Karena pembelian mendadak dan te rgesa-gesa, tentu saja Hong San harus membayar hampir dua kali lipat harga umum
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebuah kereta meninggalkan dusun itu, dikusiri oleh Hong San
Bi Lan dan Lan Lan duduk di dalam kereta yang dilarikan dengan cepat
Mereka menuju ke kota raja! -ooo0dw0ooo-
Akan tetapi, kenapa ke kota raja
Apakah engkau mempunyai keluarga di sana, toako
Ataukah sahabat?
Bi Lan bertanya ketika malam itu mereka berhenti di sebuah dusun di luar kota raja Tiang-an
Di kota raja yang ramai kita dapat dengan mudah mencari rumah tinggal yang baik, Lan-moi
Juga daerah paling aman sekarang ini adalah di kota raja
Selain itu, di kota besar ini kita akan dapat mencari penghasilan dengan mudah
Aku sendiri dapat berdagang, atau juga mencoba untuk mendapatkan kedudukan.
Bi Lan diam saja
Ia tidak dapat banyak memilih dan menyerahkan saja pada pemuda ini
Sikap yang selalu sopan dan ramah dari pemuda ini memang membuat ia percaya sepenuhnya
Akan tetapi ia masih ragu-ragu apakah ia dapat membalas kasih sayang pemuda itu kepadanya
Ada sesuatu yang membuatnya ragu
Pemuda ini seperti menyimpan suatu rahasia, dan kadang sikapnya aneh dan tidak wajar
Juga, sepasang mata yang te rlalu hitam dari pemuda itu kadangkadang membuatnya merasa ngeri
Kadang-kadang ia seperti melihat sinar yang aneh, penuh kekejaman
Kadang sinar yang dingin dan acuh, akan tetapi segera berubah lagi menjadi ramah, memancar dari sepasang mata itu
Lan-moi, sebelum kita memasuki kota raja, ada sesuatu yang perlu kau tahui dan aku memerlukan bantuanmu.
Setelah mereka agak lama berdiam diri Hong San bicara dengan suara halus dan lirih, seolah dia tidak ingin ada orang lain mendengar ucapannya
Bi Lan mengerutkan alisnya dan mengangkat muka, memandang kepada pemuda itu
Sinar mata pemuda itu nampak mengandung kecerdikan, akan tetapi juga kekhawatiran
Ada apakah, toako
Katakanlah, dan tentu s aja aku siap membantumu.
Ketahuilah, Lan-moi, bahwa kerajaan Tang yang sekarang ini, yang baru tiga empat tahun berdiri, dahulunya merupakan pemberontak-pemberontak te rhadap Kerajaan Sui.
Tentu saja,
kata Bi Lan
Setiap kerajaan atau pemerintahan baru yang merebut pemerintahan lama tadinya adalah pemberontak.
Nah, ketika Panglima Li Si Bin memimpin pasukan pemberontak, aku pernah membantu pasukan Kerajaan Sui untuk menentang pemberontak
Akan tetapi pasukan pemerintah gagal dan kalah
Kaisar Yang Ti melarikan diri dan akupun meninggalkan pasukan pemerintah.
Bi Lan tidak merasa heran
Dalam suasana perang saudara seperti itu, banyak orang te rlibat, dan diapun tahu bahwa banyak pendekar yang dahulu membantu Kerajaan Sui untuk melawan pemberontak yang kemudian memperole h kemenangan dan kini menjadi Kerajaan Tang yang baru.
Lalu mengapa, toako
Hal itu adalah wajar saja.
Akan tetapi, namaku telah dikenal oleh mereka, Lan-moi
Karena kini mereka yang berkuasa, maka te ntu akan ditangkap sebagai sisa pengikut kaisar lama, kalau mereka mengetahui bahwa aku berada di kota raja.
Bi Lan mengerutkan alisnya
Kalau sudah begitu, kenapa engkau malah mengajakku ke kota raja, toako?
Kurasa Panglima Li Si Bin dan ayahnya yang kini menjadi Kaisar Tang Kao Cu, hanya mengenal namaku saja, tidak pernah melihat orangnya
Kalau aku berganti nama, kiraku tidak akan ada yang tahu bahwa aku dahulu membantu kerajaan Sui untuk menentang mereka
Karena itu, aku mengharapkan bantuanmu Lan-moi, agar engkau memaklumi pergantian namaku
Aku akan menggunakan nama Siauw Can saja sehingga engkau masih tetap menyebutku Can-toako.
Bi Lan te rsenyum
Baik, toako
Nama baru itu sebetulnya tidak baru
Siauw Can berarti Can Muda, jadi engkau masih tetap mempergunakan nama keturunmu, hanya nama kecil Hong San s aja yang tidak kaupergunakan.
Engkau benar, Lan-moi
Akan tetapi dengan menggunakan nama Siauw Can, orang akan menganggap bahwa nama keturunanku adalah Siauw, dan nama kecilku Can
De ngan demikian, akan aman, bukan?
De mikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka meninggalkan dusun itu
Seperti biasa, Hong San atau sekarang kita sebut saja Siauw Can menjadi kusir
Bi Lan dan Lan Lan berada di dalam kereta
Sengaja Bi Lan membuka tirai pintu agar dia dan Lan Lan dapat melihat keadaan di sepanjang jalan
Makin mendekati pintu gerbang kota raja, semakin ramailah jalan raya itu
Agaknya para penduduk dusun banyak yang membawa barang dagangan mereka, hasil sawah ladang dan hasil sungai ke pasar di kota raja
Para petani yang memikul barang dagangan mereka atau yang mendorong dengan kereta, berbondong-bondong memasuki pintu gerbang selatan
Banyak pula wanita dusun yang membawa barang dagangan, ada yang memikul, ada yang membawa keranjang
Siauw Can menjalankan keretanya perlahanlahan
Jalan raya menuju ke kota raja itu cukup le bar, akan te tapi karena banyaknya orang yang lalu lalang berbondong-bondong, dia harus menjalankan keretanya dengan hati-hati
Tiba-tiba nampak betapa orang-orang itu mempercepat jalan mereka, bahkan nampak te rgesa-gesa dan wajah mereka membayangkan ketakutan
Melihat hal ini, Bi Lan berkata dari dalam kereta
Can-toako, apakah yang te rjadi
Orang-orang itu nampak ketakutan!
Siauw Can membawa keretanya ke te pi jalan dan berhenti
Akupun tidak tahu mengapa, Lan-moi
Biar kutanyakan kepada mereka.
Dari atas keretanya Siauw Can lalu bertanya kepada seorang petani yang memikul ketelanya
Paman, apakah yang te rjadi
Kenapa kalian kelihatan ketakutan?
Petani itu menengok, akan te tapi tidak menjawab, melainkan dengan telunjuk kirinya dia menuding ke arah depan dan melanjutkan perjalanannya dengan te rgesa-gesa
Siauw Can dan Bi Lan memandang ke arah yang ditunjuk
Mereka kini melihat serombongan orang, tujuh orang jumlahnya, berjalan melenggang sambil tertawa-tawa
Mereka itu bukan orang Han, karena pakaian mereka berbeda
Berjubah panjang dengan sepatu kulit yang tinggi, dan kepala merekapun te rtutup topi bulu
Mereka adalah orang-orang Turki! Di pinggang mereka tergantung golok melengkung
Rata-rata mereka berwajah tampan dengan kumis melintang, usia antara tigapuluh sampai empat puluh tahun
Seorang di antara mereka yang berusia empatpuluhan tahun, dengan codet atau bekas luka di pipi kanan, memegang sebatang cambuk hitam
Agaknya mereka inilah yang menimbulkan suasana ketakutan karena semua orang yang menuju ke kota raja dan berpapasan dengan tujuh orang ini, semua lalu minggir dan bahkan menyeberang untuk mengambil sisi lain agar jangan sampai berpapasan dekat dengan tujuh orang itu
Seorang petani yang membawa sepikul kentang, berhenti di dekat kereta
Dia sudah tua, usianya sudah enampuluh tahun lebih
Dia berhenti untuk menghapus keringatnya
Seluruh tubuh atas yang tidak berbaju itu penuh keringat, juga wajah petani itu nampak gelisah
Kesempatan ini dipergunakan oleh Siauw Can untuk turun dari atas kereta mendekati petani itu
Paman, kami bukan orang sini
Tolong beri tahu kenapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu?
tanyanya
De ngan wajah ketakutan petani itu memandang kepada Siauw Can, kemudian menje nguk ke dalam kereta
Kalau begitu, sebaiknya kongcu cepat pergi dari sini, membawa kereta ini jauh-jauh
Mereka itu orang orang Turki yang sering membikin ribut, apalagi urusan wanita cantik!
Dengan tergesa-gesa diapun cepat memikul dagangannya, menyeberang dan melanjutkan perjalanannya
Tar-tar-tarrr......
te rdengar bunyi cambuk meledak-ledak, disusul jerit suara wanita
Siauw Can dan Bi Lan cepat mengangkat muka memandang
Kiranya si codet pemegang cambuk tadi telah menggerakkan cambuk secara luar biasa sekali
Cambuk itu menyambar-nyambar ke arah seorang wanita dusun, masih muda, antara duapuluh lima tahun usianya, dengan wajah sederhana
Cambuk itu menyambar-nyambar tanpa melukai wanita itu, akan tetapi merobekrobek baju atasnya sehingga kini wanita itu menjerit-jerit dengan tubuh atas telanjang bulat! Tentu saja ia menggunakan kedua le ngan untuk memeluk dadanya, berlari ketakutan sambil menangis
Tujuh orang itu te rtawa bergelak melihat hal itu, seolah-olah melihat sesuatu yang lucu
Bedebah......!
Bi Lan menyumpah dengan muka berubah merah sekali
Kini mengertilah ia mengapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu
Kiranya mereka adalah orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang tanpa ada yang berani menentang.! Iapun menduga bahwa wanita tadi memang hanya dihina saja, dibuat lelucon
Andaikata wanita itu cantik, tentu akan lain jadinya dan ngeri ia membayangkan apa yang pernah dilakukan tujuh orang ini te rhadap wanita dusun yang cantik
Bi Lan memaki sambil meloncat turun dari kereta
Suaranya terdengar oleh tujuh orang itu dan mereka menengok
Sejenak mereka itu te rtegun, tak mengira di te mpat itu akan melihat seorang wanita muda secantik itu turun dari kereta
Kemudian, mereka bicara dan te rtawatawa
Entah apa yang mereka bicarakan, Bi Lan tidak mengerti karena mereka mempergunakan Bahasa Turki
Sambil tertawa-tawa tujuh orang itu menghampiri Bi Lan yang memondong Lan Lan
Si codet, yang agaknya menjadi pemimpin rombongan orang Turki itu, kini menghadapi Bi Lan dan matanya yang bulat dan hitam itu seperti hendak menelan wanita di depannya bulat-bulat
Agaknya mereka juga melihat bahwa wanita cantik itu bukan keluarga pejabat karena selain kereta itu kereta biasa, juga tidak ada pengawal, dan kusirnya seorang pemuda berpakaian biasa
Kalau te rhadap keluarga pejabat, tentu mereka tidak akan berani bertindak sembarangan
Nona manis, dari mana dan hendak ke mana
Marilah kami menjadi pengantar dan pengawal nona!
katanya dengan logat yang aneh dan lucu
Heh-heh, nona boleh pilih di antara kami, siapa yang berkenan di hati nona
Pilih saja aku yang paling jantan di antara kami, ha-ha-hal
kata orang ke dua
Orang ini memang nampak jantan, dengan kumis yang indah dan jenggot yang terpelihara rapi, tumbuh dari bawah te linga dengan lebat sekali!
Kalian ini orang-orang biadab! Kalian tadi menghina seorang wanita, dan sekarang berani mengganggu aku
Agaknya kalian memang sudah bosan hidup, ya
Anjing-anjing liar, pergilah sebelum aku menghajar kalian!
Bi Lan masih menahan kesabarannya karena Siauw Can berkedip kepadanya minta agar ia bersabar