Sepercik api yang merindukan Matahari Setetes air yang merindukan samudera Setelah menyanyikan sajak itu, Sin-Ciang Kai-ong lalu tertawa terkekeh-kekeh seperti mendengar sesuatu yang amat lucu. Akan tetapi pada saat itu pendengaran Han Beng yang tajam dapat menangkap gerakan atau langkah kaki banyak orang dari jauh, juga suara mereka bicara.
Tadinya Han Beng dan gurunya menasehati agar Hui Im tinggal saja di tempat persembunyiannya, tidak ikut mereka yang berkunjung ke sarang Ang-kin Kai-pang. Akan tetapi gadis itu memaksa. "Aku kehilangan segala-galanya karena Ang-kin Kai-pang, oleh karena itu, baik dibantu oleh Ji-wi (Kalian) atau tidak, aku pasti akan menuntut balas dan menyerbu sarang Ang-km Kai pang dengan taruhan nyawa!"
Guru dan murid itu terpaksa membiarkan Hui Im ikut, walaupun hadirnya gadis itu menambah beban bagi mereka yang harus melindunginya. Ketika mereka melihat bahwa penjagaan di tempat, itu hanya dipusatkan di pintu depan, Sin- ciang Kai-ong berbisik kepada muridnya dan Hui Im bahwa mereka akan memasuki sarang itu dari tembok belakang. Pagar tembok itu cukup tinggi dan Hui Im memandang dengan ragu-ragu.
"Aku………. kukira aku tidak mampu melompatinya"
katanya lirih kepada Han Beng.
"Mari kubantu, Nona. Peganglah tanganku erat-erat!" Han Beng berkata kemudian memberi isarat agar mereka meloncat berbareng. Dengan pengerahan tenaganya, mudah saja baginya untuk menambah tenaga loncatan Hui lm sehingga keduanya melayang ke atas pagaar tembok lalu turun ke sebelah dalam.Akan tetapi, begitu tiba di dalam pagar tembok, kakek jembel itu memberi isarat agar mereka tidak mengeluarkan suara. Ternyata rumah itu dijaga ketat sekali, bahkan dikepung penjaga. Tidak ada kesempatan sama sekali bagi mereka untuk menyelinap masuk tanpa diketahui dan kalau ketahuan tentu semua anggota Ang-kin Kai-pang akan melakukan pengeroyokan sehingga mereka tidak sempat melakukan penyelidikan. Maka Sin-Ciang Kai-ong lalu memberi isarat kepada muridnya dan Hui Im untuk keluar lagi.
"Kita datang saja dari pintu," katanya.
"Tapi, Suhu. Mereka sudah mengenal kita, tentu mereka akan menyambut dengan pengeroyokan pula."
"Hemmm, andaikata dikeroyok pun kalau di luar kita lebih leluasa dan tidak ada bahaya alat-alat jebakan. Sukur kalau Koai-tung Sin-kai masih mengingat akan persahabatan antara kami dan mau keluar menemuiku."
Dengan jantung berdebar penuh ketegangan, akan tetapi sama sekali bukan karena takut, Han Beng dan Hui im mengikuti jejak jembel itu yang berjalan menuju ke pintu gerbang di mana terdapat banyak sekali anggauta Ang-kin Kai-pang. Ketika mereka bertiga tiba di depan pintu gerbang dan para pengemis itu melihat mereka, tentu saja para anggauta Ang-kin Kai-pang itu menjadi geger. Mereka segera mengenal tiga orang itu dan segera menghadapinya dengan senjata tajam seperti golok, pedang, tombak dan lain-lain. Sebagian pula memegang tongkat pengemis mereka dengan sikap mengancam. Akan tetapi, Sin-ciang Kai-ong menghadapi mereka sambil terkekeh-kekeh.
"Ha-ha-ha-ha, kalian jangan panik jangan ribut. Aku datang untuk menemui sahabat baikku, Koai-tung Sin-kai, untuk membicarakan kesalahpahaman antara kita tadi. Katakanlah kepadanya bahwa sahabat baiknya yang bernama Sin-ciang Kai-ong datang untuk bicara dengan dia!"
"Sin-ciang Kai-ong… ?" terdengar seruan-seruan di antara
mereka dengan kaget.
Tentu saja nama ini tidak asing bagi meeka, dan mereka pun merasa jerih. Kiranya kakek jembel yang amat sakti dan yang membuat mereka tadi kocar-kacir adalah Sin-ciang Kai-ong Raja Pengemis dari Propinsi Hok-kian itu! Pantas demikian lihainya, pikir mereka, kini menjadi ragu-ragu untuk lancang tangan.
"Hayo cepat kabarkan padanya, ataukah kalian mau main- main lagi dengan kami? Akan tetapi hati-hati, sekali ini aku tidak akan menggunakan tangan lunak terhadap kalian!" Dengan ancaman ini, Sin-ciang Kai-ong berhasil membuat mereka semua menjadi jerih beberapa orang lalu lari ke dalam membuat laporan.
Tak lama kemudian muncullah empat orang pengemis setengah tua yang sabuknya berwarna merah tua, tanda bahwa tingkatnya sudah tinggi. Meraka berempat itu menghadapi Sin-ciang Kai-ong dengan sikap hormat, lalu berkata, "Pangcu (Ketua) kami mempersilakan Sam-wi untuk masuk dan menghadap beliau!"
"Heh-heh-heh, sejak kapan Koai-tu Sin-kai disebut beliau seperti seorang bangsawan tinggi saja? Heh-heh-heh ingin aku melihat mukanya kalau mendengar pertanyaanku ini." Sambil terkekeh-kekeh kakek jembel itu jembel lalu mengajak Han Beng dan Hui Im untuk memasuki sarang Ang-kin Kai- pang. Tentu saja diam-diam Han Beng bersiap siaga menghadapi segala kemungkin karena siapa tahu, para pengemis hanya menjebak saja, seperti menggiring harimau ke dalam perangkap. Pemuda ini agak khawatir melihat suhunya. Suhunya itu sakit, panas dan batuk dan baru sempat makan obat satu kali saja di rumah keluarga Souw. Tentu kesehatannya belum pulih benar dan sekarang memasuki saraang harimau!
Empat orang pimpinan Ang-kin Kai-pang menjadi penunjuk jalan dan tiga yang tamu itu mengikuti mereka, memasuki sebuah ruangan besar di dalam bangunan. Ternyata isi bangunan itu mewah sekali sehingga berulang kali Sin-Ciag Kai-ong mengeluarkan suara pujian. "Wah, bukan main! Aku ini memasuki rumah para pengemis ataukah memasuki istana raja?"
Ruangan yang mereka masuki itu luas,dua puluh lima meter panjangnya lima belas meter lebarnya. Agaknya tempat ini dipergunakan untuk keperluan kalau banyak orang berkumpul, pesta, tempat atau juga berlatih silat. Di bagian pinggirnya terdapat sebuah meja panjang di mana nampak duduk lima belas orang, mengelilingi meja, dan di kepala meja duduk seorang kakek berjenggot panjang yang sikapnya berwibawa.
Begitu melihat kakek itu, Sin-ciang Kai-ong (Raja Pengemis Bertangan Sakti) segera menegur dengan suara gembira sekali, "Heiiiii! Sin-kai, sejak kapan engkau menjadi seorang raja yang kaya raya?"
Kakek itu berjuluk Koai-tung Sin-kai (Pengemis Sakti Bertongkat Setan) dan dia menyambut munculnya seorang "rekan" ini dengan sikap dingin saja tanpa bangkit berdiri, akan tetapi menjawab dengan cukup hormat, "Ah, kiranya Kai-ong yang muncul. Silakan duduk, silakan duduk!"
Han Beng yang berpenglihatan tajam itu melihat betapa sinar mata suhunya berkilat aneh mendengar sambutan itu, namun suhunya yang agaknya melihat atau mendengar sesuatu yang tidak wajar itu bersikap biasa saja, dengan bebas dan tanpa sungkan-sungkan dia pun duduk di atas sebuah kursi kosong dan memberi isarat kepada Han Beng dan Hui Im untuk mengambil tempat duduk pula. Empat orang pengawal tadi mengundurkan diri dan keluar dari ruangan luas itu. Biarpun dalam ruangan itu hanya terdapat belasan orang pimpinan Ang-kin Kai-pang yang dikepalai Koai-tung Sin-kai, namun tiga orang tamu ini maklum bahwa di luar ruangan itu sudah siap puluhan bahwa mungkin ratusan anggauta perkumpulan itu yang Kalau perlu setiap saat dapat diperintahkan menyerbu dan mengeroyok mereka. "Koai-tung, kami merasa menyesal sekali bahwa engkau dan muridmu telah menimbulkan keributan di kota raja. Kalau saja aku tidak ingat bahwa diantara kita masih ada hubungan persahabatan dan kita sama-sama menjadi pimpinan pengemis, tentu tadi kalian tidak kubiarkan masuk, dan sudah kusuruh tangkap!"
Ditegur seperti itu, Kai-ong tertawa tergelak. "Ha-ha-ha-ha, akal maling memang begitu, sebelum tertangkap lebih dulu teriak maling agar tertutup kesalahannya. Sin-kai, justeru kedatanganku ini untuk minta keterangan darimu! Muridku ini minta obat kepada toko obat milik Nona Souw ini, untuk mengobati aku yang sedang sakit. Akan tetapi muncul tiga orang anak buahmu yang melarang. Nona Souw memberi kepada muridku. Karena Nona Souw merasa terhina, maka ia lalu melawan tiga orang anak buahmu itu melarikandiri. Kemudian aku dan muridku diundang oleh keluarga Souw, dan tiba-tiba saja para pembantumu muncul bersama pasukan keamanan kota raja melakukan penyerbuan! Sekarang aku datang untuk bertanya kepadamu Sin-kai, apa artinya semua ini? Kenapa sikap anak buahmu jauh sekali dibandingkan dahulu?”
"Hemmm, tidak ada yang berubah pihak kami, Kai-ong. Engkaulah yang berubah karena engkau bersekutu dengan para pemberontak Siauw-lim-pai untuk melawan pasukan pemerintah! Sudah menjadi peraturan kami bahwa seluruh kotaraja dan wilayahnya merupakan wilayah kami, dan pengemis dari mana pun juga yang hendak mengemis disini harus mendapatkan persetujuan kami lebih dulu! Hal ini untuk mencegah terjadinya perebutan dan kesalahpahaman. Akan tetapi muridmu mengemis tanpa lebih dulu memberitahukan kepada kami, tentu saja dilarang oleh para anggauta kami."
"Aha, begitukah? Dan engkau bersekutu dengan pasukan pemerintah untuk menindas rakyat?" "Kai-ong!" Tiba-tiba Koai-tung Sin-kai bangkit berdiri dan belasan orang pembantunya juga bangkit berdiri, sikap mereka mengancam. "Lancang engkau bicara! Kami adalah golongan rakyat yang baik, bukan pemberontak, tentu saja berbaik dengan pemerintah. Kami tidak menindas rakyat, melainkan menentang para pemberontak. Aku masih menganggap engkau rekan, sama-sama pengemis, dan bahwa keributan itu kaulakukan tanpa sengaja dan karena tidak mengerti. Mengingat itu, berjanjilah bahwa engkau malam ini juga akan keluar dari kota raja dan tidak akan kembali lagi, dan aku akan membebaskan engkau dan muridmu."
Han Beng sudah merasa penasaran sekali, juga Hui Im yang memandang pada para pimpinan pengemis itu penuh kebencian mengingat bahwa merekalah yang menjadi penyebab hancurnya keluarganya dan kematian ayahnya. Akan tetapi, Kai-ong juga bangkit sambil tertawa bergelak.
"Bagus …….. , bagus ! Ini adalah wilayahmu dan engkau
yang berkuasa, Sin-kai, maka biarlah aku mengalah dan akan pergi dari kota raja ini. Nah, sampai jumpa!" Pengemis tua ini lalu menbalikkan tubuhnya, memberi isarat kepada Han Beng dan Hui Im yang masih penasaran untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu, langsung keluar dari dalam rumah besar itu. Setelah keluar dan ruangan baru nampak oleh mereka bahwa semua anggauta Kai-pang telah siap siaga dan jumlah mereka banyak kali, mungkin ada seratus orang! Melihat ini, Han Beng diam-diam memuji kecerdikan gurunya, karena kalau harus berkelahi di dalam, di mana pihak tuan rumah sudah siap siaga, mereka sendiri yang akan menderita kerugian.
Setelah keluar dari rumah itu, Kai-ong mengajak dua orang muda itu pergi ke tempat yang sunyi. Sekarang Han Beng memperoleh kesempatan untuk bertanya.
"Suhu, kenapa kita harus menuruti perintannya7" Gurunya tertawa. "Ha-ha, itu bukan perintah dari Koai-tung Sin-kai, Han Beng."
"Bukan dia? Bukankah yang berjenggot panjang tadi, yang bicara dengan suhu, adalah Koai-tung dan Suhu juga menyebutnya Sin-kai?"
"Justeru sebutan itulah yang meyakinkan hatiku bahwa dia bukan Koai-tung Sin-kai dan aku sudah bersahabat erat sekali sehingga sebutan-sebutan antara kita sudah amat bebas. Aku menyebutnya Lo-koai (Setan Tua), bukan Sin-kai dan tadi sengaja aku menyebutnya demikian untuk melihat sambutannya. dan dia menyebut aku Kai-ong (Raja jembel) padahal biasanya dia menyebutku Lo-kai (Jembel Tua). Nah, bukankah itu merupakan bukti kuat bahwa bukan sahabatku itu? Memang wajahnya mirip, jenggotnya juga mirip, akan tetapi aku yakin bukan dia! Sinar matanya juga berbeda. Orang dapat memulas dan mengubah muka untuk menyamar, akan tetapi tidak mungkin mengubah sinar-mata."
“Ah, begitukah?" Han Beng terkejut, dan Hui Im juga kaget mendengar ini. "Lalu apa yang akan Suhu lakukan sekarang?"