"Aku seorang yang sebatangkara. Aku tidak mempunyai ayah ibu lagi, dan selama bertahun-tahun ini aku hidup bersama guruku. Akan tetapi, sejak dua tiga tahun ini guruku bertapa, tidak mau diganggu dan tidak mau mencampuri urusan dunia. Karena itu, aku diijinkan untuk mengembara, tanpa tujuan, ikut saja keinginan hati dan kaki meluaskan pengalaman dan pengetahuan. Dan di dalam perjalanan itu, aku mendengar akan kebangkitan para datuk sesat yang katanya membuat persekutuan di utara ini. Karena sejak dahulu guruku selalu membawaku menentang para datuk kaum sesat, maka aku tertarik sekali dan aku pun mendengar bahwa Tiat-liong-pang yang menjadi pusat persekutuan itu. Dan di sinilah aku, kebetulan bertemu denganmu tadi."
Wajah Ci Hwa agak berseri....
"Ahhh, jadi engkau pun hendak menyelidiki Tiat-liong-pang?"
Hong Beng mengangguk.
"Apakah barangkali dari engkau aku dapat mendengar sesuatu tentang Tiat-liong-pang? Bukankah engkau sudah menyelidiki ke sana?"
Ci Hwa mencabut sebatang kembang rumput dan menggigit-gigit tangkai kembang rumput itu. Manis sekali gadis ini kalau sedang begitu asyik dan juga memiliki daya tarik besar. Ia berpikir-pikir, mengingat apa yang pernah dialaminya dan apa yang pernah didengarnya dari Siangkoan Lohan.
"Memang aku pernah ke sana, akan tetapi tidak banyak yang kuketahui. Aku hanya tahu bahwa penjagaan di sana ketat bukan main. Pernah aku melihat betapa lima orang pemburu binatang yang memasuki wilayah itu, dibunuh begitu saja oleh dua orang anggauta Tiat-liong-pang. Dan mereka berdua itu lihai bukan main, dalam waktu sebentar saja lima orang pemburu itu tewas. Kemudian aku mendengar bahwa Tiat-liong-pang selain besar dan memiliki banyak anak buah pandai, juga dekat dengan istana. Kabarnya, ketuanya, yang bernama Siangkoan Tek atau disebut Siangkoan Lohan, dahulu beristeri seorang puteri istana...."
Ci Hwa teringat akan Siangkoan Liong dan menghentikan ceritanya, kemudian disambungnya,
"selain itu, aku tidak tahu apa-apa lagi."
Hong Beng bukanlah seorang bodoh. Gadis in hendak melakukan penyelidikan tentang Tiat-liong-pang untuk membersihkan nama baik ayahnya. Setelah tiba di situ dan melakukan penyelidikan, tiba-tiba saja hendak membunuh diri. Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat menimpa dirinya. Akan tetapi dia tidak berani bertanya tentang hal itu.
"Ceritamu tentang perkumpulan itu semakin menarik, Hwa-moi. Biarlah aku akan melakukan penyelidikan yang mendalam, dan kalau benar berita yang kuterima bahwa Tiat-liong-pang menghimpun persekutuan kaum sesat, aku harus menentang mereka. Bahkan kabarnya, seorang iblis betina yang berjuluk Sin-kiam Mo-li bergabung pula di situ, padahal iblis betina itu adalah musuh besarku sejak bertahun-tahun yang lalu, bersama para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Selama mereka itu masih berkeliaran, sepak terjang mereka selalu hanya membikin kacau dan mengganggu keamanan rakyat belaka."
Ci Hwa memandang kagum. Pemuda ini kelihatannya demikian sederhana. Ia sudah membuktikannya sendiri tadi. Semua serangannya yang dilakukan dengan marah, sedikit pun tidak pernah dapat menyentuh ujung bajunya, dan kini pemuda itu menyatakan sebagai musuh datuk-datuk sesat yang lihai.
"Beng-koko, engkau tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Bolehkah aku mengetahui, siapa gerangan gurumu?"
Hong Beng tidak pernah menyembunyikan sesuatu, akan tetapi dia pun bukan orang yang suka menyombongkan diri dan gurunya. Akan tetapi, melihat pertanyaan yang polos itu, dia pun menjawab sederhana,
"Suhuku bernama Suma Ciang Bun, seorang pendekar keluarga Pulau Es"
"Aihhh....!"
"Kenapa?"
"Ayahku pernah mendongeng tentang keluarga pendekar Pulau Es yang memiliki ilmu kepandaian seperti dewa saja! Engkau tentu lihai sekali, Koko!"
Pandang mata itu sekali ini tidak menyembunyikan kekaguman mendalam sehingga wajah Hong Beng menjadi kemerahan.
"Sudahlah, Hwa-moi, tidak perlu memuji. Pertemuan kita ini kebetulan saja, akan tetapi agaknya Tuhan telah mempertemukan kita sehingga kita dapat saling bantu dan seperti telah menjadi kakak beradik. Akan tetapi, aku hendak melanjutkan penyelidikanku, dan bagaimana dengan engkau, Hwa-moi?"
"Aku biarpun aku hanya seorang gadis lemah, akan tetapi aku pun masih ingin mencuci nama baik ayahku. Kalau boleh, aku akan membantumu, Beng-ko."
"Baiklah, asal engkau berhati-hati dan melaksa-nakan semua petunjukku. Yang pertama, engkau harus sudah mengusir jauh-jauh kenekatan dan kebodohanmu tadi.
Engkau berjanji?"
Ada perasaan perih menusuk ulu hati Ci Hwa, akan tetapi ia harus membantu Hong Beng menyelidiki dan menentang Tiat-liong-pang. Bukan sekedar mencuci nama baik ayahnya, melainkan juga mencuci noda pada dirinya dengan darah dan nyawa Siangkoan Liong!
"Aku berjanji dan bersumpah tidak akan melakukan lagi kebodohan itu, Koko."
Keduanya lalu meninggalkan tempat itu, menyusup di antara hutan-hutan lebat untuk menyelidiki keadaan Tiat-liong-pang.
Setiap orang manusia hidup takkan terluput daripada peristiwa yang menimpa dirinya, baik peristiwa itu biasa saja, agak hebat, hebat atau bahkan sangat hebat seperti yang dialami Ci Hwa. Peristiwa hebat yang diterima sebagai suatu malapetaka dapat menghancurkan perasaan, melenyapkan harapan, bahkan dapat membuat orang menjadi mata gelap, ada pula yang ingin menghentikan semua derita dan siksa batin dengan jalan membunuh diri! Akan tetapi, sesungguhnya bunuh diri bukanlah jalan pemecahan yang tepat, melainkan hanya merupakan suatu pelarian yang mata gelap,. Peristiwa yang telah terjadi pun terjadilah, merupakan sesuatu yang telah lalu. Kalau peristiwa itu terus dikeram di dalam sanubari, maka tentu saja hanya akan menjadi siksaan yang timbul dari kenangan.
Kenangan ini menimbulkan iba diri, dendam, duka. Mengapa kita suka menyimpan suatu peristiwa sebagai kenangan? Mengapa tidak kita biarkan .saja peristiwa itu lenyap, bagaikan sebuah mimpi buruk? Hidup adalah saat ini, bukan kemarin! Kemarin itu sudah mati, baik maupun buruk. Kenangan akan masa lalu hanya mendatangkan dua hal, yaitu penyesalan dan duka, juga kerinduan dan harapan akan mengulang pengalaman lalu yang menyenangkan. Hanya kalau kita mampu menghapus semua kenangan peristiwa masa lalu, baik, maupun buruk, maka batin kita akan menjadi bersih, bebas dan siap menghadapi peristiwa yang terjadi di saat ini, dalam keadaan sehat, tanpa dendam, tanpa prasangka, tanpa kebencian. Peristiwa adalah kejadian yang telah terjadi, sesuatu fakta yang tak dapat diubah pula, karena sudah terjadi.
Baik buruknya hanya tergantung daripada penilaian kita sendiri. Di dalam menghadapi setiap peristiwa yang terjadi, yang terpenting bukanlah penilaian, melainkan kewaspadaan. Kewaspadaan mendatangkan kebijaksanaan dan kesadaran, sehingga kita dengan sepenuhnya dapat menghadapi dan menanggulangi-nya, sepenuh akal budi yang ada pada kita. Perbuatan menghadapi sesuatu yang diliputi penilaian selalu mengandung pamrih, dan tentu tidak bijaksana lagi. Cin-san-pang adalah perkumpulan orang gagah yang bermarkas di lembah Sungai Cin-sa. Kita telah mengenal ketuanya, yaitu Ciok Kim Bouw, seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih yang gagah perkasa dan bersemangat baja. Perkumpulan ini sekarang memiliki anggauta tidak kurang dari seratus orang banyaknya, bekerja sebagai nelayan,
Juga sebagai pengawal perahu-perahu para pedagang yang melakukan pelayaran di sungai itu dengan berupa imbalan sekedarnya. Seperti banyak perkumpulan gagah di jaman itu, merasa tidak suka akan penjajahan yang dilakukan bangsa Mancu sejak ratusan tahun, akan tetapi mereka pun tidak berdaya. Mereka tidak memberontak terhadap pemerintah yang teramat kuat, namun mereka pun enggan menjadi kaki tangan penjajah, dan hidup sebagai kelompok orang gagah yang suka membela kepentingan rakyat dari penindasan atau kejahatan. Seperti telah diceritakan di bagian depan. Ciok Kim Bouw, ketua Cin-sa-pang, ikut pula diundang dan menjadi tamu dari perkumpulan Tiat-liong-pang dengan para datuk sesat sehingga hampir saja dia menjadi korban. Sejak lama dia memang telah bermusuhan dengan Sin-kiam Mo-li (baca kisah Suling Naga),
Maka melihat betapa Tiat-liong-pang bersekutu dengan Sin-kiam Mo-li dan segala pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw dia menentang dan akibatnya, hampir dia terbunuh ketika dalam perjalanan pulang dia dihadang oleh Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Untung muncul seorang pemuda sakti yang tidak dikenalnya akan tetapi berhasil menyelamatkannya dari ancaman maut di tangan musuh-musuhnya. Dia merasa menyesal sekali mengapa tidak sempat mengenal nama pemuda itu yang begitu menolongnya dan mengobati lukanya, terus pergi begitu saja. Ciok Kim Bouw tidak tahu bahwa di antara semua tamu yang tidak menyetujui persekutuan itu, hanya dia seoranglah yang selamat! Ciok Kim Bouw adalah seorang yang gagah, dengan tubuh tinggi besar dan muka hitam seperti tokoh Thio Hwi dalam dongeng Sam Kok.
Keistimewaannya adalah mempergunakan senjata golok besarnya. Dan, dia hanya mempunyai seorang anak laki-laki yang kini telah berusia dua puluh lima tahun, bernama Ciok Heng. Pemuda ini memiliki tubuh tinggi besar seperti ayahnya, dan wajahnya tidak berkulit hitam, bahkan tampan gagah dengan sepasang mata lebar yang penuh dengan kejujuran dan keterbukaan. Sejak kecil dia digembleng ayahnya dan setelah berusia dua puluh lima tahun, dia telah mewarisi semua ilmu ayahnya dan menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Ketika Ciok Kim Bouw pulang dalam keadaan marah dan kecewa, puteranya segera dapat menduga bahwa tentu pertemuan itu tidak menyenangkan hati ayahnya, maka dia pun langsung bertanya. Ciok Kim Bouw menceritakan sejujurnya apa yang telah terjadi di sana.
"Tiat-liong-pang telah dibawa menyeleweng oleh Siangkoan Lohan!"