Inilah sepasang senjatanya yang amat ampuh, dan selain ia ahli bersilat pedang sehingga mendapat julukan Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti), juga kebutannya itu tidak kalah berbahaya daripada pedangnya karena bulu-bulu kebutan berwarna merah itu mengandung racun yang jahat. Setelah membentak demikian, tanpa malu-malu lagi melihat bahwa gadis muda yang diserangnya itu bertangan kosong, Sin-kiam Mo-li sudah menggerakkan kedua senjatanya, menyerang dengan dahsyatnya. Melihat ini, Li Sian terkejut. Namun, gadis ini memang memiliki ketenangan luar biasa dan ia pun tahu apa yang harus dilakukannya. Cepat ia memainkan Ilmu San-po Cin-keng, yaitu ilmu langkah ajaib dan bersilat dengan Kong-jiu Jip-tin (Dengan Tangan Kosong Memasuki Barisan).
Langkah-langkah atau geseran-geseran kedua kakinya dengan indah dan lembutnya membuat tubuhnya berkelebatan seperti bayangan yang sukar diserang! Biarpun pedang dan kebutan itu mengepung dan menyambarnya dari semua jurusan, namun Li Sian tetap saja dapat menghindarkan diri dengan langkah ajaibnya! Namun, melihat kehebatan lawan, kalau hanya terus mengelak pun ia masih terancam bahaya, maka kedua tangannya tidak tinggal diam, kadangkadang ia pun melayangkan tamparan yang mengandung Hui-yang Sin-kang di tangan kanan dan Swat-im Sin-kang di tangan kiri. Kembali Sin-kiam Mo-li terkejut bukan main. Sambaran tangan kanan yang mengandung hawa panas dan tangan kiri mengandung hawa dingin itu amat mengejutkannya.
"Bocah setan! Apakah engkau murid Pulau Es?"
Bentaknya tanpa mengurangi serangannya, kebutannya membabat ke arah muka sedangkan pedangnya menusuk dada. Li Sian menggeser kaki memutar tubuh sehingga kedua serangan itu luput dan ia pun mendorong dengan tangan kanannya sambil mengerahkan Hui-yang Sin-kang. Hawa panas menyambar ke arah dada Sin-kiam Mo-li yang terpaksa harus meloncat ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan yang cukup berbahaya itu.
"Tidak ada hubungannya denganmu!"
Jawab Li Sian dan gadis ini melihat sebatang ranting tak jauh dari situ, maka cepat kakinya membuat langkah-langkah aneh dan ia sudah berhasil menyambar ranting itu. Sebatang ranting kayu sebesar ibu jari kaki yang panjangnya kurang lebih empat kaki,
Tepat sekali untuk dipakai sebagai pengganti pedang dan ia pun kini memutar ranting itu sambil memainkan Ilmu Pedang Lo-thian Kiam-sut, menghadapi sepasang senjata lawan! Kini lebih mudah bagi Li Sian untuk melindungi dirinya, akan tetapi karena maklum akan lihainya sepasang senjata lawan, tetap saja ia mengandalkan langkah-langkah ajaib San-po Cin-keng untuk mengelak dan membalas dengan tusukan ranting yang dimainkan sebagai pedang! Terjadilah perkelahian yang amat seru. Gerakan mereka itu cepat dan aneh sehingga para murid Tiat-liong-pang menjadi penonton, memandang dengan mata kabur dan kepala pening. Mereka tidak berani turun tangan membantu tanpa diperintah karena hal ini tentu akan membuat Sin-kiam Mo-li marah. Tiba-tiba terdengar suara orang melerai.
"Tahan senjata!"
Mendengar suara Siangkoan Lohan ini, terpaksa Sin-kiam Mo-li menahan serangannya, Li Sian juga melompat mundur dan mengangkat muka memandang. Ia melihat munculnya seorang laki-laki yang usianya sekitar enam puluh tahun, tinggi kurus dengan muka merah dan jenggot panjang sampai ke dada. Yang seorang lagi adalah seorang pemuda tampan yang berpakaian indah seperti seorang pelajar kaya raya atau seorang pemuda bangsawan. Melihat kakek itu, hatinya berdebar girang karena ia masih mengenal bahwa kakek ini adalah Siangkoan Lohan yang pernah dilihatnya belasan tahun yang lalu.
"Apakah yang telah terjadi di sini?"
Tanya Siangkoan Lohan, diam-diam kagum sekali melihat betapa seorang gadis muda, dengan hanya sebatang ranting di tangan, mampu menandingi Sin-kiam Mo-li yang mempergunakan sepasang senjatanya.
"Ia datang secara mencurigakan sekali, tentu ia seorang mata-mata pihak musuh!"
Kata Sin-kiam Mo-li kepada Siangkoan Lohan, agak malu karena tuan rumah dan puteranya itu melihat betapa ia tadi belum mampu merobohkan seorang gadis yang hanya bersenjata ranting. Kini Siangkoan Lohan menghadapi gadis itu, memandang penuh perhatian, lalu bertanya,
"Nona, siapakah engkau dan apa maksudmu datang ke wilayah kami?"
Li Sian melangkah maju menghampiri kakek itu, memberi hormat setelah melepaskan ranting dari tangannya dan berkata,
"Bukankah saya berhadapan dengan paman Siangkoan Tek, pangcu dari Tiat-liong-pang?"
Siangkoan Lohan memandang semakin tajam, akan tetapi betapapun dia mengingat-ingat, dia tidak dapat mengingat siapa adanya gadis yang cantik manis dengan tahi lalat di dagunya ini.
"Maaf, Nona, mungkin penglihatanku sudah tidak terang lagi. Aku memang benar Siangkoan Tek, akan tetapi siapakah engkau?"
"Paman Siangkoan, lupakah engkau kepada saya? Saya bernama Pouw Li Sian. Pernah belasan tahun yang lalu saya bersama ayah datang berkunjung ke sini!"
"Pouw....?"
Siangkoan Lohan mengulang nama keturunan itu dengan heran.
"Benar, Paman. Mendiang ayahku adalah Pouw Tong Ki."
"Ahhhhh....! Ayahmu dahulu Menteri Pendapatan, seorang sahabatku itu? Dan engkau puterinya? Bukankah seluruh keluarga Pouw sudah...."
"Tidak semua binasa, Paman. Ketika rumah kami diserbu, saya sempat melarikan diri. Sekarang, setelah saya menjadi dewasa, saya ke kota raja dan menyelidiki keadaan keluarga saya. Empat orang kakak saya ditahan, tiga orang tewas dan saya mendapat kabar bahwa kakak sulung saya, Pouw Ciang Hin, diampuni bahkan sekarang menjadi seorang perwira yang bertugas di tapal batas utara. Oleh karena itulah, saya menyusul ke utara dan teringat kepada Paman, saya berkunjung ke sini untuk minta bantuan Paman. Siapa tahu Paman dapat memberitahu di mana adanya kakak sulung saya itu. Akan tetapi, ketika tiba di sini, saya ditahan dan hendak ditangkap, terpaksa saya melawan dan maafkan saya Paman."
Siangkoan Lohan memandang penuh kagum.
"Ah sekarang aku ingat. Engkau adalah nona kecil yang pernah ikut dengan Pouw Tai-jin dahulu itu. Aih, sungguh penasaran sekali. Ayahmu adalah seorang pejabat yang baik dan setia, akan tetapi, keluarganya kena fitnah karena dia berani menentang pembesar laknat Hou Seng. Kerajaan Mancu memang tidak mengenal budi!"
Siangkoan Lohan mengepal tinju lalu berkata kepada Sin-kiam Mo-li,
"Mo-li, Nona ini adalah orang sendiri, keluarganya terbasmi oleh kerajaan penjajah! Dan nona Pouw, ini adalah Sin-kiam Mo-li, seorang di antara kawan-kawan kita yang siap untuk menentang pemerintah penjajah!"
Biarpun di dalam hatinya merasa penasaran karena tadi belum dapat mengalahkan gadis ini, terpaksa Sin-kiam Mo-li tersenyum, menyimpan sepasang senjatanya dan ia mengangguk-angguk,
"Engkau masih begini muda akan tetapi sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, nona Pouw. Engkau tadi memperguna-kan sin-kang panas dan dingin, mengingatkan aku akan ilmu dari Pulau Es. Apakah engkau murid dari keluarga Pulau Es?"
"Mendiang guruku adalah mantu dari sucouw Pendekar Super Sakti Pulau Es,"
Jawab Li Sian sejujurnya. Mendengar ini terkejutlah semua orang, termasuk Siangkoan Lohan. Pantas gadis ini demikian lihainya. Akan tetapi diam-diam dia pun girang sekali. Bagaimanapun juga, gadis ini telah disudutkan oleh kerajaan, menjadi musuh kerajaan karena keluarganya dibasmi oleh kerajaan sehingga dapat diharapkan gadis ini akan suka membantunya.
"Mari kita bicara di dalam, nona Pouw. Ah, ya, apakah engkau lupa kepada anakku ini? Bukankah ketika engkau bersama ayahmu dahulu berkunjung ke sini, kalian sudah saling berkenalan? Ini adalah Siangkoan Liong. Anakku, apakah engkau sudah lupa kepada nona Pouw?"
Mereka saling pandang dan Li Sian merasa kagum. Pemuda ini tampan dan halus, nampak ramah sekali dan juga sopan ketika menjura dengan hormat kepadanya.
"Tentu saja aku tidak lupa kepada nona Pouw Li Sian, biarpun dahulu hanya menjadi tamu beberapa hari saja di sini,"