Halo!

Kisah Pendekar Bongkok Chapter 71

Memuat...

"Yang nampak hitam, penuh hutan."

"Ah, itu bukit Onta namanya. Di bagian tengah ada...."

Kepala dusun tidak melanjutkan kata-katanya dan memandang ke arah punuk di punggung Sie Liong.

"Ada punuknya maksudmu? Hemm, bukit Onta...."

"Ada apakah di sana, taihiap?"

Gumo Cali tidak berani menyebut onta, takut menyinggung hati pendekar bongkok itu yang tadi dimaki siluman onta oleh seorang penduduk dusun.

"Tidak ada apa-apa. Kita tunggu saja sampai ada tanda dari penjahat itu. Sekarang aku akan mencari kamar di rumah penginapan."

"Taihiap, bermalamlah saja di sini. Kamar anak-anak.... bekas kamar merekapun kosong, boleh untuk sementara taihiap tempati...."

Sie Liong maklum bahwa tuan rumah masih panik dan ketakutan, dan dia hendak ditahan untuk meredakan rasa takut mereka. Dia merasa tidak leluasa kalau bermalam di situ, maka dia menggeleng kepala.

"Tidak, sebaiknya kehadiranku tidak terlalu monyolok. Biar aku di rumah penginapan saja,"

"Tunggulah, taihiap. Biar aku menyuruh seseorang untuk memesan kamar terbaik untuk taihiap, sementara itu, mari terimalah hidangan yang kami berikan untuk taihiap, sebagai sarapan pagi."

Sie Liong merana tidak enak untuk menolak. Mereka lalu bersama-sama makan pagi, dan setelah selesai makan pagi, Sie Liong diantar oleh kepala dusun sendiri pergi ke rumah penginapan di mana telah disediakan kamar terbaik untuknya. Belum juga tengah hari, kepala dusun sudah torgopoh-gopoh datang dan mengetuk daun pintu kamarnya. Sie Liong sedang beristirahat dan dibukanya daun pintu. Dia heran melihat kepala dusun nampak gugup dan mukanya pucat.

"Taihiap.... taihiap.... dia.... dia datang...."

"Datang? Ke mana maksudmu, paman?"

"Dia.... memberi tanda darah pada pintu rumah Gulamar, saudagar kaya yang memiliki seorang gadis yang cantik. Sebentar malam...."

"Bagus dan tenanglah, paman. Penjahat itu memang sombong bukan main. Mari kautunjukkan kepadaku di mana rumah yang mendapat tanda ancaman itu."

Keluarga Gulamar menyambut kedatangan kepala dusun itu dengan hati cemas dan putus asa. Tidak ada jagoan yang berani menjaga keselamatan puterinya, biar dia berani membayar berapa banyakpun dan biar dia sudah mendengar akan pendekar muda yang bongkok, yang katanya amat lihai dan sanggup melawan siluman merah, namun dia masih ragu-ragu dan bahkan sudah mempersiapkan rombongan onta dan kuda untuk melarikan anaknya mengungsi ke tempat lain. Ketika mendengar keterangan bahwa hartawan itu hendak membawa puterinya pergi mengungsi, Sie Liong menyatakan ketidak-setujuannya.

"Cara itu tidak menjamin keselamatan bahkan berbahaya sekali, paman,"

Katanya.

"Penjahat itu akan lebih mudah menculik puterimu dalam perjalanan mengungsi itu."

"Tapi dia.... dia siluman, hanya keluar di waktu malam.... kami akan melarikan puteri kami siang ini juga."

Sie Liong menggeleng kepalanya.

"Bukan, dia bukan siluman, melainkan manusia biasa yang amat jahat. Kalau malam ini dia datang untuk menculik puterimu, aku yang akan menghadapinya."

Gulamar nampak ragu-ragu dan bingung. Dia memandang kepada kepala dusun Gumo Cali.

"Bagaimana baiknya.... kami khawatir sekali, kalau tidak dilarikan, nanti anakku...."

"Tenangkan hatimu, saudagar Gulamar. Taihiap ini adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia sudah berjanji sanggup menalukkan siluman itu. Sebaiknya kalau engkau menurut nasihatnya. Taihiap, bagaimana sebaiknya diatur untuk menghadapi penjahat siluman itu kalau malam nanti dia datang?"

Sie Liong lalu mengadakan perun-dingan dengan tuan rumah, disaksikan oleh kepala dusun.

"Sembunyikan gadis itu di dalam kamar lain yang dekat dengan kamarnya sendiri agar aku dapat selalu mengamatinya, dan aku sendiri akan tinggal di dalam kamar puterimu menanti munculnya penjahat itu."

"Taihiap, apakah engkau membutuhkan bantuan?"

Sie Liong mengangguk.

Post a Comment