Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 51

Memuat...

Si Perut Gendut kini menjadi marah. Dia merasa ditantang oleh seorang gadis muda! "Hem, bagaimana kalau kami tidak mau, Nona?"

Gadis itu tersenyum dingin. "Terpaksa aku akan memaksa kalian untuk melakukannya!"

Tiga orang pengemis itu saling pandang, lalu tertawa. Si Tinggi Kurus bertanya, "Ha-ha-ha, bagaimana caranya Nona?"

"Caranya begini!" Tiba-tiba tubuh gadis itu menerjang ke depan dan sebelum Si Tinggi Kurus itu sempat mengelak atau menangkis, dua kali ujung sepatunya menendang lutut dan tangannya mendorong. Tak dapat dihindarkan lagi tubuh Si Kurus itu terjengkang, pantatnya yang tipis terbanting ke atas tanah, sehingga dia meringis kesakitan Debu mengepul dan gadis itu berkata, "Nah, ambillah bungkusan itu!"

Dua orang temannya menjadi terkejut bukan main. Sungguh mereka tidak menyangka akan ada orang berani menjatuhkan seorang di antara mereka dan yang berani melakukan hal itu justeru seorang gadis muda!

Pengemis ke tiga yang mukanya hitam karena suatu penyakit sehingga kulit muka itu tebal dan keras kasar, menerjang ke depan dan kedua tangannya mencengkeram untuk menangkap kedua pundak gadis itu. Namun, dengan gerakan lincah sekali, gadis itu menggeserkan kaki memiringkan tubuhnya. Dengan kecepatan luar biasa, sambil memiringkan tubuh, pada saat tubuh pengemis itu lewat dan luput menerkamnya, lututnya diangkat dengan tiba-tiba, tepat menyambut perut lawan.

"Ngekkk!" perut itu dimakan lutut membuat Si Pengemis membungkuk memegangi perut. Gadis itu melihat sasaran lunak ketika tubuh itu membungkuk, yaitu tengkuk yang telanjang, maka tangan kirinya cepat membacok ke arah tengkuk.

"Kekkk!" tubuh orang itu pun terjungkal!

"Nona, engkau keterlaluan, berarti menentang kami!" bentak Si Perut Gendut.

"Kalian yang kurang ajar dan patut diberi pelajaran agar tidak mengganggu orang lain!"

Sementara itu, Han Beng memandang dengan hati lega dan kagum. Kiranya nona itu lihai! Gerakannya begitu cepat dan otomatis, juga pandai mengatur gerakan menggunakan tenaga secara tepat sekali.

Akan tetapi kini Si Gendut sudah mengangkat tongkatnya, sebatang tongkat hitam terbuat dari bambu yang ujungnya dipasangi besi runcing! Dan dengan senjata ini, dia menyerang gadis itu! Han Beng terkejut dan dia sudah siap siaga untuk melindungi gadis itu. Akan tetapi segera dia tahu bahwa gadis itu tidak memerlukan perlindungannya karena dengan amat sigapnya, gadis sudah mengelak dengan mudah. Dan kini, dua orang pengemis lainnya sudah la menggunakan tongkat mereka untuk mengeroyok. Tiga batang tongkat dengan ujung besi runcing menyambar-nyambar kearah Si Gadis yang dengan lincahnya mengelak ke sana- sini bagaikan seekor burung walet saja. Kini gadis itu dengan cepat mcnyambar sebatang kayu pengganjal pintu toko yang panjangnya sekitar dua meteran yang besarnya sekepalan tangan. Dengan senjata sederhana serupa toya ini, gadis itu menghadapi tiga batang tongkat lawan dan kini ia bersilat dengan indah dan cepatnya. Han Beng terbelalak kagum karena dia mengenal ilmu silat yang dasarnya tak salah lagi tentu ilmu dari Siauw-lim-pai!

Karena toko obat itu terletak di jalan raya dekat pasar, maka perkelahian depan toko itu menarik perhatian orang dan sebentar saja tempat itu telah dilingkari banyak orang yang menonton, mereka itu agaknya tadi mengira bahwa ada serombongan pemain silat atau pedagang obat mengadakan pertunjukan di situ. Akan tetapi ketika mereka mengenal tiga orang anggauta Ang-ki Kai-pang, mereka menjadi terkejut. Ada rasa girang di dalam hati mereka bahwa kini ada orang berani menentang tiga tokoh Perkumpulan Jembel itu, dan orang itu bahkan hanya seorang gadis muda!

Karena takut kalau tiga bungkusan obat itu terinjak mereka yang sedang berkelahi, maka Han Beng sudah memungutinya. Kalau saja dia tidak mengkhawatirkan akan keselamatan gadis itu tentu dia sudah pergi, tidak ingin terlibat dalam perkelahian. Akan tetapi di harus menjaga keselamatan gadis yang telah menolongnya itu.

Permainan toya gadis itu memang hebat, dan Siauw-lim-pai memang terkenal sekali dengan permainan toya ini. Hal ini tidak mengherankan karena Siauw-lim-pai merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh para pendeta biara Siauw-

lim-si, di mana para muridnya adalah para hwesio. Senjata yang paling tepat bagi seorang hwesio untuk membela diri kalau diserang musuh adalah toya yang dapat dipergunakan pula sebagai sebatang tongkat atau untuk memukul barang bawaan.

Han Beng memandang kagum. Gadis Itu memang lihai dan begitu toyanya diputar dengan amat cepatnya, tiga orang pengemis itu terdesak dan mundur. Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan bentakan melengking panjang dan ujung toyanya tergetar keras, membuat gerakan melengkung dan begitu gulungan sinar toya berkelebat, dua orang pengeroyok roboh. Yang seorang lagi, Si Muka Hitam, terkejut dan dengan nekat menghantamkan tongkatnya ke arah tengkuk gadis itu dari belakang. Namun, tanpa kesukaran sedikit pun, gadis itu membalikkan toyanya ke belakang, menangkis tongkat, tubuhnya membuat gerakan memutar dan di lain saat toyanya sudah menyodok ke arah dada orang itu sehingga dia pun jatuh terjengkang!

Tiga orang pengemis Ang-kin Kai-pang itu terengah-engah, Si Gendut Perut itu kepalanya benjol besar, Si Tinggi Kurus meringis karena kaki kanannya terkena sambaran toya sehingga tulang keringnya terasa seolah remuk, dan Si muka Hitam dadanya sesak. Gadis itu menghentikan gerakannya, berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tang kanan memegangi toya yang didirikan; sikapnya gagah, matanya mencorong, tiga orang pengemis itu tahu diri. Mereka bangkit dan tanpa banyak cakap lagi berjalan pergi terhuyung-huyung. Semua orang memuji kehebatan gadis itu, akan tetapi mereka yang mengenal kekuasaan Ang-kin Kai-pang merasa khawatir akan keselamatan gadis pemilik toko obat. Para penonton itu pun bubar dan dan Han Beng menjura dengan penuh hormat kepada Si Gadis perkasa.

"Sungguh saya bersukur sekali bahwa Nona telah menolong saya dan guru saya. Terima kasih, Nona."

"Ah, tidak mengapalah, Saudara. Engkau dan gurumu adalah pengembara dan gurumu sakit, sudah sepatutnya kalau aku memberi obat kepadamu. Dan mengenal tiga orang tadi, mereka sendiri yang mencari penyakit dan memang perlu dihajar."

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dandua orang laki-laki menghentikan kuda mereka di depan toko itu. Han Beng melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sastrawan, dan seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih berpakaian ringkas dan bersikap gagah.

Ketika dua orang laki-laki itu berlompatan turun dari atas kuda mereka, gadis itu cepat menghampiri laki-laki yang berpakaian sastrawan.

"Ayah! Engkau baru pulang?"

Akan tetapi ayahnya memandangnya lengan wajah heran, sama sekali tidak gembira, bahkan suaranya terdengar marah ketika dia bertanya, "Hui Im, apa yang kudengar ketika memasuki kota tadi? Engkau membela seorang pengemis asing dan berkelahi dengan tiga orang anggauta Ang-kin Kai- pang?"

Gadis itu menghadapi ayahnya dengan sikap tenang, tegas dan bertanggung jawab. "Benar, Ayah. Dan dia inilah Saudara yang telah kutolong itu katanya menunjuk kepada Han Beng masih berdiri dengan hati tidak enak. Majikan toko obat itu bernama Kun Tiong atau di kota raja terkenal dengan nama Souw Sian-seng, seorang ahli obat atau seorang tabib yang seringkali menerima undangan untuk mengobati orang sakit, akan tetapi juga membuka toko obat yang diurusi puterinya. Puterinya itu anak tunggal bernama Souw Hui Im. Ibu gadis ini, telah lama meninggal dunia.

Souw KunTiong atau Souw Sian memandang sejenak kepada Han Beng lalu dia membalik menghadapi puterinya lagi, menuntut, "Apa yang telah terjadi? Dalam suaranya masih terkandung rasa tidak senang. Dia menganggap puterinya mencari gara-gara saja, karena dia tahu benar siapa itu Ang-kin Kai-pang perkumpulan yang amat berpergaruh di kota raja, bahkan mempunyai hubungan baik dengan para pembesar yang kuasa. "Sesungguhnya aku tidak bersalah.Ayah,” kata Hui Im yang dapat melihat bahwa ayahnya marah. "Mula-mula Saudara ini datang dan minta pertolongan , agar diberi obat untuk gurunya yang sedang sakit panas demam dan batuk, karena kulihat dia seorang pengembara yang sedang dirundung malang, maka aku memberinya obat yang dimintanya. Tiba-tiba muncul tiga orang pengemis Ang-Kai-pang itu yang bersikap sombong dan melarang aku memberikan obat kepada Saudara ini. Tentu saja aku marah, Ayah. Mereka tidak berhak melarangku memberikan obat milikku sendiri kepada siapapun juga. Mereka malah menghina saudara ini, mengusirnya dan melarangku menyerahkan obat. Maka terjadilah perkelahian itu dan mereka melarikan diri."

Dengan alis masih berkerut, Souw Han-seng menghadapi Han Beng. Sejenak dia mengamati pemuda yang bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah itu, lalu karena penyesalannya bahwa puterinya menanam permusuhan dengan Ang-kin Kai-pang gara-gara pemuda ini, dia pun berkata dengan suara penuh sesalan dan kemarahan.

"Orang muda, tidak malukah engkau Engkau masih muda belia, bertubuh sehat dan kuat, akan tetapi ada orang-orang menghinamu, engkau diam saja tidak membela diri sendiri, bahkan mengandalkan seorang wanita untuk membelamu! Tidak malukah engkau menjadi seorang pengecut?"

"Ayah !" Hui Im berseru.

"Diam kau!" bentak ayahnya yang masih menghadapi Han Beng, melanjutkan kata-katanya. "Orang muda, gara-gara " engkau, anakku menanam bibit permusuhan dengan Ang-kin Kai-pang, berarti kami menghadapi kesulitan besar. Karena engkau menjadi gara-gara, maka engkau perlu dihajar agar semua orang tahu bahwa aku, Souw Kun Tiong, sebetulnya tidak mau mencampuri urusan antara pengemis. Biarlah engkau berhadapan sendiri dengan Ang-kin Kai-pang? Nah, bersiaplah, orang muda, aku akan menghajarmu seperti tadi anakku menghajar orang-orang Ang-kin Kai-pang!"

Han Beng terbelalak, kebingungan, tentu saja dia tidak ingin berkelahi dengan orang lain, apalagi orang ini adalah ayah kandung dari gadis yang telah menolongnya tadi. Akan tetapi dia pun mengerti apa yang dimaksudkan orang tua ini. Dia hendak menghajarnya di depan umum sehingga kalau Ang-kin Kai-pang mendengar akan hal ini, mereka akan menganggap bahwa keluarga Souw sebetulnya tidak membela Han Benig, melainkan terjadi kesalahpahaman saja antara Nona Souw dan tiga orang murid atau anggauta Ang-kin Kai- pang.

Han Beng menjura kepada Souw Sian-Seng. "Tuan, harap maafkan saya. Sesungguhnya saya datang ke toko ini tidak ada maksud lain kecuali minta bantuan agar diberi obat untuk guruku yang sedang sakit. Saya sama sekali tidak mencari keributan atau perkelahian. Kalau memang Tuan tidak rela memberi obat ini untuk guruku, biarlah saya kembalikan saja."

"Hemmm, puteriku telah memberi obat itu, tidak akan kami tarik kembali akan tetapi untuk membuktikan bahwa kami tidak berpihak dalam urusanmu dengan Ang-kin Kai-pang,” aku harus menghajarmu!" Souw Sian-seng maklum bahwa di tempat ramai itu tentu terdapat banyak mata-mata Ang-kin Kai- pang yang dapat mendengarkan semua ucapannya dan dapat menyaksikan pula dia menghajar pemuda itu agar melaporkan hal itu kepada pimpinan Ang-kir Kai-pang. Dia sudah melangkah maju, siap untuk menghajar Han Beng.

"Suheng, tahan dulu… !" tiba tiba orang yang tadi datang

bersama Souw Sian-seng, melompat maju dan memeggangi lengan tabib itu. Orang berusia empat puluh tahun lebih ini bernama Hui Siong dan dia adalah seorang di antara murid- murid Siauw-lim-pai yang berhasil melarikan diri ketika Kuil Siauw-Lim-si dibakar oleh pasukan pemerintah. Dalam pelariannya, dengan aman dia bersembunyi dan mondok di rumah tabib itu yang juga merupakan murid Siauw-lim-pai akan tetapi merupakan 'murid luar" yang tidak tinggal di kuil. Di sini dia hidup aman karena tentu saja para perwira pasukan pemerintah tidak menyangka bahwa orang Siauw-lim-pai ada yang berani tinggal di kota raja!

Melihat sutenya menahan dia yang hendak menghajar pengemis muda itu, Souw Sian-seng merasa heran dan memandang sutenya dengan alis berkerut, Gui Siong mendekatkan mulutnya ketelinga suhengnya dan membisikkan, "Dia adalah Naga Sakti seperti yang pernah kuceritakan padamu, Suheng." Tentu saja Souw Sian-seng terkejut bukan main dan hanya berdiri seperti patung mengamati Han Beng yang tidak mengenal apa yang dibicarakan kedua orang itu. Dia rasanya pernah melihat orang yang datang bersama ayah kantung gadis itu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bertubuh kurus, wajahnya tampan, rambut penuh uban dan matanya lebar sekali itu.

Cui Siong kini memberi hormat kepada Han Beng. "Tai- hiap, apakah Tai-hap lupa kepadaku?"

Post a Comment