Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 67

Memuat...

Teriak gadis yang menyerang itu.

"Hui-yang Sin-kang....!"

Suma Lian juga berseru heran. Gadis itu memandang marah, lalu menudingkan telunjuk ke arah muka Suma Lian.

"Engkau dari mana mencuri ilmu dari Pulau Es?"

Bentaknya. Suma Lian tersenyum mengejek.

"Sobat, engkaulah yang mencuri ilmu dari keluargaku. Aku bernama Suma Lian, keturunan langsung dari penghuni Pulau Es!"

"Aihhhhh....!"

Gadis itu berseru dan memandang dengan mata terbelalak.

"Kau kau.... Suma Lian, puteri dari paman Suma Ceng Liong?"

"Benar, dan siapakah engkau?"

"Aku Kao Hong Li...."

"Aihhh....! Engkau puteri bibi Suma Hui....?"

Seru Suma Lian dan mereka maju saling berangkulan.

"Enci Hong Li, maafkan aku, maafkan kelancanganku tadi."

"Sudahlah, adik Lian. Sering aku datang berkunjung ke rumah paman Suma Ceng Liong, akan tetapi engkau belum juga pulang. Tentu ada sebabnya mengapa engkau tadi mencegah aku mengejar orang yang menculik anak itu."

Suma Lian merasa kaget setengah mati.

"Apa? Dia.... dia itu menculik anak itu? Wah, kalau begitu aku yang bersalah, enci Hong Li. Lalu ia menceritakan bahwa tadi ia mendengar anak itu merengek minta pulang, dan laki-laki itu mengatakan bahwa mereka harus melarikan diri darimu yang hendak membunuh mereka, terutama membunuh anak itu. Maka, ketika melihat betapa mereka melarikan diri dan engkau mengejarnya, aku pun langsung saja turun tangan mencegahmu. Maafkan aku...."

"Hemmm, penculik itu telah menipu si anak dan engkau pun ikut pula tertipu, adik Lian. Aku melihat dia melarikan anak laki-laki itu yang berteriak minta dilepaskan dan minta dipulangkan, maka aku melakukan pengejaran sejak kemarin. Aku kehilangan jejaknya dan baru aku temukan mereka di rumah penginapan ini."

"Akan tetapi siapakah dia, Enci? Dan mengapa pula dia menculik anak laki-laki itu? Siapa pula anak laki-laki itu?"

"Aku juga tidak tahu siapa mereka dan mengapa pula dia menculik anak itu. Ketahuilah, adik Lian, aku sedang melakukan perjalanan menuju ke rumah orang tuamu, untuk memberi kabar tentang meninggalnya kakek dan nenek di gurun pasir...."

"Ahhh! Penghuni Gurun Pasir....?"

"Benar, kakek dan nenekku tewas setelah istana itu diserbu banyak datuk sesat, dan setelah memberitahukan kepada orang tuamu, aku akan pergi mencari siapa para datuk yang pernah menyerbu ke sana. Dan engkau sendiri, engkau sudah berapa lama pulang dan sekarang hendak ke mana?"

"Aku diutus oleh orang tuaku untuk mengundang paman tua Suma Ciang Bun agar suka datang ke rumah kami."

"Aih, paman Suma Ciang Bun? Dia bertapa di Tapa-san dan agaknya sudah tidak mau lagi mencampuri dunia ramai. Aku pernah beberapa kali berkunjung ke sana. Ah, sungguh tidak kusangka kita akan saling bertemu seperti ini, adik Lian!"

"Aku pun girang sekali dapat bertemu denganmu, enci Hong Li. Akan tetapi, setelah mendengar keteranganmu tentang laki-laki yang bercaping lebar tadi bahwa dia menculik anak itu, biarlah aku akan melakukan pengejaran dan menolong anak itu!"

"Tapi, ke mana engkau akan mencarinya, adik Lian? Dan aku pun belum yakin benar, baru mencurigainya menculik anak, belum ada bukti nyata, bahkan aku tidak tahu siapa dia dan siapa anak itu."

"Biarlah, Enci. Aku akan menyelidiki. Terpaksa kita berpisah di sini, Enci. Engkau melanjutkan perjalanan ke rumah orang tuaku menyampai-kan berita duka itu, dan aku akan pergi berkunjung kepada paman Suma Ciang Bun setelah menyelidiki penculik itu."

Kao Hong Li merangkul lagi, merasa sayang untuk saling berpisah.

"Aih, kita baru saja bertemu secara tidak sengaja. Kalau kita tidak sama-sama menggunakan Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang, entah bagaimana jadinya dengan kita yang saling hantam sendiri. Akan kuceritakan ini kepada orang tuamu. Ah, aku masih ingin sekali bersamamu dan bercakap-cakap lama, adik Lian."

"Aku pun begitu, Enci. Akan tetapi karena kita berdua sama-sama mempunyai tugas, biarlah lain kali masih banyak kesempatan bagi kita untuk saling berjumpa dan bercakap-cakap sepuasnya."

"Baiklah, adik Lian. Nah, selamat berpisah. Akan tetapi kalau engkau mengejar orang bercaping lebar itu, berhati-hatilah. Melihat gerakannya ketika lari, kurasa dia bukanlah seorang yang lemah."

"Engkau benar, enci Hong Li. Akan tetapi aku pun belum yakin benar bahwa dia seorang penjahat yang menculik anak itu. Mungkin hanya timbul kesalahpahaman saja antara dia dan engkau. Aku tahu ke mana harus mencarinya karena ketika dia bicara dengan anak itu di dalam kamarnya, dia ada menyebutkan bahwa mereka akan pergi ke kota So-tung. Aku akan menyusul ke sana."

"Aku tidak khawatir, engkau tentu akan mampu mengatasinya, Lian-moi."

Kedua orang gadis itu yang masih saudara misan, saling peluk lagi kemudian Kao Hong Li meninggalkan tempat itu, berkelebat lenyap di kegelapan bayangan pohon. Suma Lian juga cepat masuk kembali ke dalam kamarnya dan setelah menggendong buntalan pakaiannya, ia pun meninggalkan kamar rumah penginapan itu tanpa pamit karena ia sudah membayar sewa kamar itu sore tadi. Tidak sukar bagi Suma Lian untuk menemu-kan kota So-tung yang letaknya kurang lebih tiga puluh li dari kota di mana ia bermalam itu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi ia telah memasuki kota So-tung. Sayang ia tertinggal jauh sehingga ia tidak lagi melihat bayangan laki-laki bercaping lebar bersama anak laki-laki itu.

Namun, Suma Lian tidak putus asa dan ia pun segera berputar-putar melakukan penyelidikan di seluruh kota. Ketekunannya berhasil baik. Ketika ia berjalan tiba di dekat pintu gerbang barat, ia melihat bayangan orang berkelebat dan ternyata bayangan itu adalah laki-laki berpakaian serba hijau yang mengenakan caping lebar, yang semalam melarikan diri bersama anak laki-laki yang dikejar oleh Kao Hong Li itu! Akan tetapi, kini laki-laki itu berjalan seorang diri tanpa menggendong anak laki-laki dan nampaknya tergesa-gesa hendak keluar dari kota melalui pintu gerbang barat. Melihat ini, Suma Lian juga mempercepat langkahnya keluar dari pintu gerbang itu. Pagi itu masih sunyi sekali, belum nampak seorang pun manusia di luar pintu gerbang dan Suma Lian melihat betapa laki-laki bercaping itu menoleh, kemudian melarikan diri!

Post a Comment