"Akan tetapi....pedang Ang-coa-kiam berada di tangannya dan....... dan mengapa kau tidak mau memberitahukan keadaan yang sebenarnya?" tanyanya kemudian kepada Tiong Han. Pemuda ini menghela napas. Tak perlu lagi ia menyembunyikan hal yang sebenarnya.
"Totiang keterangan nona ini memang benar. Tiong Kiat adalah adikku dan kalau ia telah melakukan dosa terhadap Kun-lun.pai biarlah aku sebagai kakak kandungnya yang bertanggung jawab dan menerima hukumannya Pedang ini belum lama kuterima dari padanya."
Bukan main herannya hati Gan Tian Cu mendengar ini.
"Aah, mengapa begitu? Orang muda, hampir saja kau membuat kami melakukan kedosaan besar, menghukum orang yang tidak bersalah. Baiknya datang Suma Iihiap ini yang berani berkata terus terang! Sim enghiong pinto dapat memaklumi pembelaan dan pengorbananmu terhadap seorang adik. Akan tetapi, perbuatanmu ini benar benar keliru sekali. Benar seperti dikatakan oleh Suma lihiap tadi, kau terlalu lemah! Kelemahan dan kasih sayang hatimu terhadap adikmu telah menggelapkan pertimbangan dan keadilanmu! Apa kaukira dengan mengorbankan nyawa untuk membela adikmu itu, kau telah melakukan suatu tindakan yang bijaksana? Sebaliknya, anak muda, sebaliknya kau bahkan menambah kejahatan kepada dunia! Dengan tindakanmu ini, seakan-akan kau membela penjahat yang mengacaukan dunia! pikiranmu cupat sekali, Sim enghiong. Karena kasih sayangmu terhadap adik, kau membiarkan adikmu merajalela dan mencelakakan orang-orang yang seharusnya patut kau bela. Di manakah keadilanmu? Di manakah kegagahanmu?"
Terpukul hati Tiong Han mendengar ucapan pendeta ini dan ia menundukkan mukanya yang pucat.
"Sim enghiong," kata lagi Gan Tian Cu yang merasa penasaran melihat kelemahan hati pemuda yang demikian gagah,
"kau benar-benar telah memalukan nama Kim liong-pai yang besar. Ketahuilah bahwa pendirian seorang pendekar, di dalam membela kebenaran dan keadilan tidak ada hubungan saudara maupun keluarga. Yang benar harus dibela, sungguhpun orang lain yang belum dikenalnya, yang salah harus dilawan biarpun saudara atau keluarga sendiri! Bahkan kaIau di dalam Kim-liong-pai terdapat seorang yang nyeleweng adalah kewajibanmu untuk mencegah dan melenyapkan pendurhaka itu. Kewajibanmu untuk menangkap adikmu itu demi membersihkan nama Kim-liong-pai, demi menjaga baik nama ayahmu dan demi sifatmu sebagai pendekar pembela rakyat! Nah, cukup pinto bicara, kau turut atau tidak terserah, akan tetapi pinto takkan berhenti berusaha untuk menangkap adikmu." Maka pergilah Gan Tian Cu dengan empat orang adik seperguruannya.
Ucapan itu mendorong dua titik air mata mengalir keluar dari mata Tiong Han yang masih menundukkan mukanya. Terbangun semangatnya dan ia berkata kepada Eng Eng yang masih memandangnya dengan terharu.
"Nona benar juga ucapan Gan Tian Cu totiang. Aku akan mencari Tiong Kiat, hendak kutangkap dan kubawa kembali ke Kim liong pai, menyerahkannya kepada suhu."
"Bagus, akan tetapi aku tidak mau kalah dulu baik olehmu maupun oleh pendeta Kun lun pai tadi. Gan Tian Cu hendak menangkap Tiong Kiat untuk dibawa ke Kun-Iun-pai, kau hendak menangkapnya untuk kau bawa ke Liong san. Akan tetapi, akulah yang berhak menghancurkan kepalanya untuk membalaskan dendam hatiku!" Setelah berkata demikian, gadis itu lalu melompat pergi, meninggalkan Tiong Han yang memandang sayu.
"Tiong Kiat.... Tiong Kiat, ...... tidak kusangka bahwa nasibmu akan demikian buruknya" adikku, mengapa kau tersesat sejauh ini"?"
Dengan kaki lemas, Tiong Han lalu menuruni bukit Ta pie-san dalam perjalanannya mencari adiknya untuk membawanya dengan paksa ke Liong san, di mana suhunya telah menanti. la merasa penasaran mengapa Tiong Kiat telah berpisah dari Kui Hwa, padahal tadinya ia mengharap supaya adiknya itu hidup berbahagia dengan sumoinya atau bekas tunangannya itu. Apakah Kui Hwa yang menyebabkan Tiong Kiat menjadi tersesat? Panas dadanya ketika ia mendapatkan pikiran ini. Siapa tahu? Mungkin Kui Hwa yang menjadi biang keladinya!
la teringat akan kata-kata Tiong Kiat bahwa kini Kui Hwa dapat dicari di kota Heng yang. Maka iapun lalu tujukan perjalanannya ke kota Heng-yang untuk mencari Kui Hwa dan untuk bertanya kepada sumoinya itu mengapa Tiong Kiat dan Kui Hwa dapat berpisah. Sebelum Tiong Han yang hendak mencari sumoinya, yakni Can Kui Hwa, tiba di tempat itu, marilah kita mendahuluinya menengok keadaan nona yang malang nasibnya ini.
Dalam buku jilid kedua telah diketahui bahwa setelah melihat Tiong Kiat melakukan perbuatan hina terhadap Gu Loan Li, gadis yang mereka tolong dari tangan kepala gerombolan Sorban Merah sehingga Loan Li membunuh diri, Kui Hwa menjadi marah sekali dan menyerang Tiong Kiat. Akan tetapi tentu saja ia bukan lawan pemuda yang berkepandaian Iebih tinggi tingkatnya itu dan telah dikalahkan. Setelah Tiong Kiat meninggalkannya Kui Hwa yang putus asa lalu teringat akan permintaan para anggauta gerombolan Sorban Merah yang hendak mengangkatnya menjadi kepala.
Ia lalu kembali ke kota Heng yang dan diterima baik dan dengan gembira oleh para pengurus Perkumpulan Sorban Merah itu. Setelah melihat gadis ini mengalahkan dan menewaskan kepala mereka, yakni Hek pa cu Teng Sun, para thauwbak dan anak buah gerombolan Sorban Merah amat mengaguminya. Perkumpulan Sorban Merah mempunyai anggota yang banyak jumlahnya dan semenjak dipimpin oleh Hek pa cu Teng Sun, perkumpulan ini telah menghasilkan banyak uang, yang didapat dengan jalan terang maupun gelap, Kui Hwa sendiri menjadi terkesiap ketika ia melihat peti penuh dengan barang perhiasan yang amat besar nilainya disodorkan kepadanya oleh para thauwbak.
"Mulai sekarang, tidak boleh lagi ada pelanggaran-pelanggaran," katanya dengan suara keras.
"Tidak boleh melakukan sesuatu yang jahat dan siapapun juga diantara anggauta ada yang melanggar akan berkenalan dengan pedangku!"
Gadis ini karena tidak mempunyai harapan untuk kembali ke rumah ayahnya dan tidak mempunyai perlindungan lalu membeli sebuah rumah besar dan memasang merk papan nama Perkumpulan Sorban Merah. Ia lalu mengatur anak buahnya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, misalnya menjaga keamanan kota, mengawal kiriman-kiriman barang dan Iain-lain. Pengaruh Perkumpulan Sorban Merah sudah besar sekali, akan tetapi kalau tadinya perkumpulan ini ditakuti dan disegani orang, sekarang orang orang menghormatinya sebagai perkumpulan orang-orang yang gagah yang boleh mereka andalkan bantuannya.
Diantara para thauwbak (pembantu pemimpin) dan anggauta Sorban Merah, banyak juga yang merasa tidak puas dengan peraturan-peraturan keras ini, karena mereka ini memang mempunyai watak yang busuk seperti Hek-pacu Teng Sun. Maka diam-diam orang-orang ini lalu melarikan diri dan mencari seorang yang mereka harapkan menjadi pemimpin mereka. Orang ini adalah suheng (kakak seperguruan) dari Teng Sun yang bernama Kim-pacu Gak Kun si Macan Tutul Emas dan yang menjadi kepala rampok di pegunungan Pek-ma san, tak jauh dari kota Heng yang.
Untuk menyesuaikan dirinya sebagai kepala dari Perkumpulan Sorban Merah yang terdiri dari anggauta-anggauta ahli bermain golok, Kui Hwa kini mengganti senjata pedangnya dengan golok pula. la bahkan memberi pelajaran ilmu silat golok yang baru kepada anak buahnya, yang dimainkan berdasarkan ilmu pedang Ang coa kiamsut yang lihai. Maka tentu saja para anggauta Sorban Merah mendapat kemajuan yang hebat sekali dan kedudukan perkumpulan ini makin kuat saja.
Kui Hwa merasa senang dengan kedudukannya yang baru ini. Selain dapat penghormatan dari semua anak buahnya, iapun terkenal sekali di kota Heng yang sebagai seorang wanita perkasa yang selain cantik jelita juga gagah berani dan berbudi. Banyak hati pemuda-pemuda Heng yang, baik yang pandai ilmu silat maupun yang tidak, jatuh hati kepadanya dan banyak pula gadis yang kini disebut Can pangcu (ketua Can) ini menerima pinangan.
Akan tetapi semua pinangan ini ditolaknya dengan manis. Di dalam hatinya sebenarnya Kui Hwa menderita hebat. Hatinya telah terluka perih oleh perbuatan Tiong Kiat, pemuda yang amat dikasihinya itu. Dan ia merasa amat menyesal mengapa ia jatuh hati oleh bujukan Tiong Kiat yang ternyata tidak berbudi itu. Sering kali ia terkenang kepada Tiong Han dan membayangkan betapa akan bahagianya kalau ia menikah dengan suhengnya ini.
Ia menyesal bukan main, akan tetapi nasi telah menjadi bubur, apa hendak dikata? Bukan Kui Hwa tidak ada niatan membangun rumah tangga, menikah dengan seorang pemuda yang baik, akan tetapi ia merasa ragu-ragu setelah kegagalannya dengan Tiong Kiat. Pula, sebagai seorang gadis berkepandaian tinggi, tentu saja takkan merasa puas kalau menikah dengan seorang pemuda yang lemah, yang tidak mengimbangi ilmu kepandaiannya. Dan pula, ia merasa malu karena ia telah berIaku sesat bersama Tiong Kiat.
Pada suatu hari, ketua Kui Hwa tengah duduk di dalam rumah perkumpulannya dan bercakap-cakap dengan beberapa orang pembantunya, membicarakan tentang pekerjaan-pekerjaan yang diserahkan kepada perkumpulannya, tiba tiba seorang anggauta Sorban Merah berlari masuk. Terkejutlah Kui Hwa dan kawan-kawannya ketika melihat anggauta ini pakaiannya berlumuran darah dan ternyata bahwa darah itu menetes turun dengan derasnya dari telinga kirinya yang telah dipotong orang!
"Apakah yang telah terjadi dengan dirimu?" tanya Kui Hwa dengan suara tenang. Ia menduga bahwa tentu ada orang jahat yang mengganggu anak buahnya ini.
"Celaka, pangcu (ketua) kawan-kawan kita pengikut-pengikut mendiang Hek-pa cu yang melarikan diri kini telah datang dan merupakan rombongan perampok bersorban biru, dipimpin oleh Kim-pa cu Gak Kun sendiri! Hamba dan beberapa orang yang bertugas menjaga keamanan kota, mereka serbu dan banyak kawan kita yang binasa! Kim-pa cu Gak Kun menantang kepada pangcu untuk menyambutnya di sebelah barat kota Heng-yang!" Setelah menuturkan hal ini, anak buah Sorban Merah ini lalu jatuh tersungkur dalam keadaan pingsan.
Naiklah kedua alis Kui Hwa mendengar dari para thauwbak tentang Kim pa cu Gak Kun ini sebagai suheng dari Hek pa cu Teng Sun yang telah dibunuhnya. Memang ia telah siap sedia menghadapi pembalasan dari perampok ini. Akan tetapi sama sekali tidak pernah diduganya bahwa anak buah Sorban Merah yang diam diam melarikan diri, kini ternyata telah bergabung dengan penjahat ini dan membentuk gerombolan Sorban Biru, kemudian datang menyerbu dan membikin kacau kota Heng yang! Marah sekali gadis ini dan cepat ia lalu masuk ke dalam kamarnya, berganti pakaian yang ringkas berwarna biru gelap, lalu membawa goloknya.
Pada saat itu, datanglah tergopoh-gopoh kepala kota dan tikoan. Kedua orang pembesar ini telah mendengar tentang kerusuhan yang ditimbulkan oleh Gerombolan Sorban biru yang mulai merampoki rumah rumah penduduk di pinggir kota dan mengganggu wanita-wanita.
"Can pangcu, harap kau suka lekas tolong usir mereka!" kata kepala kota dengan wajah pucat.
"Kalau perlu bantuan, aku dapat mengerahkan penjaga kota!" menyambung tikoan sambil memandang kepada Kui Hwa dengan kagum. Belum pernah ia melihat Kui Hwa segagah dan secantik ini, dalam pakaian yang ringkas dan mencetak tubuhnya itu.
"Harap jiwi taijin suka tenang" jawab Kui Hwa.