentu saja Tiong Kiat mengerti baik akal sederhana yang disebut siasat oleh Oei ciangkun ini, akan tetapi ia belum merasa puas.
"Oei ciangkun, mungkin kalau menghadapi lawan yang besar dan berat, kita perlu menggunakan siasat seperti itu. Akan tetapi apakah bahayanya Huayen-khan dan anak buahnya? Kalau kau mau, sekali pukul saja dengan bala tentara kita, mereka akan kocar-kacir dan dapat dihancurkan bukan?"
"Kau tidak tahu Sim-ciangkun. Kita tidak menghadapi bangsa Ouigour saja, masih banyak sukubangsa yang memberontak. Misalnya bangsa Cou yang dipimpin oleh Pikolo, mereka itupun diam-diam bahkan lebih jahat dari pada bangsa Ouigour. Kalau ada kesempatan, bangsa Cou inilah yang hendak memberontak lebih dulu. Akan tetapi, semua ini tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan bangsa Monggol yang merupakan bahaya paling besar dari utara, karena bangsa Monggol mempunyai bala tentara yang amat kuat dan besar jumlahnya. Betapapun juga adalah suatu kesalahan dan kepicikan besar apabila kita selalu memperhatikan batu batu besar di waktu kita berjalan dan mengabaikan batu-batu kecil. Karena kalau kita berbuat begini, akhirnya kita akan jatuh tersandung oleh batu kecil yang tidak kita sangka akan menjatuhkan kita! Kalau tidak ada ancaman dari fihak Mongol yang kuat, kita tak perlu berpayah payah memperlihatkan muka manis kepada orang-orang seperti Huayen-khan atau Pikolo. Akan tetapi, pada saat kita menghadapi lawan berat seperti barisan Mongol, biarpun hanya rombongan-rombongan kecil seperti orang-orang Ouigour dan Cou, cukup merupakan kawan yang membesarkan hati."
Kini baru Tiong Kiat merasa amat kagum mendengar uraian yang amat luas den mendalam ini. Ia yang masih hijau dalam soal siasat peperangan tentu saja menganggap panglima she Oei ini benar benar amat pandai dan luas pengetahuannya. Semenjak hari itu ia lebih tekun mempelajari siasat-siasat peperangan dari Oei ciangkun, sebaliknya tidak ragu-ragu untuk memberi petunjuk dan pelajaran ilmu silat dan pedang kepada panglima yang sudah memiliki kepandaian tinggi itu.
Kita tinggalkan dulu Tiong Kiat yang telah masuk perangkap dan tidak sadar bahwa sesungguhnya ia bahkan membantu gerakan calon-calon pemberontak Pek-lian-kauw yang amat berbahaya itu. Marilah kita mengikuti perjalanan Suma Eng atau Eng Eng yang meninggalkan benteng di mana tadinya ia tertawan oleh Oei Sun dan Go-bi Ngo-koai tung. Juga gadis ini tidak mengira bahwa baru saja ia terlepas dari tangan orang orang Pek-lian-kauw, dan mengira bahwa Oei Sun benar benar seorang panglima yang jujur dan gagah, dan Gobi Ngo koai-tung adalah tokoh-tokoh dari Go-bi-san yang selain berkepandaian tinggl juga telah berlaku baik kepadanya hingga mau melepaskannya.
Setelah melakukan perjalanan beberapa hari, barulah Eng Eng mendengar dari seorang penduduk dusun bahwa ia telah salah jalan, maka ia lalu mengambil jalan memutar dan kini menuju ke selatan, untuk pergi ke kota raja dalam usahanya mencari Tiong Kiat. Akan tetapi ketika ia melewati sebuah daerah yang kering dan tandus, di mana tanahnya tidak subur karena banyak tertutup salju, tiba-tiba ia bertemu dengan serombongan orang yang bertubuh tinggi besar dan bersikap galak. Orang orang ini bersenjata golok besar dan jumlah rombongan yang merupakan barisan ini tidak kurang dari delapan puluh orang. Di belakang pasukan ini masih terdapat rombongan Iain yang lebih besar, yang membawa kereta dan keledai, agaknya keluarga dari rombongan yang di depan.
"Berhenti!" seru dua orang yang mengepalai pasukan itu, dua orang yang bertubuh tinggi besar, bersenjata golok dan mukanya hampir sama.
"Nona yang kelihatan gagah berani melakukan perjalanan seorang diri di tempat ini, kau tentu mempunyai hubungan dengan benteng Oei-ciangkun!"
Eng Eng mengerutkan keningnya,
"Kalau ada hubungan bagaimana dan kalau tidak ada hubungan kalian perduli apa?" tanyanya sambil tersenyum mengejek. Ia merasa lucu sekali mengapa dua orang laki laki tinggi besar ini yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya, begitu bertemu telah memperlihatkan sikap membenci.
"Kawan Oei ciangkun atau bukan, terang dia adalah seorang nona Han, tangkap saja jadikan bujang, habis perkara, twako!" seru seorang lain yang berdiri di belakang.
"Orang-orang Han telah memperlihatkan sikap palsu terhadap kita, untuk apa kita berlaku sungkan lagi?"
Ucapan ini dikeluarkan dengan sengaja dalam bahasa Han agar Eng Eng dapat mengerti maksudnya, akan tetapi suaranya kaku dan janggal, hingga Eng Eng yang mendengarnya menjadi makin geli.
"Kalian ini orang apa begini galak-galak?" tanyanya.
"Kami adalah orang-orang suku bangsa Cou yang telah dikhianati dan dicurigai oleh orang-orang Han yang tadinya kami anggap sahabat-sahabat baik."
"Eh, eh, nanti dulu kawan. Orang orang Han itu bermacam macam, jangan disamaratakan. Tidak semua orang Han berwatak khianat dan curang. Akan tetapi sudahlah, aku tidak mempunyai urusan dengan kalian. Minggirlah dan jangan mencari perkara dengan aku."
"Enak saja kaubicara. Apa kaukira kau dapat melepaskan diri dari kami begitu saja? Jangan kau main-main, nona. Kami orang-orang suku bangsa Cou tidak boleh dipermainkan oleh kamu orang-orang Han seperti suku bangsa Ouigour!"