Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 62

Memuat...

Pasukan yang dipimpin Toat-beng Kiam-ong bertugas untuk menyerbu Tiat-liong-pang sedangkan yang dipimpin oleh Sin-kiam Mo-li bertugas mempertahankan benteng perkumpulan itu. Penjagaan dilakukan dengan ketat, bahkan sebelum tiba saatnya pasukan "musuh"

Datang menyerbu. Benteng Tiat-liong-pang dianggap sebagai beteng kota raja yang harus diserbu dan diduduki. Tentu saja ada disebar mata-mata dari pihak penyerbu untuk menyelidiki pertahanan benteng, juga dari pihak yang diserbu untuk mengetahui gerak-gerik musuh. Sampai malam pun masih dilakukan penjagaan ketat, dan pasukan penyerbu yang dipimpin Toat-beng Kiam-ong belum juga melakukan penyerbuan. Latihan itu dilakukan secara besar-besaran.

Diam-diam Siangkoan Lohan telah memerintahkan kepada Toat-beng Kiam-ong sebagai penyerbu untuk berhubungan dengan Cia Tai-ciangkun, komandan pasukan pemerintah di perbatasan utara yang juga sudah bersekutu dengan mereka, demikian pula menghubungi Agakai dan dari dua orang sekutu itu, diterima bantuan pasukan yang akan menyergap Tiat-liong-pang dari berbagai jurusan! Siangkoan Lohan dan puteranya, Siangkoan Liong sendiri merencanakan bagaimana sebaiknya kelak kalau mereka sudah menyerbu kota raja, untuk menyusupkan dan menyelundupkan kawan-kawan yang berkepandaian tinggi, dari golongan hitam, dari Pek-lian-pai dan Pat-kwapai, ke dalam benteng kota raja dan dapat melakukan pengacauan dan bantuan dari dalam. Pagi harinya nampak sunyi di sekitar bukit di luar kota San-cia-kou yang menjadi benteng Tiat-liong-pang itu. Seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi.

Padahal, mata-mata dari kedua pihak sudah berkeliaran, bersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak belukar. Tiba-tiba muncul seorang gadis dari kaki bukit. Ketika gadis itu tadi melewati Sang-cia-kou dan bertanya tentang letak Tiat-liong-pang, jejaknya sudah selalu diikuti orang dari jauh. Namun, gadis itu acuh saja walaupun ia tahu bahwa ada beberapa orang selalu mengamati dan membayanginya. Ketika dahulu ia berkunjung ke Tiat-liong-pang bersama ayahnya, mereka naik kereta dan tentu saja ia sudah lupa akan jalannya, apalagi hal itu sudah terjadi sangat lama, di waktu ia masih kecil. Dengan langkah santai ia mendaki bukit. Seorang gadis yang amat menarik perhatian orang, apalagi melakukan perjalanan seorang diri di tempat sunyi itu. Ketika ia sudah tiba di lereng,

Tentu saja kehadirannya segera menimbulkan kecurigaan para mata-mata yang bertugas mempertahankan benteng Tiat-liong-pang. Seorang gadis cantik dan sikapnya halus, gerak-geriknya pun halus, naik seorang diri ke bukit ini! Tentu mata-mata musuh! Akan tetapi kalau mata-mata musuh, mengapa naik ke bukit secara terang-terangan begitu saja, mudah dilihat dari manapun juga? Tiba-tiba muncullah lima orang anggauta pasukan Tiat-liong-pang yang bertugas jaga di lereng itu. Kalau pasukan penyerbu mengenakan seragam kuning, pasukan yang bertahan ini mengenakan seragam biru, hampir sama dengan seragam pasukan pemerintah karena memang Tiat-liong-pang pada waktu itu dianggap sebagai benteng kota raja yang hendak diserbu. Lima orang pasukan itu muncul dan mengepung gadis itu sambil menodongkan tombak mereka, sikap mereka galak.

"Berhenti!"

Bentak kepala pasukan yang berkumis jarang itu,

"Siapa engkau dan menyerahlah, engkau tentu mata-mata musuh!"

Gadis itu bukan lain adalah Pouw Li Sian. Seperti telah kita ketahui, gadis ini baru saja datang dari kota raja di mana ia menyelidiki keadaan keluarganya. Dengan hati berduka ia memperoleh berita bahwa selain ayah ibunya, juga semua keluarganya, kakak-kakaknya telah ditawan dan tewas, kecuali seorang kakaknya yang sulung, bernama Pouw Ciang Hin, yang kabarnya diampuni, bahkan kini menjadi seorang perwira yang bertugas di perbatasan utara.

Karena Pouw Ciang Hin kini merupakan satu-satunya anggauta keluarganya, maka dengan nekat ia pun menyusul ke utara. Ia teringat akan Siangkoan Tek atau Siangkoan Lohan, ketua dari Tiat-liong-pang yang pernah menjadi sahabat baik ayahnya. Ayahnya dahulu seorang Menteri Pendapatan, sedangkan Siangkoan Lohan amat berjasa terhadap pemerintah sehingga mendapat kekuasaan dan dikenal semua pembesar tinggi. Pernah ia diajak ayahnya berkunjung ke Tiat-liong-pang dan karena ia tahu betapa sulitnya mencari seorang perwira di antara pasukan yang berjaga di tapal batas utara, maka ia ingin minta bantuan ketua Tiat-liong-pang agar dapat diselidiki, di mana kakaknya itu ditugaskan. Kini, tiba-tiba saja ia ditodong tombak, oleh lima orang perajurit! Ia tidak merasa gentar, bahkan dengan wajahnya yang manis itu berseri gembira, ia balas bertanya,

"Apakah kalian ini perajurit kerajaan yang berjaga di tapal batas utara?"

Lima orang perajurit itu saling pandang. Mereka jelas anak buah Tiat-liong-pang, akan tetapi pada saat itu mereka bertugas sebagai pasukan yang harus mempertahankan benteng "kota raja", oleh karena itu, ketika ditanya apakah mereka perajurit kerajaan, mereka menjadi bingung.

"Kalau benar kami perajurit kerajaan, lalu engkau mau apa, Nona?"

Lima orang perajurit itu memandang kagum. Mereka adalah orang-orang kasar yang biasanya bersikap kasar dan kurang ajar terhadap wanita, apalagi secantik ini, akan tetapi semenjak ada dua orang kawan mereka dibunuh oleh Siangkoan Kongcu karena meng-ganggu wanita, mereka kini harus menahan diri dan tidak berani mengulangi perbuatan itu. Dengan wajah tetap gembira penuh harap, Pouw Li Sian berkata,

"Aku bernama Pouw Li Sian dan aku datang ke sini untuk mencari kakak sulungku yang bernama Pouw Ciang Hin. Dia menjadi seorang perwira kerajaan yang bertugas di tapal batas utara...."

Mendengar bahwa gadis ini adik seorang perwira kerajaan, berarti musuh, tentu saja berubah sikap lima orang itu. Tombak-tombak itu dipegang semakin erat dan pemimpin mereka membentak,

"Kalau begitu, menyerahlah engkau, karena engkau harus menjadi tawanan kami dan akan kami hadapkan kepada pimpinan kami!"

Li Sian adalah seorang gadis yang berwatak halus. Biarpun ia telah menjadi murid seorang sakti seperti Bu Beng Lokai dan kini telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun ia tetap berwatak halus, bahkan belum pernah ia berkelahi mempergunakan ilmu kepandaiannya. Sikapnya jauh berbeda dengan Suma Lian yang menjadi sucinya. Suma Lian galak, keras dan pemberani di samping lincah jenaka. Akan tetapi Li Sian pendiam dan penyabar. Ia tahu bahwa berurusan dengan lima orang perajurit biasa ini tidak ada gunanya, bahkan hanya akan menimbulkan keributan saja, maka ia pun mengangguk dan senyumnya masih melekat di bibir.

"Baiklah, aku tidak akan melawan, dan bawalah aku kepada pemimpin kalian agar aku dapat bicara dengan dia."

Lima orang itu dengan masih menodongkan tombak mereka, memberi isyarat agar Li Sian berjalan memasuki hutan. Hemmm, pikir mereka. Kalau saja mereka tidak takut kepada Siangkoan Lohan apalagi Siangkoan Kongcu, tentu gadis yang cantik ini sudah menjadi korban mereka. Takkan ada orang yang tahu!

Tak lama kemudian, di dalam hutan yang menjadi markas besar sementara dari Sin-kiam Mo-li yang bertugas sebagai komandan yang mempertahankan benteng, Li Sian digiring masuk ke dalam sebuah pondok besar di mana duduk Sin-kiam Mo-li dan beberapa orang pembantunya yang menjadi perwira-perwira dalam pasukan mereka. Jumlah para perwira itu ada lima orang dan mereka sedang merundingkan siasat pertahanan menggunakan sebuah peta yang mereka bentangkan di atas meja. Melihat masuknya lima orang perajurit yang menggiring seorang gadis cantik, Sin-kiam Mo-li mengangkat muka dan mengerutkan alisnya. Lima orang perajurit itu memberi hormat dan pimpinan mereka lalu melapor kepada Sin-kiam Mo-li dengan sikap seperti seorang perajurit melapor kepada atasannya.

"Li-ciangkun (Panglima Wanita), kami berlima telah menangkap seorang wanita yang kami curigai sebagai mata-mata, dan menurut pengakuannya ia bernama Pouw Li Sian yang hendak mencari kakaknya yang katanya menjadi seorang perwira kerajaan yang bertugas di perbatasan."

Kerut di antara alis mata Sin-kiam Mo-li makin dalam dan sinar matanya membayangkan kemarahan, Hemmm, tentu ini seorang mata-mata yang dilepas oleh Toat-beng Kiam-ong, pikirnya. Dan laki-laki macam Toat-beng Kiam-ong mana mau melepaskan seorang gadis secantik ini? Tentu gadis ini seorang di antara kekasihnya, pikirnya dengan hati penuh cemburu. Memang, sejak ia berkasih-kasihan dengan Toat-beng Kiam-ong, di antara keduanya terdapat rasa cemburu besar karena keduanya saling menemukan pasangan yang cocok sekali. Tentu saja Toat-beng Kiam-ong juga membatasi rasa cemburunya sehingga biarpun dia tahu bahwa Sin-kiam Mo-li juga bermain cinta dengan Siangkoan Liong, dia tidak berani mencampuri.

"Tinggalkan ia di sini dan kalian boleh ke luar lagi, berjaga yang hati-hati dan jangan ijinkan siapa pun juga masuk!"

Perintah Sin-kiam Mo-li kepada lima orang itu yang cepat memberi hormat dan keluar lagi. Kini Pouw Li Sian yang masih tegak itu beradu pandang dengan Sin-kiam Mo-li. Ia tidak memperhatikan lima orang laki-laki berpakaian perwira yang juga duduk di situ memandangnya, karena ia tahu bahwa agaknya pimpinan di sini adalah wanita cantik itu.

Diam-diam Li Sian merasa heran dan juga kagum melihat Sin-kiam Mo-li, wanita yang sudah setengah tua akan tetapi nampak cantik lemah lembut akan tetapi juga gagah perkasa dan memiliki wibawa besar itu. Teringatlah ia akan cerita gurunya, mendiang Bu Beng Lokai, yang pernah menceritakan tentang isteri gurunya itu. Isteri gurunya juga seorang panglima wanita yang amat terkenal, bernama Panglima Milana, yang kabarnya memimpin laksaan pasukan menundukkan pemberontakan di mana-mana. Juga ibu dari isteri gurunya itu bernama Puteri Nirahai, isteri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, pernah menjadi seorang panglima wanita yang gagah perkasa. Seperti inikah mereka itu? Karena membayangkan isteri dan ibu mertua gurunya, Li Sian cepat melangkah maju dan memberi hormat kepada Sin-kiam Mo-li.

"Harap Ciangkun suka memaafkan kalau kedatangan saya ini merupakan gangguan. Sesungguhnya, seperti dilaporkan oleh para perajurit tadi, saya datang untuk mencari kakak kandung saya, kakak sulung yang bernama Pouw Ciang Hin yang kabarnya menjadi seorang perwira pasukan kerajaan yang bertugas di perbatasan utara. Semenjak berusia dua belas tahun saya berpisah darinya dan sekarang saya mencarinya."

Sin-kiam Mo-li masih memandang dengan sikap tidak senang karena ia masih curiga.

"Kalau mencari kakakmu, kenapa di sini? Apakah di sini tempat pasukan kerajaan bertugas? Tahukah engkau tempat ini, bukit ini?"

Tanya Sinkiam Mo-li. Biarpun pertanyaan itu diajukan dengan kaku, namun Li Sian tidak menjadi marah. Dianggapnya bahwa memang harus tegas seperti itulah sikap seorang panglima perang!

"Maaf, Ciangkun Saya tahu bahwa bukit ini adalah tempat pusat perkumpulan Tiat-liong-pang. Saya memang hendak mencari ketua Tiat-liong-pang untuk bertanya barangkali dia dapat membantu saya memberi tahu di mana adanya kakak saya itu."

Sin-kiam Mo-li menjadi semakin curiga. Tak salah, lagi, tentulah seorang mata-mata yang dikirim oleh Toat-beng Kiam-ong, dan wanita secantik ini siapa lagi kalau bukan seorang di antara kekasih laki-laki mata keranjang itu?

"Jangan berbohong!"

Bentaknya.

"Engkau tentu mata-mata yang dikirim Toat-beng Kiam-ong! Mengakulah saja!"

Li Sian terkejut, dan cepat ia menggeleng kepala.

"Saya bukan mata-mata dan tidak mengenal siapa itu Toat-beng Kiam-ong. Saya datang untuk mencari kakak saya dan bertanya kepada ketua Tiat-liong-pang!"

Sin-kiam Mo-li tersenyum.

"Mana ada mata-mata mau mengaku? Kalau mengaku bukan mata-mata yang baik dan melihat engkau berani memasuki wilayah ini seorang diri, tentu engkau memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Nah, engkau menyerahlah, kami tangkap untuk menjadi tawanan perang!"

Tentu saja Li Sian menjadi semakin kaget dan mulailah ia merasa curiga dan penasaran. Jangan-jangan ia masih dianggap musuh oleh pasukan pemerintah, sebagai keturunan keluarga Pouw! Akan tettapi, mengapa kakaknya sudah diampuni bahkan di jadikan perwira?

"Ciangkun, kalau tadi saya ikut lima orang perajurit itu menghadap ke sini adalah karena saya yakin akan dapat bicara lebih baik dengan pimpinan pasukan. Akan tetapi saya datang bukan untuk menyerahkan diri ditangkap begitu saja tanpa bersalah!"

Sin-kiam Mo-li bangkit dan matanya memancarkan sinar mencorong.

Post a Comment