Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 66

Memuat...

Bagaimanapun juga, rencana semula harus dilanjutkan! Ang I Moli sama sekali tidak tahu bahwa kejutan baginya bukan hanya munculnya Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Ia tidak tahu bahwa di antara para seniman itu terdapat pula dua orang yang ditakutinya, yaitu Tan Sin Hong dan Kao Hong Li. Ia tidak mengenal mereka, akan tetapi suami isteri itu dapat segera mengenalnya. Hal ini bukan karena penyamarannya kurang baik. Sama sekali tidak. Andaikata suami isteri itu belum tahu bahwa ia akan menyamar sebagai kepala pelayan dan bertugas memberi racun pada cawan arak para pangeran, agaknya belum tentu suami isteri pendekar itu akan mengenalnya. Akan tetapi, di luar tahunya, Sin Hong dan Hong Li segera dapat mengenal kepala pelayan setengah tua yang cantik dan lembut itu, dan mereka sudah siap siaga dan mengamati gerak-gerik Ang I Moli dengan seksama.

Suami isteri pendekar ini maklum bahwa pada saat itu, Liu Tai-ciangkun tentu sudah mengerahkan pasukan untuk mengepung taman itu dan memblokir semua jalan keluar dari dalam istana. Sejak tadi, nampak Ang I Moli mengatur para pelayan, gadis-gadis manis yang cekatan, untuk mengeluarkan hidangan dan keadaan berjalan lancar tanpa ada yang mencurigakan, Kemudian, tibalah saat menegangkan yang dinanti-nanti oleh Sin Hong dan Hong Li. Permaisuri itu memberi isarat kepada pelayan pribadinya yang datang membawa sebuah guci arak yang bentuknya asing dan indah, terbuat dari emas murni. Dengan sikap lembut dan ramah, Siang Hong-houw mengangkat guci itu ke atas, memperlihatkannya kepada anak-anak tirinya, juga kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, lalu berkata,

"Aku masih menyimpan seguci anggur buatan bangsaku Uighur yang amat baik, sudah puluhan tahun umurnya dan selain amat manis dan lezat, juga kasiatnya dapat membuat badan sehat dan semangat tinggi."

Para pangeran bersorak gembira dan para puteri tersenyum-senyum. Gangga Dewi menyentuh lengan suaminya.

"Anggur Uigur yang sudah puluhan tahun umurnya memang amat hebat."

Ang I Moli menghampiri Siang Hong-houw dan berkata dengan penuh hormat dan halus,

"Perkenankan hamba sendiri mewakili Paduka menuangkan anggur ke dalam cawan para tamu yang mulia."

Karena sejak pertama kali Ang I Moli bersikap halus, ramah dan sopan sehingga menyenangkan hati Siang Hong-houw,

Ia pun mengangguk dan menyerahkan guci anggur itu kepada kepala pelayan baru yang cekatan itu. Ang I Moli segera dengan sikapnya yang menarik dan lembut, menuangkan anggur dari guci itu ke dalam cawan di depan Siang Hong-houw, kemudian ke dalam cawan arak di depan Gangga Dewi dan Suma Ciang Bun yang sama sekali tidak mencurigai sesuatu. Kemudian, dengan teliti dan tahu peraturan, kepala pelayan itu menuangkan anggur ke dalam cawan para pangeran, dari yang paling tua sampai yang paling muda, baru menuangkan anggur ke dalam cawan para puteri. Semua itu dilakukan dengan tepat dan cermat, tidak ada setetes pun anggur yang menetes keluar sehingga semua orang merasa senang. Juga tidak ada yang menduga bahwa ketika menuangkan anggur untuk para pangeran, kecuali untuk Pangeran Kian Ban Kok,

Kuku jari telunjuk kiri wanita itu menjentik keluar bubuk racun yang sebelumnya sudah dipersiapkan, menempel di ujung lengan baju sehingga di setiap cawan arak itu terpecik bubuk racun halus yang tidak kelihatan orang lain. Sin Hong dan Hong Li sendiri akan sukar dapat mengetahui gerakan ini, akan tetapi sebelumnya mereka sudah tahu, tentu saja perhatian mereka tercurah ke arah tangan wanita itu dan mereka tahu bahwa bubuk racun telah disebar dan dibagi. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi sendiri, yang lihai dan berpengalaman, tidak tahu akan hal itu karena mereka tidak menyangka buruk. Ketika semua cawan telah terisi dan Siang Hong-houw mendahului mengangkat cawan dan mempersilakan semua orang minum, dan semua orang telah mengangkat cawan masing-masing dengan wajah gembira penuh senyum, tiba-tiba terdengar seruan nyaring.

"Tahan semua cawan! Harap Paduka sekalian jangan minum anggur itu!"

Tentu saja semua orang, termasuk Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, terkejut dan heran mendengar teriakan itu dan semua orang memandang ketika Kao Hong Li keluar dari rombongan seniman seniwati yang sejak tadi menghibur para tamu dengan musik, nyanyian dan tarian mereka. Karena tidak ingin gagal, Hong Li cepat menyambung teriakannya tadi sambil memberi hormat kepada semua orang yang merupakan keluarga agung Kaisar.

"Harap Paduka semua jangan minum anggur itu karena semua cawan telah diracuni, kecuali cawan para puteri dan Pangeran Kian Ban Kok. Semua cawan pangeran lain telah diracuni dan siapa yang minum anggur itu akan tewas!"

Tentu saja semua orang terkejut bukan main mendengar ini dan, otomatis semua orang meletakkan cawah masing-masing di atas meja dan memandang cawan itu dengan hati ngeri. Melihat ini, Pangeran Kian Ban Kok bangkit berdiri dengan muka merah karena marah. Tadi wanita itu mengatakan bahwa semua pangeran diberi racun, kecuali dia. Ini sama saja dengan menuduh bahwa kalau benar ada yang meracuni para pangeran, maka pelaku itu bersekongkol dengan dia karena dia sendiri tidak diracuni.

"Perempuan rendah! Engkau hanya seorang wanita penghibur! Sungguh lancang sekali mulutmu menuduh Ibu Permaisuri hendak meracuni para pangeran! Engkau bohong dan akan kubuktikan."

Pangeran Kian Ban Kok yang sungguh tidak tahu bahwa diam-diam dia dipilih oleh para pemberontak untuk menjadi pangeran tunggal karena ibunya adalah seorang wanita Han, cepat menyambar cawan anggur di depan pangeran yang duduk di sebelah kanannya, kemudian sekali tuang, isi cawan itu memasuki tenggorokannya.

"Nah, aku sudah minum dari cawan seorang pangeran lain! Masih berani engkau mengatakan bahwa cawan semua pangeran, kecuali aku, telah diracuni?"

Bentak Pangeran Kian Ban Kok, akan tetapi semua orang terbelalak memandang pangeran ini karena melihat betapa wajah pangeran ini berubah kehijauan, lalu menghitam dan tiba-tiba mengeluarkan teriakan melengking dan terjungkal roboh. Dia tewas seketika! Terdengar jeritan-jeritan para puteri dan teriakan para pangeran yang menjadi panik.

Melihat keadaan yang kacau ini, Ang I Moli terkejut bukan main. Ia tahu bahwa rahasianya diketahui wanita anggauta rombongan pemusik itu dan akibatnya sungguh hebat. Pangeran Kian Ban Kok yang seharusnya menjadi satu-satunya pangeran yang tidak terbunuh, kini malah keracunan dan tewas. Maklum bahwa keadaannya di situ berbahaya, ia pun menjadi bingung. Tiba-tiba terdengar bunyi suitan. Itu merupakan tanda dan teringatlah Ang I Moli bahwa menurut rencana mereka, kalau sampai usaha mereka meracuni para pangeran itu gagal, maka jalan satu-satunya hanyalah menggunakan kekerasan membunuhi para pangeran! Maka, tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan ia sudah memegang pedang yang tadi ia sembunyikan di balik bajunya. Akan tetapi, tiba-tiba wanita anggauta pemusik yang tadi berteriak, sudah meloncat ke depannya dan wanita itu berseru,

"Ang I Moli, sekali ini engkau tidak akan lolos dari tanganku!"

Dan wanita itu sudah menggosok mukanya yang tertutup bedak tebal, kemudian menoleh ke arah Suma Ciang Bun dan berteriak,

"Paman Suma Ciang Bun, aku Kao Hong Li. Cepat lindungi para pangeran! Ada komplotan pombunuh!"

Pada saat itu, Ang I Moli yang terkejut ketika mendengar pengakuan Kao Hong Li, sudah menyerangnya dengan tusukan pedang. Namun Kao Hong Li sudah cepat mengelak dan membalas dengan tamparan tangan kiri yang mengandung hawa beracun karena ia menggunakan ilmu pukulan Ban-tok-ciang. Sementara itu, Sin Hong sudah pula meloncat dari rombongan pemusik dan pada saat itu, dua orang perajurit pengawal yang memegang pedang sudah berloncatan untuk menyerang para pangeran. Dengan hantaman tangan dan tendangan kaki, dia membuat dua orang anggauta Thian-li-pang yang menyamar sebagai perajurit pengawal itu terjengkang dan terpelanting.

"Paman Suma Ciang Bun, cepat selamatkan para pangeran!"

Teriak pula Sin Hong. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi sudah berloncatan ke depan. Mereka tadinya bingung, akan tetapi begitu tadi mendengar suara Kao Hong Li, Ciang Bun terkejut dan juga girang. Apalagi ketika melihat munculnya Sin Hong. Mendengar seruan Sin Hong, dia lalu menyambar lengan isterinya.

"Mari kita lindungi mereka!"

Suami isteri ini berloncatan melindungi para pangeran yang kelihat bingung dan ketakutan. Ketika ada perajurit-perajurit pengawal dengan senjata di tangan menyerbu ke arah para pangeran.

Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi menggerakkan tangan kaki dan robohlah empat orang penyerbu. Sementara itu, wajah Siang Hong-houw menjadi pucat sekali ketika tadi ia melihat betapa Pangeran Kian Ban Kok roboh dan tewas begitu minum arak dari cawan seorang pangeran lain. Permaisuri Kaisar ini sama sekali tidak tahu tentang rencana pembunuhan keji terhadap para pangeran itu dan begitu kini jatuh korban, tentu saja ia menjadi terkejut dan gelisah. Apalagi ketika para perajurit pengawal yang seharusnya bertugas melindungi keselamatan keluarga Kaisar, kini berbalik malah hendak membunuh para pangeran. Dan ia telah melibatkan diri dengan pembunuh-pembunuh itu! Kalau ia mau bekerja sama dengan Thian-li-pang, hal itu ia kerjakan karena ia melihat Thian-li-pang sebagai pejuang untuk mengusir penjajah Mancu.

Sama sekali tidak disangkanya bahwa sekutu itu akan bertindak sedemikian nekatnya, meracuni dan hendak membunuh para pangeran. Padahal, sebelumnya ia sudah mendapatkan janji mereka bahwa mereka tidak akan menggunakan kekerasan di dalam istana. Ia merasa telah ditipu dan dibohongi, dan tahu bahwa ia ikut bertanggungjawab karena ialah yang menerima masuknya orang-orang Thian-li-pang seperti Ouw Cun Ki yang dijadikan panglima pasukan pengawal, bahkan baru saja ia menerima pula wanita cantik sebagai kepala pelayan dalam pesta itu! Melihat munculnya seorang wanita dan seorang pria dari rombongan pemusik yang menentang usaha pembunuhan para pangeran, bahkan ketika melihat dua orang tamu agungnya, yaitu Gangga Dewi dan suaminya juga berloncatan melindungi para pangeran, Siang Hong-houw cepat bertindak.

"Mari cepat menyingkir ke dalam!"

Katanya dan ia bersama para pangeran dan puteri meninggaikan tempat yang kini menjadi medan pertempuran itu, kembali ke istana, dikawal oleh Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

Setelah semua pangeran dan puteri memasuki istana bersama Siang Hong-houw, dan jenazah Pangeran Kian Ban Kok diangkut masuk pula, barulah suami isteri itu kembali ke taman dan ikut membantu pasukan menghadapi anak buah gerombolan yang terdiri dari tokoh-tokoh Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw itu. Pasukan pengawal yang dipimpin Ouw Ciangkun yang bukan lain adalah Ouw Cun Ki putera Ketua Thian-li-pang sendiri, yaitu Ouw Ban, tidak semua anggauta Thian-li-pang. Hanya ada dua puluh orang lebih anggauta Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang diselundupkan Ouw Cun Ki menjadi perajurit pasukan pengawal. Selebihnya adalah perajurit pengawal aseli. Oleh karena itu, ketika para perajurit aseli melihat bahwa pasukan mereka dikepung oleh pasukan besar pimpinan Panglima Liu, mereka terkejut dan heran.

Akan tetapi, mereka melihat adegan di taman itu, dan mendengar betapa pemimpin mereka adalah seorang pemberontak yang hendak membunuh para pangeran, tentu saja mereka segera membalik dan menyerang orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw. Terjadilah pertempuran yang berat sebelah karena orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw, biarpun rata-rata pandai ilmu silat, dikeroyok banyak sekali lawan. Melihat betapa keadaan amat tidak menguntungkan, Ouw Cun Ki melompat hendak melarikan diri. Akan tetapi, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pria gagah dengan pakaian serba putih telah berdiri di depannya. Orang ini bukan lain adalah Tan Sin Hong yang sudah menanggalkan jubahnya sebagai pemain musik dan kini mengenakan pakaian putihnya yang ringkas.

"Ouw Cun Ki, engkau hendak lari ke mana? Engkau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"

Kata Sin Hong.

"Penjilat busuk, anjing penjajah Mancu!"

Teriak Ouw Cun Ki dan dia sudah menggunakan pedangnya untuk menusuk ke arah dada Sin Hong. Muka Sin Hong berubah merah ketika menerima makian ini, akan tetapi karena dia tahu bahwa Thian-li-pang adalah perkumpulan orang jahat yang bersekongkol dengan Pek-lian-kauw yang berkedok perjuangan namun menyembunyikan pamrih yang mementingkan diri sendiri, maka dia tahu bahwa dia bukan berhadapan dengan para pahlawan pejuang, melainkan dengan para penjahat.

"Jahanam, orang macam engkau yang mengotorkan perjuangan!"

Bentaknya sambil mengelak dan membalas dengan tendangan yang biarpun dapat dihindarkan Ouw Cun Ki, namun tetap saja membuat putera Ketua Thian-li-pang itu terhuyung. Ouw Cun Ki putera Ouw Ban Ketua Thian-li-pang ini baru berusia dua puluh tiga tahun, tampan gagah dan telah mewarisi ilmu kepandaian ayahnya. Tentu saja dia lihai sekali dan termasuk seorang tokoh Thian-li-pang yang berkedudukan penting.

Akan tetapi, sekali ini dia berhadapan dengan Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong yang sudah mempergunakan ilmu andalannya, yaitu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih). Maka, biarpun pemuda itu memegang pedang dan menyerang dengan nekat, dalam beberapa gebrakan saja dia sudah terdesak oleh pukulan, totokan dan tendangan Sin Hong yang membuat dia terus mundur dan kadang terhuyung. Sementara itu, pertandingan antara Kao Hong Li melawan Ang I Moli berlangsung dengan seru. Kepandaian dua orang wanita ini lebih seimbang dibandingkan kepandaian antara Sin Hong dan Ouw Cun Ki. Ang I Moli telah menguasai ilmu barunya, yaitu Toat-beng-tok-hiat (Darah beracun Penca-but Nyawa) yang amat hebat. Ilmu ini dilatih secara menyeramkan karena telah puluhan orang anak laki-laki dikorbankan untuk mematangkannya.

Dan kini Ang I Moli telah menguasai ilmu itu, bahkan telah dapat membuat obat penawar pukulan beracun itu yang dipelajarinya dari Thian-te Tok-ong. Melihat betapa lihainya Kao Hong Li, Ang I Moli yang mempergunakan pedang di tangan kanan itu, menyelingi serangannya dengan dorongan tangan kiri yang mengandung pukulan beracun yang amat jahat itu. Ketika pertama kali Ang I Moli menyerang dengan dorongan telapak tangan kiri yang mengeluarkan semacam uap putih dan yang juga membawa bau yang busuk seperti bau mayat, Hong Li maklum bahwa dia menghadapi pukulan beracun yang berbahaya. Maka, ia pun cepat mengerahkan tenaga dari ilmu Ban-tok-ciang (Tangan Racun Selaksa) yang juga merupakan ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun. Biarpun tidak sejahat Toat-beng-tok-hiat, akan tetapi juga tidak kalah ampuhnya.

Post a Comment