Halo!

Lembah Selaksa Bunga Chapter 56

Memuat...

“Tranggg......!” Thian Lo-mo yang sedang mengamuk dan sudah membunuh delapan orang perajurit itu terkejut bukan main ketika tiba-tiba ada halilintar menyambar dan goloknya terpental, tangan kanannya terasa panas sehingga hampir saja dia melepaskan gagang golok yang dipegangnya itu. Ketika dia melompat ke samping dan cepat memutar tubuh, dia berhadapan dengan seorang gadis cantik yang gagah perkasa.

Gadis berusia sekitar duapuluh tiga tahun, tubuhnya padat ramping dan indah menggairahkan, rambutnya hitam panjang ikal mayang dengan anak rambut berjuntai lembut di dahi dan kedua pelipisnya. Matanya bagaikan sepasang bintang kejora. Hidungnya mancung kecil dan mulutnya merupakan daya tarik yang amat menggairahkan. Seorang gadis yang benar-benar jelita namun juga tampak gagah berwibawa.

Thian Lo-mo sudah mendengar akan nama besar Hwe-thian Mo-li, maka begitu berhadapan dengan Siang Lan dan merasakan tangkisan pedang Lui-kong-kiam tadi, dia membentak.

“Engkaukah yang berjuluk Hwe-thian Mo-li?”

“Benar, aku Hwe-thian Mo-li yang telah datang untuk membasmi pemberontak jahat macam kalian!”

“Perempuan hina! Engkau telah membunuh sahabat-sahabat kami Ngo-lian Heng-te dan beberapa orang saudara kami dari Pek-lian-kauw sekarang rasakan pembalasan kami! Tee Lo-mo, ini musuh kita Hwe-thian Mo-li!” teriak Thian Lo-mo dengan marah sekali.

Pada saat itu, seorang kakek lain yang bermuka hitam arang datang menerjang dengan golok besarnya. Hwe-thian Mo-li cepat mengelak dan ia pun segera menggerakkan pedangnya, menghadapi pengeroyokan dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu. Ternyata mereka berdua itu tangguh sekali setelah maju bersama. Bukan hanya ilmu golok mereka yang amat kuat, namun juga tangan kiri mereka seringkali melancarkan pukulan dorongan jarak jauh yang mendatangkan angin kuat dan menghembuskan uap.

Uap putih keluar dari telapak tangan Thian Lo-mo dan uap hitam keluar dari tangan Tee Lo-mo! Betapa pun lihainya, Siang Lan terdesak oleh pengeroyokan dua orang tokoh Pek-lian-kauw itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan dua orang pemuda sudah menerjang maju membantu Siang Lan. Mereka adalah Sim Tek Kun dan Chang Hong Bu yang tadi mengamuk merobohkan banyak anak buah Pek-lian-kauw dan melihat betapa Siang Lan menghadapi pengeroyokan dua orang pendeta Pek-lian-kauw yang lihai, mereka berdua menerjang maju dan menyerang Thian Lo-mo!

“Trang-cringgg !” Thian Lo-mo terhuyung ke belakang ketika dia menangkis dua sinar pedang itu dengan

goloknya. Dia terkejut sekali akan tetapi segera menghadapi serangan dua orang pemuda yang memiliki gerakan pedang amat hebat. Diam-diam dia mengeluh karena dia benar-benar menghadapi dua orang lawan yang amat tangguh. Melawan seorang saja dari mereka sudah cukup berat apalagi mereka itu maju bersama.

Sim Tek Kun adalah seorang murid Kun-lun-pai, sedangkan Chang Hong Bu adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai! Tentu saja Thian Lo-mo terdesak hebat dan hanya dapat melindungi diri dengan putaran golok besarnya sambil terus bergerak mundur.

Sementara itu, ditinggalkan seorang diri melawan Hwe-thian Mo-li yang memiliki ilmu pedang amat dahsyat itu, Tee Lo-mo juga segera terdesak hebat. Pengerahan tenaga sihir dan permainan goloknya semua dikeluarkan namun sia-sia belaka, dia tidak mampu menghindarkan semua sambaran kilat halilintar dari pedang gadis itu dan setelah lewat duapuluh jurus, pedang Siang Lan menyambar lehernya dan Tee Lo-mo roboh dan tewas seketika!

Siang Lan tidak mempedulikannya lagi dan cepat ia mencari dua orang pemuda yang tadi bertanding mengeroyok Thian Lo-mo. Tak jauh dari situ ia melihat dua orang itu baru saja merobohkan Thian Lo-mo yang tewas terkena sambaran pedang jago-jago muda dari Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai itu.

Pertempuran berlangsung seru, akan tetapi setelah dua orang tokoh besar Pek-lian-kauw itu tewas, semangat para pemberontak menjadi lemah. Mereka masih melawan mati-matian dan bertahan sampai tengah hari, akan tetapi ketika satu demi satu para pimpinan mereka roboh dan banyak rekan-rekan mereka berjatuhan, mereka menjadi panik.

Akhirnya, tak dapat mereka pertahankan lagi dan mulailah mereka melarikan diri cerai-berai. Ada yang mencoba untuk bertahan dalam terowongan-terowongan, ada pula yang melarikan diri menggunakan alat peledak yang mengeluarkan asap tebal. Akan tetapi, akhirnya paling banyak hanya seratus orang saja dari mereka yang berhasil lolos dan melarikan diri. Lainnya roboh tewas atau luka dan tertawan.

Biarpun di pihak pasukan pemerintah ada pula yang gugur, namun pasukan pemerintah memperoleh kemenangan dalam pertempuran itu dan mereka bersorak gembira ketika membakar bekas-bekas sarang gerombolan di Bukit Cemara itu. Hampir semua pemimpin gerombolan tewas dalam pertempuran itu.

11.31. Gadis Desa Penjual Silat

Akan tetapi, diam-diam Hwe-thian Mo-li dan dua orang pemuda perkasa, Sim Tek Kun dan Chang Hong Bu, tiga para perwira tinggi yang memimpin pasukan pemerintah, kecewa karena mereka tidak menemukan para pembunuh yang dicari-cari oleh Jenderal Chang. Tadinya Siang Lan menduga bahwa dua orang Thian-te Lo-mo adalah pembunuh-pembunuh itu, akan tetapi setelah ia bersama Tek Kun dan Hong Bu menewaskan mereka, ia menduga bahwa para pembunuh itu bukan mereka dan agaknya tidak ikut dalam gerombolan yang telah dibasmi itu.

Biarpun demikian, Jenderal Chang Ku Cing merasa gembira akan keberhasilan operasi pembasmian gerombolan pemberontak itu. Hal ini setidaknya membuat para pemberontak menjadi jerih dan tidak berani main-main di kota raja. Dan dia pun tetap meningkatkan penjagaan karena siapa tahu, para pemberontak akan melakukan kekacauan seperti itu pula, ialah membunuhi para pejabat tinggi.

Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan ditahan oleh Ong Lian Hong untuk sementara agar tinggal di rumah mereka. Selain Lian Hong merasa rindu kepada enci angkatnya itu, iapun mempunyai niat yang kuat untuk mendekatkan dan menjodohkan Nyo Siang Lan dengan Chang Hong Bu. Ia merasa bahwa pemuda keponakan Jenderal Chang itu merupakan jodoh yang tepat sekali bagi Nyo Siang Lan. Maka ia membujuk suaminya untuk menyetujui kalau mereka mengundang Hong Bu untuk datang bertamu dan bermain di rumah mereka agar memberi kesempatan sebanyaknya kepada dua orang muda itu untuk saling berkenalan lebih akrab lagi.

Bahkan Sim Tek Kun terpaksa memenuhi permintaan yang sangat dari isterinya untuk diam-diam menghubungi Jenderal Chang Ku Cing dan mengajukan usul mereka untuk menjodohkan Chang Hong Bu dengan Nyo Siang Lan. Jenderal Chang Ku Cing dengan sendirinya merasa setuju sekali karena dia memang pengagum besar Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan. Dia menyatakan persetujuannya dan berjanji untuk membicarakan hal itu kepada keponakannya.

“Enci Lan, aku ingin mengajakmu untuk mengunjungi Ibu kandungku dan kakek serta Nenekku. Maukah engkau?” Pada pagi hari itu Lian Hong berkata kepada Siang Lan setelah mereka sarapan pagi.

“Kalian berdua pergilah, aku sendiri harus menghadap Paman Jenderal Chang yang kemarin memesan agar aku pagi ini berkunjung kepadanya karena ada urusan penting yang akan dibicarakan.”

Lian Hong tersenyum, maklum bahwa yang akan dibicarakan suaminya dan Jenderal Chang Ku Cing adalah urusan perjodohan antara Chang Hong Bu dan Nyo Siang Lan seperti yang mereka rencanakan. Akan tetapi ia diam saja karena hal itu masih mereka rahasiakan terhadap Siang Lan sendiri. Mereka masih khawatir kalau-kalau Siang Lan akan merasa tersinggung dan marah.

Mereka menghendaki agar hubungan antara Siang Lan dan Hong Bu terjadi secara wajar dan timbul keakraban dan kasih sayang di antara mereka. Kalau sudah begitu keadaannya, maka mudahlah bagi mereka untuk mengusulkan perjodohan tanpa menyinggung perasaan gadis yang keras hati itu.

Siang Lan terkejut akan tetapi juga gembira dan tegang hatinya mendengar disebutnya ibu kandung Lian Hong. Ibu kandung Lian Hong berarti isteri mendiang gurunya, Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri!

“Ah, aku akan merasa senang dan terhormat sekali bertemu dengan ibu kandungmu atau isteri mendiang Guruku, Hong-moi!” katanya. “Di mana beliau tinggal?”

“Ibuku tinggal di rumah Kakekku, yaitu Jaksa Ciok Gun. Dahulu Kakekku adalah Jaksa di Hun-lam, akan tetapi sudah lama beliau pindah ke kota raja dan menjadi jaksa di daerah bagian selatan kota raja.”

Demikianlah, dengan gembira dua orang wanita itu lalu menuju ke bagian selatan kota raja, ke rumah Jaksa Ciok yang menjadi kakek Ong Lian Hong. Seperti kita ketahui, Ciok Bwe Kim, yaitu ibu kandung Ong Lian Hong, kini tinggal bersama ayahnya, Jaksa Ciok Gun itu. Mereka naik kereta karena Ong Lian Hong adalah mantu Pangeran Sim Liok Ong, jadi ia kini termasuk seorang wanita bangsawan yang tentu saja tidak pantas kalau melakukan perjalanan dengan jalan kaki!

Post a Comment