Halo!

Kisah Sepasang Naga Chapter 48

Memuat...

Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mencari dan menyusul Sin Wan, karena bukankah dulu Sin Wan pernah bilang bahwa jika hendak mencari dirinya, harus pergi ke puncak Kam-hong-san? Maka, ia lalu jual semua perhiasannya untuk dipakai biaya mencari suaminya itu.

Dan akhirnya setelah bersusah payah, ia berhasil membawa anaknya yang baru berusia lima bulan itu ke puncak Kamhong-san.

Tapi di sana ia hampir saja menjadi kurban keganasan dan kejahatan empatorang pemikul tandu, dan baiknya datang Giok Ciu yang menolongnya.

Dan akhirnya ia bertemu dengan Sin Wan, suaminya! Tapi alangkah remuk rendam hatinya, hancur luluh kalbunya.

Segala penderitaan, segala perngurbanan yang dilakukan itu sia-sia belaka! Bukan Sin Wan pemuda idaman itulah yang sebenarnya menjadi ayah anak itu, tapi Gak Bin Tong! Gak Bin Tong pemuda muka putih yang dibencinya, karena semenjak dulu pemuda itu selalu menggodanya, selalu memperlihatkan sikap ceriwis dan menjemukan.

Pemuda yang pernah ia tolak lamarannya! Pemuda yang bahkan telah ia laporkan kepada para pengawal agar ditangkap dan dibunuh, karena ia sungguh-sungguh membencinya! Dan kini..

dari mulut Sin Wan sendiri, dari mulut laki-laki yang tadinya telah dianggap sebagai suaminya, ia mendengar bahwa suaminya bukanlah Sin Wan, tapi.

Orang she Gak itu! Ketika ia melahirkan, segala hinaan yang didengarnya tak dapat menggoyahkan kalbunya, tak dapat merobah pendiriannya.

Tapi kenyataan yang didengarnya ini merupakan penghinaan yang sebesar-besarnya baginya, dan kenyataan ini membuat ia tak sanggup memandang wajah Sin Wan lagi, membuat ia begitu membenci Gak Bin Tong hingga seakan-akan hendak dicekiknya dan dibunuhnya pada saat itu juga pemuda muka putih yang telah menodai dan merusak hidupnya itu! Demikianlah, ia lari bagaikan gila menuruni lereng bukit.

Beberapa hari kemudian, Suma Li Lian yang tadinya cantik jelita, telah berubah menjadi seorang wanita yang menakutkan.

Rambutnya yang riap-riapan menutupi sebagian wajahnya yang kotor penuh debu dan lumpur.

Matanya merah dan liar dan bibirnya yang biasanya tersenyum manis menarik hati, kini tertarik menyeringai penuh kebencian.

Pakaiannya yang tadinya indah dan rapi, kini robek disana-sini dan kotor sekali hingga tak tampak pula bekasbekasnya yang terbuat dari bahan mahal.

Kakinya tak bersepatu lagi, hanya berkaus yang sudah dekil dan hitam penuh tanah.

Sungguh mengenaskan nasib manusia ini.

Ketika ia memasuki sebuah dusun kecil, semua anak-anak lari ketakutan dan menggodanya dari jauh sambil melempar-lemparinya dengan batu.

Dimana saja ia angsurkan tangan untuk minta makanan pengisi perutnya yang sudah lapar sekali, orang-orang mengusirnya dengan kata-kata menyatakan jijik.

Dengan tindakan kaki limbung dan terhuyung-huyung, terpaksa Li Lian meninggalkan dusun itu.

Tubuhnya lemas, perutnya terasa perih sekali, dan pandang matanya berkunang-kunang.

Karena terik matahari membuat kepalanya berdenyut-denyut, ia lau menghampiri sebuah pohonn besar yang tumbuh dipinggir jalan untuk meneduh, tapi ketika tiba di bawah pohon, tubuhnya tak tertahan lagi dan tubuh itu limbung hendak roboh, matanya meram dan kedua tangannya diulurkan meraba-raba mencari pegangan diudara! Pada saat ia pingsan, sebelum tubuhnya roboh di tanah, tibatiba dari atas pohon menyambar turun sebuah tali yang secara aneh dan cepat bagaikan ular telah membelit kedua pergelangan tangan Li Lian dan tahu-tahu tubuh Li Lian telah mencelat ke atas pohon bagaikan disendal oleh tenaga yang luar biasa besarnya! Ketika tubuh gadis yang malang itu terapung ke atas, sebuah lengan yang panjang dan besar lagi hitam dan kotor terulur dan tubuh Li Lian ditangkapnya pada bajunya.

Terdengar suara ketawa yang aneh, karena bunyinya seperti setengah tertawa setengah menangis dan sebuah jari yang kotor menyentil belakang kepala Li Lian sehingga gadis itu siuman dari pingsan dan membuka matanya.

Alangkah herannya ketika Li Lian melihat bahwa ia sudah duduk di atas sebatang cabang pohon yang tinggi.

Kalau saja hal ini terjadi padanya dahulu, tentu ia akan berteriak-teriak minta tolong karena takutnya melihat tanah sebegitu jauh di bawahnya.

Tapi agaknya rasa takut telah lenyap di telan ombak samudera kesedihannya, hingga jangan kata baru tempat tinggi, biarpun berada di depan mulut harimau, agaknya gadis itu takkan merasa takut lagi.

Maut akan disambutnya dengan senyum dan lambaian tangan karena baginya hidup ini tak berarti lagi.

Tapi ketika ia menengok dan memandang orang yang duduk di atas sebuah dahan lain dan sedang memandangnya pula, ia terkejut sekali dan tanpa disengaja ia membelalakan matanya.

Di atas sebatang dahan duduk seorang laki-laki tua yang tinggi besar dan kurus sekali tapi keadaannya menyatakan bahwa orang itu bukanlah orang yang berotak waras! Orang itu memegang segulung tali yang ujungnya diputar-putar eperti lagak seorang kanak-kanak yang sedang bermain-main.

Ia memandang Li Lian sambil tertawa ha-ha hi-hi.

Suma Li Lian menahan tubuhnya yang lemas dan gemetarkarena lelah dan lapar, lalu berkata, "Lopeh, kau siapakah dan mengapa kau menolong aku?" Orang yang berpakaian jembel itu memandangnya dengan heran, lalu pada wajahnya yang berkulit kotor hitam itu terbayang seri gembira ketika ia menjawab,"Siapa aku?" ia garuk-garuk kepalanya, "Aku adalah aku dan siapa yang menolong siapa? Aku tidak menolong juga tidak ditolong.

Nona sakit, maka kubawa naik ke sini." Suma Li Lian maklum bahwa orang yang menolongnya ini benarbenar gila dan otaknya tidak waras namun ia heran sekali bagaimanakah orang gila ini dapat membawanya ke atas? Melihat wajah dan sinar mata orang tua tinggi besar itu, agaknya tidak berwatak jelek, bahkan ketika tadi tersenyumpun tampak baik hati benar, maka ia lalu berterus terang, "Loph, aku tidak sakit, hanya lelah dan lapar." "Lapar? Bagus! Akupun lapar!" jawabnya sambil tertawa terkekeh.

Mau tak mau, Suma Li Lian terpaksa ikut tertawa geli, hingga ia sendiri merasa heran mengapa ia dapat tertawa! Agaknya pada saat itu semua kesedihannya lenyap dan kegilaan orang tua itu menjalar kepadanya hingga iapun merasa sangat geli mendengar kata-kata si jembel gila yang lucu dan gila itu.

Celaka dua belas, pikirnya.

Dalam keadaan sedemikian menderita, bertemu dengan orang berotak miring.

Tapi tiba-tiba si jembel gila itu gerakkan tangannya yang memegang tali dan tali itu meluncur panjang dan bergerak-gerak bagaikan seekor ular terbang, ujung tali itu telah menyelusup diantara daun-daun pohon dan ketika di tarik kembali, diujung tali itu telah terbelit setangkai ranting yang ada buahnya beberapa butir.

Tali kecil itu agaknya dapat disuruh mencarikan makan! Si gila itu memetic beberapa butir buah dan memberikan kepada Suma Li Lian.

"Kalau lapar, enak sekali makan.

Makanlah buah ini." Suma Li Lian memandang jembel gila itu dengan pandangan berterima kasih sekali.

Ia maklum bahwa orang gila ini adalah seorang sakti yang berkepandaian tinggi.

Dengan lahapnya ia lalu makan buah-buah itu bersama-sama si jembel yang mencari buah-buah lagi.

Sambil makan buah, mereka saling pandang tanpa bercakapcakap.

Kemudian, Li Lian berkata lagi, "Lo-suhu, sebenarnya siapakah lo-suhu ini dan mengapakah kau begini baik kepadaku?" Kakek gembel itu tertawa lagi dengan geli.

"Dunia ini memang lucu, tapi kau tidak lucu, nona.

Kau berwajah gelap diliputi kemurungan, menimbulkan rasa sakit dalam dada kiriku." Setelah berkata demikian, jembel gila itu meringis-ringis seperti menahan sakit dan tangan kirinya meraba-raba dadanya.

Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, "Aku adalah aku, kau tak usah bertanya karena aku sendiripun tidak tahu! Tapi kau mengapa bermuram durja? Siapa yang mengganggumu, anakku manis?" Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba diucapkan dengan suara sangat menyayang ini, hati Li Lian menjadi sedih sekali hingga tubuhnya limbung dan ia terjungkal dari dahan pohon yang didudukinya dan tubuhnya melayang ke bawah.

Tapi sedikitpun Li Lian tidak menjerit, hanya meramkan mata menanti datanya maut.

Tapi, tubuhnya tidak terbanting ke atas tanah keras, bahkan merasa seakan-akan tubuhnya diayun-ayun dan tiba-tiba ia merasa kakinya menginjak tanah.

Ketika ia membuka mata, ternyata ia telah berdiri di atas tanah dengan selamat, sedangkan empek gila tadi telah berdiri pula di depannya seakan-akan tidak terjadi sesuatu.

"Nona, kau belum menjawab pertanyaanku.

Siapakah yang mengganggumu?" Suma Li Lian tidak menjawab, tapi lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.

Jembel gila itu menangkat kepala dan sambil memandang langit ia tertawa bergelak-gelak.

"Ha, ha, ha! Kau memang pantas menjadi muridku.

Pantas, pantas!" Dengan ujung kakinya ia mencokel tubuh Li Lian dengan perlahan, tapi cukup membuat tubuh gadis itu mencelat mumbul ke atas, berputaran beberapa kali di udara sebelum jatuh lagi kebawah, tapi Li Lian sama sekali tidak merasa takut! Kembali kakek jembel itu tertawa bergelak-gelak dan menyambar baju Li Lian untuk mencegah tubuh gadis itu terpelanting.

"Bagus, bagus ! berdirilah muridku!" Sebenarnya, sekali-kali bukan maksud Li Lian untuk mengangkat guru kepada orang gila ini ketika berlutut tadi, tapi karena kakek aneh itu telah menerimanya sebagai murid, ia tidak berani menolak atau membantah.

Pula, di dunia ini tidak ada orang yang berlaku baik kepadanya hingg ia benci kepada dunia dan penduduknya, kini tiba-tiba ada seorang berotak miring yang sangat baik kepadanya, maka diam-diam timbul pikiran baru dalam otaknya.

Post a Comment