Halo!

Naga Beracun Chapter 51

Memuat...

Karena pembelian mendadak dan te rgesa-gesa, tentu saja Hong San harus membayar hampir dua kali lipat harga umum

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebuah kereta meninggalkan dusun itu, dikusiri oleh Hong San

Bi Lan dan Lan Lan duduk di dalam kereta yang dilarikan dengan cepat

Mereka menuju ke kota raja! -ooo0dw0ooo-

Akan tetapi, kenapa ke kota raja

Apakah engkau mempunyai keluarga di sana, toako

Ataukah sahabat?

Bi Lan bertanya ketika malam itu mereka berhenti di sebuah dusun di luar kota raja Tiang-an

Di kota raja yang ramai kita dapat dengan mudah mencari rumah tinggal yang baik, Lan-moi

Juga daerah paling aman sekarang ini adalah di kota raja

Selain itu, di kota besar ini kita akan dapat mencari penghasilan dengan mudah

Aku sendiri dapat berdagang, atau juga mencoba untuk mendapatkan kedudukan.

Bi Lan diam saja

Ia tidak dapat banyak memilih dan menyerahkan saja pada pemuda ini

Sikap yang selalu sopan dan ramah dari pemuda ini memang membuat ia percaya sepenuhnya

Akan tetapi ia masih ragu-ragu apakah ia dapat membalas kasih sayang pemuda itu kepadanya

Ada sesuatu yang membuatnya ragu

Pemuda ini seperti menyimpan suatu rahasia, dan kadang sikapnya aneh dan tidak wajar

Juga, sepasang mata yang te rlalu hitam dari pemuda itu kadangkadang membuatnya merasa ngeri

Kadang-kadang ia seperti melihat sinar yang aneh, penuh kekejaman

Kadang sinar yang dingin dan acuh, akan tetapi segera berubah lagi menjadi ramah, memancar dari sepasang mata itu

Lan-moi, sebelum kita memasuki kota raja, ada sesuatu yang perlu kau tahui dan aku memerlukan bantuanmu.

Setelah mereka agak lama berdiam diri Hong San bicara dengan suara halus dan lirih, seolah dia tidak ingin ada orang lain mendengar ucapannya

Bi Lan mengerutkan alisnya dan mengangkat muka, memandang kepada pemuda itu

Sinar mata pemuda itu nampak mengandung kecerdikan, akan tetapi juga kekhawatiran

Ada apakah, toako

Katakanlah, dan tentu s aja aku siap membantumu.

Ketahuilah, Lan-moi, bahwa kerajaan Tang yang sekarang ini, yang baru tiga empat tahun berdiri, dahulunya merupakan pemberontak-pemberontak te rhadap Kerajaan Sui.

Tentu saja,

kata Bi Lan

Setiap kerajaan atau pemerintahan baru yang merebut pemerintahan lama tadinya adalah pemberontak.

Nah, ketika Panglima Li Si Bin memimpin pasukan pemberontak, aku pernah membantu pasukan Kerajaan Sui untuk menentang pemberontak

Akan tetapi pasukan pemerintah gagal dan kalah

Kaisar Yang Ti melarikan diri dan akupun meninggalkan pasukan pemerintah.

Bi Lan tidak merasa heran

Dalam suasana perang saudara seperti itu, banyak orang te rlibat, dan diapun tahu bahwa banyak pendekar yang dahulu membantu Kerajaan Sui untuk melawan pemberontak yang kemudian memperole h kemenangan dan kini menjadi Kerajaan Tang yang baru.

Lalu mengapa, toako

Hal itu adalah wajar saja.

Akan tetapi, namaku telah dikenal oleh mereka, Lan-moi

Karena kini mereka yang berkuasa, maka te ntu akan ditangkap sebagai sisa pengikut kaisar lama, kalau mereka mengetahui bahwa aku berada di kota raja.

Bi Lan mengerutkan alisnya

Kalau sudah begitu, kenapa engkau malah mengajakku ke kota raja, toako?

Kurasa Panglima Li Si Bin dan ayahnya yang kini menjadi Kaisar Tang Kao Cu, hanya mengenal namaku saja, tidak pernah melihat orangnya

Kalau aku berganti nama, kiraku tidak akan ada yang tahu bahwa aku dahulu membantu kerajaan Sui untuk menentang mereka

Karena itu, aku mengharapkan bantuanmu Lan-moi, agar engkau memaklumi pergantian namaku

Aku akan menggunakan nama Siauw Can saja sehingga engkau masih tetap menyebutku Can-toako.

Bi Lan te rsenyum

Baik, toako

Nama baru itu sebetulnya tidak baru

Siauw Can berarti Can Muda, jadi engkau masih tetap mempergunakan nama keturunmu, hanya nama kecil Hong San s aja yang tidak kaupergunakan.

Engkau benar, Lan-moi

Akan tetapi dengan menggunakan nama Siauw Can, orang akan menganggap bahwa nama keturunanku adalah Siauw, dan nama kecilku Can

De ngan demikian, akan aman, bukan?

De mikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka meninggalkan dusun itu

Seperti biasa, Hong San atau sekarang kita sebut saja Siauw Can menjadi kusir

Bi Lan dan Lan Lan berada di dalam kereta

Sengaja Bi Lan membuka tirai pintu agar dia dan Lan Lan dapat melihat keadaan di sepanjang jalan

Makin mendekati pintu gerbang kota raja, semakin ramailah jalan raya itu

Agaknya para penduduk dusun banyak yang membawa barang dagangan mereka, hasil sawah ladang dan hasil sungai ke pasar di kota raja

Para petani yang memikul barang dagangan mereka atau yang mendorong dengan kereta, berbondong-bondong memasuki pintu gerbang selatan

Banyak pula wanita dusun yang membawa barang dagangan, ada yang memikul, ada yang membawa keranjang

Siauw Can menjalankan keretanya perlahanlahan

Jalan raya menuju ke kota raja itu cukup le bar, akan te tapi karena banyaknya orang yang lalu lalang berbondong-bondong, dia harus menjalankan keretanya dengan hati-hati

Tiba-tiba nampak betapa orang-orang itu mempercepat jalan mereka, bahkan nampak te rgesa-gesa dan wajah mereka membayangkan ketakutan

Melihat hal ini, Bi Lan berkata dari dalam kereta

Can-toako, apakah yang te rjadi

Orang-orang itu nampak ketakutan!

Siauw Can membawa keretanya ke te pi jalan dan berhenti

Akupun tidak tahu mengapa, Lan-moi

Biar kutanyakan kepada mereka.

Dari atas keretanya Siauw Can lalu bertanya kepada seorang petani yang memikul ketelanya

Paman, apakah yang te rjadi

Kenapa kalian kelihatan ketakutan?

Petani itu menengok, akan te tapi tidak menjawab, melainkan dengan telunjuk kirinya dia menuding ke arah depan dan melanjutkan perjalanannya dengan te rgesa-gesa

Siauw Can dan Bi Lan memandang ke arah yang ditunjuk

Mereka kini melihat serombongan orang, tujuh orang jumlahnya, berjalan melenggang sambil tertawa-tawa

Mereka itu bukan orang Han, karena pakaian mereka berbeda

Berjubah panjang dengan sepatu kulit yang tinggi, dan kepala merekapun te rtutup topi bulu

Mereka adalah orang-orang Turki! Di pinggang mereka tergantung golok melengkung

Rata-rata mereka berwajah tampan dengan kumis melintang, usia antara tigapuluh sampai empat puluh tahun

Seorang di antara mereka yang berusia empatpuluhan tahun, dengan codet atau bekas luka di pipi kanan, memegang sebatang cambuk hitam

Agaknya mereka inilah yang menimbulkan suasana ketakutan karena semua orang yang menuju ke kota raja dan berpapasan dengan tujuh orang ini, semua lalu minggir dan bahkan menyeberang untuk mengambil sisi lain agar jangan sampai berpapasan dekat dengan tujuh orang itu

Seorang petani yang membawa sepikul kentang, berhenti di dekat kereta

Dia sudah tua, usianya sudah enampuluh tahun lebih

Dia berhenti untuk menghapus keringatnya

Seluruh tubuh atas yang tidak berbaju itu penuh keringat, juga wajah petani itu nampak gelisah

Kesempatan ini dipergunakan oleh Siauw Can untuk turun dari atas kereta mendekati petani itu

Paman, kami bukan orang sini

Tolong beri tahu kenapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu?

tanyanya

De ngan wajah ketakutan petani itu memandang kepada Siauw Can, kemudian menje nguk ke dalam kereta

Kalau begitu, sebaiknya kongcu cepat pergi dari sini, membawa kereta ini jauh-jauh

Mereka itu orang orang Turki yang sering membikin ribut, apalagi urusan wanita cantik!

Dengan tergesa-gesa diapun cepat memikul dagangannya, menyeberang dan melanjutkan perjalanannya

Tar-tar-tarrr......

te rdengar bunyi cambuk meledak-ledak, disusul jerit suara wanita

Siauw Can dan Bi Lan cepat mengangkat muka memandang

Kiranya si codet pemegang cambuk tadi telah menggerakkan cambuk secara luar biasa sekali

Cambuk itu menyambar-nyambar ke arah seorang wanita dusun, masih muda, antara duapuluh lima tahun usianya, dengan wajah sederhana

Cambuk itu menyambar-nyambar tanpa melukai wanita itu, akan tetapi merobekrobek baju atasnya sehingga kini wanita itu menjerit-jerit dengan tubuh atas telanjang bulat! Tentu saja ia menggunakan kedua le ngan untuk memeluk dadanya, berlari ketakutan sambil menangis

Tujuh orang itu te rtawa bergelak melihat hal itu, seolah-olah melihat sesuatu yang lucu

Bedebah......!

Bi Lan menyumpah dengan muka berubah merah sekali

Kini mengertilah ia mengapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu

Kiranya mereka adalah orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang tanpa ada yang berani menentang.! Iapun menduga bahwa wanita tadi memang hanya dihina saja, dibuat lelucon

Andaikata wanita itu cantik, tentu akan lain jadinya dan ngeri ia membayangkan apa yang pernah dilakukan tujuh orang ini te rhadap wanita dusun yang cantik

Bi Lan memaki sambil meloncat turun dari kereta

Suaranya terdengar oleh tujuh orang itu dan mereka menengok

Sejenak mereka itu te rtegun, tak mengira di te mpat itu akan melihat seorang wanita muda secantik itu turun dari kereta

Kemudian, mereka bicara dan te rtawatawa

Entah apa yang mereka bicarakan, Bi Lan tidak mengerti karena mereka mempergunakan Bahasa Turki

Sambil tertawa-tawa tujuh orang itu menghampiri Bi Lan yang memondong Lan Lan

Si codet, yang agaknya menjadi pemimpin rombongan orang Turki itu, kini menghadapi Bi Lan dan matanya yang bulat dan hitam itu seperti hendak menelan wanita di depannya bulat-bulat

Agaknya mereka juga melihat bahwa wanita cantik itu bukan keluarga pejabat karena selain kereta itu kereta biasa, juga tidak ada pengawal, dan kusirnya seorang pemuda berpakaian biasa

Kalau te rhadap keluarga pejabat, tentu mereka tidak akan berani bertindak sembarangan

Nona manis, dari mana dan hendak ke mana

Marilah kami menjadi pengantar dan pengawal nona!

katanya dengan logat yang aneh dan lucu

Heh-heh, nona boleh pilih di antara kami, siapa yang berkenan di hati nona

Pilih saja aku yang paling jantan di antara kami, ha-ha-hal

kata orang ke dua

Orang ini memang nampak jantan, dengan kumis yang indah dan jenggot yang terpelihara rapi, tumbuh dari bawah te linga dengan lebat sekali!

Kalian ini orang-orang biadab! Kalian tadi menghina seorang wanita, dan sekarang berani mengganggu aku

Agaknya kalian memang sudah bosan hidup, ya

Anjing-anjing liar, pergilah sebelum aku menghajar kalian!

Bi Lan masih menahan kesabarannya karena Siauw Can berkedip kepadanya minta agar ia bersabar

Post a Comment