Halo!

Suling Emas Chapter 176

Memuat...

"Maafkan saya kalau saya mengganggu Saudara yang sedang enak-enak melukis. Akan tetapi melihat lukisan yang hebat luar biasa ini, dan mendengan nyanyian Saudara, tak mungkin saya lewat begitu saja. Kim-mo Taisu bukanlah seorang yang tidak tahu akan maksud baik orang lain, juga tidak buta akan kepandaian melukis yang begini mengagumkan!"

Tiba-tiba orang itu tertawa dan mukanya berubah lucu sekali. Apalagi ketika ia memasang kuda-kuda tadi, pinggulnya lenggak-lenggok seperti orang sedang ber-agogo! Cepat-cepat ia menyimpan pedangnya, lalu balas memberi hormat sambil pecuca-pecucu (mulut digerak-gerakkan meruncing).

"Wah-wah-wah! Akulah yang layak ditampar! Aku yang layak minta maaf karena seperti orang buta saja tidak melihat timbulnya matahari pagi yang demikian indah merajai angkasa raya! Tidak mengenal Kim-mo Taisu yang tersohor sebagai seorang pendekar sakti, terutama baik budi pekertinya. Maaf, maaf!"

Ia menghormat lagi lalu berkata.

"Aku yang bodoh bernama Gan Siang Kok, akan tetapi anak-anak kecil yang suka melihat gambar-gambarku menyebutku Gan-lopek. Heh-heh-heh, memang aku sudah tua tentu saja suka disebut lopek (paman tua)! Mau pura-pura muda saja, rambut sudah beruban gigi sudah tidak lengkap, Heh-heh, hati sih tinggal muda, tapi rambut dan gigi ini tak dapat disangkal ketuaannya. Ha-ha-ha!"

Kim-mo Taisu tersenyum.

Orang ini biarpun aneh, wataknya terbuka dan mempunyai pandangan luas dan selalu gembira. Agaknya memandang dunia dengan hati terbuka dan dari sudut yang mengandung kelucuan. Memang kalau orang berpemandangan awas dan berhati terbuka, didunia ini banyak sekali terdapat hal-hal yang membuat hati menjadi geli, seperti melihat badut-badut berlagak diatas panggung. Melihat betapa didalam kehidupan manusia sehari-hari, selalu manusia tunduk kepada kepalsuan yang disebut kebiasaan umum! Kekeliruan-kekeliruan dan penyelewengan-penyelewengan yang tidak dianggap salah lagi karena orang banyak, bahkan semua orang melakukannya!

Kepalsuan yang kadang-kadang disebut kesopanan, disebut kebiasaan umum, disebut peraturan dan bahkan disebut hukum! Alangkah lucunya manusia-manusia yang berselimut segala yang baik-baik itu membiarkan diri berlagak seperti badut-badut berkedok kepalsuan! Tentu saja hal ini tidak akan tampak oleh manusia sesama badut. Hanya orang yang sudah sadar saja yang akan dapat menjadi penonton. Orang-orang yang masih mabok dan belum sadar, mabok keduniaan, akan terseret dan ikut main diatas panggung menjadi badut-badut dan bahkan saling berlomba memperebutkan kejuaraan badut!

"Kalau begitu, biarpun selisih usia kita tidaklah terlalu banyak, aku yang lebih muda akan menyebutmu Gan-lopek juga."

"Heh-heh-heh, itu yang paling baik. Merupakan kehormatan besar sekali mempunyai keponakan seorang berwatak pendeta dan bertubuh pendekar yang harus disebut Taisu (guru besar) oleh Paman tuanya. Ha-ha!"

"Gan-lopek, harap sudahi main-main ini. Tidak perlu kiranya kau berpura-pura lagi bahwa yang kau nyanyikan dan yang kau lukis ini kebetulan saja menyangkut diriku. Terima kasih atas peringatanmu bahwa diatas sana menanti musuh-musuhku yang berjumlah banyak hendak mengeroyokku. Akan tetapi agaknya kau lupa bahwa seekor harimau tidak pernah mengenal takut. Nah, aku pun tidak takut karena aku berbekal kebenaran. Sekali lagi terima kasih dan selamat berpisah, Gan-lopek!"

Setelah memberi hormat lagi, Kim-mo Taisu melanjutkan perjalanannya. Gan-lopek melanjutkan corat-coretnya, mulutnya mengomel,

"Cari mati...., cari mati...!"

Ketika kemudian Kim-mo Taisu menengok, ia melihat betapa Gan-lopek yang aneh dan lucu itu telah mencoret-coret gambarnya sehingga gambar yang indah itu berubah menjadi hitam semua, seperti seorang kanak-kanak yang ngambul dan sengaja merusak lukisan itu untuk melampiaskan kekecewaan dan kemendongkolan. Kim-mo Taisu tersenyum, mengangkat kedua pundak, lalu melanjutkan perjalanannya mendaki puncak. Diatas puncak Tai-hang-san itu terdapat bagian yang rata dan ditumbuhi rumput hijau, cukup luas dan pemandangan dari puncak itu ke bawah amatlah indahnya. Kim-mo Taisu melihat kebawah dan tampak pemandangan luar biasa karena kini "semut-semut"

Dibawah itu sudah mulai berperang! Tiba-tiba dari belakang pohon-pohon disekitar lapangan itu muncul empat orang yang bergerak cepat menghampirinya. Paling depan ia mengenal Kong Lo Sengjin yang "berjalan"

Diatas kedua tongkatnya.

Akan tetapi alangkah kaget, heran dan juga girangnya ketika melihat bahwa orang kedua adalah Ban-pi Lo-cia! Tanpa ia cari-cari kini musuh-musuh besarnya telah berkumpul sehingga mudah baginya untuk segera menyelesaikan perhitungan lama! Dasar seorang yang berwatak pendekar, Kim-mo Taisu hanya teringat akan keuntungan perjumpaan ini, sama sekali tidak ingat bahwa Kong Lo Sengjin dan Ban-pi Lo-cia menjadi satu merupakan lawan yang bukan main beratnya, belum lagi ditambah dua orang yang berada dibelakang mereka. Adapun dua orang itu juga bukan orang sembarangan, karena yang satu adalah Pouw-kai-ong, Si Raja Pengemis yang jahat dan licik, memiliki kepandaian yang aneh sekali, sedangkan orang kedua adalah Lauw Kiat, murid Ban-pi Lo-cia yang tentu saja tinggi ilmunya dan semenjak dahulu mengeroyoknya tentu kini telah bertambah ilmunya.

Post a Comment