Kini sinar bulan mulai memasuki ruangan itu melalui jendela yang dibiarkan terbuka di sebelah timur. Sinar bulan yang mula-mula menyinari dinding lalu merayap ke meja sembahyang, dan perlahan-lahan akan tetapi pasti sinar bulan yang lembut dari bulan purnama itu mulai merangkak ke arah pembaringan di mana dua orang remaja itu masih rebah telentang.
Lui Seng Cu kini bangkit berdiri, mencuci kedua tangannya, lalu mengambil kain putih yang sudah dipersiapkan di bawah meja sembahyang. Setelah memberi sembah tiga belas kali ke arah patung Thian-te Kwi-ong, dia lalu membawa dua potong kain sutera panjang itu ke arah pembaringan. Dua orang remaja itu masih telentang, yang pria wajahnya pucat dan ketakutan, yang wanita masih menangis tanpa suara. Lalu dia mengenakan pakaian itu kepada mereka sekedar menutupi ketelanjangan mereka dengan menyelimutkan sutera putih itu dan membelitkan ke tubuh mereka. Kemudian, dia mengambil pula sebatang pisau belati dari bawah meja, meletakkan pisau itu ke atas meja sembahyang. Pisau itu amat tajam, agaknya diasa sampai mengkilap dan Giok Cu merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Seperti yang diduganya, tentu dua orang korban itu akan dibunuh!
"Toanio, bersiaplah untuk menghaturkan korban kepada Ong-ya! Sinar bulan sudah mendekati mereka, beberapa saat lagi sinar bulan akan menyentuh dada mereka dan itulah saatnya untuk. ”
"Tidaaaaaakkk! Mereka tidak boleh dibunuh!" Tiba-tiba Giok Cu berteriak dan tubuhnya sudah meloncat ke arah pembaringan itu, maksudnya tentu saja hendak membebaskan mereka!
“Jangan melanggar kedaulatan Ong-ya!" Lui Seng Cu membentak dan dia pun menyambut dengan dorongan kedua tangannya. Akibatnya, tubuh Giok Cu terlempar dan terjengkang, jatuh ke belakang dan bergulingan. Hebat sekali dorongan Lui Seng Cu tadi, akan tetapi karena dia tahu bahwa gadis itu adalah murid tersayang dari Ban-tok Mo-li, maka dorongannya hanya mengandung angin yang kuat dan yang telah membuat gadis itu terjengkang dan bergulingan, akan tetapi tidak melukainya! Semua orang terkejut, mengira bahwa tentu Ban-tok Mo-li akan marah sekali melihat muridnya yang terkasih itu dirobohkan orang. Akan tetapi, wanita itu bersikap tenang saja, bahkan mengerutkan alisnya. Ketika ia melihat muridnya bangkit. berdiri dan sama sekali tidak terluka, ia pun berkata dengan sikap marah.
"Giok Cu, apa yang kaulakukan ini? Hayo keluar kau!"
Giok Cu berdiri dengan mata terbelalak memandang ke arah pembaringan itu, ia marah sekali dan juga ingin sekali membebaskan dua orang remaja itu. Akan tetapi ia tahu bahwa tenaganya tidak cukup untuk menentang Lui Sen Cu, apalagi gurunya sendiri mengusirnya keluar. Dengan gemas dan membantin kaki kirinya beberapa kali, Giok Cu lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan sekali meloncat ia sudah lenyap dari ruangan itu, berlari keluar.
Ketika Giok Cu tiba di luar, ia melangkah pergi di bawah sinar bulan purnama. Tiba-tiba ia mendengar jerit dua kali. Ia berhenti melangkah dan memejamkan mata. Akan tetapi tetap saja ia dapat membayangkan betapa pisau belati itu menancap di dada dua orang korban yang mungkin dibebaskan dulu dari totokan ketika hendak ditusuk dadanya, la menggunakan kedua tangan menutupi telinganya, lalu ia berlari menuj ke luar kota, ke pantai lautan!
Ia tidak melihat betapa apa yang dibayangkan itu masih jauh daripada kenyataan yang amat mengerikan sekali bagi orang awam. Setelah sinar bulan tiba di atas dada kedua orang muda itu Ban-tok Mo-li yang sudah siap dengan pisau belati di tangan, lalu membebaskan totokan mereka, akan tetapi secepat kliat pisaunya menyambar ke arah dada, sedemikian cepatnya sehingga kelihatannya seperti dua batang pisau bekerja dalam waktu yang sama. Dua orang remaja itu hanya mengeluarkan jeritan masing-masing satu kali menggelepar dan tewas seketika karena jantungnya telah ditarik keluar oleh Ban-lok Mo-li seperti diharuskan dalam upacara itu! Bagi orang lain, perbuatan seperti ini tentu saja amat mengerikan. Akan tetap bagi seorang datuk sesat seperti Ban-tok Mo-li, pekerjaan itu biasa saja! Dalam waktu beberapa detik saja, tangan kirinya sudah mengambil jantung manusia yang masih bergerak-gerak, dan meletakkan dua buah jantung itu ke atas baki perak yang lebar yang dipegang oleh Lui Seng Cu. Dua buah jantung itu masih bergerak-gerak seperti hidup, akan tetapi hanya sebentar saja dan Ban-tok Mo-li sudah membersihkan tangannya dari darah menggunakan kain sutera yang menyelimuti tubuh dua orang remaja itu! Sikapnya tenang saja, bahkan mulutnya tersenyum. Dan mereka yang hadir itu adalah tokoh-tokoh sesat yang berhati kejam. Melihat pertunjukkan itu, mereka tidak merasa ngeri, hanya tegang dan kagum!
Kini Ban-tok Mo-li, dipimpin oleh Lui Seng Cu, bersembahyang didepan meja sembahyang di mana dua buah jantung itu dihidangkan. Banyak dupa dibakar dan mereka menyembah sambil berlutut. Kemudian, Lui Seng Cu mengambil sebuah guci terisi anggur. Mulut guci itu lebar dan dia memasukkan dijantung manusia itu ke dalam guci. Di kocoknya anggur dalam guci bersama dua buah jantung itu, kemudian dia menuangkan anggur itu ke dalam sebuah cawan, lalu disiramkan dari atas patung, sehingga patung itu menjadi basah oleh anggur. Tiga kali patung itu disiram anggur bercampur jantung manusia itu. Kemudian, Lui Seng Cu menuangkan anggur ke dalam cawan dan menyerahkan kepada Ban-tok Mo-li yang segera meminumnya! Setelah itu, mulailah mereka pesta minum anggur yang bercampur jantung manusia yang masih segar! Dan agaknya, mereka semua minum tanpa jijik sedikit pun, bahkan merasa seolah-olah mereka minum obat kuat yang ampuh!
Belasan orang pelayan Ban-tok Mo-li sudah cepat menyingkirkan dua mayat yang masih hangat itu, membawanya jauh ke belakang, ke dalam kebun yang luas di mana siang tadi mereka telah menggali sebuah lubang besar, melempar dua mayat itu ke dalam lubang dan menguruk lubang dengan tanah tanpa banyak peraturan lagi! Dua mayat manusia itu dikubur seperti orang mengubur bangkai binatang saja!
Adakah yang lebih kejam daripada manusia? Manusia, kalau sudah dilanda rasa takut, kalau sudah dikuasai nafsu mengejar sesuatu, menjadi jauh lebih kejam daripada binatang yang bagaimana buas sekalipun! Binatang, betapapun liar dan buasnya, tidak mempunyai pikiran jahat. Kebuasan dan keliaran mereka hanya naluri untuk melindungi dirinya. Kalau ada binatang buas membunuh binatang lain, hal itu dilakukan tanpa benci, melainkan karena dia harus melakukannya untuk mempertahankan hidupnya, mengisi perutnya, atau membela dirinya. Akan tetapi manusia membunuh demi menyenangkan dirinya, atau demi mencapai sesuatu yang dianggap akan mendatangkan kesenangan bagi dirinya.
Upacara selesai akan tetapi pesta itu masih belum selesai! Mereka minum-minum dan terdengar gelak tawa, bahkan ada pula di antara para tamu yang menarik pinggang seorang pelayan wanita. Ada wanita yang mengelak dan menolak, dan tamu itu pun tidak berani memaksa, karena mereka menghormati dan segan kepada Ban-tok Mo-li. Akan tetapi ada pula pelayan wanita yang mau melayani sehingga mereka itu bercumbu rayu begitu saja, di depan orang banyak di depan Ban-tok Mo-li sendiri yang hanya tertawa. Akun tetapi kalau sampai ada tamu yang berani memaksa seorang pelayannya tentu tamu itu akan sukar keluar dari situ dalam keadaan hidup! Memang aneh sekali cara hidup para Datuk sesat ini. Agaknya, mereka sudah tidak mengenal hukum dan peraturan lagi, baik hukum agama, hukum tradisi, hukum masyarakat maupun hukum negara. Yang ada hanyalah tindakan semau-gua, seenak perutnya sendiri, apa yang disukai itulah yang dilakukan, dan satu-satunya hukum adalah hukum rimba. Yang kuat dia menang, yang menang dia kuasa, yang kuasa dia benar! Tidak ada susila lagi. Tidak ada akhlak lagi, tidak ada rikuh lagi, yang ada hanya demi senang, senang, senang!
oooOOooo
Giok Cu menjatuhkan diri di atas pasir pantai dan ia menangis! Menangis tersedu-sedu, bahkan sampai sesenggukan. Agaknya seluruh rasa penasaran yang selama ini tertimbun di dalam batinnya, melihat hal-hal yang bertolak belakang dengan suara hatinya terjadi di depannya tanpa ia dapat menentangnya, juga semua perasaan duka yang dirasakannya semenjak ia kematian ayah ibunya perasaan dendam karena kematian ayah ibunya adalah perbuatan Sin- tiauw Li Bhok Ki, dan semua hal yang buruk buruk dan yang terpendam di dalam hatinya kini terungkap keluar sehingga ia menangis sampai mengguguk!
Selama lima tahun ini, ia seolah-olah digembleng untuk memiliki watak yang tahan uji? Namun, ternyata kini ia dapat menangis seperti itu, tanda dari kelemahan hati. Hatinya seperti diremas-remas, melihat dua orang remaja dibunuh begitu saja tanpa dosa, dan ia tidak mampu menolong mereka! Apa gunanya selama lima tahun ia mempelajari ilmu silat, ilmu kesaktian kalau kini ia tidak berdaya sama sekali menghadapi seorang Lui Seng Cu yang demikian jahat dan kejam?
Giok Cu menangis tanpa merasa khawatir dilihat atau didengar orang. Siapa yang akan datang di pantai yang amat sunyi di malam hari itu? Dan siapa dapat mendengar suara tangisnya yang ditelan suara ombak yang menggelegar? Tangis merupakan suatu penyaluran rasa duka. Duka yang tadinya membeku di dalam batinnya, seolah-olah mencair dan sedikit demi sedikit mengalir keluar dari dalam hatinya, hanyut melalui air mata.
Setelah menangis selama satu jam, ikhirnya tidak ada lagi air mata yang keluar, dan Giok Cu merasa betapa dadanya lega dan ringan sekali. Pikirannya pun lelah dan kosong, dan akhirnya, dendang suara air lautan ditambah semilirnya angin, sinar bulan yang sejuk, membuat ia tidak dapat lagi menahan kantuknya dan bagaikan orang yang kehilangan kesadaran, tahu-tahu ia telah jatuh pulas, telentang di atas pasir pantai. Langit amat bersih dan bulan purnama seperti tersenyum kepada dara itu, bintang-bintang yang agak suram juga melambaikan cahayanya kepada dara itu.
Suasana yang amat indah di pantai itu tidak meramalkan keindahan dan kedamaian. Sebaliknya malah. Di balik keheningan malam itu, bersembunyi bahaya yang amat mengerikan bagi diri Giok Cu. Ketika ia lari meninggalkai tempat pesta itu, diam-diam ada dua orang pemuda yang juga pergi meninggalkan pesta. Hal ini tidak kentara karena memang pesta sudah mulai kacau dan orang-orang bergerak ke sana-sini dengan bebas, bahkan ada yang menarik seorang pelayan wanita yang mau melayani ke tempat gelap tanpa dipedulikan yang lain. Dua orang muda itu bukan lain adalah Ji Ban To dan Gak Su dua orang pcmuaa yang sejak tadi sudah dibakar nafsu berahi, pertama kali ketika melihat Giok Cu di pantai bersama Siangkoan Tek, kemudian melihat gadis yang dijadikan korban. Melihat peristiwa keributan di pesta, di mana Giok Cu hendak melepaskan dua orang korban kemudian dirobohkan Lui Seng Cu dan dimarahi gurunya, kemudian melihat betapa gadis itu lari meninggalkan ruangan pesta, dua orang pemuda ini pun diam-diam keluar dan mencari Giok Cu.
Ketika Giok Cu yang kelelahan itu tertidur di atas pasir, telentang dalam keadaan pulas, dua sosok bayangan orang menghampirinya dengan hati-hati sekali. Kaki mereka melangkah perlahan-lahan, sedikit pun tidak menimbulkan suara sehingga gadis remaja yang sedang pulas itu sama sekali tidak mendengar apa-apa dan masih enak saja tidur nyenyak dengan napas lembut dan panjang.
Akan tetapi, seorang gadis remaja seperti Giok Cu itu memiliki kepekaan yang melebihi orang-orang dewasa atau orang-orang tua. Bahaya besar yang mengancam dirinya itu seolah-olah menggerakkan sesuatu di dalam tubuhnya yang menyembunyikan tanda bahaya sehingga tiba-tiba saja Giok Cu seperti orang tergugah dan terkejut, membuka matanya. Namun, terlambat sudah. Sebuah totokan membuat tubuhnya menjadi lemas dan tenaganya hilang. Ia hanya mampu terbelalak saja ketika mengenal dua buah wajah di bawah sinar bulan purnama. Wajah Ji Ban To dan Gak Su, dua orang murid majikan Pegunung Liong-san yang menjadi tamu subonya Dan dua buah wajah itu kini dalam penglihatan Giok Cu amat menakutkan. Di buah mulut itu menyeringai lebar di nafsu mereka mendengus panas, mata mereka juga beringas seperti mata bintang buas kelaparan! Giok Cu yang belum berpengalaman itu tidak dapat menduga apa yang mereka kehendaki, namun naluri kewanitaannya mengisaratkan ancaman bahaya besar bagi dirinya, membuat ia mengerahkan seluruh kekuatan dalam tubuhnya untuk membebaskan diri. Namun percuma saja. Totokan yang di lakukan oleh Ji Ban To itu membuat kaki tangannya seperti lumpuh. Tingkat kepandaian dan tenaga dari dua orang pemuda itu tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri. Andaikata ia tidak dicurangi, ditotok selagi tidur, tentu ia mampu melawan dua orang ini dan ia tidak gentar walaupun dikeroyok dua.
"Jahanam kalian!" Ia hanya mampu memaki dan bahkan suaranya pun kekurangan tenaga. "Apa yang kalian lakukan ini? Bebaskan aku!"
Pemuda kurus kering yang bermuka pucat itu, Ji Ban To, mendekatkan mulutnya, menyeringai dan hidungnya hampir menyentuh pipi Giok Cu sehingga gadis remaja ini sedapat mungkin memutar lehernya menjauhkan mukanya dan dengan jijik ia merasa betapa napas pemuda itu meniup kelehernya.
"Apa yang kami lakukan? Heh-heh, Giok Cu yang manis, engkau tentu mengerti sendiri. Jangan hanya memperhatikan Siangkoan Tek seorang. Kami pun dua orang pemuda yang gagah perkasa, murid seorang datuk, penguasa Pegunungan Liong-san."
"Benar sekali kata Suheng!" kata Gak Su dan muka yang tampan akan tetapi bopeng itu pun mendekat dan tangannya mulai merenggut lepas pakaian yang menutupi tubuh Giok Cu. "Mari kita bertiga bersenang-senang di pantai ini, di atas pasir, di bawah sinar bulan purnama. Alangkah indahnya, alangkah asyik dan nikmatnya!"
Kini jantung dalam dada Giok Cl berdegup penuh rasa ngeri dan ketakutan. Baru sekali ini ia benar-benar merasa takut membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya. Dua orang itu seperti berlumba merenggut lepas semua pakaiannya! Ia meronta, memberontak, memekik, menjerit, akan tetapi hanya dalam batin saja karena kaki tangannya tetap tidak mampu digerakkan dan suaranya hanya keluar dengan lemah saja.