Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 70

Memuat...

"Hyaaattt....!"

Nenek Bu Ci Sian menggerakkan sulingnya dan tongkat yang sudah terputar-putar melekat pada suling itu tiba-tiba meluncur balik ke arah pemiliknya yang sudah melarikan diri! Akan tetapi, nenek itu mencari sasaran yang tidak mematikan dan tongkat itu dengan tepat menancap dan menembus paha kiri Hek-pang Sin-kai dari belakang! Kakek jembel itu mengeluarkan teriakan kesakitan. Akan tetapi saking takut kalau dikejar dan dibunuh, dia tetap berloncatan lari sambil terpincang-pincang, membawa lari tongkat yang menembus paha kirinya. Sejak tadi, Sian Li mengikuti pertandingan itu dan diam-diam ia merasa girang bahwa nenek itu dapat mengalahkan kakek jembel yang jahat. Akan tetapi, ia merasa kecewa melihat nenek itu membiarkan Si Bongkok jahat itu pergi.

"Nek, kenapa tidak kau bunuh saja kakek jembel jahat itu?"

Mendengar ucapan ini, nenek Bu Ci Sian menghampiri Sian Li dan alisnya berkerut.

"Kenapa dibunuh?"

Tanyanya.

"Dia jahat. Kalau engkau membunuhnya, berarti engkau membebaskan mereka yang akan menjadi korbannya di kemudian hari. Sekarang engkau malah membiarkan dia pergi. Tentu dia akan mencelakai banyak orang lagi dan kalau hal itu terjadi, berarti engkau pun ikut bersalah, Nek."

Nenek Bu Ci Sian terbelalak. Anak ini sungguh cerdik, akan tetapi juga galak dan tak kenal ampun terhadap orang jahat. Ia tersenyum, teringat akan wataknya sendiri di waktu muda.

"Anak baik, benarkah engkau cucu Kao Cin Liong dan Suma Hui? Sian Li memandang tajam,

"Apakah kau kira aku ini seorang yang suka berbohong?"

"Kalau benar, berarti kita ini bukan orang lain, anak yang baik. Engkau mengenal Suma Ceng Liong?"

"Tentu saja!"

Kata anak itu,

"Dia masih keluarga nenekku, adik nenekku, bahkan dia calon guruku."

"Ehh?"

Tentu saja nenek Bu Ci Sian menjadi heran mendengar pengakan itu.

"Engkau menjadi muridnya? Bagaimana pula ini?"

"Sebelum aku menceritakan hal itu, aku ingin tanya lebih dulu. Siapakah engkau, Nek?"

Nenek Bu Ci Sian kembali tersenyum. Anak ini memang cerdik dan berhati-hati.

"Engkau sudah mengenal Suma Ceng Liong, tentu mengenal pula isterinya."

"Tentu saja. Nenek Kam Bi Eng amat baik kepadaku ketika berkunjung ke rumah Kakek Kao Cin Liong dan kami bertemu disana,

"Nah, aku adalah nenek buyutmu, aku adalah ibu dari nenekmu Kam Bi Eng itulah."

"Aih, kiranya Nenek Buyut Bu Ci Sian!"

Kata Sian Li sambil cepat memberi hormat sambil berlutut. Nenek itu girang sekali, mengangkat bangun anak itu, dan memeluknya.

"Engkau bahkan sudah mengenalku?"

"Tentu saja. Sejak kecil Ayah dan Ibu sudah mendongeng kepadaku tentang Kakek Buyut Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas, juga tentang Nenek Buyut. Sekarang baru aku melihat sendiri bahwa Nenek Buyut memang lihai bukan main, dengan mudah mengalahkan Hek-pang Sin-kai yang lihai dan jahat tadi."

"Sekarang ceritakan bagaimana kau dapat terculik pengemis itu, dan di mana adanya ayah ibumu."

Sian Li menceritakan tentang pengalaman ia dan ayah ibunya di kota Heng-tai, tentang persekutuan Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang mengadakan persekutuan jahat. Karena Sian Li memang cerdik dan ia sudah mendengar dari ayah ibunya, ia dapat bercerita dengan jelas dan mendengar itu, wajah nenek Bu Ci Sian berubah tegang.

"Aihh, kalau begitu, ayah ibumu menghadapi urusan besar yang menyangkut keselamatan keluarga Kaisar. Pantas saja engkau diculik orang dan tidak kebetulan, yang menolongmu juga seorang tokoh sesat macam Hek-pang Sin-kai. Untung sekali agaknya Tuhan yang menuntunku pagi-pagi ini lewat di sini sehingga dapat melihat engkau dalam tawanan penjahat itu. Akan tetapi, apa artinya engkau tadi mengatakan bahwa Suma Ceng Liong akan menjadi calon gurumu?"

"Sebetulnya, aku bersama Ayah Ibu meninggalkan rumah sedang menuju ke Cin-an karena sudah tiba saatnya aku harus belajar ilmu dari Kakek Suma Ceng Liong seperti yang telah dijanjikan antara dia dan Ayah. Sebelum ke sana, Ayah dan Ibu mengajak aku berpesiar ke kota raja. Akan tetapi ketika tiba di kota Heng-tai, terjadi peristiwa itu."

"Aih, begitukah? Bagus sekali kalau begitu. Aku sendiri sedang dalam perjalanan menuju ke rumah anak dan mantuku itu."

"Akan tetapi, Ayah dan Ibu akan mencari-cariku, Nek. Mereka akan menjadi bingung. Sebaiknya kalau kita kembali dulu ke Heng-tai dan...."

"Berbahaya sekali, cucuku. Seperti ceritamu tadi, di sana penuh dengan orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw. Kalau sampai mereka melihatmu dan mereka mengeroyokku, bagaimana aku akan mampu melindungimu?"

"Aku tidak takut, Nek."

"Bukan soal takut atau tidak takut, cucuku. Akan tetapi, setelah kini engkau terbebas dari bahaya, apakah kita harus mendatangi bahaya lagi dan membiarkan engkau tertawan musuh? Kalau begitu, ayah dan ibumu tentu akan gelisah sekali. Sebaiknya, mari kuantar engkau ke Cin-an. Aku yakin ayah dan ibumu akan pergi ke sana pula. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mencari mereka ke Heng-tai, kemudian ke kota raja, dan kalau perlu aku akan berkunjung ke Ta-tung untuk memberitahu mereka bahwa engkau telah berada di Cin-an."

Akhirnya Sian Li menurut karena bagaimanapun juga, oleh ayah dan ibunya ia memang akan diantarkan ke Cin-an. Berangkatlah mereka ke Cin-an dan mereka diterima dengan penuh kegembiraan oleh Suma Ceng Liong dan Isterinya, Kam Bi Eng.

"Ibu, kenapa Ayah tidak ikut?"

Kam Bi Eng bertanya. Ditanya demikian, tiba-tiba wajah nenek itu menjadi murung. Inilah yang dikhawatirkannya, namun sejak tadi ditahan-tahannya. Ia seorang wanita yang tabah, akan tetapi ia khawatir bahwa anaknya yang akan menderita duka.

"Ibu, apa yang terjadi?"

Kam Bi Eng merangkul ibunya begitu melihat wajah ibunya menjadi murung setelah ia bertanya tentang ayahnya. Nenek itu menghela napas panjang.

"Engkau ingat berapa usia ayahmu tahun ini?"

"Sudah lebih dari delapan puluh tahun, Ibu. Bukankah dua tahun yang lalu kita memperingati ulang tahunnya yang ke delapan puluh?"

Kata Kam Bi Eng, masih mengamati wajah ibunya dengan khawatir.

"Engkau benar. Usianya sudah delapan puluh dua dan dia telah meninggalkan kita dengan tenang sebulan yang lalu...."

"Ibuuuu....!"

Kam Bi Eng menjerit sambil merangkul ibunya dan pecahlah tangisnya.

"Ibu, kenapa....? Kenapa Ibu diam saja? Kenapa aku tidak diberitahu?"

Ia bertanya di antara ratap tangisnya. Nenek itu tidak ikut menangis, melainkan tersenyum lembut sehingga anaknya merasa heran memandangnya. Juga Suma Ceng Liong memandang kepada ibu mertuanya, lalu bertanya dengan hati-hati,

"Akan tetapi, Ibu, kenapa kami tidak diberitahu tentang kematian Ayah?"

Nenek Bu Ci Sian mengusap kepala puterinya.

"Tenangkan hatimu, hentikan tangismu. Ini semua kehendak ayahmu. Dia sudah memesan agar begitu dia menghembuskan napas terakhir, aku segera mengurus jenazahnya yang harus dikebumikan pada hari kematiannya. Ini pesan ayahmu, dan juga dia berpesan agar perlahan-lahan aku memberitakan kematiannya kepadamu setelah lewat satu bulan."

"Tapi.... tapi mengapa....?"

Kam Bi Eng mencoba untuk menahan tangisnya.

"Engkau mengenal ayahmu. Kadang aku sendiri sukar mengikuti jalan pikirannya. Dia tidak ingin jenazahnya dibiarkan berminggu atau berhari-hari, membusuk sebelum dikubur. Dia juga tidak ingin ditangisi, diratapi karena menurut pendapatnya, orang yang meratapi yang mati sebenarnya hanya menangisi diri sendiri. Dapat dibayangkan betapa sedihku ketika terpaksa memenuhi permintaan terakhirnya itu, menguburkan jenazahnya tanpa dihadiri kalian dan kerabat dekat, hanya dihadiri para tetangga saja. Sampai matinya, ayahmu ingin sederhana, memperlihatkan kerendahan hatinya dengan tidak mau menonjolkan diri."

Mendengar suara yang mengandung kebanggaan itu, Kam Bi Eng merasa tidak tega untuk menangis lagi. Ia merangkul Ibunya.

"Baiklah, Ibu. Kalau begitu, kami akan pergi ke makam Ayah untuk bersembahyang."

Kemudian ia merangkul Sian Li dan bertanya kepada ibunya.

"Bagaimana tahu-tahu Sian Li dapat datang bersama Ibu? Apakah Ibu yang singgah di rumah Sin Hong dan Hong Li, dan mengajak anak ini ke sini?"

"Panjang ceritanya,"

Kata nenek itu.

"Secara kebetulan saja aku bertemu dengan Sian Li dan mendengar bahwa ia memang sedang diantar oleh ayah ibunya ke sini, maka aku lalu mengajaknya."

Nenek itu lalu menceritakan apa yang terjadi. Mendengar cerita itu, Suma Ceng Liong berseru,

"Aih, sungguh berbahaya sekali kalau Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw sampai berhasil menyusup ke dalam istana! Sin Hong dan Hong Li tentu menghadapi bahaya karena orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw banyak yang lihai."

"Hemm, apakah engkau ingin kita pergi ke kota raja dan menentang mereka?"

Tanya Bi Eng sambil memandang suaminya dengan penuh selidik. Ceng Liong mengenal sinar mata isterinya dan dia pun menggeleng sambil menghela napas panjang.

"Kita tidak berkewajiban untuk melindungi Kaisar penjajah Mancu, akan tetapi bagaimana kita dapat tinggal diam saja kalau Sin Hong dan Hong Li terancam bahaya?"

Post a Comment