"Tak usah diserahkan penjaga kota, biarlah aku dan pembantu-pembantuku menyelesaikan urusan ini. Percayalah, tak lama lagi akan kubawa kepala perampok she Gak itu kehadapan jiwi taijin!"
Setelah berkata demikian Kui Hwa lalu menghampiri anak buahnya yang buntung telinganya itu. Setelah mendapat perawatan kawan-kawannya, orang ini siuman kembali.
"Berapa banyak kiranya jumlah gerombolan itu?" tanyanya.
"Maaf, pangcu hamba kurang jelas akan tetapi sedikitnya tentu ada tiga puluh orang." jawab anggauta Sorban Merah itu.
"Pangcu, apakah aku harus mengumpulkan kawan-kawan yang bertugas di berbagai tempat?" tanya seorang thauwbak.
"Tidak usah, berapa orang yang berada disini?"
"Hanya ada sembilan orang dengan pangcu sendiri."
"Sudah cukup, mari kita berangkat!" Jawab Kui Hwa dengan gagah. Gadis itu bukan menyombong akan tetapi karena ia melihat bahwa di antara delapan orang anak buahnya. Yang empat adalah thauwbak-thauwbak yang telah menerima latihan-latihan ilmu golok darinya. Baginya lebih baik membawa empat orang thauwbak ini dari pada membawa empat puluh orang anggauta biasa yang ilmu goloknya masih rendah.
Beramai-ramai sembilan orang ini berlari cepat menuju ke sebelah barat kota. Ketika mereka tiba di gerbang kota, sudah terdengar oleh mereka jerit tangis penduduk yang diganggu oleh para penjahat Sorban Biru itu. Bukan main marahnya Kui Hwa mendengar ini. Ia mengerahkan kepandaiannya berlari cepat sehingga kawan-kawannya tertinggal jauh. Begitu ia tiba di tempat kerusuhan itu, gegerlah keadaan di situ di antara penjahat.
Setiap kali melihat seorang penjahat bersorban biru, golok di tangan Kui Hwa menyambar dan menjeritlah penjahat itu dan terguling roboh dengan tubuh hampir terbelah dua! Empat orang penjahat telah menjadi korban golok Kui Hwa dan tiba tiba dari sebuah rumah melompat keluar seorang laki-laki pendek besar yang berseru keras.
"Bangsat wanita! Kaukah yang bernama Can Kui Hwa dan yang telah membunuh suteku Teng Sun?"
Kui Hwa memandang orang itu dengan penuh perhatian. Ia adalah seorang laki-laki yang bertubuh agak pendek, akan tetapi tegap dan nampaknya bertenaga besar. Sorban serta ikat kepalanya berwarna biru, demikianpun celananya, sedangkan bajunya berwarna putih dengan garis-garis merah. Senjata yang dipegangnya adalah sebatang tongkat bercabang. Inilah dia Kim-pa-cu Gak Kun yang namanya amat terkenal dan yang oleh anak-anak buah Sorban Merah disohorkan memiliki ilmu silat yang amat tinggi.
Kui Hwa sebenarnya tentu saja lebih pandai memainkan pedang dari pada permainan golok. Memang ia adalah anak murid Kim Liong pai yang khusus mendapat pelajaran ilmu pedang Ang coa kiamsut yang lihai. Akan tetapi gadis ini setelah ditinggalkan oleb Tiong Kiat, menjadi sadar dan insaf akan kesesatannya. la maklum bahwa sebagai seorang murid Kim liong-pai, ia telah melakukan pelanggaran besar sekali. Sering kali setiap malam ia menguras air mata dari kedua matanya karena menyesal dan merasa berdosa serta malu, terutama sekali terhadap ayahnya dan suhunya, Lui Thian Sianjin.
Oleh karena itu, ia merasa malu untuk mengaku sebagai murid Kim liong pai lagi. Ia anggap dirinya terlampau hina dan rendah menjadi murid Kim-liong.pai dan kalau ia masih memegang pedang serta mainkan ilmu silat Ang-coa-kiamsut, maka itu berarti bahwa ia hanya akan mengotori dan mencemarkan nama Kim-Liong pai dan ilmu pedang Ang-coa kiamsut belaka! Oleh karena inilah yang terutama sekali maka ia lalu berganti senjata dan melatih ilmu golok ciptaan sendiri berdasarkan ilmu pedang Ang-coa-kiamsut!
Kini menghadapi laki laki bersorban biru yang menjadi suheng dari Teng Sun, ia lalu membentak.
"Kaukah yang bernama Kim-pa cu Gak Kun? Kalau kau berdiam di hutan melakukan pekerjaan merampok, itu masih tidak apa, akan tetapi sekarang kau memimpin orang-orangmu untuk mengganggu Heng yang, apakah kau sudah bosan hidup? Mari kuantar kau menjumpai adikmu Hek pa cu!"
Marahlah Gak Kun mendengar ucapan ini.
"Perempuan sombong! Kalau kau minta maaf kepadaku dan suka turut ucapanku, aku Kim pa cu masih sayang akan kecantikanmu. Serahkan kedudukan pangcu dari Perkumpulan Sorban Merah kepadaku dan kau akan kuangkat menjadi permaisuriku!"
"Anjing tak tahu malu!" bentak Kui Hwa yang menjadi merah mukanya. Ia lalu mengayun goloknya dan menyerang dengan sengit. Gak Kun menangkis dengan tongkatnya yang istimewa itu dan bertempurlah mereka dengan serunya. Pertempuran itu demikian hebatnya dan senjata mereka berkelebatan mengerikan sehingga para anak buah Gak Kun dan para anggauta Sorban Merah hanya berani menonton dari jauh. Dengan berdebar kedua fihak ini menonton pertempuran yang dilakukan oleh ketua masing-masing dengan senjata siap di tangan!
Segera Kui Hwa mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian orang she Gak ini jauh lebih tinggi daripada kepandaian Teng Sun. Tongkat bercabang pada gagangnya itu betul-betul lihai sekali karena gagangnya dapat dipergunakan untuk menangkis golok dan ujung tongkat itu bergerak cepat dengan serangan-serangan totokan keatas jalan darah. Ternyata bahwa orang she Gak ini telah mempelajari thiam hoat (ilmu menotok jalan darah) yang lihai. Kui Hwa berlaku hati-hati sekali dan memutar goloknya untuk melindungi tubuh dan melakukan serangan balasan yang cukup menggetarkan hati Gak Kun.
Kepala Sorban biru ini benar-benar tak pernah mengira bahwa gadis ini benar-benar luar biasa pandainya. Ia harus mengakui bahwa dalam hal ilmu meringankan tubuh, ia masih kalah. la kalah gesit dan gerakan senjatanya kalah cepat, tetapi Gak Kun masih dapat melawan mengandalkan dua macam kepandaiannya yang istimewa, yakni menotok dan menendang. Tendangannya ini adalah ilmu tendang yang mirip dengan Soan-hong-twi (tendangan kitiran angin) yang dilakukan bertubi-tubi dengan kedua kaki bergantian sedangkan tongkatnya tetap digerakkan mengancam dari atas!
Dengan seruan keras sekali Gak Kun yang menjadi penasaran karena semua serangannya dapat digagalkan oleh lawannya, tiba-tiba mengayun kaki kirinya menendang dengan hebat. Tendangan yang dilakukan ahli ini berbahaya sekali karena dikerahkan dengan penuh tenaga. Tendangan ke arah dada ini dielakkan oleh Kui Hwa dengan miringkan tubuh ke kiri sambil menggeser kaki kiri ke depan, goloknya diputar di atas kepala dengan sikap mengancam tubuh atas lawannya, akan tetapi sebetuInya gadis ini sedang melakukan gerakan yang disebut Naga Sakti Menyabetkan Ekornya dengan berlaku lambat sambil menanti tendangan susulan lawan.
Benar saja, ketika tendangan kirinya tidak berhasil mengenai lawan Gak Kun berseru lagi dan tiba-tiba ketika kaki kirinya turun ke atas tanah, tendangan kanannya menyusuI cepat dibarengi dengan totokan tongkatnya pada pundak gadis itu. Inilah yang dinanti-nanti oleh Kui Hwa dalam gerakannya Naga Sakti Menyabetkan ekornya tadi. Begitu melihat kaki kanan bergerak, goloknya yang diputar-putar di atas kepala itu lalu menyambar cepat ke bawah, membabat dan menyambut tendangan kaki kanan lawan. Tubuhnya ditarik ke bawah dan kaki kanannya secepat kilat menendang pergelangan tangan kanan lawan yang sedang menusukkan tongkat itu! Bukan main hebatnya serangan balasan dari Kui Hwa ini.
Gerakan gadis ini demikian tiba-tiba dan tak tersangka-sangka sehingga Gak Kun tak dapat menolong dirinya lagi. Biarpun ia berusaha menarik kembali kakinya dengan cepat, namun tetap saja golok itu mengejar kakinya. Hampir berbareng dengan ujung kakinya yang berhasil menendang pergelangan tangan lawannya, ujung goloknya juga berhasil mencium betis Gak Kun! Kim pa cu Gak Kun menjerit keras dan sambil melepaskan tongkatnya, tubuhnya jatuh terguling dalam keadaan pingsan! Kaki kanannya hampir-hampir putus karena sabetan golok itu sedangkan pergelangan tangannya juga pecah tulangnya karena tendangan Kui Hwa!
Kemudian Kui Hwa mengamuk hebat. Para penjahat Sorban Biru tadinya masih hendak melawan dan mengeroyok, mengandalkan jumlah yang lebih banyak. Akan tetapi begitu Kui Hwa dan delapan orang pembantunya menyerbu, pihak sorban biru dibabat dengan mudah bagaikan orang membabat rumput saja! Larilah penjahat-penjahat itu pontang-panting, sebagian besar cepat membuang senjata dan berlutut minta ampun. Dengan kemenangan besar ini, Kui Hwa menyuruh anak buahnya membawa para tawanan ke kota. Namanya makin terkenal dan dipuji-puji orang, dan semenjak hari itu, tidak pernah ada penjahat yang berani mencoba-coba mengganggu kota Heng Yang lagi. Juga barang barang yang dikawal oleh anggauta sorban merah, selalu tidak terganggu perampok di jalan.
Nama Can Kui Hwa sebagai seorang pangcu (ketua) yang cantik dan gagah, terdengar sampai jauh, karena tiap pelancong atau pedagang yang telah datang mengunjungi kota Heng yang setelah pergi meninggalkan kota itu, tentu menceritakan hal nona itu kepada para kenalannya. Diantara para pelamar di kota Heng-yang terdapat seorang sasterawan muda she Siok yang tampan dan sopan santun. Siok kongcu ini telah menempuh ujian di kota raja dan lulus dengan baik sehingga ia mendapat gelar siucai, akan tetapi oleh karena di dalam hatinya pemuda terpelajar ini amat benci melihat pembesar-pembesar yang melakukan korupsi dan tidak melakukan tugasnya dengan baik, ia tidak mau menerima pengangkatan dan tidak mengejar kedudukan, sebaliknya bahkan kembali ke Heng-yang di mana ia hidup dengan ibunya yang telah janda.
Siok siucai, lengkapnya siok Un Leng, mencari nafkah hidupnya dengan mengajar anak-anak di kota itu. Ia bekerja membuka sebuah sekolah di rumahnya mengajar membaca dan menulis pada anak-anak dengan mendapat upah yang sederhana. Sesungguhnya diantara sekian banyak pemuda yang mengaguminya, hanya Siok-siucai saja yang menarik hati Kui Hwa. Pemuda tampan, berpemandangan luas, sikapnya halus dan sopan santun, pendeknya seorang calon suami yang baik sekali. Akan tetapi yang mengecewakan hati Kui Hwa dan yang membuat ragu-ragu adalah bahwa pemuda ini tidak mengerti ilmu silat! Memang harus ia akui bahwa begitu melihat pemuda she Siok yang baru beberapa bulan datang dari kota raja ini, hatinya sudah amat tertarik.
Memang Siok Un Leng baru sebulan lebih datang dari kota raja dan secara kebetulan saja ia melihat Kui Hwa menunggang kuda lewat di depan rumahnya. Dan keesokan harinya, pemuda ini lalu minta kepada ibunya untuk melamar gadis itu! Tentu saja ibunya terkejut bukan main.
"Leng-ji (anak Leng), apakah kau sudah gila? Kau tidak tahu siapa gadis itu? Dia adalah Can-pangcu, ketua dari Sorban Merah!"
Un Leng tersenyum.
"Habis mengapa ibu? Apakah dia bukan manusia?
"Tentu saja dia manusia, bahkan manusia yang Iebih mulia dari pada orang kebanyakan! Dia seorang gagah perkasa, berpengaruh dan menjadi pangcu dari sebuah perkumpulan orang gagah. Bagaimana aku berani meminang untukmu? Leng-ji, lebih baik kucarikan nona yang lebih sesuai untukmu, yang pandai menyulam dan membaca, bukan seperti Can-pangcu yang pandai mainkan golok!"
"Tidak, ibu. Melihat nona itu, aku tahu bahwa dialah orang yang akan dapat membahagiakan anakmu."
Ibunya menghela napas panjang,
"Aneh sekali kau ini, Leng-ji. apakah kau tidak takut melihat goloknya yang tajam?"
Mendengar ini Un Leng tertawa bergelak sehingga ibunya menjadi terheran. Puteranya ini agaknya telah berobah semenjak lima tahun pergi ke kota raja!
"Ibu ini aneh-aneh saja. Kalau Can-siocia memang algojo yang biasa menyembelih orang barangkali akupun tidak takut. Apa lagi dia seorang berhati mulia dan gagah perkasa seperti ibu katakan tadi. Sudahlah ibu, tolonglah anakmu dan pinanglah dia."
"Aku tidak berani, anakku. Kita orang miskin, bagaimana aku harus melamar seorang yang kaya raya dan berpengaruh seperti Can Siocia?"
Akan tetapi Un Leng membujuk terus sehingga akhirnya berangkatlah ibu yang mencinta anaknya ini, mengajukan pinangan kepada Kui Hwa. Di luar dugaannya semula, nona ini menerimanya dengan penuh penghormatan dan dengan muka merah kemalu-maluan. Nona ini tidak menolaknya mentah-mentah hanya menyatakan bahwa ia belum ingin mengikat diri dengan perjodohan dan mohon kepada nyonya itu agar supaya tidak kecewa dan menyesal. Setelah tiba di rumah, ibu ini mengomeli puteranya.
"Kau membikin malu ibumu saja! Nona Can begitu baik dan ramah tamah. Biarpun ia tidak menolak dengan kasar, akan tetapi alasannya belum ingin menikah itu telah merupakan penolakan yang halus."
Akan tetapi Un Leng tidak putus harapan. Pemuda yang lama tinggal di kota raja ini memang seorang pemberani dan tanpa malu-malu dia lalu mengunjungi rumah perkumpulan sorban Merah untuk berkenalan dengan Can pangcu! Tentu saja Kui Hwa merasa terkejut dan heran sekali melihat keberanian pemuda ini. Timbul kemarahan di dalam hatinya karena ia mengira bahwa pemuda ini tentu sebangsa pemuda mata keranjang yang kurang ajar. Tidak tahunya, setelah mereka berjumpa, Un Leng bersikap sopan santun dan pemuda ini pandai sekali bercakap-cakap dan pengetahuannya luas sekali sehingga Kiu Hwa merasa suka bergaul dengan dia!
Mulailah mereka berkenalan dan tidak saja Un Leng seringkali datang berkunjung bahkan kini Kui Hwa seringkali datang ke rumah Un Leng untuk mengobrol dengan pemuda itu dan ibunya! Tentu saja nyonya Siok menjadi terheran-heran akan tetapi diam-diam nyonya ini girang sekali karena kalau Can pangcu menjadi sahabat puteranya, sedikitnya mereka akan lebih disegani oleh para tetangga.
Pada suatu hari, ketika Un Leng bercakap-cakap di rumah Kui Hwa, pemuda ini berkata,
"Nona Can, kuharap kau tidak berkecil hati dan tidak mengira yang bukan-bukan ketika ibuku datang mengajukan pinangan kepadamu. Sesungguhnya terus terang saja aku mengagumimu sebagai seorang gadis gagah perkasa yang berani memimpin perkumpulan besar ini. Kau patut dipuji dan penolakan dulu tidak mengecilkan hatiku. Dapat menjadi sahabatmu saja sudah merupakan hal yang amat membahagiakan hatiku."