Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 75

Memuat...

Cin Liong mengerutkan alisnya.

"Ibu, harap jangan persoalkan itu karena kalau sekali ini aku gagal berjodoh dengan Hui-moi, selamanya aku tidak mau menikah! Aku tidak mau gagal sampai ketiga kalinya. Terserah kepada ayah dan ibu apakah suka melamarkan Suma Hui untukku atau tidak.! Suara pemuda itu tegas akan tetapi tidak mengandung kemarahan.

"Cin Liong, aku mengenal benar perangai ibumu dan ia bukan bermaksud menentang kehendakmu. Hanya aku tahu bahwa ibumu khawatir kalau-kalau pinangan itu ditolak oleh paman Suma Kian Lee yang kami tahu masih memegang teguh adat-istiadat kekeluargaan.!

"Benar apa yang dikatakan ayahmu, Cin Liong. Apakah orang tua gadis itu juga sudah menyetujui ikatan jodoh ini?!

Cin Liong menggeleng kepala.

"Mereka belum tahu, jadi akupun tidak dapat menduga bagaimana sikap mereka terhadap hubungan kami.!

"Aihhh.... kalau mereka belum menyetujuinya, bagaimana kami berani mengajukan pinangan? Anakku yang baik, sungguh aku merasa amat sungkan, baru menghadap dan meminang saja aku sudah merasa takut. Kalau sampai ditolak, akan kutaruh ke mana mukaku?! Wan Ceng berkata sambil mengepal tangan kanannya, hatinya merasa bingung dan gelisah sekali. Rasa gelisahnya jauh lebih besar daripada rasa gembira karena akhirnya putera mereka minta dilamarkan seorang gadis.

"Ibu, kalau tidak melamar lebih dahulu, mana mungkin kita bisa tahu apakah mereka itu setuju ataukah tdak? Pula, kenapa mesti takut mengajukan pinangan? Meminang anak gadis orang merupakan suatu hal yang terhormat dan menghormati keluarga gadis yang dilamar. Menerima atau menolak adalah hak mereka, seperti juga meminang adalah hak kita. Kalau ibu tidak berani melamarkan, apakah aku yang harus melamarnya sendiri?!

"Liong-ji, engkau tidak boleh mendesak ibumu seperti itu!! Tiba-tiba Kao Kok Cu berkata, suaranya halus namun penuh wibawa dan Cin Liong merasa akan kesalahannya, maka diapun cepat menghampiri ibunya dan berlutut.

"Ibu, maafkan aku....!

Wan Ceng merangkulnya.

"Aku tidak marah, anakku, hanya aku mengkhawatirkan perasaan hatimu kalau sampai kami ditolak.!

"Sudahlah, bagaimanapun juga, kita harus berani menghadapi kenyataan yang bagaimana pahitpun. Cin Liong, kapan kami harus berangkat ke Thian-cin untuk mengajukan pinangan itu?!

"Sebaiknya dua bulan mendatang, ayah. Aku akan kembali dulu ke kota raja dan kuharap ayah dan ibu suka singgah dulu di kota raja sebelum melanjutkan perjalanan ke Thian-cin.!

Demikianlah, dua bulan kemudian, suami isteri ini melakukan perjalanan ke selatan. Mereka singgah di kota raja, akan tetapi ternyata gedung Jenderal Muda Kao Cin Liong kosong dan menurut keterangan para pengawal, jenderal muda itu sedang melakukan tugas dan sudah beberapa pekan meninggalkan kota raja. Seperti kita ketahui, Cin Liong pergi ke Thian-cin, kemudian terjadi peristiwa dia hampir dibunuh oleh kekasihnya, kemudian dia berusaha mencari jejak Jai-hwa Siouw-ok, maka dia tidak sempat kembali ke kota raja sehingga gedungnya kosong ketika orang tuanya datang. Melihat betapa putera mereka tidak berada di rumah dan agaknya tentu sedang melaksanakan tugas penting, Kao Kok Cu dan Wan Ceng tidak lama berdiam di kota raja dan melanjutkan perjalanan mereka ke Thian-cin.

Pada sore hari itu, mereka memasuki pintu gerbang kota Thian-cin dan sepasang suami isteri yang gagah perkasa, dalam kesederhanaan mereka, masih saja menarik perhatian banyak oramg yang hanya menduga-duga bahwa suami isteri itu tentulah pendekar-pendekar yang lihai. Apalagi ketika mereka nnendengar sepasang suami isteri ini menanyakan di mana letak rumah keluarga Suma, dugaan bahwa mereka adalah pendekar-pendekar yang lihai lebih meyakinkan lagi.

Dengan mudah suami isteri ini dapat memperoleh keterangan tentang rumah keluarga Suma Kian Lee dan pada sore hari itu mereka sudah berada di pekarangan depan rumah keluarga Suma, disambut oleh seorang pelayan yang segera melapor ke dalam.

Tak lama kemudian, keluarlah keluarga Suma selengkapuya, yaitu Suma Kian Lee, Kim Hwee Li, Suma Hui dan Ciang Bun. Suma Kian Lee dan isterinya menyambut dengan ramah, sedangkan kedua orang anak mereka menyambut dengan sikap hormat walaupun dengan pandang matanya yang tajam Wan Ceng melihat betapa gadis kekasih puteranya itu, walaupun cantik dan gagah, namun sikapnya seperti orang marah ataugalak. Juga Kao Kok Cu dapat melihat bahwa di balik keramahan sikap Suma Kian Lee, terdapat sinar mata yang tajam dan keras, maka diam-diam hatinya merasa tidak enak sekali. Hanya Kim Hwee Li seorang yang sikap ramahnya tidak dibuat-buat.

"Aih, Si Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya yang gagah perkasa! Angin baik dari manakah yang meniup kalian sampai terbang ke sini?! tegur Kim Hwee Li dengan gembira.

Suami isteri tamu itu memberi hormat kepada tuan rumah dengan menyebut "paman! dan "bibi!.

"Perkenalkan, inilah anak-anak kami, Suma Hui dan Suma Ciang Bun. Anak-anak, ketahuilah bahwa yang datang ini adalah kakak-kakak kalian, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya yang terkenal itu.! Kim Hwee Li melanjutkan sambutannya. Suma Hui dan Ciang Bun segera memberi hormat selayaknya dibalas pula oleh Kao Koh Cu dan isterinya.

"Silahkan masuk, kita bicara di ruangan dalam,! Suma Kian Lee berkata, sikapnya ramah akan tetapi wajahnya dingin. Suami isteri itu mengikuti mereka masuk ke dalam dan segera mereka semua duduk di ruangan tamu menghadapi meja yang panjang dan besar.

"Sungguh kami sekeluarga merasa gembira sekali melihat datangnya Kao-taihiap berdua dan kami mengucapkan selamat datang. Akan tetapi di samping kegembiraan itu, kami juga dipenuhi rasa heran karena kalau sampai Kao-taihiap meninggalkan Istana Gurun Pasir dan datang ke rumah kami, tentu ada keperluan yang sangat penting.! Demikian Suma Kian Lee memulai percakapan mereka, setelah pelayan datang menghidangkan minuman.

Kao Kok Cu saling pandang dengan isterinya dan dalam pertemuan pandang mata ini mengertilah Wan Ceng bahwa suaminya minta agar ia yang bicara. Nyonya ini tersenyum memandang tuan rumah dan menilai betapa Kian Lee kini telah banyak berobah, lebih serius dan selain nampak agak tua juga agaknya kelembutannya yang biasa itu kini menyembunyikan kekerasan di baliknya. Maka, dengan hati-hati iapun berkata.

"Kami datang untuk membicarakan suatu hal yang amat penting dengan paman dan bibi berdua, maka kami harap kedua adik ini....! Ia memandang kepada Suma Hui dan Suma Ciang Bun.

"Mereka adalah dua orang anak kami yang sudah dewasa. Tidak ada rahasia di antara keluarga kami, maka engkau boleh bicarakan kepentinganmu itu di depan mereka.! Kian Lee sengaja memotong kata-kata Wan Ceng karena dia sudah tahu kepentingan apa yang hendak dibicarakan itu. Tiada lain tentu tentang perjodohan antara puterinya dan Cin Liong! Mengingat akan pelanggaran adat kekeluargaan ini saja sudah dianggapnya melanggar susila dan membuatnya marah. Maka, dia sengaja menahan anak-anaknya, terutama sekali Suma Hui, agar ikut mendengarkan sehingga gadisnya itu akan sekaligus mendengar keputusannya yang tentu saja akan menolak keras.

Mendengar ucapan tuan rumah yang memotong itu, kembali Wan Ceng saling lirik dengan suaminya. Sikap suaminya tetap tenang dan pandang mata suaminya mengisyaratkan agar ia melanjutkan bicaranya. Maka setelah menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya, Wan Ceng melanjutkan.

"Sesungguhnya, kedatangan kami berdua ini selain ingin berjumpa dan menengok karena sudah lama sekali tidak jumpa, juga ada keperluan penting yang menyangkut diri adik.... eh, Suma Hui ini.! Sukar rasanya menyebut "adik! kepada seorang gadis yang akan dilamar menjadi mantunya.

"Tentu paman dan bibi sudah mengetahui akan adanya hubungan yang amat erat antara Suma Hui dan Cin Liong, putera tunggal kami.! Sampai di sini ia berhenti seperti kehabisan keberanian dan akal, bahkan lalu menundukkan mukanya ketika bertemu pandang mata dengan Suma Kian Lee dan melihat sepasang mata pamannya itu mencorong tanda kemarahan.

Melihat keadaan isterinya itu, hati Kao Kok Cu merasa tidak tega dan diapun cepat menyambung keterangan isterinya.

"Terus terang saja, betapa berat rasa hati kami untuk melaksanakan tugas ini, akan tetapi sebagai orang tua yang ditangisi anak, kami memberanikan diri menghadap paman dan bibi yang mulia untuk mengajukan pinangan atas diri Suma Hui untuk dijodohkan dengan anak kami Kao Cin Liong.!

"Tidak.... tidak pantas....!! Hanya itulah yang keluar dari mulut Suma Kian Lee, namun sudah lebih dari cukup apa yang dimaksudkan. Kim Hwee Li yang lebih bebas dalam hal adat keluarga, lebih mementingkan hati puterinya, segera memperhalus sikap suaminya itu dengan kata-kata yang lunak.

"Kao-taihiap berdua tentu maklum betapa mengejutkan pinangan ini terdengar oleh suamiku. Puteri kami adalah adik kalian, berarti puteri kami adalah bibi putera kalian. Kalau mereka dijodohkan, apa akan kata orang-orang terhadap kita?!

Kao Kok Cu menarik napas panjang.

"Kami bukan tidak mengerti akan hal itu. Akan tetapi, sudah lama sekali kami membebaskan diri dari pendapat orang sedunia. Yang penting adalah benar bagi kami dan karena mereka berdua saling mencinta, maka kami memberanikan diri untuk meminang, hanya untuk melancarkan tali perjodohan yang telah mereka ikat sendiri. Harap paman dan bibi suka memaafkan dan memaklumi keadaan kami.!

"Brakkkk!! Tiba-tiba Suma Kian Lee menggebrak meja, mukanya merah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar kemarahan.

"Tidak! Ini penghinaan namanya!!

Pada saat itu, Suma Hui meloncat bangkit dari tempat duduknya. Mukanya merah sekali dan perobahan sudah terjadi pada dirinya sejak dua orang tamu tadi datang tanpa ada yang memperhatikannya. Ia seperti mengalami ketegangan yang makin lama makin memuncak dan sekarang agaknya kemarahannya telah mencapai puncaknya dan ia tidak dapat menahannya lagi.

"Akupun tidak sudi menikah dengan jahanam Kao Cin Liong! Penghinaan ini harus ditebus dengan nyawa, aib ini harus dicuci dengan darahnya!!

Semua orang meloncat bangkit dari tempat duduk masing-masing dengan hati merasa kaget sekali.

Bukan hanya Kao Kok Cu dan isterinya saja yang terkejut mendengar kata-kata itu, bahkan Suma Kian Lee, Kim Hwee Li dan juga Suma Ciang Bun sendiri merasa kaget sekali.

"Enci Hui....!! Suma Ciang Bun berteriak kaget.

"Hui-ji, sikapmu ini sungguh tidak patut!! Kim Hwee Li menegur puterinya.

"Hui-ji, engkau harus mempertanggungjawankan ucapanmu dan mengemukakan alasan mengapa engkau mengeluarkan pernyataan itu!! Suma Kian Lee juga terkejut sekali karena dia merasa yakin puterinya tidak akan mengeluarkan ucapan seperti itu kalau tidak ada alasanuya yang kuat sekali.

Post a Comment