Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 59

Memuat...

ketua itu dan banyak mulut anak buah perkumpulan itu pun berteriak bohong karena mereka sama kali tidak melihat kelainan pada ketua mereka.

"Aku tidak bohong! Dia bukan sahabatku Koai-tung Sin-kai, akan tetapi ia adalah Lam-san Hui-houw seorang Datuk sesat dari selatan!" Kembali teriakan ini membuat semua orang tertegun, dan diam-diam ketua Ang-kin Kai-pang terkejut bukan Main, bahkan dia tidak dapat mencegah wajahnya yang berubah pucat. Akan tetapi cepat dia memutar tongkatnya dan seru, "Bohong! Jembel busuk itu menyebar fitnah, dia bohong besar!" Berkata demikian, sekali meloncat tubuhnya telah mencelat ke atas wuwungan dan dengan beringas dia menyerang Sin-ciang Kai-ong dengan tongkatnya.

"Dukkk!" Sebatang tongkat lain menangkisnya dan tiba-tiba saja di atas wuwungan itu, di dekat Sin-ciang Kai-ong, berdiri seorang kakek lain yang bukan lain adalah Koai-tung Sin-Kai sendiri! Semua orang mengeluarkan seruan kaget melihat munculnya seorang kakek lain yang wajah dan tubuhnya persis sekali dengan ketua mereka! Hanya bedanya, kalau ketua mereka mengenakan pakaian tambal tambalan yang bersih dan indah, sebaliknya kakek yang baru muncul itu pakaiannya compang-camping dan butut, juga rambut brewoknya tidak terawat, berbeda dengan rambut dan brewok ketua mereka yang mengkilat oleh minyak! Tangkisan itu membuat ketua Ang-kin Kai-pang loncat turun lagi dari atas genteng, sedangkan Sin-ciang Kai-ong dan kakek yang baru muncul itu masih berdiri atas genteng.

"Nah, Saudara-saudara para anggota Ang-kin Kai-pang. Inilah Koai-tung Sin-kai yang aseli, ketua kalian yang sejati! Selama ini dia ditangkap oleh Lam-san Hui-houw dan belasan orang anak buahnya itu, ditawan didalam kamar bawah tanah sedangkan dia sendiri menyamar sebagai ketua kalian dan menyeret kalian ke dalam lembah kejahatan!" Sin-ciang Kai- ong berseru nyaring.

"Saudara-saudara sekalian, harap kalian mundur dan biarlah kami yang akan menangkap penjahat-penjahat ini!" terdengar suara Koai-tung Sin-kai yang aseli dan kini para anggauta Ang-kin Kai-pang menjadi semakin ragu. Suara kakek yang baru muncul itu memang suara khas dari ketua mereka yang dahulu! Maka, para anggauta Ang-kin Kai-pang lalu mundur dan membentuk lingkaran besar. Yang tidak mundur hanyalah ketua Ang-kin Kai-pang dan lima belas orang pembantunya, juga Han Beng yang masih berdiri di situ, kagum melihat sepak terjang gurunya yang ternyata telah berhasil membebaskan Koai-tung Sin-kai yang aseli. Kini dua orang kekek itu melayang turun dari atas genteng dan dengan ringan mereka hinggap di atas tanah. Han Beng segera bergabung dengan mereka.

Melihat betapa rahasianya telah terbuka, diam-diam Lam- san Hui-houw menjadi menyesal dan juga baru dia tahu bahwa sikap pemuda yang mengamuk tadi merupakan siasat untuk memancing dia dan semua pembantunya keluar, sementara itu, Sin-ciang Kai-ong agaknya menyelinap ke bawah tanah dan membebaskan Koai -tung Sin-kai dan para pembantunya! Karena rahasianya telah bocor dan dia merasa terdesak ke sudut, Lam-san Hui-houw menjadi marah dan nekat.

"Bunuh mereka!" teriaknya kepada lima belas orang pembantunya. Akan tetapi pada saat itu, dari atas genteng berlompatan sembilan orang pengemis yang pakaiannya compang-camping. Mereka ini adalah para pembantu Koai- tung Sin-kai yang aseli, yang sudah dibebaskan pula oleh Sin- ciang Kai-ong.

Melihat betapa pihak lawan sudah bergerak, Sin-ciang Kai- ong berkata kepada pada sahabatnya, "Lo-koai, engkau dan para pembantumu basmi saja anak buah penjahat itu, serahkan Macan Terbang ini kepada muridku dan aku!"

"Baiklah, Lo-kai, akan tetapi sebaiknya jangan bunuh dia. Ingin aku menyerahkan dia kepada Phoa Tai-jin, sahabatku dan pejabat yang jujur dan adil di kota raja ini!" jawab Koai- tung Sin-kay.

"Han Beng, tangkap ketua palsu itu!" Mendengar perintah gurunya, Han Reng lalu maju menyambut Lam-san Hui-houw yang sudah memutar tongkat ularnya.

Terjadilah perkelahian yang seru antara mereka. Kini barulah Han Beng mencurahkan seluruh kepandaian dan perhatiannya kepada ketua palsu ini sehingga lambat laun dia mulai mendesak ketua palsu itu yang selalu main mu¬dur.

Sementara itu, Koai -tung Sin-kai yang aseli dibantu sembilan orang pembantunya, dengan mudah saja membabat lima belas orang pembantu penjahat sehingga mereka roboh malang melintang terkena hantaman tongkat-tongkat para pimpinan Ang-kin Kat-pang yang aseli. Kalau dulu Koai-tung Sin-kai sampai dapat ditawan adalah karena dia diserang secara tiba-tiba oleh Lam-san Hui-ho yang menjadi tamunya, lalu dikeroyok pula. Dan setelah dia ditawan, tentu saja para pembantunya dengan mudah dan ditangkapi. Andaikata Lam- san Hui-ho yang datang sebagai tamu itu tidak mempergunakan siasat busuk, belum tentu dia akan mampu menangkap Koai- tung Sin-kai yang mempunyai banyak anak buah dan dia sendiri pun memiliki ilmu kepandaian tinggi dan belum terima dia kalah oleh Lam-san Hui-houw.

Melihat betapa para pembantu penjahat itu telah roboh semua, sedangkan muridnya sudah mendesak hebat kepada Lam-san Hui-houw, Sin-ciang Kai-ong lalu melompat ke depan dan dengan tangan kirinya dia mengirim tampar kepada Lam- san Hui-houw yang sudah repot menahan desakan Han Beng. Lam-san Hui-houw cepat melempar tubuhnya belakang dan memutar tongkatnya, akan tetapi sinar hitam dari tongkat butut tangan kanan Sin-ciang Kai-ong menyambar dan di lain saat, datuk sesat terguling dan tidak mampu melawan lagi. Dia maklum bahwa dia takkan mampu nelawan lagi, maka dia pun segera bangkit dan melempar tongkatnya.

"Aku menyerah kalah!"

Melihat sikap ini, Sin-ciang Kai-ong menyuruh muridnya mundur dan dia pun tertawa. "Bagus, orang yang tahu diri, tahu pula akan kesalahannya, masih ada kemungkinan kembali ke jalan benar."

Akan tetapi, Lam-san Hui-houw tidak menjawab, hanya memandang dengan mata muram.

"Bagaimanapun juga, dia telah merusak rumah baik Ang-kin Kai-pang. Tidak akan mudah mengangkat kembali nama Ang- kin Kai-pang setelah dibikin cemar olehnya untuk dosa itu, dia harus mempertanggungjawabkannya dan aku akan menyeretnya ke depan kaki Phoa-taijin agar dia dihukum sesuai dengan dosa-dosanya!" kata Koai-tung Sin-kai, sementara itu, para anggauta Ang-kin Kai-pang kini sudah Menjatuhkan diri berlutut menghadap ketua mereka yang aseli.

"Kami telah berbuat dosa, mentaati perintah ketua palsu yang mengubah jalan hidup kami, kami mohon ampun kepada Pangcu, dan kami siap menerima hukuman!" kata seorang anggauta pengemis tua, mewakili kawan-kawannya.

Koai-tung Sin-kai menarik napas panjang. "Sudahlah, kalian telah tertipu tidak tahu bahwa dia bukan aku. Akan tetapi, biarlah semua itu menjadi pengalaman dan pelajaran bagi kalian dan jangan mudah diselewengkan orang kemudian hari!"

Pada saat itu, tiba-tiba Lam-san houw bergerak secepat kilat menyerang kepada Koai-tung Sin-kai dengan sebatang pisau yang tadi disembunyikan diikat pinggangnya. Serangan kilat ini tentu akan menewaskan Koai-tung Sin-kai kalau saja Han Beng tidak segera bertindak. Pemuda ini memang sejak tadi bersikap waspada. Dia selalu memperhatikan Lam-san houw yang berwajah muram dan dia melihat pula kilatan cahaya pada sepasang mata itu, kilatan sinar penuh kebencian dan kekejaman yang ditujukan kepada gurunya dan ketua Ang-kin Kai-pang. Pemuda ini memang sudah mengkhawatirkan kalau-kalau datuk sesat yang sudah tersudut itu akan menjadi nekat. Oleh karena itu, begitu tangan Lam-san Hui-houw bergerak dan nampak sinar pisau berkilauan dan penjahat itu menyerang kepada Koai-tung Sin- kai, Han Beng sudah meloncat ke depan dan tongkatnya sudah menghantam ke arah pergelangan tangan yang menyerang dengan pisau itu.

"Takk!" Pukulan itu keras sekali sehingga lengan Lam-san Hui-houw patah, pisaunya terpental. Melihat ini, Koai-Tung Sin-kai cepat menggerakkan tongkatnya dan dia pun sudah menotok roboh jahat itu! "Ah, terima kasih Tai-hiap. Kalau tidak ada Tai-hiap yang mencegah, tentu aku sekarang telah tewas di tangan penjahat itu," kata Koai-tung Sin-kai kepada Han Beng, lalu menoleh kepada Sin-Ciang Kai-ong. "Lo-kai, muridmu memang hebat sekali!"

Sin-ciang Kai-ong tertawa. "Aku sendiri tidak menduga akan gerakan jahanam itu, masih untung muridku tidak lengah. Akan tetapi, kami tidak ingin terlibat lebih mendalam, Lo-koai, maka perkenankan kami pergi. Mari, Han Beng kita pergi karena ada yang menunggu kita."

Han Beng teringat akan Souw Hui Im yang menanti di dalam hutan, maka dia pun mengangguk.

"Lo-kai, mengapa tergesa-gesa? Aku masih belum sempat membalas budimu, Dan masih kangen untuk bercakap-cakap denganmu!" Koai-tung Sin-kai mencoba untuk menahan.

"Engkau masih banyak urusan, Lo-koai, mengurus penjahat-penjahat ini dan memulihkan nama baik perkumpulanmu. Biarlah lain kali kita berjumpa lagi. Mari, Han Beng." Guru dan murid ini lalu meninggalkan kota raja dan memasuki hutan di mana Hui Im menanti dengan sabar. Ia menyambut dengan sinar mata penuh harapan ketika dua orang penolongnya itu muncul kembali di hadapannya.

"Bagaimana, Twako? Apakah Twako dan Lo-Cian pwe berhasil membasmi para pengemis jahat itu?” Tentu saja gadis ini mengharapkan agar kematian ayahnya dan susioknya (paman gurunya) dapat terbalas. Guru dan murid itu mengajak Hui duduk di atas rumput, kemudian Sin-cia Kai-ong menyuruh muridnya untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Hui Im terkejut dan terheran-heran mendengar cerita itu, dan akhirnya dara itu menarik napas panjang. "Aih, kiranya mereka itu pimpinan Ang-kin Kai-pang yang palsu! Pantas telah terjadi perubahan besar dalam sikap para anggautanya selama setahun ini Kini Ji-wi telah dapat membongkar rahasia itu dan mengembalikan Ang-ki Kat-pang ke jalan yang benar seperi dahulu. Akan tetapi Ayah dan

Susiok telah berkorban nyawa……"

"Ha, anak baik. Ketahuilah bahwa kalau Thian sudah menghendaki seseorang itu harus mati, tidak perlu dia itu anak kecil atau orang tua, sehat atau sakit, dia sudah pasti akan tewas! Sebab kematiannya hanyalah menjadi jembatan saja, dan jembatan itu dapat berupa penyakit, kecelakaan, perkelahian dan sebagainya lagi. Ayahmu dan Susiokmu memang sudah seharusnya mati, sudah dikehendaki Thian, maka tidak perlu engkau merasa penasaran lagi. Setidaknya, engkau boleh berbesar hati bahwa Ayah dan Susioknya tewas sebagai orang-orang gagah!"

"Siauw-moi, apa yang dikatakan Suhu memang benar sekali. Kita boleh saja berusaha sekuat tenaga untuk menjaga diri ini, namun kalau Thian sudah menghendaki kita meninggalkan dunia ini, ada saja yang menjadi penyebabnya dan kita tidak perlu merasa penasaran lagi, Siauw-moi."

Gadis itu menyusut air matanya dan mengangguk. "Aku dapat mengerti, dan terima kasih kepada Lo-cian-pwe dan kepadamu, Beng-twako. Aku akan berusaha untuk melenyapkan atau setidaknya melupakan kedukaan ini."

Tiba-tiba Sin-ciang Kai-ong tertawa. Watak aneh dari pengemis tua ini sudah diketahui Hui Im, apalagi Han Beng maka mereka tidak merasa heran lagi dan mereka memandang kepada kakek itu.

"Kedukaan tidak dapat dilupaka Yang dapat dilupakan itu tentu akan teringat kembali. Kita tidak mungkin dapat lari dari duka, karena yang berduka itu adalah kita sendiri, batin kita sendiri. Bagaimana mungkin kita dapat lari dari diri kita sendiri? Duka bukan sesuatu yang terpisah dari kita. Duka adalah suatu kenyataan yang harus kita hadapi, kalau kita ingin agar kita dapat bebas seluruhnya daripada duka, bukan bebas dari duka yang ini atau yang itu. Duka adalah suatu keadaan dari batin kita sendiri, disebabkan oleh pikiran kita sendiri, ditimbulkan oleh perasaan iba diri yang berlebihan."

"Lalu bagaimana kita harus berbuat agar terlepas daripada duka, Lo-cian-pwe?" tanya Hui Im.

"Duka adalah kita, maka tidak mungkin kita, yang terdiri daridarahdan daging dan pikiran ini, yang menginginkan ini dan itu, termasuk keinginan bebas dari duka, dapat membebaskan diri sendiri dari duka. Kita harus menghadapi duka itu, menerimanya sementara memuji atau mencelanya, menerimanya sebagai suatu kewajaran, mengamatinya dengan penuh kewaspadaan dan terutama sekali, kita menyerahkan segalanya kepada Thian! Sikap menyerah dengan penuh kepercayaan akan kekuasaan Thian inilah yang akan memberi kekuatan kepada kita untuk menerima kenyataan seperti apa adanya, termasuk menerima apa yang kita namakan duka seperti sesuatu yang nyata dalam diri kita. Tanpa mengeluh, tanpa menolak, tanpa mengejar. Kekuasaan Thian akan membuka mata kita, mendatangkan kewaspadaan bahwa duka dan suka itu sama, saja! Itu hanya merupakan permainan si-aku, pikiran yang selalu mendambakan kesenangan dan menjauhi kesusahan. Pikiran kita selalu dijadikan medan perang sementara pencarian kesenangan dan penghindaran kesusahan, maka kita terombang-ambing antara susah senang, suka duka yang tiada hentinya sepanjang hidup! Mengertikah engkau, Nona?"

Hui Im hanya mengerti sedikit! "Aku akan mencoba untuk merenungkannya dan mudah-mudahan Thian akan memberi kewaspadaan itu kepadaku, Lo-cian-pwe.”

"Bagus, nah sekarang bagaimana dengan engkau, Nona? Keluargamu sudah binasa, akan tetapi karena kini Koai-tung Sin-kai sedang berusaha memperbaiki Ang-kin Kai-pang, kuyakin bahwa rumah orang tuamu akan dapat diperbaiki dan dikembalikan kepadamu. Nah, langkah apa yang akan kaulakukan sekarang?"

Mendengar pertanyaan kakek pengemis yang aneh itu, Hui Im menarik napas panjang. "Lo-cian-pwe, aku sudah tidak ingin kembali lagi ke rumah ayahku, karena hal itu hanya akan mendatangkan kenang-kenangan pahit saja.”

"Siauw-moi, kalau engkau tidak kembali ke rumahmu, lalu engkau akan pergi kemana?" Han Beng bertanya namun suaranya mengandung penuh perasaan iba.

Gadis itu memandang wajah Han Beng "Twako, aku ingin mencari Pamanku, adalah kakak dari mendiang Ibuku, namanya Tang Gu It dan dia tinggal di Kota Pei-shen, di Propinsi Shantung di lembah Huang-ho."

Post a Comment