"Ada terjadi apakah?"
Tanyanya.
"Ayah, Ang I Moli berada di hotel ini!"
Kata Sian Li dan tentu saja ayahnya terkejut mendengar pemberitahuan ini. Akan tetapi Hong Li memberi isarat agar puterinya menutup mulut, kemudian dengan suara lirih ia pun menceritakan apa yang baru saja ia alami di dalam taman. Betapa di taman muncul seorang laki-laki tinggi besar muka hitam yang bersikap kurang ajar dan ketika ia hendak menghajarnya, muncul Ang I Moli yang memanggil Si Muka Hitam itu. Tan Sin Hong meraba-raba dagunya yang tak berjenggot, alisnya berkerut.
"Hemmm, kalau iblis betina itu muncul di sini, tentu ada sesuatu yang amat penting di sini. Dan aku heran apakah Yo Han juga berada di sini?"
"Kita harus menyelidikinya,"
Kata Hong Li.
"Bukankah malam ini menurut pelayan tadi, pembesar yang disebut Ouw-ciangkun (Komandan Ouw) hendak menjamu tamu-tamunya? Dan Ang I Moli berada di dalam hotel, berarti ia menjadi tamu pula."
"Atau mungkin juga ia anak buah panglima she Ouw itu,"
Kata Sin Hong,
"Yang penting apakah Yo Han, ikut dengannya di sini? Kita harus menyelidikinya. Aku selama ini merasa berdosa kepada mendiang ayah ibunya...."
"Malam ini kita menyelidiki mereka,"
Kata Hong Li dan suaminya mengangguk.
"Aku ikut!"
Kata Sian Li penuh semangat.
"Tidak boleh, Sian Li,"
Kata ibunya.
"Pekerjaan kami berbahaya sekali. Engkau lihat, baru Si Muka Hitam tadi saja sudah lihai, apalagi Ang I Moli dan kita belum tahu siapa lagi yang berada di sana. Kami hanya akan menyelidiki apa yang mereka lakukan."
"Dan menyelidiki apakah Yo Han berada pula di hotel ini,"
Sambung ayahnya.
Biarpun hatinya merasa kecewa, namun Sian Li adalah seorang gadis remaja yang cukup cerdik. Ia maklum bahwa bahayanya memang besar sekali. Laki-laki muka hitam yang ditemuinya di taman tadi saja sudah amat lihai sehingga dalam waktu singkat ia telah dapat ditangkap dan dibuat tidak berdaya. Kalau ia nekat ikut dan ia membuat ayah dan ibunya gagal dalam penyelidikan mereka, ia sendiri akan merasa menyesal sekali. Apalagi kalau suhengnya, Yo Han, berada di hotel itu. Orang tuanya harus mampu membebaskan suhengnya! Ia tidak boleh mengganggu pekerjaan mereka dan ia akan menungggu di kamar. Dari depan kamar mereka yang berada di bagian belakang, Sin Hong dan anak isterinya dapat melihat kesibukan di ruangan dalam hotel itu. Agaknya orang-orang itu mengadakan pesta.
"Sian Li, engkau tinggal saja di dalam kamar, ya? Jangan keluar, apalagi jangan meninggalkan bagian belakang ini. Kami hendak mulai melakukan penyelidikan."
"Baik, Ayah,"
Kata Sian Li.
"Hati-hati, Sian Li. Di sini engkau tidak boleh bertindak sembarangan. Bisa berbahaya sekali. Jangan sekali-kali engkau mendekati ruangan dalam hotel di mana terdapat penjagaan para perajurit pengawal,"
Pesan ibunya. Sian. Li mengangguk, dan di dalam dada anak ini terjadi ketegangan yang hebat. Munculnya Ang I Moli mengingatkan ia akan semua peristiwa yang dialaminya ketika ia masih kecil, delapan tahun yang lalu. Dan sekaligus mengingatkan ia kepada suhengnya, Yo Han yang pernah membuat ia menangis dan rewel ketika suhengnya itu pergi meninggalkan keluarga ayahnya, karena dibawa oleh wanita iblis itu. Tentu saja kini ia hampir melupakan wajah suhengnya itu. Sang waktu telah menelan segalanya, juga kedukaannya karena ditinggalkan suhengnya. Akan tetapi, yang jelas masih teringat olehnya adalah bahwa suhengnya itu amat baik kepadanya, bagaikan seorang kakak kandungnya sendiri.
Sementara itu, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li sudah menyelinap keluar. Dengan perlindungan kegelapan malam, mereka berhasil menyusup ke bagian yang gelap dari kebun samping rumah, kemudian dengan gerakan yang ringan bagaikan dua ekor burung walet, mereka melompat ke atas pohon dan setelah mengintai dari pohon dari tidak melihat adanya penjaga di bawahnya, mereka lalu melompat ke atas genteng. Gerakan mereka begitu ringan sehingga tidak menimbulkan suara dan begitu tiba di atas wuwungan rumah penginapan itu, keduanya mendekam dan dengan hati-hati mereka memandang ke sekeliling. Hati mereka lega melihat bahwa para perajurit pengawal hanya menjaga di sekitar rumah itu, di bawah. Tentu saja tidak ada yang mengira bahwa akan ada orang berani mengganggu kehadiran seorang panglima kerajaan di hotel itu!
Ruangan tengah hotel itu dikepung perajurit pengawal dan keadaan di sana terang sekali. Hal ini menarik perhatian suami isteri pendekar itu. Berdebar rasa jantung mereka dan terdapat suatu kegembiraan yang sudah lama tidak mereka rasakan. Jiwa petualang mereka bangkit. Sudah terlalu lama mereka tidak mengalami hal-hal yang menegangkan seperti ini, dan pengalaman ini mengingatkan mereka akan masa lalu mereka, ketika mereka masih bertualang sebagai pendekar dan seringkali menghadapi lawan-lawan tangguh dan keadaan yang menegangkan seperti sekarang. Dengan hati-hati mereka bergerak di atas genteng sampai mereka tiba di atas ruangan tengah itu. Kemudian mereka menuruni wuwungan, merayap di atas genteng atas ruangan itu dan mengintai ke bawah.
Mereka terlindung oleh wuwungan di kanan kiri yang lebih tinggi sehingga dengan rebah menelungkup, mereka dapat mengintai ke dalam ruangan itu dengan leluasa. Bukan saja mereka dapat melihat semua dengan jelas, juga mereka dapat mendengarkan percakapan mereka yang berada di bawah. Ruangan itu cukup luas dan terang sekali karena diberi tambahan penerangan. Terdapat beberapa buah meja yang diatur di tengah ruangan, berderet panjang. Di kepala meja duduklah seorang berpakaian panglima. Dia masih muda, tidak lebih dari dua puluh tiga tahun usianya, berwajah tampan dan gagah, pakaian panglimanya mentereng dan mewah. Di kanan kiri meja duduk berderet banyak orang, akan tetapi sebagian besar di antara mereka berpakaian seperti tosu. Tentu saja hal ini amat mengherankan hati Tan Sin Hong dan Kao Hong Li,
Apalagi ketika mereka mengenal adanya Ang I Moli di antara mereka, dan mengenal pula bahwa para pendeta itu sebagian besar adalah orang-orang Pek-lian-kauw dan orang-orang Thian-li-pang. Suami isteri ini menduga bahwa tentu panglima muda itu yang bernama Ouw Ciangkun. Mereka merasa heran bukan main. Sepanjang pengetahuan mereka, Pek-lian-kauw adalah perkumpulan orang sesat yang selalu menentang dan memusuhi Kerajaan Mancu. Juga Thian-li-pang, walaupun terkenal sebagai perkumpulan orang-orang gagah, namanya tidaklah terlalu bersih. Akan tetapi Thian-li-pang juga terkenal sebagai kaum pemberontak terhadap Kerajaan Mancu. Bagaimana mungkin sekarang para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang berkumpul di situ dan agaknya menjadi tamu dari seorang panglima kerajaan?
"Aku tidak melihat adanya Yo Han di sana...."