Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 53

Memuat...

"siapa yang mau menonton ilmu pedang? Dia mengajakmu mengadu ilmu kepandaian karena dia sendiripun seorang ahli pedang."

Tiong Kiat tertegun, akan tetapi Huayen-khan tidak memberi kesempatan padanya untuk bicara lagi, karena dia telah majukan kudanya sehingga rombongan itu maju terus menuju perkemahan besar di depan.

Setelah memasuki perkemahan, kembali Tiong Kiat tertegun ketika melihat banyaknya gadis-gadis pelayan yang cantik menyambut Huayen-khan, bahkan di antara mereka ini banyak sekali yang datang dari pedalaman, yakni gadis gadis bangsa Han!

"Bersenanglah dan anggap saja ini sebagai rumahmu sendiri!" kata Huayen-khan.Tiong Kiat mendapat tempat di sebuah kemah yang cukup besar, dilayani oleh belasan orang gadis pelayan yang cantik-cantik. Tentu saja pemuda mata keranjang ini merasa gembira sekali dan merasa seakan-akan telah memasuki kahyangan yang penuh dengan bidadari-bidadari.

Malam harinya setelah bulan muncul, Huayen khan datang memasuki kemahnya dan mengajaknya keluar menikmati pemandangan di kebun kembang yang terdapat di tepi sungai. Ketika mereka tiba di tempat itu, benar saja pemandangan amat indahnya. Bunga bunga telah mekar dan di bawah sinar bulan purnama, keadaan di situ nampak indah menyenangkan sekali. Ketika Tiong Kiat melihat bayangan merah berdiri di tempat itu, dikelilingi oleh para pelayan, teringatlah ia akan janji Ang Hwa yang hendak mencoba ilmu pedangnya, diam-diam Tiong Kiat menggigit bibirnya. Ia akan memperlihatkan kepandaiannya agar dapat dikagumi oleh Ang Hwa yang cantik jeIita dan oleh para pelayan itu.

Memang benar seperti yang dikatakan oleh Huayen-khan tadi, karena begitu ia mengajak Tiong Kiat duduk di atas bangku-bangku batu yang telah disediakan di tempat itu, Ang Hwa lalu menghampiri mereka dan berkata kepada Tiong Kiat,

"Sim enghiong, harap kau suka memperlihatkan kepandaianmu agar hati kami tidak ragu-ragu lagi bahwa tamu kami bukanlah seorang pemuda Han yang lemah dan tiada guna belaka!" Gemaslah hati Tiong Kiat, bukan saja gemas melihat sikap gadis cantik yang memandang rendah ini, akan tetapi gemas pula melihat gadis yang benar-benar jelita dan menarik hati ini. Kalau saja ia tidak mengira bahwa gadis ini putri dari Huayen khan, tentu telah dipeluknya dan dibawa Iari ke dalam kemahnya!

"la bangkit berdiri dan berkata dengan senyum.

"Nona sudah menjadi kebiasaanku sekali aku mencabut pedang, aku tentu harus memperoleh hasil. Menghadapi seorang musuh, darah musuh pada pedangku adalah hasil pencabutan pedangku. Oleh karena terhadapmu aku tak dapat berIaku demikian maka apakah hadiahnya apabila aku mendapat kemenangan?"

Ang Hwa memandangnya dengan matanya yang indah, sungguhpun matanya nampak berseri, namun bibirnya tetap memperlihatkan kekerasan hati dan kesombongannya.

"Katakan dulu, bagaimana kalau kau kalah? Pembayaran apakah yang akan kau pertaruhkan?"

Tiong Kiat tertegun. Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis ini sedemikian sombongnya, seakan-akan sudah yakin akan kemenangannya sehingga berani mengajaknya bertaruh!

"Darahku yang kupertaruhkan." kata Tiong Kiat.

"Biarlah aku terluka oleh pedangmu kalau ilmu pedangku terlalu rendah untuk menghadapi ilmu pedangmu."

Tiba-tiba Huayen khan tertawa bergelak.

"Ang Hwa, kau terlalu sombong! Mana bisa kau menangkan Sim enghiong? Sim-enghiong, biarlah aku mewakilinya menjawab. Kalau kau menang, aku akan menyerahkannya kepadamu semalam penuh dan ia harus menurut!"

Kali ini benar-benar Tiong Kiat terkejut dan mukanya menjadi marah sekali. Bagaimana Huayen khan dapat menawarkan anaknya seperti itu? Benar ia tidak mengerti akan sikap dan watak orang orang Ouigour ini! Akan tetapi ia masih penasaran dan bertanyalah ia kepada Ang Hwa,

"Nona ucapan tadi dikeluarkan oleh Huayen-khan, bukan olehku."

"Sekali kata-kata sudah diucapkan, takkan ditarik kembali. Aku bersedia menurut perintah kalau aku kalah olehmu!" jawab Ang Hwa dengan singkat, dan gadis ini lalu mencabut sebatang pedang yang mengkilap dan melompat ke tengah pelataran.

Bukan main girangnya hati Tiong Kiat mendengar ini. Gilakah orang-orang ini? Dengan terang-terangan Huayen khan mempertaruhkan kehormatan puterinya sedangkan Ang Hwa sendiri dengan terang-terangan bersedia mentaati perintah itu! Ia lalu mencabut pedangnya dan dengan lompatan ringan sekali ia telah berada di depan Ang Hwa,

"Nona, silakan kau mulai lebih dulu menyerangku!" tantangnya. la mengira bahwa biarpun kepandaian menunggang kuda nona ini hebat, namun ilmu pedangnya tentu tidak berapa berbahaya. Akan tetapi ia kecele kalau berpikir demikian, karena begitu gadis itu menggerakkan pedangnya, Tiong Kiat merasa terkejut sekali.

Gerakan pedang gadis itu sama sekali tak boleh disebut lemah! Bukan main bahkan pedangnyapun bukan pedang biasa, melainkan pokiam (pedang pusaka) yang kuat sehingga ketika beradu dengan Hui Iiong kiam, hanya bunga-bunga api yang berpijar sedangkan pedang gadis itu sama sekali tidak menjadi rusak! Timbul kegembiraan di hati Tiong Kiat dan berbareng ia merasa tertarik dan suka kepada gadis ini. Sukarlah menjumpai gadis yang keras hati, cantik, tinggi kepandaiannya seperti Ang Hwa. Apalagi di tempat ini, dalam lingkungan orang-orang Ouigour yang kasar.

Pada waktu itu, Tiong Kiat telah menamatkan pelajaran Ang-coa kiam dari kitab Ang coa kiam coansi yang dirampasnya dari tangan Tiong Han. maka tingkat ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Bahkan Tiong Han sendiri belum tentu sekarang dapat melawan pemuda ini yang telah berhasil mewarisi seluruh ilmu pedang Ang coa-kiam-sut, kepandaian ilmu pedang pusaka dari Kim-liong pai!

Tadinya Tiong Kiat hanya mempermainkan Ang Hwa dan mainkan ilmu pedangnya untuk bertahan saja. Ia bertambah heran ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang gadis itu adalah ilmu pedang yang mirip sekali dengan Kun lun kiamhwat! Bagaimana seorang gadis Ouigour dapat mempelajari ilmu pedang dari Kun lun-pai? la ingin cepat-cepat menyelesaikan pibu ini agar dapat bicara berdua dengan gadis yang menarik hatinya ini.

Cepat ia merubah gerakan pedangnya dan sebentar saja terdengar Ang Hwa berseru terkejut. Pedang di tangan pemuda ini tiba-tiba lenyap menjadi segulung sinar putih yang gerakannya aneh dan gesit sekali seperti seekor naga bermain di angkasa. Betapapun Ang Hwa memutar pedangnya dan mengerahkan seluruh kepandaiannya, tetap saja gulungan sinar pedang itu mengurung dirinya, membuat pandangan matanya kabur dan kepalanya pening!

Baru sekarang ia percaya akan kehebatan ilmu pedang Tiong Kiat. Tiba-tiba ia merasa sampokan hebat sekali yang membuat pedangnya terlepas dari tangan dan ketika sinar pedang lawannya itu lenyap, ternyata Tiong Kiat telah berdiri di hadapannya dengan pedangnya yang terlepas dan berada di tangan kiri pemuda itu! Tiong Kiat tersenyum dan mengembalikan pedang itu kepada Ang Hwa yang menerimanya dengan muka merah. Huayen khan menghampiri mereka sambil tersenyum-senyum.

"Bagus, bagus Sim-enghiong. Malam ini kau telah dapat menundukkan bunga merah sungai Selonga! Aku rela memberikannya semalam kepadamu, kau gagah dan cukup berharga untuk itu. Ha, ha, ha! bawalah, bawalah dia ke kemahmu, Sim-enghiong!" Setelah berkata demikian, kepala suku bangsa Ouigour ini lalu meninggalkan mereka, Tiong Kiat berdiri bengong dengan muka merah dan juga merasa terheran-heran. Akan tetapi ketika ia melihat betapa gadis itu memandangnya dengan mesra dan bibirnya tersenyum. Ketika melihat betapa Tiong Kiat menatap wajahnya gadis ini menjadi merah mukanya dan menundukkan muka dengan kemalu-maluan, akan tetapi matanya mengerling dan menyambar dari pinggir, membuat pemuda itu menjadi runtuh betul imannya. Dengan girang Tiong Kiat lalu memegang tangan Ang Hwa dan diajaknya masuk ke dalam kemahnya.

Setelah tiba di dalam kemahnya, mereka duduk berhadapan dan Tiong Kiat yang merasa Iebih terheran-heran dari pada gembira itu Ialu bertanya. Nona, sungguh aku heran sekali melihat kau. Ilmu silatmu tadi sudah terang berasal dari Kun-lun-pai dan melihat wajah dan juga bicaramu kau Iebih pantas menjadi gadis bangsa Han dari pada menjadi seorang gadis Ouigour. Sesungguhnya, bagaimana kau sampai bisa berada di tempat ini? Ang Hwa tersenyum dan memandang kepada Tiong Kiat dengan kagum.

"Sim enghiong, kau gagah sekali dan ilmu pedangmu saja sudah cukup menundukkan hatiku. Oleh karena itu, tiada salahnya aku menceritakan riwayatku dan percayalah hanya kepadamu saja aku mau bercerita."

Ang Hwa adalah puteri tunggal seorang guru silat bangsa Han, anak murid Kun-lun-pai. Ayahnya telah membunuh seorang Pembesar tinggi karena istrinya bermain gila dengan pembesar itu. Tentu saja ia menjadi orang buruan pemerintah dan guru silat she Ang ini melarikan diri bersama anaknya ke utara. Akhirnya ayahnya bertemu dengan Huayen khan dan menjadi pembantunya. Akan tetapi, ketika Ang Hwa berusia lima belas tahun, ayahnya telah meninggal dan ia terserang penyakit berat, sehingga akhirnya gadis ini menjadi yatim piatu dan ikut dengan Huayen khan yang amat mengasihinya.

"Demikianlah, Sim-enghiong, maka sampai sekarang aku berada di sini. Cita-citaku hanya untuk membalas dendam, tidak kepada pembesar tinggi yang sudah terbunuh oleh ayahku akan tetapi kepada pemerintahan Tang terutama kaisarnya yang telah membuat ayah menderita sengsara di tempat asing ini."

"Akan tetapi, bukankah suku bangsa Ouigour bersahabat dengan pemerintah Tang?" tanya Tiong Kiat.

"Benar, akan tetapi itu hanya siasat belaka, keadaan kami belum kuat benar untuk melakukan penyerangan dan jalan terbaik adalah bersahabat dengan kaisar kerajaan Tang."

Tiong Kiat berpikir bahwa tentu Ang Hwa kini diaku anak oleh Huayen-khan. Kalau ia dapat menikah dengan gadis ini dan menjadi menantu Huayen khan, tentu pengaruhnya akan besar dan kelak ia akan mendapat kesempatan menggantikan kedudukan Huayen khan! Alangkah senangnya menjadi raja dari suku bangsa ini. Akan tetapi, ia tidak senang mendengar betapa Huayen-khan diam-diam hendak menyerang dan menggulingkan kerajaan Tang. Betapapun juga, Tiong Kiat masih mempunyai darah pahlawan. Ia maklum akan kebijaksanaan Kaisar Tai Cung, dan biarpun ia tidak mundur untuk melakukan pekerjaan rendah seperti jai-hwa cat dan pencuri, namun untuk menghianati Kaisar Tai Cung, ia tidak sudi! Kalau aku dapat menikah dengan gadis ini dan menjadi mantu dari Huayen-khan, aku akan dapat membujuknya dan mempengaruhinya sehingga selamanya suku bangsa ini akan menjadi sahabat baik dari pemerintahan Tang, pikirnya.

la memandang gadis itu yang makin lama nampak makin cantik menarik. Tak terasa lagi ia mengulurkan tangan memegang lengan gadis itu dan Ang Hwa mendiamkan saja, bahkan tersenyum menantang!

Post a Comment