Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 55

Memuat...

Pada suatu hari ia tiba di kota Hong-bun, sebuah kota kecil di sebelah kota raja. Ketika ia sedang berjalan memasuki kota itu ia melihat Iima orang tosu jubah kuning berjalan cepat bersama seorang panglima bertubuh tinggi besar dan nampak gagah sekali. Melihat lima orang tosu ini, terkejutlah hati Tiong Kiat. Sungguhpun ia belum pernah melihat lima tosu ini namun melihat pakaian mereka yang berwarna kuning dan melihat pula tongkat bambu yang berada di tangan mereka, dengan mudah ia menduga bahwa mereka ini tentulah Go bi Ngo koat-tung (Lima Tongkat Aneh dari Go-bi) yang telah amat terkenal namanya karena ilmu silat mereka yang amat tinggi. Juga hatinya tertarik sekali ketika melihat panglima yang gagah itu.

Timbullah dalam hati Tiong Kiat ingin mengetahui apakah yang hendak dilakukan oleh lima orang tosu itu. Maka diam-diam ia lalu mengikuti mereka dari jauh. Ternyata bahwa enam orang itu menuju keluar dari kota dan akhirnya mereka menuju ke barat melewati sebuah hutan kecil dan masuk ke dalam dusun di kaki gunung keciI. Di luar dusun ini terdapat sebuah benteng besar, dan temboknya sudah nampak menjulang tinggi dari jauh.

Panglima itu dan lima tosu baju kuning tadi lalu memasuki pintu benteng yang dijaga oleh belasan orang perajurit. Terpaksa Tiong Kiat bersembunyi di balik pohon karena tentu saja ia tidak dapat masuk. Hatinya makin terheran-heran. Terang sudah panglima tadi adalah Panglima kerajaan, mengapa lima orang tosu ini ikut masuk ke dalam benteng? Ada keperluan apakah para pendeta itu memasuki benteng yang penuh dengan perajurit? Tiong Kiat adalah seorang perantau yang tidak tentu tujuannya, maka setiap kali melihat kejadian yang ganjil, ia takkan puas sebelum dapat mengetahui sebab-sebabnya. Ia lalu mencari jalan masuk dan berjalan sambil bersembunyi di balik pepohonan mengitari tembok benteng itu. Seperti biasa pada waktu negara tidak sedang mengalami perang, penjagaan tembok benteng tidak dilakukan dengan keras dan akhirnya, di sebelah belakang benteng itu Tiong Kiat melihat tembok yang tidak terjaga dan nampaknya sunyi saja. Ia lalu mengeluarkan kepandaiannya, melompat dengan gesit ke atas tembok yang tinggi itu.

Setelah mendekam di atas tembok beberapa lama sambil mengintai ke dalam ia melihat bahwa di bagian belakang itu hanya lapangan rumput yang agaknya dipergunakan sebagai tempat latihan perang-perangan, maka ia lalu melompat ke dalam dengan gerakan amat ringan. Tiba-tiba ia mendengar suara orang dan cepat ia bersembunyi di belakang kandang kuda yang penuh dengan kuda-kuda tinggi besar. Dua orang nampak mendatangi sambil membawa rumput makanan kuda.

"Sungguh aneh sekali Oei ciangkun itu," terdengar seorang diantara kedua orang penjaga itu berkata.

"biasanya kalau ada orang tertangkap lalu dihukum mati atau dikirim ke kota raja untuk diadili. Akan tetapi siluman wanita itu bahkan diharuskan mendapat perlakuan yang baik."

"Lo Siang, kau tahu apa?" kata orang kedua.

"Siluman wanita itu demikian cantik jelita, masih muda pula. Takkan lebih dari dua puluh tahun, bagaikan kembang sedang mekarnya. Siapa yang tega untuk membunuhnya? Lagi pula ilmu silatnya demikian lihai sehingga kalau tidak ada lima orang tosu Gobi Ngo-koai tung itu, siapa yang mampu menangkapnya? Dan Oei ciangkun sendlri masih muda, belum beristeri.... hem! Siapa tahu?"

"Apa maksudmu, Lo Siang?"

"Oei ciangkun gagah perkasa, tawanan ini seorang gadis cantik jelita, apalagi? sudahlah, Lo Kui, kita menanti saja dibagikannya arak wangi! Ha, ha. ha!"

Tiba-tiba ada angin menyambar dan tahu-tahu seorang pemuda entah dari mana datangnya, telah berdiri di depan mereka! Sebelum mereka sempat membuka suara kedua tangan Tiong Kiat menyambar jalan darah mereka di bagian ya-hu hiat dan lemaslah tubuh mereka, sedangkan ketika mereka menggerakkan mulut untuk berteriak minta pertolongan kepada kawan-kawan ternyata tak ada sedikitpun suara dapat keluar dari tenggorokan mereka.

Tiong Kiat tidak mau mengganggu atau melukai kedua penjaga ini, karena sesungguhnya ia masuk ke benteng ini hanya untuk memuaskan ingin tahunya saja, dan tidak ada permusuhan sesuatu antara dia dan tentara kerajaan. Akan tetapi, ketika ia mendengar percakapan antara kedua orang penjaga ini, hatinya tertarik sekali. Jadi lima orang tosu itu betuI adalah Gobi Ngo-koai tung? Tiong Kiat makin tertarik ketika mendengar tentang ditangkapnya seorang gadis cantik yang berkepandaian tinggi. Ia ingin sekali melihat gadis ini!

Dengan hati-hati sekali ia lalu menyeret kedua orang penjaga itu dan menyembunyikan mereka di dalam kandang kuda, kemudian ia lalu melanjutkan pemeriksaannya dan berindap-indap menghampiri bangunan besar yang berada di tengah benteng. Ketika terdengar suara riuh dan tindakan kaki banyak orang, ia cepat bersembunyi lagi. Sebentar kemudian muncullah tiga barisan yang dengan gagahnya menuju ke lapangan rumput di belakang itu. Mereka ini hendak mulai dengan latihan mereka, dipimpin beberapa perwira.

Setelah barisan-barisan itu lewat, Tiong Kiat menyelinap ke belakang bangunan besar, sekali ia enjotkan tubuhnya ia telah berada di atas genteng, bersembunyi di wuwungan yang tinggi. Kemudian setelah maju lagi beberapa jauhnya, ia mendengar suara seorang wanita berseru nyaring.

"Aku sudah kalah tertangkap, mau apa lagi? Kalau kau mau membunuhku, bunuhlah siapa takut mati? Hanya sayang sekali bahwa kalian ini orang-orang gagah ternyata hanyalah pengecut-pengecut besar yang melakukan pengeroyokan atas diri seorang wanita untuk memperoleh kemenangan!"

"Nona yang baik," terdengar suara yang tenang dan besar," mengapa kau berkeras hendak memusuhi kami? Kami tidak mempunyai maksud buruk terhadap kau dan apakah kesalahan beberapa anggauta kami itu tak dapat kau maafkan? Kalau saja kau suka membantu pekerjaan kami, bukankah hal ini bagus sekali dan kau berarti akan dapat berbakti kepada negara?"

Tiong Kiat makin tertarik dan hatinya berdebar-debar. Ia seperti pernah mendengar suara wanita yang nyaring dan keras ini. Cepat ia lalu menghampiri ke arah suara itu dan membuka genteng mengintai ke dalam. Hampir saja ia mengeluarkan seruan kaget ketika ia menjenguk ke bawah. Ternyata bahwa wanita itu benar-benar adalah Suma Eng! Nona yang siang malam menjadi buah kenangannya ini duduk di atas bangku dengan sikap marah, sedangkan di sekelilingnya, seakan-akan mengurungnya, duduk panglima yang dilihatnya tadi bersama kelima Gobi Ngo-koai tung!

Bagaimanakah Eng Eng sampai terjatuh ke dalam tangan mereka ini? Baiklah kita mengikuti pengalamannya secara singkat melanjutkan penuturan ini. Setelah Eng Eng berpisah dengan Tiong Han untuk mencari jalan masing-masing dalam usaha mereka berdulu-duluan mencari Tiong Kiat, gadis ini langsung menuju ke kota raja. Ia pikir bahwa seorang pemuda jahat seperti Tiong Kiat tentu akan memilih tempat yang ramai dan indah, maka ia lalu menuju ke kota raja untuk mencari jejak pemuda yang dibencinya itu.

Karena ia belum pernah pergi ke kota raja dan Eng Eng merasa tertarik sekali oleh pemandangan di sebelah barat Propinsi Hopak yang bertapal batas dengan Propinsi Shansi di sebelah barat dan dengan Mongolia di sebelah utara, maka ia telah salah jalan bukannya langsung ke kota raja, akan tetapi lewat di sebelah barat kota raja dan terus ke utara! tanpa disadarinya ia telah melewati kota raja dan kini berada di sebelah utaranya!

Demikianlah, maka pada suatu hari tibalah ia di kota Hong-bun, kota yang jauh letaknya dari benteng itu. Ketika ia sedang berjalan sambil melihat-lihat, tiba-tiba dari depan mendatangi lima orang tentara kerajaan yang berjalan saling bergandengan dan melihbat jalan mereka yang terhuyung-huyung itu, mudah diduga mereka berada dalam keadaan mabok, Eng Eng tidak memperdulikan mereka, akan tetapi sebaliknya lima orang tentara itu ketika melihat Eng Eng dan ketika gadis itu hendak mengelak ke kiri, mereka sengaja bergerak ke kiri pula dan dengan sengaja menghadang perjalanan gadis ini. Marahlah Eng Eng dan dengan muka merah ia membentak.

"Kawanan anjing, apakah kau mau mengganggu orang di tengah jalan? Minggir! Akan tetapi sambil tertawa-tawa, lima orang tentara itu lalu berebut maju untuk memeluk atau meraba tubuh gadis yang cantik jelita ini. Akan tetapi, bukan main hebatnya akibatnya kekurang-ajaran mereka ini. Terdengar suara bak bik buk, disusul oleh pekik mereka dan tubuh mereka terlempar ke kanan kiri terkena tendangan kedua kaki Eng Eng! Bagaikan babi-babi disembelih, kelima orang kurang ajar ini mengaduh-aduh dan tak dapat bangun lagi.

Pada hari itu, memang banyak anak buah tentara dalam benteng diberi kesempatan keluar dari benteng dan jumlah mereka ini ada puluhan orang. Ketika mendengar suara ribut-ribut dan melihat lima orang tentara dipukul oleh seorang gadis cantik, kawan-kawan mereka yang berada di kota itu, menjadi marah sekali dan sebentar saja Eng Eng dikurung oleh puluhan orang anggauta tentara. Mereka ini mula-mula mempergunakan tangan kosong hendak menangkap gadis ini dan menawannya, akan tetapi apakah artinya keroyokan orang-orang yang hanya kuat tenaga akan tetapi tidak memiliki ilmu kepandaian berarti itu terhadap Eng Eng? Gadis ini menggerakkan kaki tangannya seperti kitiran cepatnya dan bagaikan rumput dibabat, robohlah para pengeroyoknya.

Hal ini membuat para tentara menjadi marah sekali. Mulailah mereka mencabut golok mereka.

"Gadis liar! Menyerahlah sebelum kami melukaimu!" teriak seorang perwira.

"Bangsat pengecut! Kalian yang mencari perkara, mengapa aku harus menyerah? Siapa takut kepada golokmu yang tumpul itu?" Eng Eng membentak.

Maka menyerbulah para pengeroyoknya, kini dengan senjata tajam di tangan. Namun, tetap saja mereka bukanlah lawan Eng Eng. Gadis ini mencabut pedangnya dan ketika sinar merah dari pedangnya berkelebat, terdengar suara keras dan golok-golok di tangan para pengeroyoknya terbabat putus, runtuh bagaikan daun bambu jatuh berhamburan!

Tentu saja para tentara ini menjadi terkejut sekali. beberapa orang di antaranya cepat melarikan diri ke benteng untuk memberi laporan kepada Oei-ciangkun, panglima yang menjadi komandan di dalam benteng itu. Pada waktu itu, Oei-ciangkun sedang menerima kedatangan kawan-kawan baiknya, yakni Gobi Ngo koai-tung yang bernama Iucu, karena mereka sesungguhnya telah membuang nama asal dan memakai nama yang sederhana saja yakni Thian It Tosu, Thian ji Tosu, Thian Sam Tosu, Thian Si Tosu dan Thian Go Tosu. Kelima orang tosu dari Go bi-san ini memang pendeta-pendeta yang berilmu tinggi dan penggantian nama mereka ini sesungguhnya ada alasan yang amat kuat bagi mereka.

Dahulu, sebelum perkumpulan agama yang disebut Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) belum lenyap dan belum dihancurkan oleh Kaisar Tai Cung yang melihat gejala gejala tidak baik dalam perkumpulan agama ini. Kelima orang pendeta ini sebetulnya menjadi pengurus-pengurus terkemuka dari Pek-lian-kauw. Oleh karena Pek-lian kauw sudah hancur dan musnah, maka untuk melindungi dirinya, mereka melarikan diri ke Go bi san dan menukar nama, sehingga kini terkenal sebagai Gobi Ngo-koai-tung yang amat lihai.

Adapun Oei-ciangkun ini sebenarnya, bernama Ui Sun dan ia dulu secara bersembunyi adalah seorang pemeluk agama Pek lian-kauw. Ketua pendeta wanita yang masih muda dan cantik sekali bagaikan bunga teratai, sesungguhnya diam-diam mengadakan perhubungan dengannya dan menjadi kekasihnya. Akan tetapi Oei Sun pandai sekali menyembunyikan dirinya dan berlindung di balik kedudukannya sebagai panglima yang memimpin puluhan ribu tentara, Setelah kekasihnya itu tewas dalam pembasmian Pek lian-kauw dan perkumpulan ini bubar, diam-diam Oei Sun masih mengadakan perhubungan dengan Gobi Ngo koai-tung yang bersembunyi di pegunungan Go-bi-san.

Demikianlah antara Oei ciangkun dan Gobi Ngo-koai-tung terdapat hubungan yang erat sekali, maka tidak mengherankan apabila pada hari itu mereka berlima datang mengunjungi Oei ciangkun di dalam bentengnya. Gobi Ngo-koai tung telah membuat nama besar maka selain Oei ciangkun boleh dibilang tidak ada orang lain yang mengetahui bahwa mereka adalah bekas-bekas pemimpin Pek lian kauw.

Post a Comment