Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 49

Memuat...

Giok Cu mengepal tinju. Akan tetapi ia menjawab lirih. "Terima kasih, Subo. Tentu mereka telah Subo bunuh, bukan?"

"Yang seorang telah kubunuh karena dia melarikan diri. Seorang lagi yang bernama Ji Ban To tidak kubunuh, hanya kuberi hajaran keras karena memandang muka gurunya dan dia sudah meminta ampun."

"Hemmm, mana mungkin mengampuni perbuatan mereka yang amat keji tadi. Biar kelak aku aku sendiri yang akan membunuhnya!" kata Giok Cu dengan suara mengandung kemarahan.

"Tidak ada untungnya menanam permusuhan dengan para murid Ouw Kok Sian. Apalagi dia tadi telah kuberi hajaran dan dalam keadaan setengah mati akan tetapi kutinggalkan obat penyembuhnya kepada gurunya. Lebih baik melupakan saja urusan itu, bukan engkau belum diperkosanya?"

"Tapi aku malu, Subo, aku merasa dihina bukan main. Biarlah kelak akan kucari jalan agar dia bermusuhan dengan aku sehingga ada alasan bagiku untuk membunuhnya!"

Ban-tok Mo-li yang mendengar hanya tersenyum saja, senyum acuh karena ia sendiri seorang yang tak pernah menghargai nyawa orang lain. Semenjak peristiwa malam itu, Giok Cu berlatih silat semakin tekun karena ia ingin agar memperoleh kemajuan pesat dan mengalahkan orang-orang seperti Siangkoan Tek dan Ji Ban To yang sudah diangapnya sebagai musuh besarnya itu. Dan hanya ilmu-ilmu silat dari Ban-tok Mo-li saja yang dipelajarinya dengan tekun, termasuk ilmu-ilmu pukulan beracun, Adapun mengenai cara hidup gurunya itu, sama sekali ia tidak merasa cocok, bahkan kadang-kadang ia muak melihat hal-hal yang dianggapnya memalukan yang dilakukan gurunya, seperti menculik orang- orang muda, memaksanya menuruti kehendaknya memuaskan nafsu-nafsunya, bergaul erat dengan tokoh-tokoh sesat dan lain kejahatan lagi. Ia selalu menolak kalau diajak atau disuruh melakukan kejahatan oleh teman-teman gurunya. Agaknya Ban-tok Mo-li sendiri mengenal watak muridnya, maka ia pun tidak pernah memberi tugas kepada muridnya itu untuk melakukan hal yang berlawanan dengan watak muridnya itu.

Watak Giok Cu yang keras, tak mengenal takut, gagah bahkan liar dan ganas terhadap musuhnya, membuat Ban-tok Mo-li merasa kagum. Apalagi karena dari suaranya, pandang matanya dan sikapnya jelas bahwa murid itu juga mempunyai perasaan sayang kepadanya!

Kadang-kadang memang amat mengherankan kalau kita menemui seorang yang hidup sebagai seorang penjahat besar, yang sudah terbiasa melakuku segala macam kekejaman, dapat mempunyai perasaan sayang yang amat besar terhadap seseorang. Perasaan sayang yang amat mengharukan karena sungguh bertolak belakang dengan wataknya. Seorang perampok besar yang biasanya membunuh orang lain dengan mata tanpa berkedip, dapat saja memiliki kasih sayang yang amat besar terhadap isterinya atau anaknya atau orang lain sehingga untuk orang itu dia mau berkorban apa pun juga, terhadap orang itu dia bersikap amat lembut dan mengalah. Ini membuktikan bahwa didalam diri setiap manusia itu terdapat dua sifat, yaitu sifat baik dan sifat buruk. Diri manusia merupakan sumber daripada kebaikan dan keburukan yang bermunculan silih berganti dan seperti berlumba menguasai batin manusia yang melahirkan perbuatan-perbuatan baik maupun buruk. Padahal, sesungguhnya dasar dari semua ciptaan Tuhan adalah sempurna, karena Tuhan adalah Maha Sempurna, tidak ada seorang pun bayi yang jahat! Pandang mata dan senyum tawa seorang bayi, bahkan tangisnya, adalah suci. Baru setelah pengertian pikiran menguasainya, akal budi dan pikiran ini yang memberi pupuk kepada si-akunya dan mulailah muncul sifat-sifat yang buruk itu. Hanya seorang manusia yang mengenal benar semua sifat jahatnya ini, yang secara seketika membersihkan diri dari semua sifat yang buruk, dia seolah-olah membersihkan kaca-kaca jendela yang kotor berdebu dan yang menghalangi masuknya sinar matahari, dan barulah dia menjadi pulih kembali seperti seorang bayi, bersih, wajar dan suci. Selama tindakan pembersihan diri ini tidak dilakukan secara seketika, maka segala usaha lain takkan ada gunanya. Menutup-nutupi kekotoran tidak akan mendatangkan kejernihan, satu-satunya jalan hanyalah membuang kotoran- kotoran itu seketika. oooOOOooo

Pengemis atau orang yang berpakaian seperti pengemis penuh tambal-tambalan itu masih muda, kurang lebih dua puluh tahun usianya. Kalau melihat keadaan tubuhnya, sungguh tidak pantas dia mengenakan pakaian pengemis, atau pakaian yang butut penuh tambalan itu. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah, sikapnya juga sopan, kepalanya selalu menunduk dan pendiam, langkahnya sopan dan gagah, tidak nanpak sikap rendah diri, matanya tajam cerdik, wajahnya cerah

Akan tetapi kenyataannya ketika berhenti di depan sebuah toko obat pemuda ini mengemis! Biarpun sikap dan kata- katanya tidak seperti pengemis sembarangan yang memelas, namun tetap saja dia mohon pertolongan orang. Kepada pemilik toko obat di kota raja itu, sebuah toko obat yang besar, dia memberi hormat dan berkata dengan sikap yang hormat tanpa malu-malu.

"Harap Lo-ya (Tuan Tua) suka memaafkan saya kalau saya mengganggu. Saya mohon pertolongan Lo-ya untuk memberi

sedekah berupa obat untuk orang yang sudah lanjut usia, obat panas dan batuk. Mohon kebaikan budi Lo-ya untuk menolong saya."

Pemilik toko obat yang usianya sudah ada enam puluh tahun, berperut gendut sekali seperti sebagian besar orang kaya di kota raja, memandang dengan alis berkerut. Pengemis ini tentu pengemis baru atau asing, pikirnya karena belum pernah dia melihat sebelumnya. Timbul rasa tidak sukanya melihat tubuh pengemis yang demikian sehat dan gagah, jauh lebih gagah daripada putera-puteranya.

"Hemmrn, sungguh engkau ini orang pemuda yang tidak tahu malu sama sekali Dia berkata sambil mengelus jenggotnya. "Engkau masih begini muda, kenapa tidak mau bekerja dan menjadi pengemis ? Hayo pergi, aku tidak mau menolong orang malas! Pergi atau kupanggilkan penjaga keamanan agar engkau ditangkap!"

Pengemis muda itu menahan senyumnya. Sedikitpun dia tidak menjadi merah muka atau marah. Agaknya, cemooh dan makian seperti itu sudah terlalu sering dia terima sehingga dia sudah merasa kebal. Dia membungkuk lalu pergi seenaknya.

Pengemis muda itu adalah Si Han Beng! Seperti kita ketahui, lima tahun yang lalu dia bertemu dengan gurun yang ke dua, yaitu Sin-ciang Kai-ong Si Raja Pengemis Bertangan Sakti dan menjadi muridnya. Karena gurunya ini hidup berkelana sebagai seorang pengemis maka Han Beng juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan gurunya berpakaian sebagai pengemis, bahkan juga minta-minta untuk makan mereka sehari-hari. Pernah Han Beng mengajukan rasa pesaran dalam hatinya mengapa gurunya hidup sebagai pengemis.

"Suhu adalah seorang di antara tokoh-lokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi di jaman ini. Kalau Suhu kehendakinya, dengan kepandaian itu, suhu dapat memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan, atau dapat menjadi usahawan yang berhasil, bahkan kalau Suhu memerlukan harta benda, apa sukarnya? Akan tetapi mengapa Suhu bahkan menjadi seorang pengemis? Maaf, suuhu, bukankah masyarakat umum memandang pengemis itu sebagai orang yang yang rendah, hina dan pemalas?"

Sin-ciang Kai-ong sama sekali tidak marah, bahkan tertawa bergelak mendengar pertanyaan muridnya itu, "Uwah, ha-ha- ha! Han Beng, muridku yang baik, apakah engkau sungguh- sungguh tidak melihat betapa mulianya pengemis dan betapa besar jasa-jasanya, asalkan dia.menjadi pengemis seperti kita ini, bukan karena malas?"

Han Beng maklum bahwa gurunya adalah seorang yang memiliki watak aneh, akan tetapi dia percaya penuh akan kesaktian dan kebijaksanaan kakek berpakaian jembel itu. Mendengar ucapan itu dia memandang heran.

"Mulia dan berjasa besar? Teecu sungguh tidak mengerti apa yang Suhu maksudkan."

"Dengarlah baik-baik, muridku." Wajah yang biasanya suka tertawa dan cerah itu kini memandang serius, dan suaranya yang biasanya suka berkelakar itu kini terdengar bersungguh- sungguh. "Aku adalah seorang kelana yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, tidak lebih dari satu dua hari berada di suat tempat. Ini menyebabkan tidak mungkin aku bekerja mencari sesuap nasi Orang tentu takkan mau mempergunakan tenaga orang yang tinggalnya tidak tetap dan hanya untuk sehari dua hari saja. Bukan karena malas, melainkan terpaksa aku mengemis untuk mengisi perut mempertahankan hidup. Bukankah lebih baik mengemis daripada mencuri atau merampok? Sekarang mengapa kukatakan mulia? Karena pekerjaan ini merupakan latihan yang amat baiknya bagi kita, bagi engkau terutama, Han Beng. Dengan mengemis, engkau belajar untuk rendah hati! Latihan ini menghilangkan kesombongan diri, menghilangkan pandangan terlalu tinggi kepada diri yang hanya memperbesar perasaan si-aku yang serba hebat! Dan mengapa berjasa? Karena, hrngemis setidaknya membangkitkan rasa perikemanusiaan dalam hati orang baik, menyentuh perasaan mereka untuk menaruh iba kepada sesama hidup yang sedang menderita kesusahan."

Demikianlah, semenjak memperoleh keterangan dari gurunya, Han Beng tidak merasa malu-malu atau ragu-ragu lagi untuk mengemis! Bahkan dia menganggap hal ini sebagai suatu latihan batin yang baik sekali. Dia kini dapat melihat sikap orang yang menghinanya, mencemoohkannya, tanpa perasaan marah atau sakit hati sedikit pun, bahkan diam-diam mentertawakan mereka, dan dari sikap mereka itu dia dapat mempelajari banyak watak manusia. Latihan ini amat baik untuk memupuk kesabaran, pandangan yang luas dan perasaan rendah hati yang mendalam.

Demikianlah, ketika dia diusir oleh majikan toko obat yang perutnya gendut, dia pergi tanpa merasa sakit hati. Hanya hatinya merasa agak gelisah. Dia tidak membohong ketika mengemis obat. Gurunya jatuh sakit! Gurunya terserang penyakit demam panas dan batuk! Heran juga dia bagaimana seorang sakti seperti gurunya dapat terserang penyakit. Hal ini mengingatkan dia akan kcnyataan bahwa betapapun tinggi kepandaian seseorang, namun badan manusia ini perlu dirawat sebaiknya, menjaga kesehat harus dilakukan dengan sungguh sungguh, kebersihan harus dijaga. Kepandaian silat membuat orang pandai melindungi dirinya terhadap serangan dari luar memperbesar tenaga dan kecepatan. Akan tetapi terhadap penyakit yang menyerang entah dari mana, yang tidak nampak seorang pesilat yang betapa pandai pun takkan mungkin dapat mengelak atau menangkis! Dan tubuh ini takkan bebas dari penyakit, usia tua dan kematian. Biarpun gurunya menerima datangnya penyakit itu dengan tenang dan sabar, namun Han Bcng merasa gelisah dan dia merasa iba kepada suhunya. Demikianlah kalau orang hidup sebatang- kara, tiada keluarga dan tiada rumah. Kalau sakit, tidak ada yang merawat, tidak ada yang mempedulikan.

Sudah sejak pagi sekali tadi dia mengemis obat, namun hasilnya selalu berupa penghinaan, makian dan cemoohan. Ingin rasanya sekali ini dia melanggar pantangan suhunya. Betapa mudahnya meloncat naik ke atas genteng rumah atau toko obat itu, melalui genteng masuk ke dalam dan mencuri obat apa saja yang dia butuhkan! Takkan ada yang tahu. Andaikata ada yang tahu juga, dia dapat menyelamatkan diri dengan amat mudahnya!

Terjadi perang dalam batinnya antara yang mendorong dia untuk mencuri saja dan yang menentangnya. Pada saat itu, dia melihat sebuah toko obat lain lagi di depan. Tempat itu agak ramai, dekat dengan pasar dan dalam batinnya Han Beng mengambil keputusan bahwa kalau sekali lagi dia gagal mendapatk obat dengan jalan mengemis, dia akan mencuri saja! Untuk satu kali saja, karena dia amat membutuhkan obat. Toko obat di depan itu tidak sebesar toko obat yang baru saja mengusirnya, akan tetapi dia melangkah tanpa ragu ke depan pintu toko itu. Dia melihat bahwa penjaga toko itu seorang gadis berusia delapan belas tahunan, dibantu oleh orang pegawai pria yang usianya sudah setengah tua.

Gadis dan dua orang pegawainya itu memandang kepada Han Beng, dan terutama sekali kepada pakaiannya yang tambal-tambalan.Dua orang pegawai mengerutkan alisnya, jelas kelihatan tidak senang hati mereka. Seorang diantara mereka bahkan segera menegur.

"Engkau datang ke sini mau apa? sini menjual obat, bukan menjual makanan. Kalau engkau hendak minta-minta… "

"Kulihat tidak ada sabuk merah pinggangmu! Kami tidak dapat memberi sedekah kepadamu……"

"Paman!" tiba-tiba gadis itu menegur dengan suara yang keras kepada dua orang pegawainya. "Kalian tidak boleh sikap seperti itu!" Dua orang pegawai itu menundukkan muka dan kelihatan sungkan dan patuh kepada nona mereka. Kini gadis itu bangkit berdiri dan menghadapi Han Beng, hanya terhalang lemari tempat obat. Sejenak mereka saling pandang penuh perhatian. Biarpun tidak secara langsung, Han Beng mengamati gadis itu.

Seorang gadis berusia delapan belas tahun, bertubuh ramping dan agak tinggi kalau dibandingkan dengan wanita pada umumnya, wajahnya manis dan anggun, dengan mata yang jernih dan mulut yang ramah. Gadis itu pun membayangkan keraguan dan keheranan dalam pandang matanya ketika ia mengamati Han Beng penuh selidik. Seorang pemuda yang begini gagah, juga tubuhnya terawat baik dan bersih, biarpun mengenakai. pakaian tambal- tambalan, agaknya tentu bukan seorang peminta-minta! la pun memperlihatkan senyumnya yang manis dan ramah sebelum bicara dengan suara halus.

"Harap Saudara memaafkan sikap dua orang pegawai kami. Maklumlah mereka seringkali diganggu oleh para peminta-minta sehingga sikap mereka agak kaku. Dapatkah kami membantu Saudara. Di sini kami mempunyai persediaan lengkap."

Ini merupakan pengalaman baru bagi Han Beng yang membuat wajahnya agak kemerahan! Dia biasanya diterima dengan pandang mata iba atau cemooh, akan tetapi baru sekali orang menghadapinya sebagai bukan jembel, sebagai seorang pembeli biasa! Menghadapi pengalaman baru ini, Han Beng agak tertegun dan betapa dia mengharapkan saat itu ada uang cukup di sakunya agar dia dapat benar-benar membeli obat yang di butuhkan. Apalagi pandang mata gadis itu demikian penuh kepercayaan, sedikit pun tidak ada bayangan mengejek atau menghina dalam pandang mata itu. Akan tetapi dia harus menyadari kenyataan dan dengan "menebalkan" muka, dia pun berkata, suaranya lembut.

"Saya memang membutuhkan obat, Nona. Guruku sakit, terserang demam panas dan batuk, sudah dua minggu… " "Demam panas dan batuk? Ah, tentu ada obat untuk itu! Gurumu itu, apakah usianya?"

"Sekitar enam puluh lima tahun, Nona.”

"Baiklah, kautunggu sebentar, biar diambilkan obatnya. Paman Ji, tolong berikan obat untuk penyakit demam panas dan batuk yang diderita seorang tua. Oya, berapa bungkuskah yang Saudara kehendaki? Sebungkus untuk sekali masak dan diulang sampai dua kali,' Air dua mangkok tinggalkan setengah mangkok."

"Secukupnya sampai sembuh, Nona."

"Kukira tiga bungkus pun sudah cukup. Sediakan tiga bungkus, Paman Ji!" pembantunya itu segera mengumpulkan obat rempah-rempah dan menimbanginya, dipersiapkan di atas kertas pembungkus sebagai tiga helai.

"Maafkan saya, Nona. Saya memang membutuhkan obat untuk guruku yang sakit, akan tetapi …….. saya Maksud

saya… , hendak mohon bantuan Nona untuk memberikan

obat kepada saya. Saya tidak mempunyai uang untuk membelinya "

Post a Comment