Halo!

Naga Beracun Chapter 61

Memuat...

Ilmu silat apakah itu?

Namanya Hui-tiauw Sin-kun.

Hemm, memang pantas

Engkau menyambarnyambar bagaikan burung rajawali saja

Dari siapa engkau mempelajari ilmu hebat itu, Bi Lan?

Dari...

mendiang suami hamba pangeran.

Siapakah mendiang suamimu yang lihai itu?

Namanya Liu Bhok Ki....

Si Rajawali Sakti

Aih, pantas

Kiranya engkau isteri seorang pendekar besar

He mm, jadi engkau ini isterinya dan dia sudah meninggal dunia

Engkau janda pendekar itu dan itu......anakmu?

Pangeran Li Si Bin menunjuk kepada Lan Lan

Benar, pangeran .

Pada saat itu muncul Pangeran Tua Li Siu Ti sambil tertawa-tawa

Biarpun dia paman dari pangeran muda ini, namun karena kedudukannya kalah tinggi, Pangeran Li Siu Ti lebih dulu member hormat kepada keponakannya

Pangeran, sudah lamakah dating berkunjung

Ai Yin, kenapa tidak member tahu kepadaku?

Kanda pangeran menguji kepandaian enci Bi Lan, ayah,

kata Ai Yin gembira dan bangga karena gurunya membuat pangeran itu kagum

Maaf, paman,

kata pangeran Li Si Bin

Saya mendengar tentang dua orang anda yang menjadi pengawal di sini

Saya kagum sekali setelah menguji kepandaian Kwa Bi Lan

Paman memang beruntung sekali mendapatkan dua orang muda itu sebagai pengawal pribadi

Setelah menguji Kwa Bi Lan, saya ingin mengajukan sebuah permintaan kepada paman, harap paman suka mengabulkannya.

Diam-diam pangeran Tua Li Siu Ti merasa khawatir

Mungkinkah pute ra mahkota ini tertarik kepada Bi Lan dan ingin mengambilnya untuk tinggal dalam is tananya sendiri

Kalau demikian halnya, dia akan kehilangan sekali

Sukar mencari pengganti seorang wanita perkasa seperti Bi Lan

Tentu saja dia tidak berani menyatakan kekhawatirannya ini

Tidak demikian dengan Ai Yin

Biarpun dia selalu bersikap ramah dan sopan penuh hormat kepada putera mahkota yang ia tahu memiliki kekuasaan tertinggi, akan tetapi gadis ini lebih berani dan terbuka, tidak se perti ayahnya

Maka iapun segera berkata,

Aihh, kanda pangeran, apakah paduka akan membawa enci Bi Lan pindah dari sini ke istana paduka

Lalu bagaimana dengan saya?

Pangeran Li Si Bin te rsenyum

Tidak, Ai Yin, aku hanya ingin agar ia suka melatih pasukan dayang pengawal khusus di istana, setiap hari beberapa jam saja

Tentu saja kalau paman pangeran membole hkan dan terutama sekali kalau Bi Lan yang bersangkutan tidak berkeberatan.

Bi Lan te rbelalak

Pangeran ini yang kekuasaannya demikian besar, ternyata masih bersikap demikian lunak! Kalau ia tidak berkeberatan

Sungguh sikap yang sama sekali tidak pernah disangkanya, dan sikap pangeran ini membuat Bi Lan semakin kagum dan suka sekali kepada pangeran muda yang rendah hati dan tidak sewenang-wenang itu

Aih, tentu saja saya setuju, pangeran!

kata Pangeran Tua Li Siu Ti dengan ramah

Bagus! Terima kasih, paman

Dan bagaimana dengan engkau Bi Lan

Maukah engkau membantuku melatih pasukan dayang agar mereka dapat menjadi pengawal yang dapat diandalkan

Setiap hari tiga atau empat jam saja dan untuk je rih payahmu itu, tentu saja kami akan memberi imbalan.

Hamba akan mentaati perintah paduka, pangeran.

Kata Bi Lan dengan wajah berseri

Entah bagaimana, ia merasa senang dapat bekerja kepada seorang pangeran seperti ini.!

Baik, te rima kasih

Mulai besok pagi, aku akan menyuruh je mput dengan kereta, setelah selesai melatih, engkau akan diantar kembali kesini dengan kereta

Kalau anakmu itu tidak dapat berpisah darimu, boleh kau ajak ke istana.

Setelah berkata demikian, Pangeran Li Si Bin berpamit dari rumah pamannya dan iapun melangkah keluar, diantar oleh Pangeran tua Li Siu Ti sampai di depan istananya

00000ooooo000 Betapa indahnya taman itu, seperti taman sorga dalam dongeng

Matahari senja Nampak bulat merah redup, seperti sebuah lampu gantung yang besar dan bulat

Matahari sudah hamper menyelesaikan tugasnya sehari penuh dan biarpun nampaknya tidak berkuasa dan bersinar lagi, namun bekas kekuasaannya masih nampak membakar langit

Langit kebakaran, merah kuning dan ada garis -garis biru putih di sana-sini, adapula warna seperti lautan perak dihias awan putih le mbut begumpal-gumpal seperti sekawanan domba putih sedang berangkat pulang ke kandang

Keindahan alam yang membuat hati te rasa nyaman, membuat orang ingin bersenandung

Dan sesosok bayangan seorang pria menghampiri

Bi Lan te rsenyum dan perasaan hangat mesar menyelubungi hatinya

Betapa besar cinta kasihnya kepada suaminya! Suaminya, Sin-tiauw Liu Bhok Ki menghampirinya dengan langkahnya yang te gap, dengan wajahnya yang jantan, dengan sinar matanya yang penuh kasih dan penuh kebijaksanaan, dengan senyumnya yang menenangkan hati

Ketika suaminya mendekat sambil mengembangkan kedua lengan, iapun membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan mesra

Bibir itu mengecup lehernya, panas

Terasa betapa le hernya digigit dengan dengus penuh nafsu

Suaminya tidak pernah berbuat hal seperti ini

Suaminya selalu tenang dan tidak pernah dilanda gairah nafs u yang menggelora seperti ini

'Thhh...!

ia merenggut dirinya le pas

Bukan suaminya! Dan ia tidak berada di dalam taman, di senja yang indah

Ia berada di dalam kamarnya, di atas pembaringan dan yang tadinya muncul sebagai suaminya dalam mimpi, ternyata adalah Siauw Can atau Can Hong San! Ia tadi bermimpi! Dan kenyataannya, Can Hong San telah memasuki kamarnya seperti maling dan tadi telah memeluknya dan mengecup, menggigit le hernya dengan penuh nafsu

Kau.....!

bentaknya dengan lirih dan kini ia sudah meloncat turun dari atas pembaringan

Wajahnya menjadi merah dan terasa panas sekali ketika melihat betapa kancing bajunya bagian atas terlepas sebagian

Jari-jari tangannya cepat mengancingkan kembali baju itu dan matanya mencorong menatap wajah pemuda itu

Bi Lan ..Lan-moi.

..engkau tahu betapa aku mencintaimu, Lan-moi..! Aku cinta padamu dan tidak tahan lagi,..Kuharap engkau tidak membuat aku terpaksa menggunakan paksaan....

Bi Lan te ringat bahwa kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi darinya dan kalau pemuda ini menggunakan paksaan, mungkin ia tidak akan mampu menghindarkan diri dari penghinaan, dari perkosaan

Cepat ia meloncat dan di lain saat, ia telah berada di dekat pembaringan kecil di sudut, di mana Lan Lan tertidur, dan sekali sambar, ia telah memondong anaknya yang masih tidur itu

Kalau engkau tidak segera pergi, aku akan berte riak dan melawan mati-matian, aku akan melaporkan kepada Pangeran Tua dan Pangeran Mahkota

Akan hancur semua pekerjaan kita selama ini!

Lan-moi, kenapa....

Bukankah selama ini aku baik kepadamu, selalu membantumu

Aku cinta padamu, dan aku percaya bahwa engkaupun cinta padaku.

Cukup, pergilah atau aku akan berte riak!

kembali Bi Lan mengancam

Hal ini sungguh tidak disangka sama sekali Can Hong San atau yang sekarang dikenal sebagai Siauw Can

Tadinya dia merasa yakin bahwa kalau dia melakukan pendekatan, janda muda itu tentu akan menyambutnya dengan hangat

Dari sikap janda itu, sinar matanya kalau memandangnya, senyumnya, semuanya menunjukkan bahwa janda itu kagum dan suka kepadanya

Apalagi kalau diingat bahwa sejak pertemuan pertama, dia selalu menolong janda itu, bukan saja menyelamatkannya, juga selanjutnya membimbingnya sehingga mereka berdua dapat memperoleh kedudukan yang menyenangkan dan mulia di rumah Pangeran Tua, bahkan janda itu kini ditugaskan melatih pasukan dayang di istana! Dia tahu betapa Bi Lan merasa berhutang budi kepadanya, oleh karena itu, kalau dia melakukan pendekatan, tentu Bi Lan akan menyambutnya dengan mesra

Ketika tadi dia memperoleh kesempatan, berhasil menyelinap memasuki kamar janda itu, lalu merangkul, membelai dan mengecupnya, dalam keadaan setengah sadar Bi Lan menyambutnya dengan hangat

Akan te tapi, kenapa sekarang keadaannya berubah sama sekali

Tentu s aja dia merasa kecewa bukan main, kecewa, mendongkol dan menyesal

Sia-sia saja semua kebaikan yang dilakukannya selama ini te rhadap Bi Lan.!

Lan-moi, benarkah engkau menolak cintaku

Engkau mengusirku?

Sudahlah, pergi cepat! Aku bukan menggertak saja!

Bi Lan mencabut sepasang pedangnya yang te rgantung di dinding

Baik, aku pergi

Tak kusangka bahwa engkau adalah seorang perempuan yang tidak mengenal budi!

Dan aku tidak menyangka bahwa engkau hanyalah seekor binatang buas berbulu domba!

balas Bi Lan

Uhh!

Siauw Can keluar dari dalam kamar itu melalui daun jendela, sepeti masuknya tadi

Post a Comment