Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 49

Memuat...

Dengan pandang mata merah penuh cemburu, Ban Hwa Yong lalu menggerakkan kaitan di tangan kanannya untuk menyerang Un Leng, akan tetapi golok Kui Hwa menangkis kaitan ini.

"Bangsat hina dina! Siapakah kau dan apa maksud kedatanganmu mengganggu kami?" bentak Kui Hwa yang kagum juga melihat betapa Un Leng nampak tenang saja dan tidak takut biarpun tadi hampir menjadi kurban senjata kaitan itu.

"Can pangcu harap jangan marah." jawab Ban Hwa Yong yang memandang ringan,

"Aku Ban Hwa Yong dari tempat yang ratusan lie jauhnya sengaja datang hendak bercengrama dan mengajakmu bercakap-cakap. Akan tetapi oleh karena di sini ada orang lain maka kuharap bocah ini pergi segera dari sini agar kita dapat bicara lebih leluasa lagi."

Bukan main gemasnya hati Kui Hwa mendengar ucapan yang sifatnya kurang ajar dan memandang rendah ini.

"Pemuda ini adalah sahabat baikku dan dia boleh pula mendengar apa yang akan keluar dari mulutmu yang busuk. Lekas bilang apa maksud kedatanganmu sebelum golokku menghajar dan memutuskan lehermu!"

"Aduh galak benar!" Ban Hwa Yong tertawa.

"Akan tetapi makin galak makin bertambah manis! Nona Can, terus terang saja kedatanganku ini hendak meminangmu menjadi istriku! Aku masih bujangan dan tentu tidak enak hidup sendiri seperti engkau ini, apa lagi kalau memegang kedudukan sebagai pangcu. Serahkan saja pekerjaanmu itu kepadaku, calon suamimu dan kau akan hidup berbahagia!"

"Anjing bermulut lancang!" Kui Hwa tak dapat menahan marahnya lagi dan cepat goloknya bergerak membacok kepala Ban Hwa Yong. Akan tetapi, sambil tersenyum-senyum Ban Hwa Yong mengelak dan bertempurlah kedua orang ini dengan ramainya.

Ban Hwa Yong terkejut juga melihat permainan golok nona itu karena benar-benar kuat dan berbahaya. Akan tetapi, sepasang kaitannya digerakkan secara luar biasa sekali sehingga Kui Hwa segera terdesak hebat, kalau saja gadis itu memegang pedang dan tidak berada dalam keadaan semarah itu, takkan mudah bagi Ban Hwa Yong untuk mengalahkannya. Akan tetapi dalam keadaan semarah itu Kui Hwa kehilangan kewaspadaannya dan sama sekali tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya lawannya ini lihai sekali dan tidak boleh dipandang ringan.

Golok di tangannya diputar sedemikian rupa dan hanya satu saja kehendaknya yakni membunuh manusia kurang ajar ini. Akan tetapi dengan kaitannya yang lihai Ban Hwa Yong dapat menahan golok Kui Hwa dan pada satu saat yang baik ketika kaitannya dapat membuat golok gadis itu belum sampai menyerang lagi, tiba-tiba kaitan di tangan kanannya bergerak cepat ke arah dada Kui Hwa dan,

"bret!" terkaitlah baju gadis itu pada bagian dada dan terbawa kain robek itu dikaitan sehingga nampak sebagian dada gadis ini!

Bukan main terkejutnya hati Kui Hwa. Ia menjerit perlahan dan mukanya menjadi malu sekali, sesaat kemudian mukanya berubah merah sampai ke telinganya ketika ia mendengar betapa Ban Hwa Yong tertawa terkekeh-kekeh!

Pada saat itu terjadilah hal aneh yang sedetikpun tak pernah disangka oleh Kui Hwa. Terdengar bentakan nyaring dan bayangan yang cukup gesit melompat dari belakangnya dan menyerang Ban Hwa Yong dengan sebatang golok! Orang ini bukan lain adalah Un Leng! Ternyata bahwa pemuda ini marah sekali melihat Kui Hwa dipermainkan dan dihina oleh Ban Hwa Yong. Ia cepat berlari menghampiri kudanya dan dari balik pelana kuda dikeluarkannya sebatang golok besar yang tajam sekali dan ketika ia melihat betapa baju Kui Hwa terkait robek, kemarahannya memuncak.

Ia lalu menyerang hebat yang segera ditangkis pula oleh Ban Hwa Yong. Penjahat inipun tertegun sebentar karena tak disangkanya bahwa pemuda yang nampak Iemah ini ternyata pandai juga mainkan golok. Biarpun terheran-heran, Kui Hwa cepat melompat ke belakang dan membalikkan tubuhnya. Dilepasnya kain pengikat rambutnya disambung dengan saputangan lebar dan dilibatkannya kain itu pada dadanya untuk menutupi bagian tubuh yang telanjang itu. Kemudian ia cepat menengok dan melihat betapa Un Leng mempertahankan diri mati-matian dari desakan sepasang kaitan di tangan Ban Hwa Yong yang lihai.

Berdebar aneh dada Kui Hwa ketika ia menyaksikan bahwa betapapun juga, pemuda sasterawan yang disangkanya hanya seorang kutu buku yang lemah itu ternyata memiliki ilmu silat yang tidak rendah! Akan tetapi senjata di tangan penjahat itu benar-benar berbahaya sekali dan keadaan Un Leng juga sudah mulai terdesak, maka Kui Hwa lalu melompat maju dan kini goloknya menyambar-nyambar bagaikan setan maut mengancam nyawa Ban Hwa Yong. Penjahat ini sekarang tak dapat tertawa lagi. Menghadapi dua orang ini, benar-benar ia merasa kewalahan dan setelah melawan sampai empat puluh jurus dalam waktu mana keselamatannya terancam hebat ia lalu melompat dan melarikan diri. Kui Hwa yang marah sekali hendak mengejar akan tetapi Un Leng berkata.

"Tak usah dikejar lawan yang sudah kalah dan ketakutan!"

Kui Hwa tidak jadi mengejar Ban Hwa Yong dan memandang kepada Un Leng dengan pandang mata kagum. Un Leng menyimpan kembali goloknya di bawah sela di atas kudanya kemudian ketika ia kembali kepada Kui Hwa ia berkata,

"Maaf bahwa aku terpaksa memperlihatkan kebodohanku nona."

"Saudara Siok Un Leng, mengapa kau selama ini berpura-pura tidak mengerti ilmu silat? Kepandaianmu cukup baik dan.......mengapa kau menyembunyikan kepandaian itu padaku?"

Un Leng tersenyum.

"Tak ingatkah betapa aku tidak suka akan kekerasan? Aku mempelajari ilmu silat hanya untuk penjagaan diri seperti yang tadi telah kulakukan menghadapi penjahat itu, bukan sekali-kali untuk kusombongkan dan kujadikan alat mencari permusuhan. Tidak nona, aku lebih suka menggerakkan tangkai pena daripada menggerakkan golok yang mengerikan itu!"

Kui Hwa memandang kagum dan hatinya merasa girang sekali. Inilah pemuda yang patut dipercayainya dan yang akan dapat melindunginya selama hidupnya.

"Saudara Un Leng....... kalau aku tahu......"

"Nona, setelah sekarang kau mengetahui keadaanku, biarlah di sini kuulangi pinanganku dahulu. Bagaimana? Sudikah kau menerimaku sebagai suamimu? Kita menjauhkan diri dari segala urusan dunia, kita pindah ke tempat aman, mendirikan rumah tangga yang aman dan damai, tidak mengenal tajamnya senjata. Sudikah kau...?" Sambil berkata demikian dengan mesra dan halus, pemuda itu melangkah maju dan memegang tangan Kui Hwa. Untuk sesaat gadis itu memandang mesra. Akan tetapi tiba-tiba ia teringat kepada Tiong Kiat.

Direnggutnya tangannya dan ia berkata,

"Tidak........ tidak! Jangan dekati aku Un Leng ...... aku....... aku tidak berharga......!" ia lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis!

"Nona apakah kau akan maksudkan kepergianmu dari Kim liong.pai, minggat bersama dengan ji-suhengmu (kakak seperguruan kedua)? Itukah yang kauanggap bahwa kau tidak berharga lagi?"

Kui Hwa terkejut dan memandang dengan mata basah!

"Apa ....? Kau sudah tahu akan hal itu?"

Un Leng mengangguk,

"Sebelum kembali ke Heng-yang di kota raja aku telah mendengar akan hal itu. Peristiwa yang terjadi di Gunung Liong-san, mengenai diri anak-anak murid Kim liong-pai yang terkenal tentu saja mudah tersiar di kalangan kang-ouw. Aku teIah mendengarnya semua, nona, tak perlu kau menuturkannya lagi."

"Kau........ kau sudah tahu selama ini . .dan kau ....... tidak memandang rendah dan hina kepadaku........?"

Un Leng tersenyum.

"Kalau aku memandang rendah, apakah aku mau mendekatimu, menyuruh ibuku meminangmu sebagai istriku?"

Makin deras air mata mengalir dari mata Kui Hwa,"Saudara Siok...... aku bukan seorang baik-baik, aku telah menjalankan kesesatan bersama manusia jahanam yang menjadi suhengku itu, aku telah meninggalkan suhu meninggalkan ayah, membatalkan pertunanganku dengan twa suheng secara paksa ....aku gadis tak tahu malu, yang sudah melanggar kesusilaan, aku tak berharga lagi. ...tahukan kau akan semua ini?"

Un Leng berkata sungguh-sungguh.

"Aku sudah tahu, nona, akan tetapi aku tidak menganggap kau tidak berharga. Seorang yang sudah sadar dari pada kesesatannya adalah seorang bijaksana. Aku mengagumimu dan aku" aku tertarik dan cinta padamu."

Saking terharunya Kui Hwa lalu menubruk kaki Un Leng, berlutut sambil menangis. Ia berterima kasih sekali, juga terharu dan girang karena selama berkenalan, ia maklum bahwa hatinya telah jatuh pula terhadap pemuda ini. Un Leng menarik napas panjang dan mengelus-elus rambut Kui Hwa, membiarkan kekasihnya melepaskan tekanan batin dengan air matanya.

Post a Comment