suhu.
Tolong suhu.!" Demikian tajamnya Ouw-liong Pokiam sehingga hamper saja penjahat itu tidak merasa bahwa tangan kirinya telah terbabat putus! Giok Ciu merasa puas telah memberi pelajaran kepada penjahat itu, tapi begitu mendengar penjahat itu menyebut-nyebut gurunya, ia segera mengejar.
Kalau penjahat itu mempunyai seorang guru di kota ini, maka gurunya tentu bukan serorang baik-baik pula dan perlu dan dibasmi agar jangan merupakan pengganggu dan pengacau rakyat di kota itu.
Penjahat itu, terus menuju ke sebuah rumah yang tinggi gentengnya sambil terus berteriak-teriak minta tolong kepada gurunya.
Tiba-tiba dari dalam rumah itu melayang keluar bayangan seorang yang mempunyai gerakan gesit sekali.
Giok Ciu siap dengan pedangnya karena dari gerakan orang itu ia dapat menduga bahwa lawannya ini tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi juga.
Ketika bayangan orang itu tiba di depannya dan membentak nyaring, Giok Ciu merasa terkejut berbareng girang karena ternyata bahwa orang itu bukan lain ialah Keng Kong Tosu! "Ha, jadi kaukah guru penjahat itu? Pantas saja muridnya jahat, tidak tahunya gurunya seorang penjahat besar!" Keng Kong Tosu lebih kaget lagi ketika melihat bahwa orang yang melukai dan mengejar muridnya bukanlain adalah gadis lihai yang dulu pernah bertempur dengannya! Ia masih ingat betapa lebih setahun yang lalu gadis itu telah memiliki kepandaian tinggi, apalagi sekarang, maka diam-diam ia merasa jerih juga.
Akan tetapi, karena lawan itu telah berada disitu, pula ia dapat mengharapkan bantuan tiga murid lain yang berada di bawah ia lalu membentak, "Pemberontak perempuan, tidak tahunya kaukah yang lagi-lagi menghina kami dan melukai muridku? Kau agaknya telah bosan hidup!" "Jangan banyak cakap, kau majulah tosu palsu!" Giok Ciu lalu menyerang hebat dengan pokiamnya, hingga Keng Kong Tosu buru-buru meloncat dan mengeluarkan pedang pendek dan hudtimnya yang digerakkan secara istimewa untuk menangkis dan balas menyerang.
Ia berlaku hati-hati sekali karena dulu pernah merasakan kelihaian dari pendekar ini dan pernah dilukai pundaknya oleh pedang pusaka yang ampuh itu.
Tapi baru saja bertempur beberapa jurus, makin kuncup dan jerih hati tosu itu karena ia mendapat kenyataan bahwa tenaga lweekang dan permainan pedang dara itu kini telah maju hebat sekali! Ia lalu bersuit nyaring untuk memanggil murid-muridnya dan sambil membentak keras ia mengeluarkan senjata-senjata rahasia jarum hitam dari dalam kebutannya.
Jarum-jarum itu jumlahnya lebih dari sepuluh batang dan kecil sekali sehingga ketika menyambar di dalam gelap itu, sama sekali tidak tampak.
Tetapi Giok Ciu memiliki tenaga pendengaran, yang halus sekali dapat menangkap angina gerakan hudtim itu maka ia dapat menduga bahwa dari gerakan itu tentu keluar senjata rahasia.
Ia lalu menggunakan pedangnya yang diputar dalam gerak tipu Naga Hitam Menutup Gua untuk melindungi tubuhnya dan benar saja, terdengar suara tringtring nyaring sekali ketika jarum-jarum itu terpukul oleh pedangnya.
Pada saat itu, dari bawah meloncat naik tiga bayangan yang juga memiliki gerakan gesit.
Mereka ini adalah murid-murid Keng Kong Tosu yang tadi sibuk menolong sute mereka yang terbabat tangannya oleh pedang Giok Ciu.
Kini mereka mendengar tanda siutan suhu mereka, ketiga orang itupun mengambil senjata masing-masing dan naik untuk membantu Keng Kong Tosu.
Sekali-kali Keng Kong Tosu berseru keras dan asap hitam menyambar kearah tubuh Giok Ciu.
Tapi Giok Ciu sekarang bukanlah dara setahun yang lalu, yang takut akan segala ilmu hitam dan senjata-senjata mujijat.
Ia telah memiliki tenaga lweekang dan tenaga batin yang kuat sekali dan membuatnya waspada dan tenang.
Melihat datangnya asap hitam yang berbau busuk itu, ia lalu menggunakan mulutnya meniup ke depan dari atas ke bawah.
Tenaga tiupan ini demikian besar sehingga asap itu tertiup berbalik, dan kini bahkan menyerang Keng Kong Tosu dan murid-muridnya! Tosu sesat itu cepta menggunakan kebutannya diputar untuk mendatangkan angina mengusir asap itu, juga dua orang muridnya meloncat menyingkir, tapi seorang murid tidak menyangka sama sekali akan tiupan Giok Ciu maka ia terserang oleh asap hitam itu.
Ia kena sedot asap itu sehingga terbatuk-batuk dan tubuhnya lalu terguling roboh di atas genteng! Keng Kong Tosu terkejut dan marah sekali.
Ia cepat mengeluarkan obat pemunah dan memasukkan obat itu ke dalam mulut muridnya.
Seorang murid lain lalu memondong tubuh kawannya itu dan meloncat ke bawah sedangkan gurunya dan seorang kawannya yang masih berada disitu lalu maju mengeroyok gadis yang lihai itu.
Giok Ciu memutar pokiamnya dan memainkan ilmu pedang Ouwliog Kiam-sut yang luar biasa dan ganas.
Sebentar saja sinar pedangnya yang hitam dan membuat ia lenyap dari pandangan mata kedua lawannya, telah mengurung dan mendesak kedua lawannya.
Pada saat itu murid yang tadi menolong kawannya terkena asap berbisa dari suhunya sendiri, telah naik pula dan maju mengeroyok dengan pedangnya.
Tapi Giok Ciu tidak takut, bahkan tertawa menyindir.
"Keng Kong Tosu, tosu busuk! Kau agaknya hendak mampus sambil membawa dua orang pengiring!" Keng Kong Tosu marah sekali, tapi ia tidak berdaya, maka ia lalu berkelahi dengan nekad dan mati-matian! Pada saat itu, tampak berkelebat bayangan putih dan sebuah sinar putih yang terang sekali meluncur dan menyerbu ke dalam kalangan pertempuran serta langsung membantu Giok Ciu.
"Moi-moi, mari kita musnahkan manusia jahat ini!" terdengar seruan Sin Wan dengan suara gembira karena tanpa dinyana ia dapat bertemu dengan gadis itu di tempat ini! Tapi Giok Ciu menjawab marah.
"Siapa butuh pertolonganmu? Jangan kau ikut mencampuri urusanku!" Sin Wan merasa mendongkol juga mendengar betapa keng Kong Tosu dan kedua muridnya sengaja memperdengarkan suara ketawa untuk menghinanya.
Ia merasa betapa gadis itu merendahkannya dimuka musuh-musuhnya, maka dengan suara dingin ia berkata, "Siapa yang hendak membantu engkau? Akupun mempunyai sedikit urusan dengan tosu jahanam ini!" Sambil berkata demikian, Sin Wan lalu menggunakan pedangnya yang bersinar putih menyerang hebat dengan tipu Naga Putih Menembus Awan.
Gerakannya hebat dan cepat sekali sehingga Keng Kong Tosu menjadi terkejut dan cepat berkelit.
Tapi pada saat itu Giok Ciu yang tidak mau "didului" Sin Wan, segera menyerangnya dengan gerakan Naga Hitam Terjun ke Laut! Sementara itu, Sin Wan sudah merubah gerakannya dan kini menyabet dengan tipu Naga Putih Sabetkan Ekor! Mana bisa Keng Kong Tosu mempertahankan dirinya terhadap serangan-serangan dari kedua anak muda yang mengeluarkan tiputipu terlihai dari Pek-liong Kiam-sut dan Ouw-liong Kiam-sut! Biarpun ia menggunakan pedang pendek dan hudtimnya untuk menjaga diri, tak urung kedua pedang lawan itu dengan berbareng telah menusuk tembus dada dan lambungnya sehingga tanpa dapat berteriak lagi Keng Kong Tosu roboh tak bernyawa pula! Giok Ciu merasa penasaran karena lagi-lagi ia tak dapat mendahului Sin Wan dan boleh dikata tosu jahanam itu terbunuh oleh mereka berdua dengan berbareng! Dalam gemasnya ia hendak menyerang kedua murid Keng Kong Tosu yang berdiri terkejut dan kesima, tetapi Sin Wan menegur, "Jangan, Giok Ciu, jangan bunuh mereka!" "Peduli apa kau dengan urusanku sendiri?" bentak gadis tiu dan melanjutkan serangannya kepada dua orang murid tosu yang telah mati itu.
Tapi tiba-tiba sinar putih berkelebat cepat dan pedang Sin Wan telah menangkis Ouw-liong Pokiam.
"Moi-moi, ingatlah pesan suhu.
Jangan sembarangan membunuh orang, kalau tidak terpaksa dan mempunyai asalan yang kuat! Sudah cukup kita bunuh Keng Kong yang memang jahat, jangan ganggu muridnya." Giok Ciu mencibirkan mulutnya,"Cih, pandai benar bermain mulut, bisa saja berpura-pura alim dan suci, coba kau pandang mukamu sendiri.
Tak malu menyebut-nyebut orang lain jahat!" "Moi-moi, dengarlah dulu keteranganku.." "Siapa sudai mendengarkan kata-katamu yang palsu!" Dengan ucapan ini Giok Ciu lalu meloncat pergi.
Sin Wan tidak mengejarnya karena ia maklum bahwa gadis itu benar-benar telah membencinya dan tak mungkin mau diajak berbicara.
Kalaupun ia dapat memberi penjelasan, belum tentu gadis yang keras hati itu suka mempercayainya.
Ah, sungguh serba susah dan Sin Wan menghela napas panjang.
Tiba-tiba ia mendengar suara tertawa menyindir.
Ia melihat betapa kedua murid Keng Kong Tosu masih berdiri di situ dan memandangnya dengan senyum sindir.
Marahlah Sin Wan dan sekali tubuhnya bergerak, tahu-tahu dua orang itu kena diterjangnya dan roboh di atas genteng sambil merintih-rintih.
Ternyata sekali bergerak saja Sin Wan telah berhasil menotok mereka hingga roboh tak berdaya dan biarpun mereka takkan mati karenanya, namun dalam waktu dua belas jam, kalau tidak ada orang pandai yang melepaskan totokan itu, mereka akan lemas tak dapat bergerak, hanya dapat merintih-rintih saja! Kemudian Sin Wan meloncat pergi dari situ dengan hati mengkal.
Marilah kita ikuti perjalan Suma Li Lian, gadis bangsawan yang cantik jelita, tapi yang tertimpa nasib malang itu.
Setelah mendengar dari mulut Sin Wan kenyataan-kenyataan yang sangat pahit dan menikam ulu hatinya, gadis cantik ini hampir menjadi gila! Jiwanya memang telah tertekan oleh rasa terhina dan malu karena sebagai seorang gadis baik-baik keturunan bangsawan, adalah hal yang lebih hebat dan lebih rendah daripada mat ketika mengandung dan melahirkan seorang anak tanpa mempunyai suami! Sebetulnya ketika merasa bahwa dirinya mengandung, ia telah mengambil keputusan hendak membunuh diri, tapi wajah Sin Wan yang tampan dan gagah selalu terbayang di muka matanya, maka ia lalu menetapkan hatinya.
Ia nekad untuk menghadapi semua hinaan daan nistaan karena betapapun juga, ia diam-diam mengakui bahwa ia tidak menyesal mengandung seorang keturunan dari Sin Wan! Ia cinta pemuda itu, cinta dengan cinta murni, dan ia bersedia mengorbankan apa saja untuk pemuda itu.
Jangankan baru hinaan dari dunia luar, aah, ia takkan merasa terhina, bahkan ia akan merasa bangga kalau anaknya telah lahir, anak mereka, anaknya dan anak Sin Wan! Demikian besar rasa cintanya terhadap Sin Wan hingga Li Lian rela dirinya mendapat hinaan karena sebagai seorang gadis yang melahirkan seorang anak tak berayah.
Ia bahkan sempat diusir oleh ibunya dan keluarganya dan hidup terlunta-lutan di sebuah kampung kecil.